Mencermati Arti
dan Makna “Persaudaraan” (Brotherhood/Sisterhood) dalam Gereja Mula-mula serta
Refleksinya dalam Gereja dan Masyarakat Masa Kini
I.
Latar Belakang
Masalah
Suatu nyanyian yang sering kita dengar
adalah “Dalam Yesus kita bersaudara”, yang mempersatukan mereka ialah kasih.
Gereja masa kini banyak tidak mempraktekkan lagi arti kata adelpos itu sebagai wujud persaudaraan antara satu dengan yang
lain, ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman modernisasi, cara
pandang yang globalisasi, maka Kekristenan menanggapi tantangan-tantangan
budaya global.
Konsepsi Familia Dei atau Persaudaraan,
dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di
gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak
saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja
sendiripun terlebih di perkotaan akibat kesibukan bahkan tidak saling menyapa
antara satu dengan yang lain sebagai wujud persaudaraan ditengah-tengah gereja,
bahkan gereja adalah milik Tuhan, namun ada suatu oknum yang berusaha gereja
harus seperti yang dia kehendaki bukan Allah kehendaki. Maka penyeminar
menjelaskan bahwa perlunya pemahaman bagi jemaat apa arti saudara, dan
bagaimana mempraktekkannya di gereja postmodern abad ke-21 ini.
II.
Pembahasan
2.1. Pengertian Persaudaraan secara umum
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia kata saudara dapat berarti orang yang seibu,
seayah, adik atau kakak; orang yang bertalian keluarga; orang yang segolongan
kawan. Sedangkan kata persaudaraan itu
sendiri dapat berarti persahabatan yang sekarib saudara.; pertalian
persahabatan yang serupa dengan pertalian saudara.[1]
Kata persaudaraan sering dihubungkan juga dengan sesama manusia. Kata sesama
itu mempunyai pengertian yaitu bersama-sama (satu golongan).[2]
2.2. Arti dan Makna Persaudaraan dalam Gereja Mula-mula
Di
dalam Perjanjian Baru kata saudara (adelphoi)
digunakan untuk menunjuk pada “Keluarga Kristen” kurang lebih 230 kali. Kata
saudara-saudara secara harafiah berarti “dari rahim yang sama”. Jelas kata itu
adalah istilah keluarga. Apabila dikenakan pada orang-orang Kristen kata dapat
diberarti sesama orang percaya, anggota keluarga Allah, atau saudara-saudara
dalam Kristus. Ini berarti kita semua telah dilahirkan kembali ke dalam
keluarga Allah sekali untuk selama-lamanya (Efesus 1:5).[3]
Kata Saudara (laki-laki) ini dalam Perjanjian Baru, kata ini digunakan sebagai
sapaan untuk sesama orang Kristen (1 Kor 6:6, dan beberapa kali dalam Kisah
Para Rasul 15).[4] Kasih
persaudaraan dalam bahasa Yunani filadelfia artinya bukan secara kiasan
kasih seperti saudara, melainkan kasih dari mereka yang disatukan dalam
persaudaraan Kristen (adelfotes 1 Ptr
2:17; 5:9) Istilah mengasihi sebagai saudara (filadelphia) menunjukkan kasih
harus ada diantara saudara-saudara laki-laki dan perempuan dalam satu kesatuan
keluarga. Jika diterapkan dalam gereja, istilah itu menyatakan kasih yang harus
dipunyai oleh orang-orang Kristen di antara sasama mereka sebagai
saudara-saudara di dalam Kristus.[5]
Filadelfia (Rom 12:10; 1 Tes 4:9; Ibr 13:1; 1 Ptr 1:22; 2 Ptr 1:7) dapat
diartikan juga sebagai kasih dari mereka yang disatukan persaudaraan Kristen (adelpos, 1 Ptr 2:17; 5:6; bnd kata filadelfos, 1 Ptr 3:8). Ia menyebut
pengikut-Nya adalah saudara-Nya (Mrk 3:33 dst; Mat 28:10; Yoh 20:17; dan mereka
bersaudara semua (Mat 23:8; Luk 22:32). Hal ini terungkap dalam hidup gereja
sehari-hari (bnd. Homothumadon, dengan
sehati Kis 1:14; 2:46; 4:24; 5:12; 15:25). Inilah penjabaran kasih Kristus yang
terdapat di antara orang Kristen, dan digalakkan dan diperdalam (Rom 12:10),
agar jadi tetap, benar (anupokritos),
sungguh-sungguh (ektenes), cara
berpikir yang sama (to auto fronein, 1
Kor 13:11; Fil 4:2), cara hidup (to auto
stoikhein, Fil 3:16), teristimewa dengan kesukaan memberi tumpangan, dan
membantu orang Kristen yang berkekurangan.[6]
Filadelfia
dapat juga berarti kasih untuk seorang saudara atau teman yang mana
penekanannya menuju kepada hubungan darah atau keyakinan.[7]
Menurut Paulus orang Kristen harus saling memperhatikan satu terhadap yang
lain, sama seperti masing-masing anggota kesatuan keluarga yang erat bersatu.
