Langsung ke konten utama

Materi 6. Arti Hidup Kekal dalam Pengakuan Iman Rasuli

Penulis : Bertogali Sinurat

Kehidupan Yang Kekal Dalam Pengakuan Iman Rasuli
Serta Implikasinya Dalam Kehidupan Masa Kini
(Suatu Kajian Teologis-Dogmatis Tentang Hidup Sesudah Kematian Manusia)
I. Pendahuluan
Ada beragam pertanyaan tentang dimana dan bagaimanakah hidup manusia itu sesudah mati atau sesudah bumi ini berakhir? Apakah ada suatu tempat baru bagi manusia ketika dunia ini berakhir yang jauh lebih baik dari di dunia? Atau bagaimanakah kelanjutan hidup orang percaya yang sudah meninggal itu dan bagaimanakah nasib para lelehur yang sudah meninggal namun belum sempat mengenal dan percaya kepada Kristus semasa hidupnya? Adakah tempat dan kesempatan bagi mereka untuk memperoleh hidup yang kekal meskipun belum dan tidak mengenal Kristus? Atau apakah memang kehidupan kekal itu sungguh-sungguh ada dan segera akan dinyatakan?. Atas beberapa pertanyaan di atas, maka penulis seminar mencoba menggali secara teologis-dogmatis tentang bagaimana kelanjutan hidup manusia sesudah kematian dan bagaimana pengharapan hidup kekal itu menjadi relevan dalam umat percaya pada masa kini melalui berbagai penelitian literatur.
Seminar ini akan membongkar makna isi pengakuan Iman Kristen (Credo Apostolicum) terutama yang membahas tentang Kehidupan yang kekal (the eternal life). Tanggapan ini, bukanlah merupakan suatu spekulasi teologis, tetapi merupakan pengungkapan akan kebenaran iman Kristen, dengan memakai teologi dan dogma kristen yang benar. Penulis tidak akan berpretensi (berkeinginan) memberikan gambaran faktual tentang apa yang akan terjadi pada diri individu pada saat sesudah kematian, tetapi yang ingin disampaikan adalah bagaimana tanggapan Iman Kristen mengenai hal itu.  Sedikitnya ada dua ajaran yang bermasalah (kontardiktif) dengan iman kristen yang harus dijawab dengan benar oleh iman kristen. Yaitu pandangan Plato dan Socrates, Aristoteles tentang konsep Perpindahan jiwa atau reinkarnasi serta teori rekoleksi. Mereka mengatakan bahwa jiwa itu bersifat kekal sedangkan tubuh dapat mati. Bahkan mereka mengatakan bahwa tubuh itu penjara bagi jiwa, sehingga mereka tidak meyakini adanya kebangkitan tubuh dan kehidupan kekal itu, sebab bila tubuh bangkit maka jiwa akan kembali lagi ke tubuh masuk ke alam kubur. Atau setidaknya jiwa itu dapat hidup selama-lamanya karena akan berinkarnasi pada satu orang ke orang yang lain, tetapi tubuh yang sudah mati tidak akan pernah bangkit  lagi. Dan persoalan lain yang juga akan dibahas dalam tulisan ini adalah tentang siapa yang berhak memperoleh kehidupan yang kekal?, yang kian diperdebatkan oleh bapa-bapa gereja dan para ahli teologi modern. Sebut saja Karl Rahner dengan Paul F Knitter yang menyatakan bahwa keselamatan (kehidupan kekal) tidak hanya dimiliki oleh agama kristen saja, tetapi meliputi agama lain melalui kasih anugerah Allah.

Oleh karena itu, Credo Apostolicum itu dibuat untuk menghempang pemahaman (ajaran-ajaran) seperti itu yang pernah masuk dan mempengaruhi ajaran gereja. Masih banyak lagi ajaran yang bertentangan dengan iman kristen seperti gnostisisme, arianisme, montanisme yang menjadi pemicu digelarnya konsili-konsili untuk merumuskan pengakuan iman yang lebih valid.  Bahwa tentunya juga rumusan pengakuan iman percaya itu dibuat oleh bapa-bapa gereja berdasarkan nas-nas Alkitab, misalnya Dan. 12:2; Mat.19:16,29; 25:46; Yoh.3:15,16,36; 4:14,36; 5: 24,29,39; 6: 47,54,68; 10:28; 12: 25,50; 17: 2,3; Kis. 13: 46,48; Rom. 2:7; 5: 21; 6: 22,23; Gal. 6:8; 1 Tim. 6:12; Tit. 1:2; 1 Yoh. 1:2; 2: 25; 3:15; 5:11,13,20;Yud. 21. Akhirnya pada bagian pendahuluan ini, penulis seminar akan membuka cakrawala kita dalam memahami apa dan bagaimana hidup yang kekal itu, dengan basis utamanya adalah pengakuan iman rasuli. Untuk lebih jelas dalam memahami konsep judul yang ditawarkan ini, maka di bawah ini diterakan sistematika penulisan sbb.
Pendahuluan
Pengertian dan Terminologi Kehidupan yang Kekal
Pengakuan Iman Rasuli akan adanya Kehidupan yang Kekal
Sejarah Ringkas Lahirnya Pengakuan Iman Rasuli
 Dasar Pengakuan Iman Kristen akan adanya Kehidupan yang kekal
3.2.1 Dasar Teologis
3.2.2 Dasar Historis dan Eskatologis
3.2.3 Dasar Etis
      3.4 Makna dan Tujuan Pengakuan Kehidupan yang kekal
IV. Analisa dan Implikasi dalam Kehidupan Masa Kini
V.  Kesimpulan
Daftar Pustaka
Pengertian dan Terminologi Kehidupan yang Kekal
Kehidupan yang kekal adalah suatu istilah yang menyatakan suatu kondisi dimana manusia dimungkinkan untuk hidup selama-lamanya di dalam kebahagiaan yang tidak terhingga. Kehidupan yang kekal dibentuk dari dua kata dasar yaitu hidup dan kekal. Kata hidup menunjukkan pada mutu (kualitas) yang berbeda dengan pengertian umum dalam bahasa Indonesia sehari-hari.  Sedangkan untuk dapat memahami makna kata kekal, maka ada baiknya jika dipahami lebih dahulu konsep waktu. Waktu sebagaimana dipahami oleh para filsuf Yunani misalnya Aristoteles adalah “ukuran dari yang sebelumnya dan yang sesudahnya dalam bergerak dan berubah, yakni silih bergantinya saat-saat”. Waktu ini diukur dengan jam-jam dan penanggalan-penanggalan dan mewujudkan kronologi (Yun. chronos). Dalam pengertian soal waktu seperti ini, maka yang ada hanya saat sekarang sebagai saat yang tidak ada lamanya (waktu yang tiada batas), dan saat yang lalu tidak ada lagi sebab sudah berlalu, serta saat yang akan datang belum ada sebab masih akan datang.

