Langsung ke konten utama

Materi 2. Etika Kristen mengenai pendirian tugu


Tinjauan Etika Kristen tentang menghormati Orang tua menurut Hukum ke V dihubungkan dengan Pendirian Tugu dalam adat kebudayaan Batak
I.     Latar Belakang Masalah
Kali ini kita akan membahas tentang konteks tanah atau daerah Batak, begitu banyak tugu-tugu atau makam yang begitu megah dan indah di tanah Batak, seringkali penyeminar melihat itu didaerah Toba Samosir yang menjadi mayoritas masyarakat yang mempraktikkan hal itu, sedangkan rumah-rumah nya sangat sederhana. Bangunan tugu-tugu mengalahkan rumah-rumah masyarakat Batak yang sangat sederhana. Jaminan berkat dan kutuk itu dipercayai dari nenek moyang nya dahulu. Dan juga banyak motivasi salah menghormati orang tua yang sudah mati dengan berlandaskan hormat pada orang tua yang sudah mati berdasarkan hukum taurat ke lima dan penugasan Yakub kepada Yusuf tentang mayat yang harus dibawa dari Mesir. Di kuburkan  bersama-sama leluhur, amanat orang tua harus dikubur dengan satu keluarga, Konteks suku Batak dalam hal menghormati orangtua yang sudah meninggal seperti penggalian tulang-belulang, pembangunan tugu, berziarah, dan lain-lain memiliki motif penghargaan, penghormatan, kultus pada roh orang mati. Penghormatan kepada orangtua menurut hukum Taurat kelima dengan tujuan mempererat hubungan, kekerabatan atau untuk memulihkan kebesaran nenek moyang.
II.  Pembahasan
2.1.  Pengertian Menghormati
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata menghormati ialah berarti rasa menghargai. Dengan kata lain, kata menghormati berarti memberi (menyatakan hormat kepada), mengakui, dan menaati.[1] Menghormati ialah lebih daripada sekedar mengasihi. Menghormati tidak hanya meliputi kasih; hal itu juga berarti bersikap sopan, rendah hati dan seolah-olah menghargai raja, yang tersembunyi dalam orang tua kita. Menghormati tidak hanya berarti berbicara kepada mereka dengan penuh kasih dan hormat. Terutama dengan sikap hati dan tubuh kita, harus menunjukkan bahwa kita menjungjung tinggi mereka dan menganggap mereka memiliki kedudukan tinggi.[2]
2.2.  Pengertian Orangtua
Orang tua dalam keluarga ialah menciptakan kesejahteraan umum melalui bimbingan dan pendidikan anaknya secara bertanggungjawab.[3] Orang tua ialah wakil Allah, Allah telah memberi kehormatan istimewa bagi kedudukan ayah dan ibu, dari semua kedudukan. Orang tua merupakan wakil Allah, kendatipun mereka sangat hina, miskin, lemah dan aneh, mereka tetaplah ayah dan ibu yang diberikan Allah. Kehormatan mereka tidak hilang oleh karena cara hidup atau kegagalan mereka.[4] Menurut Tim penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, bahwa orang tua ialah ayah dan ibu kandung, orang yang dihormati, orang yang dianggap tua dan orang yang disegani.[5] Allah menggunakan ikatan yang ada antara ayah dan ibu untuk menciptakan, memelihara dan memerintahkan anak-anak mereka. Allah menghendaki supaya orang tua dalam keluarga melaksanakan wibawanya atas nama-Nya supaya anak-anak melihat mahkota yang ada di atas kepala orang tuanya serta mengakui dan menghormati wibawa orang tuanya.[6]
2.3.  Pengertian Hukum Taurat Kelima
Kata “hormatilah” dalam hukum taurat kelima berasal dari kata kabbed yang memiliki arti hurufiah yaitu “berat”. Dalam hal ini berarti bahwa orang Israel harus memperlakukan orang tua sebagai sesuatu yang sangat penting dan meneruskannya. Tujuan pokok dari firman ini bukan mengajar anak-anak tentang sikap mereka terhadap orang tua mereka tetapi mengajarkan orang dewasa akan sikap mereka terhadap orang tua mereka yang lanjut usia dan kekuatannya sudah berkurang. Jika firman ini ditaati bukan hanya keluarga tetapi masyarakat juga akan menjadi lebih aman dan stabil. Dengan begitu akan lanjut umur orang Israel di tanah yang diberikan Tuhan kepadanya.[7]
Hormatilah ayah dan ibumu dibagi dalam beberapa point:
-          Orang tua ialah wakil Allah: Allah telah memberi kehormatan istimewa bagi kedudukan ayah dan ibu,  lebih dari semua kedudukan lain di bawah Dia. Ia tidak hanya menyuruh kita mengasihi orang tua kita, tetapi juga menghormati mereka.
