Langsung ke konten utama

Materi 28. Makna Panggilan Abraham Menurut Agama Yahudi

I. Latar Belakang Masalah 
Pemanggilan Abram itu akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dan berkat yang dimadsud ialah berkat yang berasal dari Abram dan barangsiapa yang menyembah Allah Abram. Semua umat manusia akan menyembah Allah Abram, tapi permasalahan apakah berkat itu hanya tercurah hanya kepada Israel dan keturunannya saja, ataukah kepada semua kaum di bumi. Abram adalah permulaan pengenalan akan Allah Yang Esa, setelah berbagai kesalahan yang telah dibuat manusia oleh dosa. Abram selain disebut bapa orang percaya, ia juga disebut sahabat Allah. 
Ada kalanya Allah telah memberkati orang-orangNya, sehingga hal menimbulkan kesal dan iri hati bagi pihak yang tidak terberkati. Mungkinkah Ia memihak dan bertindak berat sebelah? Sungguhpun Allah dapat memberi berkat menurut kesukaanNya, meski seorangpun tidak ada yang berhak, tetapi justru berkat itu dilimpahkannya segala yang hidup, termasuk juga yang tidak dipilihNya. Bukan hanya Ishak dan Yakub dan Efraim mendapat berkatNya, tetapi juga Ismael (17:20), Esau (27:38-40) dan Manasye (48:17:22).
Orang banyak berpikir bahwa ketika Abram dipanggil dan pilih bahwa berkat Allah itu hanya turun dan warisan serta janji Allah itu turun hanya kepada keturunan Abram yaitu bangsa Israel, namun justru mereka sebagai alat yang dipakai oleh Tuhan, dan bukan berarti bangsa-bangsa lain tidak diberkati namun oleh Abram semua bangsa nantinya akan terberkati. 

II. Makna dan Abraham
* Pengertian Arti dan Makna Panggilan dan Pemanggilan secara Umum 
 Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata makna yaitu arti atau madsud, mengetahui lafal, berarti, mengandung arti yang penting atau menerangkan beberapa arti.Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata panggil memiliki arti menyuruh datang, secara khusus panggilan ialah imbauan, ajakan, undangan, suara yang memanggil, untuk merujuk kepada orang biasanya panggilan itu sifatnya orang yang dipanggil, kecenderungan hati untuk melakukan suatu pekerjaan, menghadap dsb. 
* Abram dan Pemanggilannya dalam perspektif Yahudi 
Abraham (b. Ibrani: אַבְרָהָם, Standar Avraham Tiberias ʾAḇrāhām Ashkenazi Avrohom atau Avruhom; bahasa Arab: ابراهيم, Ibrāhīm ; Ge'ez: አብርሃም, ʾAbrəham) adalah tokoh penting dalam Alkitab dan Al-Quran. Abraham bernama asli Abram. Ia adalah anak Terah, berasal dari Ur-Kasdim. Abram lahir ketika Terah berusia 130 tahun (mengingat Abram berusia 75 tahun ketika Terah wafat pada usia 205 tahun). Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana. Umur Terah ada 205 tahun; lalu ia mati di Haran. Setelah itu, Abram dan istrinya Sarai, Lot (anak dari saudara laki-laki Abram, Haran), dan semua pengikutnya, kemudian pergi ke Kanaan. Abram berumur 75 tahun, ketika ia berangkat dari Haran. TUHAN memerintahkan Abram untuk pergi ke "negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu", dan berjanji untuk memberkatinya dan membuatnya bangsa yang besar. Karena percaya akan janji-Nya ini, Abram pergi ke Sikhem, dan menerima janji baru bahwa negeri itu akan diberikan pada keturunannya. Setelah membangun sebuah mezbah untuk memperingati perjanjian ini, ia pergi dan memasang kemah di antara Betel dan Ai, di mana ia membangun sebuah mezbah lagi dan "memanggil nama TUHAN.