Disamping konsep itu, masih ada arti waktu yang lain yang berakar dalam pengalaman batin manusia. Manusia yang hidup sekarang tidak mengalami waktu yang lalu sebagai sesuatu yang sudah lenyap (dilupakan) dan tidak akan ditemukan kembali tetapi sekarang menjadi kekuatan untuk membangun jati diri dan tujuan hidup manusia. Demikian juga, manusia tidak akan mengalami waktu yang akan datang hanya sebagai sesuatu yang kosong dan tidak nyata. Manusia mengalami waktu yang akan datang adalah pikatan dan tantangan, yang mendukung manusia untuk terus maju guna mewujudkan daya-daya kemampuannya. Pengertian waktu menurut manusia ini, menyatakan bahwa peristiwa (saat) yang lalu selalu tersimpan dalam ingatan, dan saat yang akan datang diantisipasi dan dijadikan nyata apa yang menjadi angan-angan dan harapan. Oleh karena itu, tidak setiap waktu sama harga dan pentingnya. Akan tetapi ada saat-saat yang menentukan keberadaan orang (Yun. kairos)  sebagai lawan dari waktu yang bersifat kronos.

Kekekalan bukanlah pengingkaran atas waktu. Namun sebaliknya, pewahyuan Kristen menyatakan bahwa dalam penjelmaan Anak Allah, Allah dengan bebas dan penuh kasih telah mengambil dan mengenakan temporalitas manusia, waktu dan perubahan serta telah mengangkat semuanya itu ke dalam kehidupanNya. Dalam dan melalui tindakan ini, Allah juga memperkenankan manusia mengambil bagian dalam kepenuhan hidup atau kehidupan kekal Allah sendiri.
Maka dari itu, kekekalan hendaknya tidak dibayangkan sebagai suatu kesinambungan waktu tanpa akhir sesudah kematian, sebagai waktu yang berjalan terus menerus yang tiada berhenti di dunia akhirat, sama seperti ada tersirat pengertian selama-lamanya. Sebab jika demikian, tidak akan dapat dimengerti mengapa kehidupan kekal atau sorga itu kebahagiaan, karena akan menyebabkan pengertian sekan-akan tertakdir, manusia mencari tujuan terakhir, yang tidak akan pernah sampai ke rumah/tujuan. Ada baiknya jika memahami  bahwa manusia mengambil bagian dalam kekekalan Allah yang berarti bahwa waktu dan sejarah kita sendiri dijadikan akhir (final), yang tidak dapat dibatalkan, dan akan didefenitifkan oleh Allah sendiri”. Artinya bahwa kekekalan yang diperansertai oleh orang percaya tidaklah di luar, di atas, sesudah, atau diseberang waktunya, tetapi tercapai dalam dan dari waktu manusia itu sendiri. Dan salah satu cara untuk memahami proses transformasi waktu itu ke dalam kekekalan ialah dengan memandang bagaimana orang percaya menjalankan kebebasannya. Melalui tindakan-tindakan yang dikehendaki secara bebas oleh orang percaya, maka ia akan mengetahui dengan jelas siapa dirinya sesungguhnya untuk selama-lamanya. Tindakan-tindakan itu membentuk watak dan jati diri untuk menentukan tujuan akhir hidup kekalnya. Apabila jati diri dan tujuan akhir, yang telah defenitif, yang tidak dapat lagi diubah-ubah diterima dan disahkan oleh Allah, maka itulah yang disebut dengan kekekalan.
Alkitab memahami kehidupan kekal adalah tentang hidup yang sejati, tulen, yang sungguh (bnd. 1 Tim. 6:19). Artinya: bahwa kehidupan yang datang dari Aku sama artinya dengan dari Tuhan, yang diterima oleh orang percaya karena Roh Kuduslah yang memuat orang percaya itu lahir kembali ke suasana hidup sorgawi bersama dengan Yesus Kristus yang adalah HIDUP itu sendiri (bnd. Yoh. 14:6). Karena itu, berbagai bagian dalam Alkitab (baik PL maupun PB) menegaskan bahwa kini pun orang percaya sudah mempunyai hidup yang kekal ketika orang percaya mempunyai persekutuan yang indah dengan Yesus (bnd. Yoh. 17:3), jadi kehidupan kekal itu tidak bersifat eskatologi, namun sekrang pun sudah dinyatakan.

III. Pengakuan Iman Rasuli Akan Adanya Kehidupan yang Kekal
Sejarah Ringkas Lahirnya Pengakuan Iman Rasuli

Suatu Credo (konfessi) dibuat manusia adalah sebagai jawaban/respon iman atas pernyataan dan pertanyaan Kristus, dimana manusia (orang percaya) menerima dan harus menginterpretasikan FirmanNya tersebut. Sebagaimana Yesus pernah bertanya pada murid-murid: Kata orang siapakah Aku? (Ma.16:16). Lalu dengan sadar Petrus menjawab Yesus: Engkau adalah Mesias, anak Allah. Jawaban Petrus inilah yang manjadi Credo mula-mula kristen. Sementara  Nicea Creed  adalah konfessi selanjutnya yang dirancang oleh bapa-bapa gereja yang menyatakan sekaligus menguatakan doktrin keilahian Kristus yang dibuat oleh Petrus (para rasul) tersebut. Credo ini sengaja dibuat untuk menentang ajaran Arianisme yang menolak keilahian Kristus. Athanasius Creed adalah pernyataan tentang Trinititas Allah. Sementara Reformasi Creed secara eksplisit menyatakan otoritas kitab suci, ajaran tentang dosa dan anugerah.