-          Cara menghormati orang tua: pertama, hendaklah kita menghormati dan menghargai mereka sebagai harta yang paling indah di dunia ini. Kedua, hendaklah kita mengendalikan diri kita apabila kita berbicara kepada mereka, kita mengalah, tidak membantah, sekalipun mereka bertindak terlalu jauh. Ketiga, kita mesti menghormati mereka dengan perbuatan mereka, yakni dengan tubuh kita dan milik kita, dengan membantu mereka, menolong serta memelihara mereka pada saat mereka lanjut usia, sakit, lemah, atau miskin. Semua bukan hanya dengan senang hati tetapi juga dengan rendah hati sambil menyadari kita melakukannya dihadapan Allah.
-          Perintah Allah untuk menghormati orang tua.
-          Allah menyukai ketaatan, menghormati orang tua ialah perbuatan luhur, menaati Allah merupakan sumber kebahagiaan.
-          Memelihara perintah ini ialah berkenan kepada Allah.
-          Ketaatan yang penuh dengan syukur, Allah menjanjikan upah serta mengancam dengan hukuman, karena semua wewenang bersumber dari wewenang orang tua.[8]
2.4.  Pengertian Tugu secara umum
Tugu adalah sebuah tiang besar dan tinggi yang terbuat dari batu, bata, dsb.[9] Dipandang dari sisi cita-cita hidup orang Batak, ketinggian tugu juga berarti ketinggian atau kehebatan hidup yang sudah dicapai oleh keturunannya.[10] Tugu adalah tiang besar dan tinggi yang dibuat dari batu, batu bara, dan seterusnya.[11]
Tugu juga dapat disamakan dengan arti “monument”,  dalam bahasa Inggris yaitu menurut The New Oxford Illustrated Dictionary, tugu adalah segala sesuatu yang telah melalui ketahanan yang sangat lama dipakai untuk mengenang seseorang, kegiatan, atau kejadian.[12] 
Motif pendirian tugu, semuanya tidak lepas dari usaha untuk memperoleh berkat leluhur yang sudah meninggal tersebut. Tugu merupakan bangunan patung nenek moyang, yang kadangkala berkaitan dengan upacara penggalian tulang-belulang. Bagi masyarakat Batak, tugu merupakan bukti fisik dalam menunjukkan penghargaan kepada leluhur. Dalam upacara yang dilakukan keluarga, semua keturunan dari leluhur akan berkumpul, dan seluruh anggota yang mempunyai keterikatan melalui dalihan na tolu mempunyai giliran dan kepentingan sesuai adat Batak. Tradisi pembangunan tugu ini diyakini akan memperkuat tali penghubung kerabat, dan hal ini akan semakin meningkatkan perasaan sejahtera bagi yang masih hidup.[13]
2.5. Pandangan Alkitab mengenai tugu 
2.5.1.      Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama tugu disebut dengan tiang. Dalam Bahasa Ibrani disebut mezuza yang berarti tiang merupakan tempat pintu berputar terbuat dari kayu yang terdapat pada rumah-rumah biasa (Kel 12:7), bait suci (1 Sam 1:9; 1 Raj 6:33; Yeh 41:21) dan gerbang-gerbang kota (Hak 16:3).[14] Dalam Perjanjian Lama tugu diartikan sebagai peringatan dan sebagai pusat peribadahan agama. Terbuat dari batu atau kayu dengan pucuknya yang sering dihiasi. Yakub mendirikan tugu ditempat kuburan Rahel (Kej 35:10). Musa membuat kedua belas tugu (satu untuk setiap suku) di sekitar mezbah di padang belantara (Kel 24:4). Yosua menyuruh membangun 12 tiang batu (obelisk) di sungai Yordan dan kemudian memindahkan ke Gilgal (Yos 4:9, 20). Tugu ini berkaitan berkaitan dengan agama kesuburan pertanian baal, para nabi Israel mengutuk tugu keagamaan (Hos 10:2, Mik 5:13) tetapi dua tugu yang berdiri bebas diluar bait suci yang disebut Yakim dan Boas jelas mempunyai arti religius. Berbeda dengan tiang-tiang di Yunani yang menyatu dengan rancangan bangunan yang mempunyai daya tarik keindahan yang kuat.[15]
2.5.2.      Perjanjian Baru