Kita memang “Saudara yang terikat oleh hubungan darah” yaitu oleh karena
darah-Nya kita beroleh penebusan yaitu pengampunan dosa (Efesus 1:7).[8]
Nama
lain untuk persaudaraan adalah solidaritas. Berasal dari bahasa Latin (solidus yang artinya kuat, utuh, tidak
percaya) yang mana solidaritas ini mempunyai arti saling memperhatikan dan
menolong. Dalam Perjanjian Baru, persaudaraan mencakup juga saling menegur jika
perlu (bnd. Mat 18:15, Rom 15:14, 2 Kor 13:11). Supaya saudara dan umat
mengalami kemajuan, terlebih pada jiwanya demi keselamatan dan kebahagiaan
abadi bersama semua saudara.[9]
Saudara
atau sesama manusia harus dianggap sebagai anugerah yang telah diberikan kepada
kita. Hal ini dikarenakan Yesus telah menjadi saudara bagi kita. Tidak ada
kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya itulah kasih Yesus Kristus yang telah tersalib.[10]
Hal ini didasarkan kasih agave diberikan kepada manusia. Kasih persaudaraan (filadelfia) haruslah bersifat universal.
Artinya mengasihi di sini tidak ada unsur-unsur yang harus dipandang terlebih
dahulu. Kita tidak boleh memandang seseorang itu dari kekayaannya, atau dari
segi status sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Tetapi kasih dalam hal ini
adalah kasih yang harus kita berikan kepada siapapun juga yang ada disekitar
kita.
Jikalau
kita mengasihi Allah, maka kasih itu harus nyata dalam kasih kita terhadap
sesama manusia sehingga kasih terhadap sesama antar kasih persaudaraan itu
dapat disebut sebagai perwujudan atau respon dari manusia terhadap kasih Allah.[11]
Paulus
menekankan mengenai persaudaraan orang-orang percaya. Bagi Paulus semua orang
yang percaya kepada Kristus adalah saudara (bhs. Yunani adelfos). Persaudaraan yang terjalin adalah berdasarkan kasih dan
iman. Contohnya ialah Paulus meminta Filemon diterima sebagai saudara. Onesimus
yang tadinya tidak berguna bagi Filemon telah berubah menjadi orang Kristen
yang berguna bagi Filemon dan Paulus sendiri.
Dalam
persaudaraan dalam kasih Kristus, Paulus menuliskan surat-suratnya seperti 2
Korintus 2:10, Efesus 4:32, Kolose 3:13 bahwa kita harus saling mengampuni.
Hanya dengan cara itulah kasih Kristus menjadi nyata dalam perbuatan.
Pengampunan dalam pengajaran iman Kristen tidak hanya memaafkan kesalahan
tetapi juga tindakan aktif untuk menerima kembali dan mengasihi orang yang
bersalah itu.