Menurut sejarahnya, bahwa para rasul (murid-murid Yesus) sendirilah yang menuliskan credo apostolicum ini pada hari ke-10 sesudah Pentakosta setelah kenaikan Yesus Kristus ke sorga. Karena isinya mengandung 12 butir, maka ada keyakinan bahwa masing-masing murid Yesus menuliskan satu pernyataan di bawah bimbingan Roh Kudus. Sebagian sejarawan mengatakan bahwa kredo ini berasal dari daerah Gaul, suatu wilayah di Prancis, sekitar abad ke-5. Yang menjadi bukti historis konkret yang tertua tentang keberadaan credo ini adalah sepucuk surat dari Konsili Milano tahun 390 M kepada Paus Sirisius yang bunyinya demikian:
“Bila engkau tidak memuji ajaran-ajaran para imam...
Biarlah pujian itu setidak-tidaknya diberikan
 kepada Symbolum Apostolicum yang selalu dilestarikan oleh Gereja Roma
dan akan tetap dipertahankan agar tidak dilanggar”

Credo Apostolikum ini paling banyak digunakan dalam ibadah orang-orang Kristen di Barat. Buku berjudul Catholic Encyclopedia memuat pembahasan terperinci tentang sejarah adanya pengakuan iman Rasuli. Pengakuan Iman Rasuli adalah rumusan ajaran dasar Gereja mula-mula, yang dibuat berdasarkan amanat agung Yesus untuk menjadikan segala bangsa muridNya, membaptiskan mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19-20). Oleh karena itu, dari credo ini kelihatan bahwa doktrin sentralnya adalah Tritunggal dan Allah sang pencipta.
Selanjutnya, pada masa ketika kebanyakan umat Kristen masih buta huruf, pengulangan secara lisan pengakuan Iman rasuli ini seiiring dengan doa Bapa Kami dan sepuluh perintah Tuhan (Dasa Titah) turut membantu melestarikan dan menyebarkan iman Kristiani di gereja-gereja Barat. Kemudian versi tertulis kredo tersebut paling awal kemungkinan adalah Kredo Tanya jawab Hippolytus (sekitar tahun 215 M). Pengakuan iman Rasuli versi sekarang pertama kali ditemukan di dalam tulisan-tulisan Caesarius dari Arles (wafat tahun 542 M). Pengakuan iman Rasuli ini rupanya digunakan sebagai ringkasan ajaran-ajaran Kristen untuk calon-calon baptisan di gereja-gereja Roma. Oleh karena itu dikenal juga credo ini sebagai Symbolum Romanum (Roman Symbol). Dalam versi Hippolytus, pengakuan Iman ini diberikan dalam bentuk tanya jawab dengan calon baptisan yang kemudian mengakui bahwa mereka percaya tiap pernyataan. Dan menurut rekonstruksi Hans Lietzmann, bentuk awal dari konfessi ini belum memuat kata kehidupan kekal, pengakuan itu hanya berkahir pada kata kebangkitan daging.
Bentuk awal:
“Aku percaya di dalam Allah Bapa, (yang) Mahakuasa;
Dan di dalam Yesus Kristus, satu-satunya anakNya diperanakkan, Tuhan kita,
Dan di dalam Roh Kudus, gereja yang kudus, kebangkitan daging





Setelah mengalami penambahan isinya sebagai berikut:

1. Aku percaya kepada Allah, Bapa yang mahakuasa, Pencipta langit dan bumi,
2. Dan kepada Yesus Kristus, AnakNya yang tunggal, Tuhan kita
3.  yang (dikandung) daripada Roh Kudus, lahir dari anakdara Maria,
4.  Menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan (mati) dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut (hades)
Part.2 5.  Pada hari ketiga bangkit pula dari kematian
6. naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa,
7. Dan akan datang dari sana, untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

8. Aku percaya kepada Roh Kudus;
9. Gereja yang kudus (Am), Persekutuan orang kudus; Part.3
10. Pengampunan dosa;
11. Kebangkitan daging;
12. dan hidup yang kekal?.

Lalu Mengapa bapa-bapa gereja harus memasukkan kata kehidupan kekal dalam pengakuan iman percaya?. Apakah tidak cukup untuk mengakhiri pengakuan iman itu dengan pernyataan bangkit dari kematian?. Indikasi yang boleh digunakan untuk mejawab pertanyaan itu ialah bahwa hingga abad permulaan kekristenan, banyak orang percaya meyakini bahwa  eksistensi manusia itu akan diakhiri dengan kematian. Mereka sungguh-sungguh memerdebatan tentang sifat dasar dan kualitas kehidupan setelah kematian. Dan pemahaman tentang pengharapan akan kebangkitan daging juga mengalami kesimpangsiuran ketika itu. Dalam konteks ini, gambaran dari pengharapan orang kristen tentang kebangkitan daging memegang suatu pengertian yang ambiguitas. Pada satu pihak, ada orang menyatakan bahwa keberadaan tubuh hakikatnya hanyalah suatu ciptaan yang akan berkesudahan, tetapi  dunia ini bukanlah suatu penjara bagi roh namun suatu tempat tinggal yang sesuai /pantas (baik) bagi manusia dimana Allah telah sediaan (ciptakan). Bagi pihak lain, pada akhirnya dunia ini akan musnah dan manusia tidak akan memiliki tempat tinggal di dunia,  namun seluruh ciptaan akan menemukan tempat tinggal yang baru di tempat yang lain yang disediakan Allah.  Dengan demikian, penambahah kata kehidupan kekal dalam pengakuan iman rasuli hanya ingin melenyapkan pemahaman yang ambiguitas terhadap kondisi kita setelah meninggal sebab kata itu menyatakan suatu transformasi bentuk eksistensi manusia, sementara cara mencapainya ada dalam diri kita sendiri dengan terus mengarahkan perhatian kepada sumber kehidupan itu sendiri yaitu TUHAN.