Tugu dalam bahasa Yunani mnemeion yang dipakai untuk menunjuk kepada peringatan/monumen dan berhubungan dengan orang yang meninggal.[16] Dalam Perjanjian Baru istilah tugu terdapat dalam Mat 23:27-29. Orang Farisi yang mendirikan tugu orang saleh tersebut bertujuan agar dianggap sebagai orang saleh. Pandangan Alkitab terhadap pembangunan tugu bukanlah menghormati arwah orang tua melainkan sebagai peringatan atas kebesaran dan keagungan Allah yang senantiasa melindungi, membimbing dan membebaskan bangsa-Nya. Apabila pembangunan tugu tidak sesuai dengan kehendak Allah maka harus dirobohkan. Tugu bukan tempat tulang-belulang orang yang sudah meninggal melainkan tempat untuk memperingati penyertaan Allah yang senantiasa melindungi dan menyelamatkan bangsa-Nya.[17]
2.6.  Tradisi Masyarakat Batak dalam Penghormatan kepada Orang tua dalam Pendirian Tugu
2.6.1.      Sejarah Pendirian Tugu di Tanah Batak
Awalnya budaya Batak belum mengenal istilah tugu tetapi hanyalah “tambak” yaitu makam atau kuburan yang ditinggikan dengan menyusun lempengan tanah dimakam orang tua yang sudah mempunyai banyak keturunan. Sesuai dengan perkembangan zaman dan maraknya pendirian monumen perjuangan maupun sejarah, pembuatan tambak ditingkatkan menjadi batu na pir (batu yang kuat) yakni makam yang terbuat dari beton. Berdirinya tugu di tanah Batak juga merupakan pengaruh modernisasi. Pada perang dunia kedua masyarakat Batak hanya mengenal kuburan-kuburan yang ditinggikan dalam bentuk semen dalam berbagai bentuk. Sesudah kemerdekaan kita, tugu kemerdekaan dan tugu kepahlawanan dibangun seperti tugu Raja Sisingamangaraja di Sopo Surung, Balige. Jadi pembangunan tugu merupakan inspirasi kepada orang Batak dalam usaha membangun tugu sebagai lambang penghormatan kepada orang tua.[18]
2.6.2.      Motif Pendirian Tugu
Banyak orang yang beranggapan bahwa leluhur yang sudah meninggal sangat perlu diberi penghormatan. Tugu disebut sebagai pekerjaan atau hasil karya yang bernilai kekal sebagai bangunan atau lokasi alamiah yang dilestarikan oleh karena keindahan atau arti sejarahnya.[19] Didirikannya patung nenek moyang tidak terlepas dari upacara penggalian tulang-belulang, sekalipun seringkali berhubungan dengannya. Dengan adanya tugu-tugu ini, pemujaan nenek moyang di tanah Batak telah terdapat di suatu perwujudan yang seharusnya mendapat perhatian. Pendukung pembangunan sebuah patung tugu adalah sekelompok keluarga, yang pada umumnya cabang satu marga yang disebut satu nenek (saompu) dinamai ompu parsadaan (moyang kesatuan). Prakarsa untuk membangun suatu patung tugu untuk bapak-moyang seringkali berasal dari anggota-anggota yang paling mampu dari kelompok itu, yang sudah pergi merantau. Jadi tugu-tugu itu dibangun dengan latar belakang hubungan-hubungan yang penuh variasi dengan antara suatu kelompok saompu. Yang turut berpengaruh dalam berdirinya suatu patung tugu ialah: menjamin kesatuan genealogis, memohon dan menerima berkat baru, menambah kekuatan dengan memperlihatkan kebesaran keturunan, dan dengan demikian mengamankan masa depan bagi keturunan. Tahap untuk mendirikan tugu: pemilihan ompu parsadaan, musyawarah tempat besar tugu, kamar tempat tulang nenek moyang dikumpul, batu pertama, dan peresmian.[20]
2.6.3.      Maksud serta tujuan Pendirian Tugu
Salah satu budaya tertua yang masih dilakukan manusia modern sekarang adalah penghormatan terhadap leluhur mereka yang sudah meninggal. Keyakinan suku bangsa purba bahwa penghormatan dilakukan dengan membuat sarkofagus megalitis, yaitu tempat belulang leluhur. Penempatan tulang-belulang ke dalam sarkofagus megalitis dilakukan melalui acara ritual yang kemudian menjadi acara pesta kegembiraan bagi keturunan leluhur tersebut. Motif dan sikap ini memberi indikasi kuat suku bangsa purba memiliki keyakinan dapat berhubungan dengan leluhur yang sudah meninggal. Berdasarkan keyakinan itu mereka melakukan hubungan dengan leluhur mereka di alam gaib dengan tujuan untuk memperoleh berkat dan perlindungan.
