Langsung ke konten utama

Materi 3. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru


Mencermati Arti dan Makna “Persaudaraan” (Brotherhood/Sisterhood) dalam Gereja Mula-mula serta Refleksinya dalam Gereja dan Masyarakat Masa Kini
I.                    Latar Belakang Masalah
Suatu nyanyian yang sering kita dengar adalah “Dalam Yesus kita bersaudara”, yang mempersatukan mereka ialah kasih. Gereja masa kini banyak tidak mempraktekkan lagi arti kata adelpos itu sebagai wujud persaudaraan antara satu dengan yang lain, ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman modernisasi, cara pandang yang globalisasi, maka Kekristenan menanggapi tantangan-tantangan budaya global.
Konsepsi Familia Dei atau Persaudaraan, dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkotaan akibat kesibukan bahkan tidak saling menyapa antara satu dengan yang lain sebagai wujud persaudaraan ditengah-tengah gereja, bahkan gereja adalah milik Tuhan, namun ada suatu oknum yang berusaha gereja harus seperti yang dia kehendaki bukan Allah kehendaki. Maka penyeminar menjelaskan bahwa perlunya pemahaman bagi jemaat apa arti saudara, dan bagaimana mempraktekkannya di gereja postmodern abad ke-21 ini.
II.                  Pembahasan
2.1.  Pengertian Persaudaraan secara umum
                   Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata saudara dapat berarti orang yang seibu, seayah, adik atau kakak; orang yang bertalian keluarga; orang yang segolongan kawan. Sedangkan kata persaudaraan itu sendiri dapat berarti persahabatan yang sekarib saudara.; pertalian persahabatan yang serupa dengan pertalian saudara.[1] Kata persaudaraan sering dihubungkan juga dengan sesama manusia. Kata sesama itu mempunyai pengertian yaitu bersama-sama (satu golongan).[2]
2.2.  Arti dan Makna Persaudaraan dalam Gereja Mula-mula
                   Di dalam Perjanjian Baru kata saudara (adelphoi) digunakan untuk menunjuk pada “Keluarga Kristen” kurang lebih 230 kali. Kata saudara-saudara secara harafiah berarti “dari rahim yang sama”. Jelas kata itu adalah istilah keluarga. Apabila dikenakan pada orang-orang Kristen kata dapat diberarti sesama orang percaya, anggota keluarga Allah, atau saudara-saudara dalam Kristus. Ini berarti kita semua telah dilahirkan kembali ke dalam keluarga Allah sekali untuk selama-lamanya (Efesus 1:5).[3] Kata Saudara (laki-laki) ini dalam Perjanjian Baru, kata ini digunakan sebagai sapaan untuk sesama orang Kristen (1 Kor 6:6, dan beberapa kali dalam Kisah Para Rasul 15).[4] Kasih persaudaraan dalam  bahasa Yunani filadelfia artinya bukan secara kiasan kasih seperti saudara, melainkan kasih dari mereka yang disatukan dalam persaudaraan Kristen (adelfotes 1 Ptr 2:17; 5:9) Istilah mengasihi sebagai saudara (filadelphia) menunjukkan kasih harus ada diantara saudara-saudara laki-laki dan perempuan dalam satu kesatuan keluarga. Jika diterapkan dalam gereja, istilah itu menyatakan kasih yang harus dipunyai oleh orang-orang Kristen di antara sasama mereka sebagai saudara-saudara di dalam Kristus.