Penekanan kalimat terakhir adalah pada kata kehidupan, bukan pada pemberi sifatnya. Kata sifat  kekal itu tidak menandakan bahwa tidak ada akhirnya, karena ini merupakan suatu kondisi atau saat ciptaan harus ditebus. Secara radikal dapat dikatakan bahwa perbedaan dan kualitas kesempurnaan atas diberikannya kehidupan baru yang akan diorientasikan sama sekali kepada Allah. Orang kristen selalu memiliki konfesi tentang kekekalan yang mengajak orang percaya untuk tidak hanya turut dalam peristiwa kematian yang dapat menghancurkannya. Pernytaaan ini adalah jawaban konkrit umat Kristen atas pertanyaan tentang kekekalan manusia. Kehidupan kekal itu bukanlah suatu hadiah yang terselubung bagi orang-orang percaya, namun sesuatu perihal yang tersembunyi untuk masuk ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Orang percaya harus konsisten bahwa komunikasi Roh tidak dapat dipisahkan terkait dengan penciptaan Allah. Akhir kata dari pengakuan iman itu tidak hanya mengatur suatu pemenuhan pada satu kelompok namun juga secara nyata menyiratkan akhir dari hidup Kristus. Hidup kekal berarti bahwa kita akan juga dalam kesamaan dari kebangkitanNya (Rom.6:5), ini menyatakan pembaruan bukan hanya manusia, tetapi melalui manusia, seluruh ciptaan menjadi utuh diselamtakn dimana Yesus sebagai raja. Awal dari transformasi susunan tentang keterbatasan hidup melalui pembekalan suatu misi dan dari suatu tujuan dari sautu akhir dari kesaksian imannya sendiri bahwa disana tidak ada kesalamatan untuk kita terpisah dari restorasi dunia kita. Karena itu, pada bagian akhir credo ini, mengandung suatu unsur kosmologi, yang dengan tegas melibatkan manusia dalam proses penebusan tersebut. Allah tidak menyuruh orang percaya untuk merampas dunia, tetapi untuk membelanya sebagaimna objek dari kasih Allah untuk menyelamatkan seluruh ciptaan.

Lalu menurut Luthers Cathecisms Today  penjelasan pengakuan iman rasuli bagian ketiga tersebut adalah: Aku percaya bahwa saya tidak dapat  memahami dengan sendiri atau berusaha percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, atau datang kepadanya. Tetapi Roh Kudus telah memanggilku melalui berita Injil, menerangiku dengan anugerahnya, dan menguduskan serta  menjagaku dalam kebenaran iman. Dengan cara yang sama dia memanggil, membawa (mengumpulkan), menerangi dan menguduskan seluruh gereja orang kristen di bumi, dan memelihara kesatuannya bersama Yesus Kristus dalam satu iman yang benar. Dalam gereja orang kristen ini hari lepas hari Ia terus mengampuni dosa-dosaku dan seluruh dosa orang-orang percaya. Pada hari terakhir Ia akan mengangkat (membangkitkan) aku dan seluruh orang yang telah meninggal. Dan memberiku dan seluruh orang percaya di dalam Kristus kehidupan kekal. Ini adalah sungguh-sungguh benar adanya.

Kemudian menurut buku Nicene and Post - Nicene Fathers of the Criatian Church, menyatakan bahwa untuk dapat memahami konsep kehidupan kekal, maka tidak boleh lepas dari pemahaman tentang kebangkitan daging. Kebangkitan daging mendahului Kristus: bahwa tubuh juga memiliki harapan untuk dapat bersama-sama dengan kepala Gereja. Kristus adalah kepala gereja dan gereja adalah tubuh Kristus. Jika kepala Gereja telah bangkit, naik ke sorga, maka dari itu dimana kepala berada di situ jugalah anggota-anggota tubuhnya yang lain berada. Dengan cara apakah kebangkitan daging itu diperoleh? Sebaiknya marilah mengalihkan pemahaman kepada kebangkitan Lazarus, dialah yang menjadi jaminan, bahwa Allah memperbaharui hidupnya. Allah memelihara dan menjagaimu. Allah memberikanmu keselamatan sampai merelakan diriNya sendiri untuk mati, inilah kehidupan yang kekal itu.

Dasar Pengakuan Iman Kristen akan adanya Kehidupan yang kekal
3.2.1 Dasar Teologis

Gagasan dan pemahaman tentang hidup yang kekal dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru masih sangat sulit untuk di nilai. Tetapi sejarah keselamatan yang diperbuat Allah kepada Umat Israel mulai dari pemanggilan Abraham hingga pada karya penebusan dan penyelamatan umat tersebut dari pembuangan sudah cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa Allah dalam Perjanjian Lama tidak menginginkan umatNya hidup di bawah penindasan dimana tidak ada kebahagiaan yang kekal. Sementara itu dalam konteks Perjanjian Baru, Allah juga mencoba dan menyatakan karya penyelamatanNya kepada umatNya dan seluruh orang percaya di dalam diri Yesus Kristus. Yesus sendiri sering membicarakan tentang suatu kerajaan kekal dimana hidup tidak lagi menderita tetapi bahagia bersama dengan sang Raja yang Mahakusa yaitu Allah.

Pandangan kitab-kitab Perjanjian Lama tentang Allah menyatakan adanya kelangsungan hidup bagi mereka yang percaya kepadaNya. Keyakinan itu berasal dari pendirian bahwa Allah sendiri adalah sumber kehidupan. Menurut Kejadian 2:7 dan Mazmur 36:10 bahwa Allahlah yang memberi dan Ia yang mengambil. Berpedoman pada kedua teks ini, maka dapat dikatakan bahwa pada dasarnya hidup itu kepunyaan Allah dan berasal dari padaNya sebab padaMu ada sumber hayat (Mzm. 36:10). Jadi jika seseorang bertemu dengan Allah dan mulai mengambil bagian dalam hidupNya, maka ia akan memperoleh suatu unsur yang tidak binasa sebagaimana Allah tidak pernah binasa (kekal adanya)”. Pandangan seperti ini jauh dilukiskan oleh penulis kitab Mazmur dan kitab Amsal. Penulis kitab ini menyatakan bahwa Allah adalah menara yang kuat dimana orang benar akan selamat (Amsal 18:10); Allah adalah gunung batu yang melindungi dan tidak dapat goyah (Mzm. 62:3). Meskipun kelemahan dan kecenderungan manusia untuk mati bukanlah sebuah khayalan saja, namun terdapat keyakinan yang teguh bahwa Allah akan memelihara semua orang yang takut akan Allah dan percaya kepadaNya. Orang yang takut akan Allah tidak akan melihat sheol (Mzm. 16:10-11). Bahkan dalam Mazmur 23 disebutkan bahwa sekalipun aku berjalan dalam lembah-lembah yang mengingatkan kepada kematian, tetapi Allah akan tetap memeliharaku, hidangan yang melimpah telah disajikan bagiku, pialaku penuh melimpah sehingga aku percaya bahwa kebajikan dan kemurahan akan mengikutiku, akan akan memperolehnya dan tidak akan meluputkannya dariku. Dengan demikian akan akan dihadapan Tuhan sepanjang masa (Yoh. 14:1-3).
3.2.2 Dasar Historis dan Eskatologis