Pelaksanaan mendirikan tempat tulang-belulang leluhur juga masih berlangsung di kalangan suku Batak Toba yaitu dengan mendirikan tambak atau batu na pir. Agar tidak jatuh dalam kekafiran, gereja mengambil prakarsa untuk mengawasi pelaksanaannya dan melakukan ibadah (partangiangan). Pemberian tumpak atau manumpahi dalam pendirian tugu ini memiliki konotasi sama dengan menerima berkat, karena dianggap lebih dari pada partisipasi di dalam keuangan. Dengan memberi tumpak diyakini berdampak berkat, pasu-pasu di dalam kehidupan keluarga mereka. Oleh karena itu tujuan pembangunan tugu juga untuk merakit persekutuan semua keturunan dari suatu marga atau ompu.[21]
1. Mematuhi Hukum Taurat :, penghormatan kepada orang tua yang notabenenya adalah saluran berkat telah bergeser melalui penjelasan hukumnya (titahnya) ataupun ketetapan-ketetapan lainnya, yang berarti penghormatan kepada orang tua adalah pengakuan atas wibawa dan martabat yang tinggi diberikan Allah kepada orang tua itu. Allah mengangkat mereka menjadi orang tua, oleh sebab itu orang tua patut untuk dihormati. Pendirian tugu bagi orang Batak bukan lagi sesuatu yang bersifat animis, tetapi tergerak oleh pemahaman konsep menghormati orang tua dalam hukum kelima (Kel 20:12). Konsep ini juga dilihat dari cara Israel yang menghormati orang tuanya. Yakub mengamanatkan kepada Yusuf, apabila ia meninggal supaya dikuburkan di Kanaan di dalam gua di ladang Efron (kuburan leluhurnya). Yusuf melakukan amanat orang tuanya yang pernah ia terima. Dengan demikian, melaksanakan amanat orang tua dapat dikategorikan kepada penghormatan karena anak-anaknya melaksanakan pesan orang tuanya semasa hidupnya.[22] Di dalam adat Batak terdapat nilai-nilai etis yang mengatur hubungannya dengan sesama manusia termasuk di dalamnya hubungan dengan orang tuanya. Setelah kekristenan menyebar ke tanah Batak sekitar tahun 1800-an[23]. Setelah Hukum Taurat, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, ada beberapa nats yang memberi penekanan terhadap menghormati orang tua serta upahnya (Ams 23:22; Kej 46:29; Rom 13:2). Hal inilah yang mendukung orang Batak dalam berbagai usaha untuk menghormati orang tua, bukan lagi dalam kekafiran, tetapi berada dalam terang Firman Allah.[24]
2. Kasih: Kasih menjadi dasar persekutuan bangsa Allah bukan saja dalam Perjanjian Lama (Im 19:17, 34) tetapi juga dalam Perjanjian Baru (Mat 22; Rom 12:9-21). Allah melalui Yesus Kristus telah menanamkan kepada seluruh pengikut-Nya bahwa dasar hukum sesama maupun kepada Tuhan adalah kasih. Hubungan manusia dengan manusia termasuk orang tua, dan hubungan manusia dengan Allah. Itulah landasan kekristenan yang diringkaskan Yesus dari seluruh hukum yang ada di dalam Alkitab.[25] Manusia dan keturunannya diciptakan untuk saling mengasihi dan menghilangkan kebencian, baik hubungan antara orang tua dan anak, anak dan orang tua. Rasa hormat kasih haruslah ada di tengah-tengah mereka. Kasihlah yang mengikat manusia dalam hubungannya terhadap sesama, sebaliknya orang yang menindas sesamanya berarti tidak menghormati ciptaan Allah dan memberikan sakit hati kepada orang lain (Pkh 8:9).[26]