 Setelah peristiwa masyarakat dunia yang bersatu di seputar proyek pembangunan, Kejadian berlanjut dengan silsilah yang diawali dengan peralihan dari waktu mistis ke historis. Setelah 10 generasi dari peristiwa itu, kita mendengar keturunan seorang pria bernama Terah. Pemutusan perhatian pada satu keluarga tertentu yang negeri kelahirannya terletak di Ur-Kasdim. Kepergian Terah adalah tanah Kanaan, dan ke Haran dan menetap disana. Abram melakukan perubahan radikal pada umur 75 tahun. Suara YHWH berjumpa dengan Abram pada sebuah persimpangan sangat menentukan. Sebagai tanggapan terhadap suara YHWH, Abram dilukiskan sebagai pentobat pertama kepada apa yang tampil sebagai agama autentik dari Allah Pencipta. Abram dipanggil untuk meninggalkan negeri kelahirannya sanak keluarganya di Haran, juga tidak diisyaratkan bagaimana ia menjelaskan pengembaraan yang pasti itu kepada istrinya, Sarai dan keponakannya, Lot. 
 Abram adalah bapak dari tiga besar agama dunia. Karena dari keturunannya, yang disebut Bani Israil, datang agama Yahudi, Nasrani, dan Islam. Abram adalah seorang yang beriman karena ia percaya bahwa Tuhan akan menepati janji-janjiNya, sekalipun janji-janji itu tampak tak masuk akal. Bagaimana mungkin Abraham dapat menjadi sebuah bangsa yang besar jika istrinya, Sarah mandul? Sehingga ketika mendengar janji ini mereka tertawa. Diluar dugaan, anak laki-laki mereka akhirnya lahir. Akan tetapi itu berubah serius ketika Tuhan menetapkan tugas yang berat: Abraham harus mengurbankan anak lelakinya kepada Tuhan. Abraham memutuskan mempercayai Tuhannya. Abraham telah membuktikan dirinya layak menjadi bapa sebuah bangsa yang besar, yang jumlahnya akan sebanyak taburan bintang dilangit atau hamparan pasir di pantai.
Biodata Abram adalah sebagai berikut: 
 Keturunan Sem putra Terah. Leluhur bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain (Kej 17:5). Imannya sangat teguh dan ia dikenal sebagai sahabat Allah (2 Tawarikh 20:7). Riwayat hidupnya disajikan dalam Kejadian 11:26-25:10. Daftar keturunannya langsung melalui putra-putranya Ishak dan Ismael terdapat dalam Kejadian 25:11-19. Etimologi nama Abram (Ibrani avram¸Kej 11:27-17:5) berarti bapak dimuliakan. Sesuai janji dalam perjanjian suci antara Allah dengan Abram dan keturunannya turun temurun, namanya diganti menjadi Abram dan keturunannya turun temurun, namanya diganti menjadi Abraham yang berarti bapak sejumlah besar bangsa. Abraham (avraham) ialah suatu bentuk dialektis dari Abram yang berarti banyak.
 Lahir di Ur-Kasdim dan tinggal bersama ayahnya Terah, Haran meninggal, ia pindah ke tanah Haran bersama istrinya, bapaknya dan Lot, dan Terah meninggal di Haran. Oleh panggilan Allah, Abraham pada usia 75 tahun meninggalkan Haran masuk ke Kanaan (12:1-9).
* Konteks Kehidupan Masa Abram
** Konteks Keagamaan 
 Sangat sulit menentukan gambaran lengkap mengenai keyakinan dan praktek keagamaan Abraham dan keturunannya dari kisah-kisah dalam Kejadian 12-50. Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa agama yang diterima Abraham dari leluhurnya bersifat politheis. Yosua 24:2 berbunyi: 
Dahulu kala di seberang sungai Efrat, disitulah diam nenek moyangmu yakni Terah, ayah Abraham, yakni ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.
Tempat kelahiran Abraham, Ur merupakan suatu pusat ibadah terhadap dewa Bulan yakni Nanna. 
 Abraham keluar dari Haran, tradisi Yahudi melihat hal ini sebagai suatu desakan akibat ketidakpuasaan terhadap agama kepercayaan di Haran. Kepergian Abraham ke Kanaan atas perintah Allah juga merupakan kepergiannya dari masa lampaunya yang politeis untuk menyembah Allah Yang Esa yang menyatakan diri kepada-Nya. Abraham memperlihatkan suatu keyakinan iman berdasarkan pertemuan pribadi dengan Allah dan juga menghasilkan suatu tabiat dan watak luhur.