Umat Israel selalu menyaksikan bahwa bagaimana Allah memperlakukan umatNya. Mereka melihat bagaimana Allah membawa abraham dan keturuannya ke tanah Perjanjian, dan menyelamatkan mereka dari penidansan (Kel. 19:11). Semua itu membuat mereka yakin bahwa Allah akan menyelamatkan mereka dimasa mendatang. Pengalaman mereka tentang pemeliharaan dan persediaan Allah yang nyata sudah sewajarnya meyakinkan mereka bahwa Allah akan memelihara mereka. Orang Ibrani yakin bahwa kemenangan akhir Allah tentu akan meliputi kemenangan akhir atas kematian. Mereka tidak tahu pasti bagaimana hal itu akan dilakukan oleh Allah, tetapi mereka yakin bahwa Allah akan melakukannya. Sbeba dalam kitab Yesaya dan Daniel disebutkan bahwa:
Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya;
Dan Tuhan Allah akan menghapuskan air mata dari pada segala muka;
Dan aib umatNya akan dijauhkanNya dari seluruh bumi,
Sebab TUHAN telah mengatakannya (Yes. 25:8)

Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah,
Akan bangun, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal
(Dan. 12:2)

Dari kedua nas di atas menyatakan bahwa keselamatan dalam kehidupan kekal nyata dan akan disempurnakan kebenarannya oleh Kristus. Bahwa oleh kematian dan kebangkitanNya kita menjadi umatNya, dan ia akan menjadi Allah bagi kita untuk selama-lamanya.

3.2.3 Dasar Etis
Dasar etis dari pengakuan percaya kehidupan yang kekal adalah menyangkut gagasan Alkitab tentang ganti rugi yang banyak dimuat dalam kitab-kitab hikmat.  hidup dengan benar atau hidup dengan penuh kejahatan akan sama-sama menghasilkan suatu buah.dalam kitab Amsal disebutkan bahwa orang berjalan pada jalan yang menuju maupun, tetapi orang benar berjalan pada jalan yang menuju hidup (Amsal 11:30). Penghakiman Allah yang selalu adil akan membawa kepada akhir hidup yang benar. Ia akan memberi ganti rugi kepada orang yang benar dan menghukum orang yang jahat. Fakta yang menyatakan bahwa hidup dengan benar akan menghasilkan buah kehidupan sudah berurat berakar bersama gagasan tentang hukum alam. Dalam suratnya ke jemaat Galatia, Paulus menuliskan apa yang ditabur orang,  itu juga yang akan dituainya (Gal. 6:7). Jadi Allah benar-benar akan memberikan kehidupan kepada orang yang benar. Fakta yang juga menyatakan bahwa Allah akan memberikan ganti rugi itu ada dalam kitab Ayub tetapi aku tahu: Penebusku hidup.. (Ayb.19:25). Kata Penebusku dapat diartikan yang membenarkan, karena Ayub tahu bahwa sekalipun dagingnya binasa (ay.26), Allah yang akan memulihkan nama baiknya itu akan menyelamatkannya. Ayab yakin bahwa Allah akan memberikan perlindungan yang diberikan Allah kepada tubuhnya sesudah mati akan membenarkan tatanan Allah yang adil. Kebenaran itu kemudian akan dinyatakan di dalam diri Yesus Kristus.

 3.4 Makna dan Tujuan Pengakuan percaya Kehidupan yang kekal

Pada dasarnya, setiap agama mengajarkan bahwa tujuan akhir hidup seseorang yang memeluk suatu agama adalah mencapai kesempurnaan hidup. Ajaran setiap agama itu hakikatnya bermuara pada pemahaman bagaimana manusia itu dapat mencapai kehidupan yang abadi bersama Tuhan yang ia yakini. Sebab dunia ini bersifat sementara tidak kekal. Sedangkan kehidupan  yang akan diperoleh kelak setelah akhir zaman adalah kehidupan yang kekal, yang tidak ada lagi penderitaan dan kekerasan manusia. Setiap agama memiliki konsepnya masing-masing tentang hidup yang tidak berkesudahan tersebut. Ada yang menyebutnya dengan Firdaus, Sorga, Kehidupan Kekal, atau nirwana. Tidak terkecuali agama Kristen juga dalam pengakuan iman percayanya menyatakan bahwa pendirinya, Yesus Kristus, yang telah mati dan bangkit kembali, akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang sudah meninggal dan bahwa akan ada kebangkitan badan dan kehidupan yang kekal.
Refleksi kristen yang sistematis dan kritis mengenai kebenaran-kebenaran tersebut disebut eskatologi, yang secara harafiah berarti wacana atau pembicaraan (logos) tentang hal yang terakhir (eschaton). Demikian sentralnya kepercayaan akan kehidupan kekal bagi iman Kristen (dan implikasinya, eskatologi dan teologinya ) membuat  Karl Barth (1886-1968), seorang teolog Protestan mendefenisikan hubungan keduanya dalam sebuah diktum yang berisikan bahwa Agama Kristen yang bukan eskatologi seutuhnya dan sepenuhnya juga tidak bersangkut paut seutuhnya dan sepenuhnya dengan Kristus

Tetapi yang menjadi masalah sekarang adalah, deskripsi tentang kehidupan yang kekal itu masih cukup sulit untuk ditemukan di dalam Alkitab. Dunia kehidupan setelah mati masih misterius dan tidak tergambarkan. Bahkan di satu pihak, Ayub masih meragukan, apakah manusia masih dapat hidup setelah mati? (bnd. Ayb. 14:14). Tetapi meskipun demikian, masing-masing kebudayaan manusia memahami bahwa masih ada kehidupan di dalam dunia orang mati. Orang Indian Amerika menyebut tempat orang mati itu tanah perburuan yang bahagia; orang Norwegia punya harapan akan Valhalla; orang Yahudi punya konsep bayangan akan sheol; sementara orang Yunani punya konsep bayangan akan Hades dalam kegelapan stygia; dan Agama Timur memahami hidup sesudah kematian itu diperoleh melalui reinkarnasi.