3. Keselamatan: Dalam pandangan suku Batak Toba dahulu, ada tiga bagian kelas roh yang mati, yaitu menjadi begu, sumangot, dan sombaon. Semuanya ini sangat ditakuti oleh masyarakat terlebih kepada sumangot. Rohnya menjadi sumangot apabila keturunannya menghormati, tetap mengingat, dan memuja para leluhur itu. Dalam hal ini, nasib atau jaminan keselamatan bagi keturunan yang masih hidup menjadi tergantung pada sombaon itu. Kecelakaan, malapetaka, penyakit, ketidaksuburan tanah atau kemiskinan terjadi oleh karena keturunannya tidak menghormati nenek moyangnya yang telah meninggal, baik dari tingkat begu, sumangot, sampai ke tingkat sombaon. Dalam kepercayaan Batak, konsep tentang Allah adalah bersifat transcendental. Allah menjadi yang berkuasa sebagai Allah yang juga menciptakan manusia dipahami sebagai yang jauh di Benua Atas, sehingga menjadi kurang ditakuti oleh masyarakatnya. Oleh karena itu orang Batak sering menggantikannya dengan bentuk eksistensi yang lain. Mereka memang dipuja dan dipanggil dalam beberapa tonggo-tonggo (doa-doa), akan tetapi itu hanya sebatas penghormatan saja.Ada pemahaman bahwa setiap orang yang memuja nenek moyang yang sudah meninggal akan memperoleh keselamatan dan segala yang dicita-citakannya.[27]
4.  Berkat : Di dalam pemahaman orang Batak, menghormati orangtua, nenek moyang, dan sumangot akan mendatangkan berkat bagi keturunannya. Sumangot dapat memberikan berkat bagi orang Batak apabila selalu mendapat penghormatan. Mereka percayai walaupun nenek moyangnya telah dan bahkan telah berpuluh-puluh tahun meninggal, namun tondi dan sumangotnya masih hidup dan tetap bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari. Orang Batak merasakan dan menyadari bahwa para sombaon itu bekerja memberkati mereka melalui kurban yang disampaikan melalui upacara-upacara adat yang disampaikan oleh keturunannya. Dengan memberikan kurban kepada sumangot ni ompu, maka sebaliknya adat harus dibayar oleh nenek mpyang kepada keturunannya yang setia mengingat dan memujanya, yaitu dengan cara memberkati panen, ternak, dan melindungi atau mennagkis segala penyakit atau petaka.[28] Di dalam cita-cita hidupnya, orang Batak dari dulu hingga sekarang terkenal dengan falsafah hidupnya, yaitu: hamoraon (kekayaan), hasangapon (kehormatan), dan hagabeon (keturunan). Orang Batak pada umumnya menyadari dan ingin memiliki cita-citanya yang berisi tiga unsur tessebut.[29]
5. Sahala: Sahala (wibawa) merupakan satu aspek yang nyata daripada roh menurut kepercayaan orang Batak. Menurut orang Batak, ketika mereka melakukan penghormatannya kepada nenek moyangnya, maka mereka akan mendapatka n kesejahteraan material dan spiritual dari nenek moyang mereka dengan cara mengalirkan sahala kepada mereka. Menurut orang Batak, sahala itu dapat menentukan kedudukan seseorang dalam masyarakat.[30]
2.8  Penghormatan Kepada Orangtua Menurut Hukum Taurat Ke-5 dalam konteks pendirian Tugu
Dalam peristiwa di Sinai, Tuhan Allah memberikan Dasa Titah kepada bangsa Israel (Kel 20:2-17; Ul 5:6-21). Dasa Titah itu merupakan ringkasan yang sederhana tetapi menyeluruh tentang ketentuan-ketentuan hakiki hubungan perjanjian dan membatasi tingkah laku yang sesuai dengan keanggotaan umat Allah. Salah satu isi dari Dasa Titah adalah tentang menghormati orang tua, bahkan dikatakan agar engkau beroleh kebahagiaan dan lanjut umur di bumi yang diberikan Allah kepadamu. Penghormatan kepada orang tua adalah pengakuan atas wibawa dan martabat yang tertinggi yang diberikan Allah kepada orang tua. Allah telah mengangkat mereka menjadi orang tua, oleh sebab itu patut untuk dihormati.[31] Adanya motif pembangunan tugu untuk merakit persekutuan semua keturunan dari satu marga sering dikaitkan dengan penghormatan kepada leluhur (pasangaphon ompunta). Dengan hal demikian tidak jarang dipahami bahwa penghormatan terhadap leluhur sesuai dengan hukum taurat kelima “menghormati orang tua” sehingga pembangunan tugu memiliki keabsahan baik di dalam budaya maupun dalam kekristenan. Pemahaman tersebut tidaklah mendasar, sebab menghormati orang tua yang dimaksud dalam hukum taurat kelima adalah orang tua yang masih hidup.[32]