** Konteks Kebudayaan 
 Dalam bidang keagamaan, hal yang menarik adalah adanya parallel antara upacara pengesahan perjanjian di Mari dengan upacara yang berlaku dalam Kejadian 15. Selain unsur-unsur kesamaan dalam bidang agama, di Mari terdapat juga berbagai titik persamaan di bidang hukum.
** Konteks Sosial-Politik 
 Mesopotamia terletak di sebelah timur negeri Palestina. Suatu daerah yang kesuburan usahanya bergantung pada air sungai. Di bagian hilir, di dekat teluk Persia terletak kota Ur yang dengan wilayah sekitarnya menjadi suatu Negara yang cukup berkuasa. Pada zaman ini berkembanglah suatu keadaan baru, damai dan makmur. Khususnya jalan-jalan terbuka antara Mesopotamia dan Kanaan. Pada masa ini sebagian besar kota-kota yang disebut dalam kisah Abraham didirikan misalnya: Sikhem, Betel, Hebron, dan Yerusalem. Hal inilah yang menjadi suatu konteks sejarah bagi perpindahan Abraham dari Hebron ke Kanaan. Perpindahan Abram sendiri tidak merupakan perpindahan suatu suku melainkan perpindahan satu keluarga saja. Suku pengembara menetap diwilayah yang dikuasai oleh seorang raja kota.  

III. Pengertian Semua Kaum di bumi
 Pengertian kaum dapat dikatakan ialah suku bangsa, dapat juga dikatakan sebagai sanak saudara; kerabat; keluarga: ia hidup terasing darinya, dan dapat juga dikatakan sebagai golongan (orang yg sekerja, sepaham, sepangkat, dsb). 
Sekilas Mengenai agama dan bangsa Yahudi
 Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia agama Yahudi ialah bangsa yang berasal dari Israil (Palestina), agama orang Israil. Yahudi dalam bahasa Ibrani Judah adalah keturunan suku-suku Israel, penganut Judaisme. Menurut Kitab Perjanjian Lama nenek moyang mereka Terah dari Ur Kaldea, yang menurunkan bapa-bapa bangsa Abraham, Isak dan Jakob (Ibrahim, Ishak, dan Jakub). Sejarah mereka dimulai dengan penetapan di Mesir sebagai pemelihara ternak, jauh sebelum tarikh Masehi. 
 Di gunung Sinai mereka diberi Sepuluh Perintah Tuhan. Mereka menaklukkan Kanaan dan bersatu dibawah Saul, raja pertama, yang dikalahkan kaum Filistin. Raja berikutnya David (Daud) yang mengalahkan musuh-musuh Jahudi. Putranya, Salomon (Sulaiman) membangun Bait ul Allah yang pertama. Kemudian terjadi perpecahan dan dibentuk dua kerajaan, Israel dan Juda. 
 Bagi orang Israel, keluarga dan kelompok kekerabatan yang diorganisasikan diseputar aktivitas pertanian memberikan elemen-elemen dasar bagi kehidupan sehari-hari dan melahirkan simbol-simbol. Dalam pemerintahan, sang raja tidaklah mewakili puncak model kemasyarakatan ini, Yahwehlah yang merupakan Sang Tuan Patrimonial. Orang Yahudi dan Kristen memiliki Kitab Suci yang sama. Iman Kristen lahir dari dalam lingkungan Yahudi.

IV. Arti dan makna panggilan dan pemanggilan untuk semua kaum dibumi menurut pandangan Yahudi 
Pemilihan dan penetapan Allah kepada Abram 
 Dengan hadirnya Abraham, dan melalui Abrahamlah umat Yahudi dipilih demi kemaslahatan manusia dan demi dirinya sendiri. Oleh bangsa Israel semua bangsa diberkati. Panggilan terhadap umat ini ialah mengubah tanah Kanaan menjadi tanah Israel, tanah yang diperoleh dari peperangan yang didukung Allah, dan selanjutnya kehendak Allah dapat terjadi di bumi seperti di sorga. Setiap orang yang masuk ke dalam Yudaisme adalah bagaikan Abraham, Bapa Umat Yahudi, yang orangtuanya bukanlah seorang Yahudi. Tradisi Yahudi mengisahkan manusia tentang Terah, ayah Abraham, yang bekerja sebagai tukang pembuat patung berhala. Orang yang bertobat ke dalam Yudaisme tersebut mengikut jalan yang sama seperti Abraham, dan karena itu ia disebut putra atau putri Abraham. Melalui Abrahamlah umat Yahudi memasuki kancah sejarah. Mereka dituntut untuk hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan (Kej 18:19). Dan selanjutnya olehmu semua kaum dibumi akan mendapat berkat (Kej 12:3).
 Sekalipun bangsa Israel dikatakan bangsa yang kudus, dimulai soal penciptaan, menurut tradisi Yahudi tindakan ini akan mencegah manusia itu berkata, Aku lebih hebat dari engkau, ayahku lebih hebat dari ayahmu, sebab kita memiliki satu nenek moyang, yaitu Adam. Menjadi Yahudi berarti menerima tanggung jawab tambahan, yaitu tanggung jawab karena sudah dipanggil dan menjadi mamlekhet kohanim wegoy kadosy kerajaan imam dan bangsa yang kudus. 
 Panggilan Allah kepada Abram dipahami sebagai asal usul Israel. Allah memanggil Abram dan keturunannya mengikat suatu perjanjian dengan Abram dan melanjutkannya kepada Ishak dan Yakub beserta keturunannya. Umat Israel atau Yahudi menyebut Abram, Ishak dan Yakub sebagai bapa leluhur mereka. Dengan kata lain, Israel merupakan keturunan Abram. Allah menetapkan pilihan-Nya Israel, untuk menetapkan pilihan-Nya Israel, untuk menyatakan berkat-Nya kepada segala bangsa.
 Dimulai dari pemanggilan Allah kepada Abram. Ciptaan yang awalnya begitu baik dirusak oleh pemberontakan manusia. Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa akan selalu berada di bawah penghukuman dan kutuk. Allah menyatakan anugerah dan belas kasihan-Nya. Melalui Abram dan keturunannya Allah akan memperbaharui ciptaan yang rusak. Allah bermadsud agar semua bangsa akan diberkati. Hal ini terus diulangi dalam Kitab.
 Abram adalah seseorang yang terpanggil oleh Allah kepada suatu kehidupan baru yang direncanakan oleh Allah untuk seluruh umat manusia. Melalui Abram dipersiapkan bangsa yang baru, yang memiliki tanggung jawab untuk membawa keselamatan Allah kepada semua bangsa-bangsa yang lain. Seperti dalam Kejadian 1 dimana Firman Allah menciptakan langit dan bumi dan memulai sejarah, demikian juga dengan peristiwa Allah kepada Abraham dalam Kejadian 12:1-3 wayyomer bermadsud memulai, mengadakan, menghidupkan sejarah keselamatan manusia yang terpaut dengan satu orang yakni Abraham. 
 Panggilan dan pemberkatan Abraham merupakan suatu perkembangan baru yang yang radikal. Allah berkarya dalam sejarah untuk memulai serangkaian peristiwa yang akan menjembatani jurang yang diakibatkan oleh dosa antara Dia dan manusia. Panggilan yang disertai dengan janji universal ini adalah zaman permulaan dan jawaban atas pertanyaan tentang hubungan Allah dengan manusia yang tercerai berai akibat dosa.
 Allah memilih Abram dan keturunannya bukanlah oleh karena mereka ternyata orang-orang yang baik, benar, bijaksana, sebaliknya sebagai orang-orang yang dipanggil itulah mereka ditantang supaya tetap menuruti jalan Tuhan dengan melakukan kebenaran dan keadilan sehingga menjadi satu tantangan pula terhadap masyarakat sekitar. Panggilan yang direspon Abram dengan ketaatan ini membuka era baru dimana rangkaian individu yang melayani sebagai alat yang ditujukan Allah untuk menyampaikan berkat Allah kepada seluruh umat manusia.
Janji Allah kepada Abram 
 Abraham tidak hanya memilih bapa leluhur, tetapi juga mengikat Perjanjian. Kata Ibrani yang dipakai adalah berith. Yang dimadsudkan dengan berith menunjukkan kepada tali persaudaraan dengan Allah, menunjuk pada ikatan perjanjian sebagai bentuk hubungan yang tetap antara kedua pihak yang bersangkutan. Dua kali Allah mengikat perjanjian dengan Abraham (Kej 15 dan Kej 17). Dasar perjanjian ini terdapat dalam Kejadian 12:1-3 ketika Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan negerinya serta berjanji akan menjadikannya suatu bangsa yang besar. Dalam pemanggilan Abraham, Allah memberikan janji kepada Abraham dalam tiga segi:
Janji tanah (Kej 12:1). Abraham dipanggil keluar dari Ur-Kasdim ke tanah yang diberikan Tuhan. Janji diulangi dalam Kejadian 13:14-18, dan dimensi janji yang diberikan dalam Kejadian 15:18-21. Aspek tanah perjanjian dalam janji Abraham lebih jelas lagi di Ulangan 30:1-10, perjanjian Palestina. 
Janji Keturunan (Kej 12:2). Abraham dijanjikan menjadi bangsa yang besar. Pada waktu ia berumur 75 tahun, dan belum memiliki anak (Kej 12:4). Ia dijanjikan memiliki keturunan. Janji diperjelas dalam Kejadian 17:6, dimana bangsa-bangsa dan raja-raja berasal. Janji terjadi pada garis keturunan dengan Daud, di mana kerajaan Mesias akan memerintah atas bangsa Israel (2 Sam 7:12-16). 
 Janji berkat dan penebusan (Kej 12:3). Allah berjanji memberkati Abraham dan keluarganya. Janji ini dipertegas dalam Perjanjian Baru dan janji ini berkaitan dengan berkat rohani dan penebusan Israel. Yeremia 31:34 mengantisipasi pengampunan dosa yang dijanjikan itu. Sifat perjanjian itu kekal (Kej 17:19) untuk keturunannya. Janji ditegaskan kepada Ishak (Kej 21:12; 26:3-4) dan pada Yakub (Kej 28:14-15). 
Berkat Allah kepada Abram 
 Berkat dijanjikan dan dipastikan kepada satu orang yakni Abram. Dalam pemanggilan Allah kepada Abram adalah semata-mata tindakan Allah untuk seluruh umat manusia. Tujuan dari rencana Allah ini bersifat universal. Allah hendak memberikan semua berkatnya kepada semua bangsa, tidak hanya terbatas kepada Abram dan keturunannya saja, melainkan meliputi dan melingkupi segala kaum manusia. Dalam seluruh rencana Allah ini, Abram tidak lebih dan tidak kurang daripada perkakas dan alat Allah untuk menunjukkan berkat Allah di hadapan segala bangsa.
 Melalui Abraham akan dibentuk sebuah komunitas di antara ciptaan yang telah menyeleweng mewujudkan kekuatan berkat dalam sejarah manusia. Harapan Allah, melalui satu orang yang dipanggil akan tercita kembali sebuah keharmonisan dalam sejarah manusia. Oleh sebab itu, panggilan kepada Abram tidak hanya sampai pada pembentukan Israel, namun lebih kepada sebuah tindakan memperbaharui ciptaan dan transformasi bangsa. 
 Berkat: Berkat dalam bahasa Ibrani adalah berakha sering sering dihubungkan dengan karunia benda, biasanya material. Sering dipertentangkan dengan kutukan (Kej 27:12; Ul 11:26-28). Berkat diberikan Allah kepada Abram berarti kutukan yang telah dibawa oleh dosa telah dihancurkan. Abraham dipanggil menjadi berkat tidak hanya sebatas Abram menerima kelimpahan dari Allah melainkan Abram diubah menjadi orang baru. Pembawa kehidupan, pembuat perdamaian, pembawa damai sejahtera, kebenaran dan keadilan. Dalam kata berkat terkandung keselamatan yang terakhir dan tertinggi yang diberi Allah kepada manusia. Janji bahwa Abraham akan menjadi berkat bagi banyak bangsa di dunia dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus yang disebut sebagai keturunan Abraham (Mat 1:1) diutus Allah ke dunia untuk memperdamaikan segala sesuatu dengan Allah. Setelah kenaikan-Nya, Yesus Kristus memberi mandat ini kepada gereja, selaku orang-orang yang percaya.
 Kesinambungan: TUHAN pernah memanggil Abraham, Ishak, dan Yakub, telah menyatakan diri-Nya kepada mereka, telah mengikat suatu perjanjian dengan Abraham dan melanjutkannya dengan Ishak dan Yakub beserta keturunannya, dan berulang-ulang menjanjikan perlindungan, berkat, keturunan dan tanah kepada mereka. Pokok ini termasuk dalam Credo umat Israel. 
Analisa Penyeminar
 Jika Islam menganggap Ibrahim sebagai bapaknya orang-orang mu'min, karena Allah menetapkannya, dan bagi orang Kristen, Abraham adalah bapak orang percaya. Imannya menjadi teladan bagi semua orang. Surat Ibrani mengatakan demikian: "Karena iman Abraham taat, akan tetapi Agama Yahudi memandang Abraham sebagai salah satu leluhur mereka. Di dalam Kitab Suci Ibrani, Allah sering menyatakan diri-Nya sebgai "Allah Abraham, Ishak, dan Yakub". Hal ini misalnya terjadi ketika Allah menyatakan diri kepada Musa di padang belantara di Midian: "Lagi Ia berfirman: 'Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.' Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah." (Keluaran 3:6). 
 Ternyata Abram tidak hanya ditetapkan hanya permulaan manusia mengenal Allah kembali dan untuk menjadi berkat untuk keturunannya, namun untuk seluruh bangsa, dengan cara apa berkat itu sampai kepada kepada seluruh kaum dibumi menurut persepsi Yahudi yaitu dengan cara: 1. Melalui bangsa Israel, bangsa-bangsa lain akan mengikuti teladan Yahudi dan mengikuti Allah mereka, 2. Melalui teladan dan menjadi alat Allah yang melaksanakan keadilan, kebenaran, serta kesejahteraan dimuka bumi ini. 3. Menjadi nabi atau saksi TUHAN ditengah-tengah segala bangsa.


V. Refleksi Teologis
 Orang yang dipanggil, dan ditetapkan oleh Allah untuk memberitakan kebenaran Firman Allah haruslah memberitakannya kepada seluruh bangsa, agar menjadi terang ataupun cahaya kepada orang-orang yang belum mengenal Allah, hendaknya orang yang telah ditetapkan Allah akan melahirkan banyak bangsa untuk datang kepada TUHAN, seperti ada yang tertulis: 
Yesaya 2 :3 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem." 
Yesaya 49 :6 "Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi." Di masa kini banyak yang mengetahui nama Allah namun belum tentu dengan mengenal serta mendalami karya-karya Allah, maka dari itu seorang yang sudah ditetapkan hendaklah memenuhi tugasnya di tengah-tengah dunia untuk menjadi suara kebenaran Allah. 

VI. Kesimpulan 
Allah menyatakan diri-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, sebab ia hendak memilih mereka: sesuai dengan pilihan dan perkenananNya sendiri bukan karena sesuatu hak, jasa, atau bakat pada pihak mereka, untuk membuat mereka menjadi alat di dalam rencana-Nya dan menjadi pelopor-pelopor bagi umat-Nya di masa depan bukan semata-mata untuk memberkati mereka, dengan menggerakkan mereka, sehingga mereka menjawab panggilanNya sebagai hamba, nabi atau saksi TUHAN ditengah-tengah segala bangsa, dengan mengesampingkan untuk sementara, namun dengan tidak melupakan atau menolak selama-lamanya Lot, Ismael, dan Esau serta keturunannya yang tidak terpilih. 
 Daftar Pustaka
Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan, Kisah 4000 tahun Pencarian Tuhan dalam agama-agama manusia, Bandung: PT Mizan Media Utama, 2013
Barth, C., Teologi Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK-GM, 2004
Botterweck, G. Johannes, & Ringgren, Helmer, Theological Dictionary of The Old Testament, (Michigan Grand Rapids: Willyam B. Eerdmans Publishing Company, 1983
Brueggmann, Walter, Genesis Interpretation, Atlanta: John Knox Lennox, 1982
Douglas, J.D., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 1 A-L, Jakarta: YKBK,1992
Free, Joseph P., Arkeologi dan Sejarah Alkitab, Malang: Gandum Mas, 1997 
Hinson, David F., Sejarah Israel, Jakarta: BPK-GM, 2004
Howard-Brook, Wes, Keluarlah Wahai Umat-Ku!, Panggilan Allah dalam Alkitab Agar keluar dari Imperium, Maumere, STSP Ledalero, 2014
Junita Karo, Skripsi, Pergilah Menjadi Berkat, Suatu Tinjauan Exegesis Kanonikal Panggilan Abraham Menjadi Berkat dalam Kejadian 12:1-3 dan Relevansinya bagi gereja saat ini
Kaiser, Walter C., Teologi Perjanjian Lama, Malang:Gandum Mas, 2004
Khan, Hazrat Inayat, Kesatuan Ideal Agama-Agama, Yogyakarta: Putra Langit, 2003
King, Philip J., & Stager, Lawrence E., Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, Jakarta: BPK-GM,2010
Lasor, W.S., Hubbard, D.A., Bush, F.W., Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK-GM, 1993
Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab Edisi Studi, Jakarta:LAI,2013
Lempp, Walter, Tafsiran Alkitab Kejadian 5: 1-12-12:3, Jakarta: BPK-GM, 1987
Manewe, Marthinus T., Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual, Jakarta: BPK-GM, 2008
Pringgodigdo, A.G., Ensiklopedi Umum, Yogyakarta: Kanisius, 2006
Rowley, H. H., Ibadat Israel Kuno, Jakarta: BPK-GM,2004
Siringo Ringo, V. M., Theologi Perjanjian Lama, Sejarah-Metode-Pokok-pokok Theologi Perjanjian Lama, Yogyakarta: ANDI,2013 
Ucko, Hans, Akar Bersama, Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen-Yahudi, Jakarta: BPK-GM, 1995
Vriezen, Th. C., Agama Israel Kuno, Jakarta: BPK-GM, 2006
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Wahono, Wismoady, Disini Kutemukan, Jakarta: BPK-GM, 2004
http:// Wikipedia-Abraham, diakses tgl. 25 Februari 2016 
http://www.artikata.com/arti-333356-kaum.html diakese tgl. 29 Februari 2016 pkl. 08.42 wib

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 3. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru

Mencermati Arti dan Makna “Persaudaraan” (Brotherhood/Sisterhood) dalam Gereja Mula-mula serta Refleksinya dalam Gereja dan Masyarakat Masa Kini I.                     Latar Belakang Masalah Suatu nyanyian yang sering kita dengar adalah “Dalam Yesus kita bersaudara”, yang mempersatukan mereka ialah kasih. Gereja masa kini banyak tidak mempraktekkan lagi arti kata adelpos itu sebagai wujud persaudaraan antara satu dengan yang lain, ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman modernisasi, cara pandang yang globalisasi, maka Kekristenan menanggapi tantangan-tantangan budaya global. Konsepsi Familia Dei atau Persaudaraan, dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkot...

Materi 2. Etika Kristen mengenai pendirian tugu

Tinjauan Etika Kristen tentang menghormati Orang tua menurut Hukum ke V dihubungkan dengan Pendirian Tugu dalam adat kebudayaan Batak I.      Latar Belakang Masalah Kali ini kita akan membahas tentang konteks tanah atau daerah Batak, begitu banyak tugu-tugu atau makam yang begitu megah dan indah di tanah Batak, seringkali penyeminar melihat itu didaerah Toba Samosir yang menjadi mayoritas masyarakat yang mempraktikkan hal itu, sedangkan rumah-rumah nya sangat sederhana. Bangunan tugu-tugu mengalahkan rumah-rumah masyarakat Batak yang sangat sederhana. Jaminan berkat dan kutuk itu dipercayai dari nenek moyang nya dahulu. Dan juga banyak motivasi salah menghormati orang tua yang sudah mati dengan berlandaskan hormat pada orang tua yang sudah mati berdasarkan hukum taurat ke lima dan penugasan Yakub kepada Yusuf tentang mayat yang harus dibawa dari Mesir. Di kuburkan   bersama-sama leluhur, amanat orang tua harus dikubur dengan satu keluarga, Konteks suku Bat...