Pada
gereja mula-mula terdapat perasaan persaudaraan yang erat. Di mana-mana
anggota-anggota jemaat sangat berkasih-kasihan. Hidup mereka sangat susila,
mereka sangat setia dan kasih kepada Yesus. Hal itu menimbulkan kesan yang
mendalam di seluruh tempat, dan itulah sebabnya orang-orang Kristen sangat
disegani dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain.[12]
Tidak egosentris, tidak mengukur segala sesuatu dari kepentingan, kesenangan,
dan selera diri sendiri.semua orang itu menjadi saluran berkat dan kasih.[13]
2.3. Konteks Kehidupan gereja awal
2.3.1.
Konteks Agama
Pada
zaman Kisah Para Rasul di Yerusalem telah ada agama Yahudi, karena itu orang
Yahudi menganggap Kristen sebagai suatu suatu sekte sesat, walaupun ada
perkembangan selanjutnya banyak orang yang menjadi orang Kristen, tetapi mereka
tetap mengikuti pola ibadah Yahudi dan adat istiadat Yahudi. Bangsa Romawi
menganut politeisme, selain itu mereka juga menganggap bahwa kaisar adalah
titisan dewa sehingga setiap orang menyembah kaisar.[14]
2.3.2.
Konteks Ekonomi
Karena
berada dibawah pemerintahan Romawi, maka rakyat diwajibkan untuk membayar pajak
kepada pemerintahan Romawi. Pada masa itu pemungutan pajak diserahkan kepada
kelompok pemungut pajak yang terkenal sebagai pemeras. Mereka seringkali
menambahkan jumlah pajak yang dibebankan kepada rakyat dan menarik keuntungan
pribadi dari pajak ini. Orang-orang Yahudi sebenarnya tidak menyukai kewajiban
pajak ini, sebab orang Yahudi sudah mempunyai kewajiban pajak sendiri yang
dibayar ke Bait Allah, ini juga yang menambah kebencian mereka kepada
pemerintahan Romawi.
Selain
masalah perpajakan rakyat juga tertindas dalam masalah pengelolaan tanah.
Banyak tanah rakyat yang diambil alih oleh pemerintah Romawi. Pemerintah Roma
bebas memberikan atau menjual tanah ini, tanah itu kepada orang-orang kaya,
tanah akan dibagi menjadi lahan-lahan kecil untuk disewakan kepada para petani
penggarap berdasarkan suatu peraturan sewa.[15]
2.3.3.
Konteks Politik
Pada
masa ini, Yerusalem bukanlah menjadi daerah yang merdeka, Yerusalem maupun
hampir seluruh daerah pada waktu penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru berada
dibawah pemerintahan Romawi. Wilayah kekaisaran Romawi meliputi samudera
Atlantik di sebelah barat hingga sungai Efrat, an Laut Merah, dsb serta
pegunungan kauskasus disebelah Utara hingga Gurun Sahara. Ciri khas dari
pemerintahan Romawi adalah adanya pembagian-pembagian provinsi. Biasanya
provinsi ini dibentuk ketika Roma mengalahkan suatu kerajaan/wilayah baru.
Provinsi dipimpin oleh gubernur yang diangkat pemerintahan Romawi.[16]
Selain
itu hal yang muncul dari peraturan provinsi ini adanya hak warga Negara Roma,
dimana setiap orang non Romawi mempunyai yang mempunyai kewarganegaraan Romawi
mempunyai hak yang khusus, yaitu dalam suatu peradilan.[17]
2.3.4.
Konteks Sosial
Masyarakat
pada umumnya terbagi dari tiga golongan, yaitu golongan atas (para bangsawan),
golongan menengah yaitu para imam dan rabi, dan golongan bawah (para budak dan
rakyat biasa). Golongan atas ini biasanya adalah para pejabat Romawi dan
pedagang yang berkembang dikota besar. Bagi kalangan Yahudi, golongan atas
adalah keluarga para imam dan para rabi, sedangkan golongan bawah adalah para
budak atau rakyat biasa yang terpinggirkan. Banyaknya orang menjadi budak
dikarenakan adanya peperangan, utang piutang, dan kelahiran.[18]
Ini juga yang membuat adanya jurang pemisah diantara golongan atas dan golongan
bawah. Dimana mereka tidak pernah dapat disatukan dalam suatu acara, tradisi
ini juga yang diubah oleh gereja mula-mula yang menganggap bahwa tidak ada perbedaan,
semua manusia adalah sama dihadapan Allah dan orang yang berlebihan harus
membantu yang kekurangan.
2.3.5.
Konteks Budaya
Akibat
penaklukan pemerintahan Romawi terhadap Yahudi mengakibatkan lambat laun Yahudi
tercampur dengan kebudayaan Yunani sebab walau bangsa Romawi yang memerintah,
namun budaya Yunani sangat mendominasi. Gaya hidup yang menonjol adalah
munculnya kota-kota atau polis hal ini membuat setiap orang berusaha untuk
meninggalkan gaya hidup suku atau desa dan menyesuaikan diri dengan tuntutan
kehidupan kota. Berkembangnya kota membuat berkembangnya komunikasi yang belum
pernah ada selanjutnya. Bahasa Yunani sedikit demi sedikit menjadi bahasa
pengantar. Hal ini dilihat dari penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru yang
tertulis dalam bahasa Yunani.[19]
2.4. Sifat & Praktek Persaudaraan dalam Gereja Awal
atau Mula-mula
Contoh
tindakan persaudaraan yang mereka lakukan berdasarkan pengajaran Yesus, ialah
dalam berbagai bentuk praktik yang mereka lakukan dalam gereja mula-mula yaitu
mempersatukan mereka ialah kasih Kristus, yang terdiri yaitu:
2.4.1.
Kasih
Persaudaraan (Filia)
Yesus
mengajarkan pengampunan terhadap saudara-saudara yang melakukan kesalahan
kepada kita dan memberikan kasih kepada musuh kita. Yesus menentang hukum
pembalasan karena pembalasan itu merusak hubungan perseorangan. Kasih Yesus
melampaui batas yang ditentukan orang lain dalam hidupnya. Yesus dan karya-Nya
telah meniadakan permusuhan antara manusia, bangsa-bangsa, dan telah merobohkan
tembok-tembok yang dibangun untuk memisahkan orang-orang, bangsa-bangsa,
ras-ras, kelas-kelas sosial, dan lain-lain.
Diutus
untuk membebaskan orang-orang yang tertindas dan menyembuhkan orang-orang yang
buta. Kabar baik dimasudkan untuk semua orang, tetapi Yesus memberi perhatian
khusus pada orang-orang miskin, yang membebaskan dan menyembuhkan.[20]
2.4.2.
Kebersamaan,
kesetiaan, dan saling melengkapi
Tidak
hanya sekedar perkataan namun perbuatan juga, persekutuan mereka yang indah dan
baik dan menjadi salah satu sarana kesaksian yang kuat untuk orang yang
disekitar mereka. Kis 4:32 adanya perasaan sejiwa atau sehati. Hal ini tidak
berarti bahwa mereka selalu cocok dan sependapat dalam setiap hal. Perbedaan
pendapat tidak harus berarti tidak lagi bisa sejiwa atau sehati. Mempunyai
kelebihan dalam satu hal lainnya, tetapi kita tetap sama, masing-masing memikul
tugas yang sama.[21]
Menangis
dengan orang yang menangis. Dan supaya kita menyatakan belas kasihan kita
kepada orang yang sedang menderita sengsara (Rom 12:15; 1 Kor 12:26).[22]
Di dunia ini banyak sekali sengsara yang diderita manusia. Sengsara itu dapat
berupa penyakit, cacat badani atau rohani, ditindas, dipenjarakan, terpencil.
Tuhan menghendaki supaya kita menolong, menghibur, dan menegakkan dan melayani
orang-orang yang sedang menderita itu demi kebahagiaan mereka.[23]
Kasih persaudaraan berarti kepekaan kepada kebutuhan dan penderitaan sesama
kita. Kalau kita mengasihi orang lain, kita akan menyadari sukacita dan
kekecewaan mereka, sebagaimana kita telah menyadari keadaan diri sendiri. Dan
merasakan juga ketidakadilan. [24]
2.4.3.
Bertumbuh
bersama dan mendoakan satu dengan yang lain
Pada
mulanya mereka bersidang di dalam rumah. Demikian terjadi jemaat rumah, yaitu
perkumpulan orang-orang Kristen, yang waktu waktu tertentu berkumpul dalam
sebuah rumah (lih. Roma 16:5 ; Kol 4:15; Filemon 2). Kerap kali mereka
berkumpul, bahkan mula-mulanya tiap hari (Kis 2:46). Mereka mengadakan perjamuan kasih yang
diakhiri dengan perjamuan kudus. Di kemudian hari rupanya mereka berkumpul
terutama pada hari Minggu. Akan tetapi pada hari-hari biasapun diadakan juga
pertemuan.[25]
Dalam pengajaran Yesus secara detail mengajarkan beberapa hal yang menyangkut
hubungan antara manusia dengan manusia. Pengajaran yang dimadsudkan adalah
larangan membunuh, berzinah, perceraian, larangan bersumpah palsu, larangan
balas dendam, perintah mengasihi musuh, dan larangan menghakimi.
Kesetiakawanan
sosial pada jemaat mula-mula dilihat dari cara hidup jemaat. Jemaat mula-mula
hidup dengan saling membagi barang miliknya.[26]
Mereka membagi barang-barang miliknya kepada orang lain, karena mereka
menyadari bahwa mereka harus meneladani dan mengikuti kasih yang telah
diajarkan oleh Yesus Kristus. Seperti jika ada jemaat yang mengalami kesusahan.
Umat Kristen harus terus menyuakan suara kenabian dan mewujudkan keadilan bagi mereka
yang mengalami ketidakadilan di hidupnya, karena ketidak adilan adalah tanggung
jawabnya. Sepanjang sejarah gereja tanggung jawab ini selalu dilaksanakan oleh
umat yang beriman. Gereja dan umat Kristen selalu memberi hati dan waktu bagi
saudara-saudara mereka yang menderita ketidakadilan.[27]
2.4.4.
Bertolong-tolongan
Kemudian
hari jemaat di Antiokhia menunjukkan sikap perhatian yang sama kepada jemaat
Yerusalem yang membutuhkan bantuan (Kis 11:27 dsb) dan mungkin tindakan ini
mendorong rasul Paulus untuk untuk mengadakan rencana pengumpulan uang sebagai
cara menunjukkan keprihatinan mereka orang-orang bukan Yahudi terhadap
saudara-saudara mereka yang Yahudi (1 Kor 16:1-4).[28]
Sesama
manusia adalah pemberian Allah kepada kita. Tuhan menciptakan kita bukan supaya
kita hidup terpencil dan kesepian, melainkan supaya kita hidup dalam
persekutuan dengan orang lain. Tuhan menciptakan kita supaya kita hidup dalam
hubungan: Allah-manusia-sesama manusia. Tuhan menghendaki supaya ada kasih
diantara manusia dengan manusia, inilah yang dimadsud dengan kasih persaudaraan
tersebut, membagikan barang milik, membuat mereka mengenal kesatuan mereka
dalam Yesus Kristus, termasuk nilai berkumpul untuk berdoa (Kis 1:14; 2:42;
3:1; 4:24). Keprihatinan sosial dimiliki orang-orang Kristen seorang terhadap
yang lain. Peraturan khusus diadakan untuk janda-janda (Kis 6:1).[29]
Kasih
terhadap sesama ini adalah kasih yang tidak bersyarat, tidak mementingkan diri
sendiri. Kasih melebihi penderitaan, persahabatan, dan kebaikan. Kasih
persaudaraan melampaui kepentingan diri sendiri. Di sini kasih ialah tindakan
nyata, dan rela menderita, kemurahan hati, pengampunan, dan belas kasih.[30]
Kasih persaudaraan ialah kasih yang bersifat universal, itu memiliki peranan
penting.