2.9  Sikap Etika Kristen Tentang Menghormati Orang tua dalam konteks pendirian Tugu
Walaupun manusia diharuskan taat sepenuhnya terhadap Allah bukan berarti tidak boleh menghormati orang tua. Dalam Matius 7:9-13 Yesus mengkritik sistem adat masyarakat Yahudi yang menekankan hormat kepada ahli-ahli taurat dan mengabaikan hormat pada orang tua. Yesus menekankan bahwa orang tua harus dihormati tapi wujud hormat itu tidak boleh sampai menyembah mereka sehingga menduakan Allah. Menurut torah kelima, hormat kepada orang tua adalah wujud dari penghormatan kepada Allah dengan cara peduli, menghargai, memelihara dan memperhatikan.[33] Manusia diberi Allah kebebasan tetapi kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang bertanggung jawab, kebebasan untuk melakukan hal-hal yang berkenan bagi Allah serta bertanggung jawab dalam melaksanakan kehendak-Nya.[34]
Penghormatan kepada orang tua bukanlah pemujaan atau pengkultusan melainkan untuk mematuhi, menaati, bersikap sopan terhadap orang tua. Penghormatan kepada orang tua adalah pengakuan atas wibawa dan martabat yang tinggi yang diberikan Allah kepada orang tua itu. Martabat dan wibawa itu diberikan Allah, karena itu mereka perlu untuk dihormati dengan segenap hati dan harus dianggap tinggi martabatnya, karena Allah sendiri yang mengangkat mereka menjadi orang tua. Oleh sebab itu, orang tua wajib mengajar dan mendidik anak-anak-Nya supaya menjadi anak yang bijak dan berbudi luhur serta taat kepada Allah. Jadi penghormatan kepada orang tua adalah pada masa orang tua masih hidup sedangkan bagi orang tua yang sudah meninggal hanya dapat dikenang.[35] Oleh sebab itu yang menjadi tugas kita ialah memberi jawab atas pertanyaan: Bagaimana orang Kristen itu dapat bergaul secara Kristen dengan orang-orang mati? Mereka sangat yakin bahwa mereka mempunyai dan harus melanjutkan persekutuan dengan orang-orang mati. Persekutuan Kristus dengan kematian itu dihubungkan dengan penyerahan wujud kita yang badaniah. Persekutuan orang-orang yang hidup sebelum datangnya agama Kristen dengan Kristus, dan konsepsi dunia orang mati dan sifat universal keselamatan. Secara teologis cara orang-orang Kristen dengan orang-orang matinya hubungannya bersifat horizontal orang-orang hidup dengan orang-orang mati dalam Kristus berlangsung karena keanggotaan mereka dalam tubuh Kristus dan hanya dalam, dengan, dan melalui Kristus.  Persekutuan antara orang hidup dan mati ditentukan selanjutnya oleh kenyataan bahwa kedua kelompok itu bersama-sama menantikan penggenapan hari Tuhan.[36] Tubuh Mati dan Roh Kembali Kepada Allah: Kata ini juga dipakai menuju proses kematian  (Kej 21:16), masa kematian (Kej. 27:7). Manusia harus kembali kepada tanah  sebab manusia itu berasal dari tanah (Kej. 3:19).[37] Manusia Mati secara Totalitas : Dalam Kolose 3:3 Paulus memahami kematian sebagai “kepergian kepada kehidupan bersama-sama Kristus yang tersembunyi pada Allah”. Roma 14: 7-9 menekankan dengan sangat baghwa mereka , hidup dan mati adalah milik Tuhan dan bahwa Yesus adalah Tuhan atas orang-orang yang hidup dan mati.[38] Hubungan Manusia Dengan Roh Orang Mati: Keterpisahan roh dari tubuh yang menimbulkan kematian sekaligus menjadi keterputusan hubungan orang mati dengan yang masih hidup. Artinya orang mati itu tidak lagi dapat berkomunikasi, berbuat baik atau berbuat jahat orang yang masih hidup.[39]