Sementara itu, juga ancaman yang terbesar datang yang harus dihadapi oleh gereja karena dapat mematahkan konsep kehidupan yang kekal, adalah pemahaman orang Yunani tentang konsep perpindahan jiwa reinkarnasi dan rekoleksi, serta pertanyaan siapa saja yang dimungkinkan untuk memperoleh kehidupan kekal (keselamatan abadi).

Dalam dunia kuno, Plato (428-348 BC) berada di bawah pengaruh Phytagoras yang menonjolkan mistik yang mereka kaitkan dengan angka-angka. Penganut Phytagoras juga menganut ide perpindahan jiwa atau reinkarnasi. Teori mereka didasarkan pada pemikiran Yunani bahwa jiwa manusia tidak bisa mati dan abadi. Jiwa lebih dahulu dari tubuh. Kalau seorang manusia lahir, maka seketika itu juga satu jiwa-abadi sementara waktu terkurung di dalam tubuh. Tubuh fisik atau penjara itu, menjalani proses generasi dan membusuk. Tubuh luar akhirnya akan mati, dan jiwa akan dibebaskan dari penjaranya. Dalam berbagai pandangan tentang inkarnasi kemudian jiwa menjelma kembali ke dalam suatu tubuh yang baru. Jiwa berpindah, bisa menjelma dalam suatu bentuk kehidupan yang lebih tinggi atau lebih rendah. Biasanya berbagai ragam perpindahan jiwa atau inkarnasi didikte oleh tingkat nilai yang dicapai dalam inkarnasi yang paling akhir. Pembebasan akhir akan terjadi kalau jiwa akhirnya bebas dari tubuh dan terus ada sebagai suatu jiwa yang tidak mengambil bentuk, bebas untuk tidak mendiami tubuh fisik.
Kemudian Plato mengemukakan pandangannya tentang kehidupan sesudah kematian dalam dialognya yang terkenal dengan Phaedo, yang memerankan suatu adengan yang menunjukkan bagaimana Socrates menanti eksekusi mati atas kejahatannya yang mengkorupsikan kaum muda dengan penelitian-penelitian falsafahnya yang mengganggu dan merusak. Kemudian ia di eksekusi mati dengan di beri minum racun bunga cemara. Sebelum ia mati Socrates mengatakan kepada murid-muridnya bahwa sekalipun tubuh mati tetapi jiwa tidak akan turut mati. Socrates memberi suatu argumentasi kebalikan, dimana segala sesuatu yang ada di alam digerakkan oleh kebalikannya. Tidur menghasilkan bangun, dan sebaliknya menghasilkan tidur kembali. Sesuatu menyesut setelah ia besar dahulu, demikianlah juga dengan kehidupan. Kehidupan pasti menghasilkan kebalikannya yaitu kematian, dan kematian akan mengahasilkan kebalikannya yaitu kehidupan, inilah yang disebut dengan teori rekoleksi.

Oleh karena itu, tidak ada ajaran lain tentang kehidupan yang kekal setelah kematian, selain ajaran Yesus dari Nazaret. Konsep kehidupan di sebarang kubur merupakn inti pesan ajaranNya. Salah satu ucapan Yesus yang sangat mendasar mengenai kehidupan yang kekal ada dalam injil menurut Yohanes. Yesus mengatakan bahwa Percayalah kepada Allah dan percaya juglah kepadaKu. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Sebab itu Aku pergi kesana untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya tempat di mana Aku berada, kamu pun berada (Yoh. 14:1-3). Tetapi untuk sementara waktu manusia tidak bisa pergi ke tempat ke mana Yesus pergi, tetapi kelak orang percaya akan dapat mengikuti kemana Ia pergi (bnd. Yoh. 13:33,36). Yesus menjelaskan bahwa kepergianNya dari tengah-tengah mereka, yang menggelisahkan hati para murid, harus merupkan peristiwa sukacita karena Yesus meninggalkan mereka untuk menyediakan tempat bagi mereka di sorga. Yesus tidak hanya memungkinkan orang percaya pergi ke sorga, tetapi Dia benar-benar pergi ke sana untuk menjamin pesanNya dan menyediakan tempat bagi orang-orang percaya.

Pernyataan-pernyataan Yesus tentang kehidupan kekal (sorga) memberikan informasi tertinggi dan dapat dipercaya. Yesus mengatakan bahwa kepadaNya sudah diberikan segala kuasa (exousia) di sorga (Mat. 28:18) yang ia terima dari sumber segala kuasa yaitu Allah sendiri. Bahkan Yesus mengatakan kepada Marta yang hanya percaya bahwa kebangkitan orang mati itu terjadi pada akhir zaman Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya (Yoh. 11:25-26). Dalam pernyataan ini Yesus langsung menghubungkan kehidupan kekal dengan diriNya. Dia mengikat kehidupan kekal, kemenangan akhir terhadap musuh terbesar manusia, terhadap kematian itu sendiri, dengan iman terhadap Dia. Artinya bahwa Percaya kepada Kristus adalah mendapat kehidupan kekal.

Walaupun Alkitab kelihatannya tidak bicara langsung tentang keadaan kita di masa mendatang, namun gambaran tentang bagaimana kehidupan kekal (sorga) itu sudah ada disinggung dalam Alkitab. Gambaran itu banyak di lukiskan di dalam kitab-kitab Injil, kitab Kisah Pararasul dan Wahyu Yohanes. Pokok pertama yang harus dipelajari tentang kehidupan kekal adalah bahwa kehidupan itu lebih baik dari kehidupan di atas bumi. Bahkan dalam surat Filipi 1:19-24 sangat tergambar dengan jelas bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Paulus berbicara bahwa kematian sebagai keuntungan. Paulus mencoba membuang pemikiran orang kristen yang menyatakan bahwa kematian adalah suatu kehilangan. Padahal bagi orang yang beralalu dari dunia ini adalah menunju kehidupan kekal, karena itu kematian merupakan suatu keuntungan. Paulus tidak memandang rendah kehidupan di dunia ini. Baginya kehidupan di bumi dan di sorga bukanlah dua hal yang saling kontras antara yang baik dan yang buruk. Keduan kehidupan itu baik adanya, hidup di bumi adalah baik, tetapi hidup di sorga (hidup kekal) adalah jauh lebih baik. Hidup di dunia adalah bersifat sementara, tetapi hidup di sorga bersifat kekal melalui iman kepada Kristus.

Pernyataan di atas tersebut menimbulkan serangan yang hebat dari seorang toelog modern bernama Paul F Knitter dalam bukunya berjudul Menggugat Arogansi Kekristenan. Beliau menggugat orang kristen yang terlalu eksklusif dalam memahami agama dan kepercayannya. Bila orang Kristen menyatakan bahwa hanya Yesus jalan hidup dan kebenaran dan keselamatan kekal satu-satunya (Yoh. 14:6), maka jelas bahwa tidak mungkin orang yang tidak percaya kepada Kristus meperoleh keselamatan dan kehidupan yang kekal. Dengan radikal Paul F Knitter mengatakan bahwa keselamatan dan kehidupan kekal tersebut tidak hanya diperuntukkan kepada orang-orang kristen saja, tetapi kehidupan kekal juga ada pada orang yang menganut agama di luar kristen. Pandangannya itu merupakan lanjutan dari pemahaman seorang teolog katolik Karl Rahner yang mengatakan:
Penyelamatan bukan hanya untuk orang Kristen saja, tetapi untuk semua orang yang berkehendak baik, yang di dalam hatinya kasih karunia bekerja dengan cara yang tidak kelihatan. Sebab Kristus mati untuk semua orang, dan karena panggilan pokok manusia sebenarnya satu ilahi, maka orang kristen harus percaya bahwa Roh Kudus dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah menawarkan kepada setiap orang kemungkinan untuk berhubugan dengan rahasia kebangkitan Kristus. Dan Allah menghendaki keselamatan semua orang (1 Tim. 2:6). Sebab kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus bekerja dalam setiap manusia  melalui agama yang bukan Kristen, bahkan kasih anugerah itu dapat bekerja dalam diri seorang atheis, sebab mereka memiliki kesemaptan untuk diselamatkan. Orang kristen dapat diselematakan karena moralitas alamiah mereka, tetapi karena mereka telah mengalami kasih karunia Yesus Kristus tanpa menyadarinya”.

Pendapat ini cukup membuat kegemaparan karena menurut Paul F Knitter, orang Kristen tidak harus berpusat kepada Kristosentris (berpusat kepada Kristus), tetapi harus Theosentris (berpusat kepada Allah). Paul menuntut supaya orang kristen jangan memahami Kristus secara historis saja, tetapi harus melihat kehadiran Kristus sebagai suatu penyataan Allah untuk keselamatan semua ciptaan.

Pelan-pelan pemahaman ini di tanggapi oleh seorang teolog Indonesia dengan dasar Iman Kristen bernama Harun Hadiwijono. Ia berargumen tentang keselamatan yang menuju pada hidup kekal bahwa hidup di dalam persekutuan dengan Allah, pada satu pihak dapat dikatakan adalah hidup yang tersembunyi di dalam Kristus. Akan tetapi di lain pihak, ia mengatakan, bahwa hidup kekal ini tersembunyi di dalam Allah saja. Hidup di dalam persekutuan dengan Tuhan Allah yang tiada batasnya, yang untuk selama-lamanya, yang tanpa rintangan sedikit pun karena dosa. Dalam Yoh.17:3, Tuhan Yesus menyebutkan bahwa seseorang dapat memperoleh hidup yang kekal apabila orang mengenal dan percaya Tuhan Allah sebagai satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah diutusNya. Oleh karena itu, kehidupan kekal berhubungan erat dengan kepercayaan kepada  Yesus Kristus sebagai Mesias (bnd. Luk. 19:21).

Jika demikian halnya karya penyelamatan ada di dalam Kristus, maka kehidupan yang kekal pada zaman sekarang  adalah milik semua orang yang beriman kepadaNya. Itulah sebabnya maka dalam Yohanes 3:16 disebutkan bahwa Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan beroleh hidup yang kekal. Sekali pun demikian, kesempurnaan hidup kekal itu baru akan dianugerahkan kelak di langit baru dan bumi yang baru, dimana terdapat kebenaran. Jadi dapat dikatakan Alkitab mengajarkan bahwa sekarang hidup kekal itu telah ada, akan tetapi belum dinyatakan secara sempurna.
Dengan berpegang teguh kepada rahmat keselamatan yang sudah dicurahkan berkat hidup, kematian, dan kebangkitan Yesus, iman dan harapan Kristen secara pasti mengarahkan pandangan orang-orang yang percaya kepada kedatangan kembali Kristus yang sudah dekat. Pada saat kedatanganNya yang kedua itu (eschaton) orang-orang yang sudah mati akan bangkit hidup kembali, dan penghakiman terakhir akan dilaksanakan, seluruh tatanan ciptaan akan diperbarui, dan Kristus akan menyerahkan kerajaanNya kepada BapaNya supaya Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor. 15:28).

IV. Analisa dan Implikasi dalam Kehidupan Masa Kini

Ciri-ciri hidup yang kekal selain adanya persekutuan yang indah dengan Yesus, juga ada pengenalan yang dalam dengan Dia, mengasihi Dia, memuji Dia, dan memuliakan namaNya. Memang semuanya ini belum sempurna. Sepanjang hidup kita di dunia sebagian keindahan sudah dirasakan, tetapi masih kabur, namun justru waktu  meninggalkan tubuh fisik itulah semua  akan jadi sempurna, orang percaya akan melihat muka dengan muka (bnd. 1 Kor. 13:12), artinya melihat Allah dalam kemuliaan. Itulah kebahagiaan tertinggi yang diidamkan setiap manusia. hanya orang beriman yang dapat memperolehnya. Maka sebuah kebanggaan bagi kita jikalau kita memiliki pengakuan iman yang menyebutkan: Aku percaya kepada Allah Bapa, Aku percaya kepada Yesus Kristus, aku percaya kepada Roh Kudus. Keselamatan kekal itu diperoleh bila turut dalam penderitaan Kristus dan diukur dengan perilaku seseorang. Iman tanpa perbuatan hakikatnya adalah mati. Tubuh yang penuh dosa harus dikosongkan (dibersihkan) melalui pengembangan kehidupan ke arah yang lebih baik. Karena upah dosa adalah kematian, tetapi Allah memberikan kehidupan kekal melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu, memberi diri dibaptis dalam nama Yesus Kristus harus berarti memberi diri dibaptis kedalam kematianNya, sehingga ketika Yesus bangkit, maka kita turut juga dibangkitkan dan kita akan menjalani kehidupan yang baru yang abadi.

Tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa kehidupan kekal itu diberikan hanya pada satu kelompok agama saja. Sebab Allah mengingini semua ciptaan diselamatkan. Tetapi berdasarkan iman Kristen yang telah diajarkan oleh bapa-bapa gereja dan berdasarkan isi Alkitab, bahwa setiap orang memperoleh keselamatan jikalau Ia memiliki kepercayaan kepada Yesus Kristus. Seharusnya terhadap pengakuan iman itu, orang kristen tidak inklusif terhadap imannya. Seorang kristen dapat bersifat inklusif hanya  dalam koridor kehidupan sosial, dialog antara umat beragama. Soal iman terhadap Tuhan, orang Kristen haruslah bersifat eksklusif, yakin sepenuhnya bahwa Kristuslah satu-satuNya jalan, hidup dan kebenaran, tidak ada yang akan sampai kepada Bapa, jika tidak melalui Dia. Dan kita tidak boleh memaksakan agama lain untuk mengakui credo itu, sebab Allah memiliki rahasia tersendiri di luar kemampuan akal manusia, untuk menyelamatkan dan memberikan hidup yang kekal kepada orang-orang yang bukan kristen.

Kehidupan kekal dalam pengakuan iman rasuli adalah wacana yang sangat menarik karena memberikan harapan pasti bagi orang-orang percaya. Iman dan kepercayaan yang ia bina kepada Tuhan selama ini menjadi tidak sia-sia, sekalipun seorang percaya itu selalu menderita di dunia, tetapi oleh karena kematian, kebangkitan dan kenaikan Allah ke sorga telah memberi asa yang pasti bahwa orang-orang percaya juga akan mengalami hal seperti yang dialami oleh Yesus sebagai  kepala dari kumpulan umat percaya (gereja).

Kesimpulan
Konsep kehidupan kekal dalam apostolicum creed adalah suatu pernyataan yang lahir berdasarkan iman orang kristen. Pengakuan itu merupakan respon/jawaban orang percaya terhadap penyatan dan tindakan Allah kepada umatNya yang dipertegas di dalam diri anakNya Yesus Kristus yang adalah sumber hidup satu-satunya. Credo itu sendiri muncul karena pengajaran Roh Kudus yang memberi penerangan kepada setiap orang percaya akan diri Allah dan anakNya Yesus Kristus. Credo kehidupan kekal adalah satu konsep untuk mengubah pemahaman orang percaya akan eksistensi manusia yang hanya berakhir pada kebangkitan daging saja. Sebab kontinuitas hidup manusia tidak berakhir dengan kebangkitan saja, tetapi setiap orang yang percaya yang telah dibangkitkan seterusnya akan memeperoleh hidup kekal bersama Kristus di dalam langit dan bumi yang baru. Dengan demikian secara eksplisit orang percaya  harus menyatakan bahwa Kristuslah satu-satunya jalan hidup, penyataan ini harus diimani oleh setiap orang Kristen, sebab ini mempersoalkan tentang iman. Bukan memeprsoalkan tentang kehidupan sosial, keterbukaan agama-agama, soal dialog antar umat beragama. Jika Harun Hadiwijono dan Paul F Knitter berpendapat peran dan hakikat Kristus datang ke dunia dalam rangka menyatakan diri dan karya penyalamatan serta kehidupan kekal yang akan di anugerahkan kepada orang-orang percaya, namun jawaban yang pasti tanpa Kristosentris, maka penyelamatan Theosentris akan sulit untuk dipahami. Kristologis tidak akan dapat dipahami tanpa theosentris. Dan bagi umat Kristen kehidupan kekal itu hanya ada pada dan melalui Yesus Kristus sendiri (Yoh. 14:6).
Daftar Pustaka
Dyrness, William
2004 Tema-Tema Teologi dalam Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas)
Hadiwijono, Harun
2006 Iman Kristen (Jakarta: BPK-GM,)
Harned, Baily David
1958 Creeds and Personal Identity: The Meaning of Apostle Creed, (Fortress Press-Philadelphia)
Knitter, F Paul
2005 Menggugat Arogansi Kekristenan, (Yogyakarta: Kanisius)
Lane, Tony
2003 Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, (Jakarta: BPK-GM,)
Lohse, Bernhard
2004 Pengantar Sejarah Dogma Kristen, (Jakarta: BPK-GM)
Pedesson E. Philip. (editor)
1959 Luthers Cathecisms Today: What Does This Means?,  (Fortress Press- Philadelphia)
Phan C. Peter
2005 101 Tanya Jawab Tentang Kematian dan Kehidupan Kekal,  (Yogyakarta: Kanisius,)
Roberts, Alexander  (ed.)
1957 Nicene and Post-Nicene Fathers of the Christian Church Vol.3, (WM.B Eerdmans Publishing Company-Garand Rapids Michigan)
Schaff, Philip (ed.)
1983 The Creeds of Christendom Vol.1, (Baker Book House)
Schaff, Philip (ed.)
1956) Nicene and Post-Nicene Fathers of the Christian Church, (WM.B Eerdmans Publishing Company-Garand Rapids Michigan)
Sproul, R.C
Hai Maut Dimanakah Sengatmu?, (Jakarta: BPK-GM)

Komentar