Yesus
telah menerobos batas-batas bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa (Luk 10:33)
melalui kasih-Nya yang universal. Kasih persaudaraan yang nyata Yesus tidak
memandang orang-orang berdosa dengan mata penuh perhitungan.[31]
Artinya dalam kasih persaudaraan kita tidak memandang orang dengan sebelah
mata.
2.4.5.
Familia Dei
(Keluarga Allah)
Familia
Dei diidentikkan kita adalah satu didalam Kristus. Injil Yohanes memiliki tema
utama kasih, yang harus dimiliki oleh orang-orang percaya, satu terhadap yang
lain (Yoh 13:34). Hal ini digambarkan dengan alegori Pokok Anggur yang Benar
(Yoh 15), dan dan para murid adalah carang-carangnya. Persekutuan Kristen
berakar dalam hubungan antara Bapa dan Anak (Yoh 17:20-23).[32]
Dalam pemahaman gereja lama tentang konsepsi familia Dei telah memainkan suatu
peranan yang penting, dan memperlihatkan keterbukaan gereja dan kesediaannya
untuk menampung gejala-gejala rohaniah disekitarnya. Keluarga Allah haruslah
pertama-tama dan secara pasti diartikan sebagai persekutuan milik Tuhan, yang
hidup dalam kepercayaan Kristus saja, suatu persekutuan pengharapan akan
penggenapan apabila semua dan segala sesuatu persekutuan atas pengharapan dan
pemenuhan Kristus, dan persekutuan ini milik Allah dan bukan dirinya sendiri.[33]
2.5. Dasar Kasih Persaudaraan
Allah
kasih adanya (1 Yoh 4:8) adalah defenisi Alkitab yang paling terkenal tentang
Allah.[34]
Ungkapan ini jelas mengenai sifat Allah yang penuh kasih. Allah adalah kasih
merupakan sifat hakiki Allah, sehingga kasih merupakan pokok yang mendasari
pendekatan Allah kepada manusia. Dialah yang lebih dahulu mengasihi, bukan
manusia (1 Yoh 4:10,19) kasih Allah memampukan manusia menjadi anak-anak Allah
(1 Yoh 3:1).[35]
2.6. Analisa Penyeminar
Analisa
penyeminar melihat bahwa persaudaraan itu memiliki yang lebih terpaut dengan
makna yang rohani artinya saudara= orang orang seiman, keluarga Allah (Familia Dei). Status saudara yang
dipangku oleh jemaat mula-mula ialah bagaimana mereka merefleksikan dan
mengajarkan serta mempraktekkan kasih dan ajaran Yesus dan Paulus kepada
mereka. Dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah
memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci,
kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis.
Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkotaan akibat kesibukan bahkan
tidak saling menyapa antara satu dengan yang lain sebagai wujud persaudaraan
ditengah-tengah gereja. Maka penyeminar menjelaskan bahwa perlunya pemahaman
bagi jemaat apa arti saudara, dan bagaimana mempraktekkannya di gereja
postmodern abad ke-21 ini.
2.7. Refleksi Teologis
Persaudaraan
diidentik dengan satu bapak, ibu, atau ikatan keluarga. Akan tetapi kita
sebagai orang Kristen adalah sama-sama lahir dari penebusan darah Yesus yang
tercurah di kayu salib. Kita adalah disatukan oleh kasih Kristus, kita adalah
keluarga Allah, anggota keluarga, saudarasaudara dalam Yesus. Persaudaraan itu
diwujudkan dalam kasih sesuai dengan kepekaan konteks zaman itu sendiri, dalam
gereja mula-mula mereka mempraktikkan persaudaraan itu melalui kasih, saling tolong
menolong, saling menegur antara sesama saudara, bertumbuh, saling melengkapi,
dalam konsep Familia Dei. Efesus 2:19-22 mengatakan: “Demikianlah
kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari
orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas
dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.Di
dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang
kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat
kediaman Allah, di dalam Roh.” Persaudaraan yang dimadsud ialah tidak hanya
menolong sesama, namun adalah tidak dibatasi oleh stratifikasi sosial yang ada
di dunia ini.
III.
Kesimpulan
Di dalam Perjanjian Baru kata saudara (adelphoi) digunakan untuk menunjuk pada
“Keluarga Kristen”. Kata saudara-saudara secara harafiah berarti “dari rahim
yang sama”. Jelas kata itu adalah istilah keluarga. Pada orang-orang Kristen
kata dapat diberarti sesama orang percaya, anggota keluarga Allah, atau
saudara-saudara dalam Kristus. Ini berarti kita semua telah dilahirkan kembali
ke dalam keluarga Allah sekali untuk selama-lamanya (Efesus 1:5). kata ini
digunakan sebagai sapaan untuk sesama orang Kristen. Orang Kristen pada jemaat
mula-mula memahami arti dan makna persaudaraan menanggapi problema dalam
berbagai konteks kehidupan sosial, politik, budaya, agama, ekonomi, dan mereka
melakukan persaudaraan mereka di dasari oleh kasih persaudaraan dalam berbagai
tindakan seperti menolong, mengasihi, dan saling melengkapi.
IV.
Daftar Pustaka
Bavinck,
J.H., Sejarah Kerajaan Allah 2-
Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-GM,2015
Bothoeffer,
Dietrich, Mengikut Yesus, Jakarta:
BPK-GM, 1998
Brown,
Collin, The New International Dictionary
of New Testament Teology Vol 2, Michigan, Regency Publishing House, Grand
Rapids: 1986
Browning,
W.R.F., Kamus Alkitab, Panduan Dasar ke
dalam Kitab-Kitab, Tema, Tempat, Tokoh, dan Istilah Alkitabiah, Jakarta:
BPK-GM, 2013
Brownlee,
Malcom, Tugas Manusia dalam Dunia Milik
Tuhan, Jakarta: BPK-GM, 1987
Darmaputera,
Eka, Menjadi Saksi Kristus- Pemahaman
Kisah Para Rasul tentang Pekabaran Injil di seluruh dunia, Jakarta: BPK-GM,
2004
Depdikbud,
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka, 1990
Douglas,
J.D., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid
1 (A-L), Jakarta: YKBK/OMF,2007
Getz,
Gene A., Saling Membangun, Bandung:
Kalam Hidup, 1980
Guthrie,
Donald Teologi Perjanjian Baru 1, Jakarta:
BPK-GM, 1992
Guthrie,
Donald, Teologi Perjanjian Baru 2, Jan
S. Aritonang (terj), Jakarta: BPK-GM, 2008
Guthrie,
Donald, Teologi Perjanjian Baru 3, Jakarta:
BPK-GM, 2012
Heuken,
A., Ensiklopedi Gereja Jilid III, Jakarta:
Ciptaloka Caraka
Kopo,
Eduard K., Keprihatinan Sosial Gereja, Yogyakarta:
Kanisius,1992
Milne,
Bruce Mengenali Kebenaran, Jakarta:
BPK-GM, 1993
Napel,Henk
ten, Jalan Yang lebih Utama lagi, Jakarta:
BPK-GM, 1987
Stambaugh,
John, & Batch, David, Dunia Sosial
Kekristenan Mula-mula, Stephen Suleemann (ed), Jakarta: BPK-GM, 2004
Schreiner,
Lothar, Adat dan Injil, Jakarta:
BPK-GM,2015
Suharyo,
L., Dunia Perjanjian Baru, Yogyakarta:
Kanisius,1991
Tenney,
Merril C., Survey Perjanjian Baru, (Malang:
Gandum Mas, 1985
Verkuyl,
J., Khotbah
di Bukit, Jakarta: BPK-GM
Verkuyl,
J., Runtuhkan Tembok Pemisah, Jakarta:
BPK-GM, 1974
White,
John, Harga Penebusan Diri, Bandung:
Kalam Hidup, 1996
Komentar
Posting Komentar