III.             Analisa Penyeminar
Etika Kristen menerima pendirian tugu dengan bertujuan bahwa pendirian tugu yang dilakukan bukan untuk menonjolkan diri, tidak menyatakan adanya penyembahan dan meminta berkat terhadap leluhur, tidak menghabiskan biaya yang berlebihan, tetapi pendirian tugu dipandang hanya sebagai tanda peringatan dan pembangun sistem kekerabatan antar keluarga. Menurut analisa kami bahwa, tradisi menghormati orang tuanya yang sudah meninggal yang tertanam dalam hati seorang Batak ialah dengan cara berziarah, mangongkal holi, dan pembangunan tugu, namun semuanya itu adalah penghormatan kepada orang tua dalam dunia yang berbeda yaitu dunia orang mati dan dunia orang hidup. Pendirian tugu dan pelaksanaan yang berhubungan dengan orang yang mati lainnya adalah perbuatan atau daya untuk menghidupkan kembali pemujaan terhadap nenek moyang. Hukum Taurat yang kelima tidak dapat dijadikan dasar untuk melakukan hal yang demikian, sebab kata hormat pada orang tua adalah wujud dari penghormatan kepada Allah dengan peduli, menghargai, memelihara, memperhatikan, dalam wujud dan dalam artian yang konkret. Hukum titah yang kelima dilaksanakan kepada orang tua dalam wujud yang nyata sebagai mereka wakil Allah yaitu pada masa orang tua itu hidup bukan saat orang tua itu sudah meninggal. Cinta yang kita lakukan kepada orang tua sekali-kali tidak boleh melebihi cinta kepada Tuhan, dan kita mengenang serta mengucap syukur serta berterima kasih atas kepada orang tua kita yang terlebih dahulu ke dunia orang mati, bukannya pemahaman yang dianut oleh orang Batak dari nenek moyang dahulu bahwa jika tidak menghormati orangtua dapat hukuman kepada orang tuanya.  Jikalau menjawab latar belakang masalah yang terdapat dalam Alkitab seperti kisah Yusuf, itu bukanlah penggalian tulang belulang namun mayatnya yang ingin dibawa dari Mesir. Penyeminar pun memandang bahwa membangun tugu itu ialah membutuhkan biaya yang sangat banyak yang secara etis itu tidak baik, karena membuat ke hal yang berfaedah lebih baik digunakan cukup dengan memperbaiki kuburannya seadanya saja. Etika Kristiani juga menolak pelaksanaan menghormati orang tua yang sudah meninggal, karena hubungan orang yang hidup dan mati tidak ada lagi hubungannya. Penyeminar itu juga berpikir salah atau tidaknya menghormati orang tua ialah tergantung tujuan, maksud, dan motivasinya, jikalau berhubungan dengan hubungan dengan orang mati, berkat, keselamatan.  Agar pendirian tugu ini berjalan menurut firman yang benar perlunya dilaksanakan dalam bentuk tata gereja orang Batak dan berdasarkan liturgi yang telah ditetapkan oleh gereja, agar gereja mengawasi tidak terjadinya pelaksanaan ritual atau penyembahan yang menyimpang.
IV.              Kesimpulan
Konteks pendirian tugu dalam adat masyarakat Batak ialah suatu kepercayaan menghormati orang tua mereka meski orang tua sudah meninggal. Secara etika Kristen dan teologi Kristiani bagaimana orang hidup berhubungan dengan orang-orang mati mereka, dan hubungan antara orang yang hidup dan yang mati itu telah terpisah. Pendirian tugu dalam hal ini berhubungan dengan penghormatan kepada orang mati. Jikalau motivasi menghormati nya diluar dari mengenang orang yang mati, seperti meminta berkat, maka itu termasuk memberhalakan, mendewakan, serta menduakan Tuhan.