[5] Filadelfia (Rom 12:10; 1 Tes 4:9; Ibr 13:1; 1 Ptr 1:22; 2 Ptr 1:7) dapat diartikan juga sebagai kasih dari mereka yang disatukan persaudaraan Kristen (adelpos, 1 Ptr 2:17; 5:6; bnd kata filadelfos, 1 Ptr 3:8). Ia menyebut pengikut-Nya adalah saudara-Nya (Mrk 3:33 dst; Mat 28:10; Yoh 20:17; dan mereka bersaudara semua (Mat 23:8; Luk 22:32). Hal ini terungkap dalam hidup gereja sehari-hari (bnd. Homothumadon, dengan sehati Kis 1:14; 2:46; 4:24; 5:12; 15:25). Inilah penjabaran kasih Kristus yang terdapat di antara orang Kristen, dan digalakkan dan diperdalam (Rom 12:10), agar jadi tetap, benar (anupokritos), sungguh-sungguh (ektenes), cara berpikir yang sama (to auto fronein, 1 Kor 13:11; Fil 4:2), cara hidup (to auto stoikhein, Fil 3:16), teristimewa dengan kesukaan memberi tumpangan, dan membantu orang Kristen yang berkekurangan.[6]
                   Filadelfia dapat juga berarti kasih untuk seorang saudara atau teman yang mana penekanannya menuju kepada hubungan darah atau keyakinan.[7] Menurut Paulus orang Kristen harus saling memperhatikan satu terhadap yang lain, sama seperti masing-masing anggota kesatuan keluarga yang erat bersatu. Kita memang “Saudara yang terikat oleh hubungan darah” yaitu oleh karena darah-Nya kita beroleh penebusan yaitu pengampunan dosa (Efesus 1:7).[8]
                   Nama lain untuk persaudaraan adalah solidaritas. Berasal dari bahasa Latin (solidus yang artinya kuat, utuh, tidak percaya) yang mana solidaritas ini mempunyai arti saling memperhatikan dan menolong. Dalam Perjanjian Baru, persaudaraan mencakup juga saling menegur jika perlu (bnd. Mat 18:15, Rom 15:14, 2 Kor 13:11). Supaya saudara dan umat mengalami kemajuan, terlebih pada jiwanya demi keselamatan dan kebahagiaan abadi bersama semua saudara.[9]
                   Saudara atau sesama manusia harus dianggap sebagai anugerah yang telah diberikan kepada kita. Hal ini dikarenakan Yesus telah menjadi saudara bagi kita. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya itulah kasih Yesus Kristus yang telah tersalib.[10] Hal ini didasarkan kasih agave diberikan kepada manusia. Kasih persaudaraan (filadelfia) haruslah bersifat universal. Artinya mengasihi di sini tidak ada unsur-unsur yang harus dipandang terlebih dahulu. Kita tidak boleh memandang seseorang itu dari kekayaannya, atau dari segi status sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Tetapi kasih dalam hal ini adalah kasih yang harus kita berikan kepada siapapun juga yang ada disekitar kita.
                   Jikalau kita mengasihi Allah, maka kasih itu harus nyata dalam kasih kita terhadap sesama manusia sehingga kasih terhadap sesama antar kasih persaudaraan itu dapat disebut sebagai perwujudan atau respon dari manusia terhadap kasih Allah.[11]
                   Paulus menekankan mengenai persaudaraan orang-orang percaya. Bagi Paulus semua orang yang percaya kepada Kristus adalah saudara (bhs. Yunani adelfos). Persaudaraan yang terjalin adalah berdasarkan kasih dan iman. Contohnya ialah Paulus meminta Filemon diterima sebagai saudara. Onesimus yang tadinya tidak berguna bagi Filemon telah berubah menjadi orang Kristen yang berguna bagi Filemon dan Paulus sendiri.
                   Dalam persaudaraan dalam kasih Kristus, Paulus menuliskan surat-suratnya seperti 2 Korintus 2:10, Efesus 4:32, Kolose 3:13 bahwa kita harus saling mengampuni. Hanya dengan cara itulah kasih Kristus menjadi nyata dalam perbuatan. Pengampunan dalam pengajaran iman Kristen tidak hanya memaafkan kesalahan tetapi juga tindakan aktif untuk menerima kembali dan mengasihi orang yang bersalah itu.
                   Pada gereja mula-mula terdapat perasaan persaudaraan yang erat. Di mana-mana anggota-anggota jemaat sangat berkasih-kasihan. Hidup mereka sangat susila, mereka sangat setia dan kasih kepada Yesus. Hal itu menimbulkan kesan yang mendalam di seluruh tempat, dan itulah sebabnya orang-orang Kristen sangat disegani dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain.[12] Tidak egosentris, tidak mengukur segala sesuatu dari kepentingan, kesenangan, dan selera diri sendiri.semua orang itu menjadi saluran berkat dan kasih.[13]
2.3.  Konteks Kehidupan gereja awal
2.3.1.  Konteks Agama
                   Pada zaman Kisah Para Rasul di Yerusalem telah ada agama Yahudi, karena itu orang Yahudi menganggap Kristen sebagai suatu suatu sekte sesat, walaupun ada perkembangan selanjutnya banyak orang yang menjadi orang Kristen, tetapi mereka tetap mengikuti pola ibadah Yahudi dan adat istiadat Yahudi. Bangsa Romawi menganut politeisme, selain itu mereka juga menganggap bahwa kaisar adalah titisan dewa sehingga setiap orang menyembah kaisar.[14]
2.3.2.  Konteks Ekonomi
                   Karena berada dibawah pemerintahan Romawi, maka rakyat diwajibkan untuk membayar pajak kepada pemerintahan Romawi. Pada masa itu pemungutan pajak diserahkan kepada kelompok pemungut pajak yang terkenal sebagai pemeras. Mereka seringkali menambahkan jumlah pajak yang dibebankan kepada rakyat dan menarik keuntungan pribadi dari pajak ini. Orang-orang Yahudi sebenarnya tidak menyukai kewajiban pajak ini, sebab orang Yahudi sudah mempunyai kewajiban pajak sendiri yang dibayar ke Bait Allah, ini juga yang menambah kebencian mereka kepada pemerintahan Romawi.
                   Selain masalah perpajakan rakyat juga tertindas dalam masalah pengelolaan tanah. Banyak tanah rakyat yang diambil alih oleh pemerintah Romawi. Pemerintah Roma bebas memberikan atau menjual tanah ini, tanah itu kepada orang-orang kaya, tanah akan dibagi menjadi lahan-lahan kecil untuk disewakan kepada para petani penggarap berdasarkan suatu peraturan sewa.[15]
2.3.3.  Konteks Politik
                   Pada masa ini, Yerusalem bukanlah menjadi daerah yang merdeka, Yerusalem maupun hampir seluruh daerah pada waktu penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru berada dibawah pemerintahan Romawi. Wilayah kekaisaran Romawi meliputi samudera Atlantik di sebelah barat hingga sungai Efrat, an Laut Merah, dsb serta pegunungan kauskasus disebelah Utara hingga Gurun Sahara. Ciri khas dari pemerintahan Romawi adalah adanya pembagian-pembagian provinsi. Biasanya provinsi ini dibentuk ketika Roma mengalahkan suatu kerajaan/wilayah baru. Provinsi dipimpin oleh gubernur yang diangkat pemerintahan Romawi.[16]
                   Selain itu hal yang muncul dari peraturan provinsi ini adanya hak warga Negara Roma, dimana setiap orang non Romawi mempunyai yang mempunyai kewarganegaraan Romawi mempunyai hak yang khusus, yaitu dalam suatu peradilan.[17]
2.3.4.  Konteks Sosial
                   Masyarakat pada umumnya terbagi dari tiga golongan, yaitu golongan atas (para bangsawan), golongan menengah yaitu para imam dan rabi, dan golongan bawah (para budak dan rakyat biasa). Golongan atas ini biasanya adalah para pejabat Romawi dan pedagang yang berkembang dikota besar. Bagi kalangan Yahudi, golongan atas adalah keluarga para imam dan para rabi, sedangkan golongan bawah adalah para budak atau rakyat biasa yang terpinggirkan. Banyaknya orang menjadi budak dikarenakan adanya peperangan, utang piutang, dan kelahiran.[18] Ini juga yang membuat adanya jurang pemisah diantara golongan atas dan golongan bawah. Dimana mereka tidak pernah dapat disatukan dalam suatu acara, tradisi ini juga yang diubah oleh gereja mula-mula yang menganggap bahwa tidak ada perbedaan, semua manusia adalah sama dihadapan Allah dan orang yang berlebihan harus membantu yang kekurangan.
2.3.5.  Konteks Budaya
                   Akibat penaklukan pemerintahan Romawi terhadap Yahudi mengakibatkan lambat laun Yahudi tercampur dengan kebudayaan Yunani sebab walau bangsa Romawi yang memerintah, namun budaya Yunani sangat mendominasi. Gaya hidup yang menonjol adalah munculnya kota-kota atau polis hal ini membuat setiap orang berusaha untuk meninggalkan gaya hidup suku atau desa dan menyesuaikan diri dengan tuntutan kehidupan kota. Berkembangnya kota membuat berkembangnya komunikasi yang belum pernah ada selanjutnya. Bahasa Yunani sedikit demi sedikit menjadi bahasa pengantar. Hal ini dilihat dari penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru yang tertulis dalam bahasa Yunani.[19]
2.4.  Sifat & Praktek Persaudaraan dalam Gereja Awal atau Mula-mula
                   Contoh tindakan persaudaraan yang mereka lakukan berdasarkan pengajaran Yesus, ialah dalam berbagai bentuk praktik yang mereka lakukan dalam gereja mula-mula yaitu mempersatukan mereka ialah kasih Kristus, yang terdiri yaitu:
2.4.1.  Kasih Persaudaraan (Filia)
                   Yesus mengajarkan pengampunan terhadap saudara-saudara yang melakukan kesalahan kepada kita dan memberikan kasih kepada musuh kita. Yesus menentang hukum pembalasan karena pembalasan itu merusak hubungan perseorangan. Kasih Yesus melampaui batas yang ditentukan orang lain dalam hidupnya. Yesus dan karya-Nya telah meniadakan permusuhan antara manusia, bangsa-bangsa, dan telah merobohkan tembok-tembok yang dibangun untuk memisahkan orang-orang, bangsa-bangsa, ras-ras, kelas-kelas sosial, dan lain-lain.
                   Diutus untuk membebaskan orang-orang yang tertindas dan menyembuhkan orang-orang yang buta. Kabar baik dimasudkan untuk semua orang, tetapi Yesus memberi perhatian khusus pada orang-orang miskin, yang membebaskan dan menyembuhkan.[20]
2.4.2.  Kebersamaan, kesetiaan, dan saling melengkapi
                   Tidak hanya sekedar perkataan namun perbuatan juga, persekutuan mereka yang indah dan baik dan menjadi salah satu sarana kesaksian yang kuat untuk orang yang disekitar mereka. Kis 4:32 adanya perasaan sejiwa atau sehati. Hal ini tidak berarti bahwa mereka selalu cocok dan sependapat dalam setiap hal. Perbedaan pendapat tidak harus berarti tidak lagi bisa sejiwa atau sehati. Mempunyai kelebihan dalam satu hal lainnya, tetapi kita tetap sama, masing-masing memikul tugas yang sama.[21]
                   Menangis dengan orang yang menangis. Dan supaya kita menyatakan belas kasihan kita kepada orang yang sedang menderita sengsara (Rom 12:15; 1 Kor 12:26).[22] Di dunia ini banyak sekali sengsara yang diderita manusia. Sengsara itu dapat berupa penyakit, cacat badani atau rohani, ditindas, dipenjarakan, terpencil. Tuhan menghendaki supaya kita menolong, menghibur, dan menegakkan dan melayani orang-orang yang sedang menderita itu demi kebahagiaan mereka.[23] Kasih persaudaraan berarti kepekaan kepada kebutuhan dan penderitaan sesama kita. Kalau kita mengasihi orang lain, kita akan menyadari sukacita dan kekecewaan mereka, sebagaimana kita telah menyadari keadaan diri sendiri. Dan merasakan juga ketidakadilan. [24]
2.4.3.  Bertumbuh bersama dan mendoakan satu dengan yang lain
                   Pada mulanya mereka bersidang di dalam rumah. Demikian terjadi jemaat rumah, yaitu perkumpulan orang-orang Kristen, yang waktu waktu tertentu berkumpul dalam sebuah rumah (lih. Roma 16:5 ; Kol 4:15; Filemon 2). Kerap kali mereka berkumpul, bahkan mula-mulanya tiap hari (Kis 2:46).  Mereka mengadakan perjamuan kasih yang diakhiri dengan perjamuan kudus. Di kemudian hari rupanya mereka berkumpul terutama pada hari Minggu. Akan tetapi pada hari-hari biasapun diadakan juga pertemuan.[25] Dalam pengajaran Yesus secara detail mengajarkan beberapa hal yang menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia. Pengajaran yang dimadsudkan adalah larangan membunuh, berzinah, perceraian, larangan bersumpah palsu, larangan balas dendam, perintah mengasihi musuh, dan larangan menghakimi.
                   Kesetiakawanan sosial pada jemaat mula-mula dilihat dari cara hidup jemaat. Jemaat mula-mula hidup dengan saling membagi barang miliknya.[26] Mereka membagi barang-barang miliknya kepada orang lain, karena mereka menyadari bahwa mereka harus meneladani dan mengikuti kasih yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus. Seperti jika ada jemaat yang mengalami kesusahan. Umat Kristen harus terus menyuakan suara kenabian dan mewujudkan keadilan bagi mereka yang mengalami ketidakadilan di hidupnya, karena ketidak adilan adalah tanggung jawabnya. Sepanjang sejarah gereja tanggung jawab ini selalu dilaksanakan oleh umat yang beriman. Gereja dan umat Kristen selalu memberi hati dan waktu bagi saudara-saudara mereka yang menderita ketidakadilan.[27]
2.4.4.  Bertolong-tolongan
                   Kemudian hari jemaat di Antiokhia menunjukkan sikap perhatian yang sama kepada jemaat Yerusalem yang membutuhkan bantuan (Kis 11:27 dsb) dan mungkin tindakan ini mendorong rasul Paulus untuk untuk mengadakan rencana pengumpulan uang sebagai cara menunjukkan keprihatinan mereka orang-orang bukan Yahudi terhadap saudara-saudara mereka yang Yahudi (1 Kor 16:1-4).[28]
                   Sesama manusia adalah pemberian Allah kepada kita. Tuhan menciptakan kita bukan supaya kita hidup terpencil dan kesepian, melainkan supaya kita hidup dalam persekutuan dengan orang lain. Tuhan menciptakan kita supaya kita hidup dalam hubungan: Allah-manusia-sesama manusia. Tuhan menghendaki supaya ada kasih diantara manusia dengan manusia, inilah yang dimadsud dengan kasih persaudaraan tersebut, membagikan barang milik, membuat mereka mengenal kesatuan mereka dalam Yesus Kristus, termasuk nilai berkumpul untuk berdoa (Kis 1:14; 2:42; 3:1; 4:24). Keprihatinan sosial dimiliki orang-orang Kristen seorang terhadap yang lain. Peraturan khusus diadakan untuk janda-janda (Kis 6:1).[29]
                   Kasih terhadap sesama ini adalah kasih yang tidak bersyarat, tidak mementingkan diri sendiri. Kasih melebihi penderitaan, persahabatan, dan kebaikan. Kasih persaudaraan melampaui kepentingan diri sendiri. Di sini kasih ialah tindakan nyata, dan rela menderita, kemurahan hati, pengampunan, dan belas kasih.[30] Kasih persaudaraan ialah kasih yang bersifat universal, itu memiliki peranan penting.
                   Yesus telah menerobos batas-batas bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa (Luk 10:33) melalui kasih-Nya yang universal. Kasih persaudaraan yang nyata Yesus tidak memandang orang-orang berdosa dengan mata penuh perhitungan.[31] Artinya dalam kasih persaudaraan kita tidak memandang orang dengan sebelah mata.
2.4.5.  Familia Dei (Keluarga Allah)
                   Familia Dei diidentikkan kita adalah satu didalam Kristus. Injil Yohanes memiliki tema utama kasih, yang harus dimiliki oleh orang-orang percaya, satu terhadap yang lain (Yoh 13:34). Hal ini digambarkan dengan alegori Pokok Anggur yang Benar (Yoh 15), dan dan para murid adalah carang-carangnya. Persekutuan Kristen berakar dalam hubungan antara Bapa dan Anak (Yoh 17:20-23).[32] Dalam pemahaman gereja lama tentang konsepsi familia Dei telah memainkan suatu peranan yang penting, dan memperlihatkan keterbukaan gereja dan kesediaannya untuk menampung gejala-gejala rohaniah disekitarnya. Keluarga Allah haruslah pertama-tama dan secara pasti diartikan sebagai persekutuan milik Tuhan, yang hidup dalam kepercayaan Kristus saja, suatu persekutuan pengharapan akan penggenapan apabila semua dan segala sesuatu persekutuan atas pengharapan dan pemenuhan Kristus, dan persekutuan ini milik Allah dan bukan dirinya sendiri.[33]
2.5.  Dasar Kasih Persaudaraan
                   Allah kasih adanya (1 Yoh 4:8) adalah defenisi Alkitab yang paling terkenal tentang Allah.[34] Ungkapan ini jelas mengenai sifat Allah yang penuh kasih. Allah adalah kasih merupakan sifat hakiki Allah, sehingga kasih merupakan pokok yang mendasari pendekatan Allah kepada manusia. Dialah yang lebih dahulu mengasihi, bukan manusia (1 Yoh 4:10,19) kasih Allah memampukan manusia menjadi anak-anak Allah (1 Yoh 3:1).[35]
2.6.  Analisa Penyeminar
                   Analisa penyeminar melihat bahwa persaudaraan itu memiliki yang lebih terpaut dengan makna yang rohani artinya saudara= orang orang seiman, keluarga Allah (Familia Dei). Status saudara yang dipangku oleh jemaat mula-mula ialah bagaimana mereka merefleksikan dan mengajarkan serta mempraktekkan kasih dan ajaran Yesus dan Paulus kepada mereka. Dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkotaan akibat kesibukan bahkan tidak saling menyapa antara satu dengan yang lain sebagai wujud persaudaraan ditengah-tengah gereja. Maka penyeminar menjelaskan bahwa perlunya pemahaman bagi jemaat apa arti saudara, dan bagaimana mempraktekkannya di gereja postmodern abad ke-21 ini.
2.7.  Refleksi Teologis
                   Persaudaraan diidentik dengan satu bapak, ibu, atau ikatan keluarga. Akan tetapi kita sebagai orang Kristen adalah sama-sama lahir dari penebusan darah Yesus yang tercurah di kayu salib. Kita adalah disatukan oleh kasih Kristus, kita adalah keluarga Allah, anggota keluarga, saudarasaudara dalam Yesus. Persaudaraan itu diwujudkan dalam kasih sesuai dengan kepekaan konteks zaman itu sendiri, dalam gereja mula-mula mereka mempraktikkan persaudaraan itu melalui kasih, saling tolong menolong, saling menegur antara sesama saudara, bertumbuh, saling melengkapi, dalam konsep Familia Dei.  Efesus 2:19-22 mengatakan: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Persaudaraan yang dimadsud ialah tidak hanya menolong sesama, namun adalah tidak dibatasi oleh stratifikasi sosial yang ada di dunia ini.
III.                Kesimpulan
Di dalam Perjanjian Baru kata saudara (adelphoi) digunakan untuk menunjuk pada “Keluarga Kristen”. Kata saudara-saudara secara harafiah berarti “dari rahim yang sama”. Jelas kata itu adalah istilah keluarga. Pada orang-orang Kristen kata dapat diberarti sesama orang percaya, anggota keluarga Allah, atau saudara-saudara dalam Kristus. Ini berarti kita semua telah dilahirkan kembali ke dalam keluarga Allah sekali untuk selama-lamanya (Efesus 1:5). kata ini digunakan sebagai sapaan untuk sesama orang Kristen. Orang Kristen pada jemaat mula-mula memahami arti dan makna persaudaraan menanggapi problema dalam berbagai konteks kehidupan sosial, politik, budaya, agama, ekonomi, dan mereka melakukan persaudaraan mereka di dasari oleh kasih persaudaraan dalam berbagai tindakan seperti menolong, mengasihi, dan saling melengkapi.
IV.                 Daftar Pustaka
Bavinck, J.H., Sejarah Kerajaan Allah 2- Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-GM,2015
Bothoeffer, Dietrich, Mengikut Yesus, Jakarta: BPK-GM, 1998
Brown, Collin, The New International Dictionary of New Testament Teology Vol 2, Michigan, Regency Publishing House, Grand Rapids: 1986
Browning, W.R.F., Kamus Alkitab, Panduan Dasar ke dalam Kitab-Kitab, Tema, Tempat, Tokoh, dan Istilah Alkitabiah, Jakarta: BPK-GM, 2013
Brownlee, Malcom, Tugas Manusia dalam Dunia Milik Tuhan, Jakarta: BPK-GM, 1987
Darmaputera, Eka, Menjadi Saksi Kristus- Pemahaman Kisah Para Rasul tentang Pekabaran Injil di seluruh dunia, Jakarta: BPK-GM, 2004
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1990
Douglas, J.D., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1 (A-L), Jakarta: YKBK/OMF,2007
Getz, Gene A., Saling Membangun, Bandung: Kalam Hidup, 1980
Guthrie, Donald Teologi Perjanjian Baru 1, Jakarta: BPK-GM, 1992
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 2, Jan S. Aritonang (terj), Jakarta: BPK-GM, 2008
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 3, Jakarta: BPK-GM, 2012
Heuken, A., Ensiklopedi Gereja Jilid III, Jakarta: Ciptaloka Caraka
Kopo, Eduard K., Keprihatinan Sosial Gereja, Yogyakarta: Kanisius,1992
Milne, Bruce Mengenali Kebenaran, Jakarta: BPK-GM, 1993
Napel,Henk ten, Jalan Yang lebih Utama lagi, Jakarta: BPK-GM, 1987
Stambaugh, John, & Batch, David, Dunia Sosial Kekristenan Mula-mula, Stephen Suleemann (ed), Jakarta: BPK-GM, 2004
Schreiner, Lothar, Adat dan Injil, Jakarta: BPK-GM,2015
Suharyo, L., Dunia Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius,1991
Tenney, Merril C., Survey Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 1985
Verkuyl, J.,  Khotbah di Bukit, Jakarta: BPK-GM
Verkuyl, J., Runtuhkan Tembok Pemisah, Jakarta: BPK-GM, 1974
White, John, Harga Penebusan Diri, Bandung: Kalam Hidup, 1996




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 28. Makna Panggilan Abraham Menurut Agama Yahudi

I. Latar Belakang Masalah  Pemanggilan Abram itu akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dan berkat yang dimadsud ialah berkat yang berasal dari Abram dan barangsiapa yang menyembah Allah Abram. Semua umat manusia akan menyembah Allah Abram, tapi permasalahan apakah berkat itu hanya tercurah hanya kepada Israel dan keturunannya saja, ataukah kepada semua kaum di bumi. Abram adalah permulaan pengenalan akan Allah Yang Esa, setelah berbagai kesalahan yang telah dibuat manusia oleh dosa. Abram selain disebut bapa orang percaya, ia juga disebut sahabat Allah.  Ada kalanya Allah telah memberkati orang-orangNya, sehingga hal menimbulkan kesal dan iri hati bagi pihak yang tidak terberkati. Mungkinkah Ia memihak dan bertindak berat sebelah? Sungguhpun Allah dapat memberi berkat menurut kesukaanNya, meski seorangpun tidak ada yang berhak, tetapi justru berkat itu dilimpahkannya segala yang hidup, termasuk juga yang tidak dipilihNya. Bukan hanya Ishak dan Yakub dan Efraim mendapat berka...

Materi 2. Etika Kristen mengenai pendirian tugu

Tinjauan Etika Kristen tentang menghormati Orang tua menurut Hukum ke V dihubungkan dengan Pendirian Tugu dalam adat kebudayaan Batak I.      Latar Belakang Masalah Kali ini kita akan membahas tentang konteks tanah atau daerah Batak, begitu banyak tugu-tugu atau makam yang begitu megah dan indah di tanah Batak, seringkali penyeminar melihat itu didaerah Toba Samosir yang menjadi mayoritas masyarakat yang mempraktikkan hal itu, sedangkan rumah-rumah nya sangat sederhana. Bangunan tugu-tugu mengalahkan rumah-rumah masyarakat Batak yang sangat sederhana. Jaminan berkat dan kutuk itu dipercayai dari nenek moyang nya dahulu. Dan juga banyak motivasi salah menghormati orang tua yang sudah mati dengan berlandaskan hormat pada orang tua yang sudah mati berdasarkan hukum taurat ke lima dan penugasan Yakub kepada Yusuf tentang mayat yang harus dibawa dari Mesir. Di kuburkan   bersama-sama leluhur, amanat orang tua harus dikubur dengan satu keluarga, Konteks suku Bat...