V.                 Daftar Pustaka
Bertens,K., Etika, Jakarta: PT Gramedia, 1994
Bromiley,Geoffrey W., Theological Dictionary of The New Testament Vol II, Gerhard Kittel (ed), Michigan: WM.B. Eerdmans Publishing Company Grand Rapids, 1967
Browning,W.R.F., Kamus Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 2007
DEPDIKBUD, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Douglas J.D., (ed), Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, Jakarta: YKBK/OMF, 2001
Drynes, William,  Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian lama, Malang: Gandum Mas, 2004
Dua, Mikhael, Ensiklopedia Nasional Indonesiai, Jakarta: Delta Pamungkas, 1997
Gultom,H., Penggalian Tulang-belulang Leluhur, Jakarta: BPK-GM, 1991
Gunarsa, Yulia Singgih D. & Singgih D. Gunarsa, Psikologi untuk Keluarga, Jakarta: BPK-GM, 2012
https://id.wikipedia.org/wiki/Tugu diakses pada tanggal 02 Februari 2016 pukul 17.10 wib
Hutauruk,E.D.R., Pembangunan Tugu Nenek Moyang Orang Batak ditinjau dari segi Iman Kristen dalam Tidak ada yang mustahil bagi Allah , J.R. Hutauruk (ed), Pematang Siantar: TP, 1986
Lumbantobing,Darwin, Teologi di Pasar Bebas, Pematangsiantar: L-SAPA, 2007
Luther,Martin, Heinrich Christian Schwan, Landasan Iman Kristen, Amerika: Lutheran Heritage Foundation, 2004
Pasaribu, Armudi, “Pembangunan Tugu Dari Segi Sosial-Ekonomi”, B.A. Simanjuntak (ed.) dalam Pemikiran Tentang Batak, Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak, Medan: Universitas HKBP Nomensen, 1986
Pasaribu,Rudolf H., Okultisme di Kalangan Masyarakat Batak, Jakarta: PT Atalya Rileni Sudeo, 2000
Paterson, Robert M., Tafsiran Alkitab, Kitab Keluaran, Jakarta: BPK-GM, 2006
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1984
Schreiner,Lothar, Adat dan Injil, Jakarta: BPK-GM, 2003
Siahaan,O., Mengasihi Masyarakat dan Menggarami Kehidupan Batak Dengan Firman Allah dalam A.A. Sitompul, Injil dan Tata Hidup, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008
Siahaan,O., Mengasihi Masyarakat Menggarami Kebudayaan Batak dengan Firman dalam Injil dan Tata Hidup, A.A. Sitompul, Jakarta: BPK-GM, 2002
Sitompul,A.A., Manusia dan Budaya, Jakarta: BPK-GM, 1993
Sosipater,Karel, Etika Perjanjian Lama, Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2010
Tambunan,E.H., Sekelumit Tentang Budaya Batak Toba, Jakarta: Tarsito, 1982
Tjen, Anwar (terj.), Katekhismus Besar Martin Luther, Jakarta:BPK-GM,2011
Vergouwen, J.C., Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba, Jakarta: Pustaka Azet, 1985
Verkuyl, J., Aku Percaya, Jakarta: BPK-GM, 2001
wancil.net/files/pdf/bab3.pdf diakses pada tanggal 02 Februari 2016 pukul 17.20 wib




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 28. Makna Panggilan Abraham Menurut Agama Yahudi

I. Latar Belakang Masalah  Pemanggilan Abram itu akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dan berkat yang dimadsud ialah berkat yang berasal dari Abram dan barangsiapa yang menyembah Allah Abram. Semua umat manusia akan menyembah Allah Abram, tapi permasalahan apakah berkat itu hanya tercurah hanya kepada Israel dan keturunannya saja, ataukah kepada semua kaum di bumi. Abram adalah permulaan pengenalan akan Allah Yang Esa, setelah berbagai kesalahan yang telah dibuat manusia oleh dosa. Abram selain disebut bapa orang percaya, ia juga disebut sahabat Allah.  Ada kalanya Allah telah memberkati orang-orangNya, sehingga hal menimbulkan kesal dan iri hati bagi pihak yang tidak terberkati. Mungkinkah Ia memihak dan bertindak berat sebelah? Sungguhpun Allah dapat memberi berkat menurut kesukaanNya, meski seorangpun tidak ada yang berhak, tetapi justru berkat itu dilimpahkannya segala yang hidup, termasuk juga yang tidak dipilihNya. Bukan hanya Ishak dan Yakub dan Efraim mendapat berka...

Materi 3. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru

Mencermati Arti dan Makna “Persaudaraan” (Brotherhood/Sisterhood) dalam Gereja Mula-mula serta Refleksinya dalam Gereja dan Masyarakat Masa Kini I.                     Latar Belakang Masalah Suatu nyanyian yang sering kita dengar adalah “Dalam Yesus kita bersaudara”, yang mempersatukan mereka ialah kasih. Gereja masa kini banyak tidak mempraktekkan lagi arti kata adelpos itu sebagai wujud persaudaraan antara satu dengan yang lain, ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman modernisasi, cara pandang yang globalisasi, maka Kekristenan menanggapi tantangan-tantangan budaya global. Konsepsi Familia Dei atau Persaudaraan, dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkot...