Ibadah Dalam Perjanjian Lama
עֲבוֺדָה (‘abodah)
Kata עֲבוֺדָה (‘abodah) dalam bahasa Ibrani atau ibadah dalam bahasa Aram yang secara harafiah berarti homage (bakti, hormat, penghormatan). Kata ‘abodah ditemukan sebanyak 145 kali, ada beberapa kata yang sering digunakan untuk ‘abodah. Pertama, sebagai pelayanan kepada Allah dalam kultus yang mencakup beberapa tempat untuk merawat alat dan perkakas ibadah (1 Taw. 9:28). Faktanya kata ini merujuk kepada kebanyakan tempat untuk melayani di tempat suci. Para imam dan Lewi termasuk orang khusus yang melayani disana (Bil. 4:4,19; 2 Taw. 8:14; Yeh. 44:13). Kedua, dalam pengertian khusus kata ini menunjukkan pekerjaan Allah (Yes. 28:21) sebagai pekerjaan asing yang ditunjukkan kepada orang-orang yang menjelaskan banyaknya pekerjaan (32:17). Ketiga, dalam perasaan umum kata ini menjelaskan banyaknya jenis pelayanan dalam partikular, pelayanan ditujukkan pada Yahweh (Yes 22:27) termasuk penawaran beban, pengorbanan, dan penawaran persekutuan.
Ibadah merupakan suatu sikap dan aktivitas yang mengakui dan menghargai seseorang (atau yang ilahi). Ibadah juga dapat juga dikatakan suatu penghormatan hidup yang mencakup kesalehan (yang diatur dalam suatu tata cara), yang implikasinya nampak dalam tingkah laku dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Jadi ibadah disini merupakan ekspresi dan sikap hidup yang penuh bhakti (penyerahan diri) kepada yang ilahi, yang pengaruhnya nampak dalam tingkah laku yang benar. Ada beberapa kata atau ungkapan yang dipakai untuk ibadah. Kata kerja עבד (Bahasa Ibrani: ‘abad) berarti melayani atau mengabdi (seperti pengabdian/ pelayanan yang utuh dari seorang hamba kepada tuannya).
Kata abodah berasal dari kata abad yang muncul dalam Alkitab dapat diartikan yaitu mengerjakan, mengusahakan, bekerja sebagai budak untuk tuannya; melayani, mengabdi (Bil. 4:26; Yeh 29:18); beribadah, melakukan ibadah kepada Allah (Mal. 3:18; Ul. 7:4; Yos 24:15), berbuat untuk menghasilkan (Yes 14:3). Secara etimologi, kata abodah yaitu melayani, pelayanan, pemujaan yang sama pengertiannya dengan (bahasa Yunani; latreia).
Kata ‘abodah berasal dari kata עבד ('bd) dalam bentuk qal (Kata kerja pangkal Aktif sederhana) yaitu pekerjaan, melakukan pekerjaan, melayani, menyembah, akan bekerja. Dalam bentuk kata hiphil (Kata kerja telah kausatif aktif sederhana) yaitu memperbudak, membuat pekerjaan, membuat melayani, dalam bentuk kerja hophal (Kata kerja telah kausatif pasif) yaitu disebabkan atau dipengaruhi untuk melayani, akan menyebabkan ibadah. Kata ‘ebed yaitu budak, hamba, bawahan, ‘abad yaitu kerja, tenaga kerja. Kata benda ‘abodah yaitu Pelayanan, pekerjaan, tenaga kerja, ibadah, hamba. Kata benda ‘abodah ditemukan 145 kali. Kata ini dalam bentuk teologi memiliki makna yaitu layanan untuk Allah dalam bentuk kultis atau ritual, yang melibatkan banyak daerah. Beberapa ditunjuk untuk mengurus perkakas ibadah (1 Taw. 9:28), sementara beberapa yang ditunjuk tugas tertentu (28:14; 2 Taw. 34:13). Melayani dalam pelayanan Kemah pertemuan (Bil. 4:47). Kata ini menggambarkan semua pekerjaan yang dilakukan dalam pembangunan tabernakel (Kel. 39:42), seperti yang dikatakan Allah. Hal ini digunakan untuk merujuk pada layanan keagamaan yang dilakukan di tabernakel dan pekerjaan yang sebenarnya pada kemah (Kel. 30:16; Bil. 3:7; 1 Taw. 23:24).
Dalam kata sifat dapat merujuk pada upacara הׇעַבֺ דָה (ha'aboda), Paskah (Kel. 12:25; 13:5) itu sendiri. Bahkan, kata ini digunakan untuk kediaman mengacu di sebagian besar tempat pelayanan di tempat kudus/tempat suci. Para imam dan orang Lewi secara khusus terlibat (Bil. 4:4, 19; 2 Taw. 8:14; Yeh. 44:14). Dalam arti yang lebih umum kata ini digunakan menggambarkan pekerjaan Tuhan (Yes. 28:21) sebagai kata kerja Dia akan melakukan terhadap umat-Nya. Hal ini juga menggambarkan pekerjaan era mesianis Yesaya (Yes. 32:17). Dalam arti kata ini secara umum menggambarkan pelayanan berbagai jenis-khususnya, layanan dilakukan untuk Yahweh (Yosua 22:27) yang melibatkan korban bakaran, korban, dan korban kesejahteraan-persekutuan.
Penulis menyimpulkan bahwa kata abodah artinya ialah ibadah, upacara, dan juga pelayan, melayani dalam bentuk pelayanan kepada Allah, bisa juga sebagai pengabdian, pemujaan kepada Allah dalam bentuk kultis kepada Allah, serta sebuah sikap budak kepada tuannya. Hal ini digunakan untuk merujuk pada layanan keagamaan, dan kata ini juga dapat dipakai untuk sifat hari-hari besar seperti paskah.
שׇׁחׇה (Sahah)
Kata ini dapat diartikan dengan tunduk (Yes 51:23), membungkukkan (Ams 12:25), sujud menyembah (Yeh 46:2; Ul 4:19, dll), merendahkan merangkak, meniarap, menundukkan (Yes 2:11,17; Hab 3:6, dll), tertekan (Mzm 42:6,7,12; 43:5). Kata שׁחח (sahah) dalam bentuk kata kerja qal yaitu beranda, meringkuk, direndahkan, dalam bentuk niphal (kata kerja pasif sederhana) yaitu direndahkan, sedangkan dalam bentuk hiphal yaitu rendah hati, menurunkan, dan menjadi putus asa. Dalam Perjanjian Lama, dalam bentuk qal, kata kerja shh adalah mengacu dalam pengertian membungkuk atau merendahkan diri.
Kata שׁחח ini terkait dengan sikap berduka (Mzm 35:14; 38:6) dan sikap ketakutan pada Allah, sehingga rasa meringkuk/membungkukkan diri (Ayb 9:13). Kata kerja ini mengacu pada meringkuk/membungkuk kepada singa (38:40). Korban yang ketakutan akibat kejahatannya (Mzm 10:10). Kata ini mengacu pada meratakan bukit-bukit. Qal dan niphal merujuk dibawa rendah, rendah hati; sikap orang akan direndahkan (Yes 2:9; 5:15), seperti manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan (2:11, 17) dan orang fasik tunduk (Ams. 14:19). Kata ini dapat dipakai sebagai suara yang merendahkan: seperti perkataan Yesaya, khotbah hukuman yang akan bergumam dari debu (Yes. 29:4). Dalam bentuk kata kerja hiphil, kata kerja ini mengacu pada Allah menurunkan kubu-kubu tembok yang tinggi akan ditumbangkan oleh Allah dan dirubuhkan-Nya, dan dicampakkan-Nya ke tanah dan debu (Yes. 25:12) dan kata ini digunakan untuk yang direndahkan-Nya (26:5).
Penulis menyimpulkan bahwa kata sahah ini memiliki arti dan makna bahwa kata ini dapat diartikan dengan merendahkan diri dalam bentuk kepada Tuhan dan gentar kepada-Nya, takut kepada Allah dan juga dapat diartikan dengan suatu sikap seperti beribadah yaitu sujud menyembah. Kata ini juga digunakan dalam bentuk merendahkan diri orang-orang yang congkak hatinya, orang-orang sombong, serta orang-orang fasik.
Ibadah Dalam Perjanjian Baru
Λατρεια (Latreia)
Kata Λατρεια (Latreia) muncul lima kali di Perjanjian Baru, tiga mengacu pada pelayanan pengorbanan. Dalam Roma 9: 4, bangsa Israel diberikan Hukum dan janji, dan kata latreia ialah merupakan bentuk kultus kurban, adalah salah satu cara bangsa Israel untuk membalas kebaikan Allah. Kata δικαιωματα λατρειας (dikaiomata latreias) dalam Ibr. 9:1 adalah mengenai tata cara ibadat. Dalam Ibr. 9: 6 οι ίερείς τας λατρειας επιτελουντες (oi iereis tas latreias ephitelountes), kata ini mengenai tata cara orang-orang melakukan pelayanan pengorbanan. Dalam Yoh. 16: 2, kata latreia dapat diartikan dengan pengorbanan, seperti yang ditunjukkan oleh προσϕερειν (prospherein) yang merupakan kata kerja atau ide mengenai pengorbanan tampaknya selalu melekat pada kata benda yang tidak dapat dipisahkan dari dari kata kerja. Hal ini juga berlaku dalam ayat terakhir (Rm. 12:1), meskipun penggunaan sini adalah metafora. Pelayanan orang Kristen adalah penciptaan kehidupan batin mereka dan perilaku atau kelakuan mereka dengan cara yang jelas membedakan mereka dari dunia dan yang sesuai dengan kehendak Allah. Ini adalah persembahan yang hidup yang seharusnya mereka tawarkan. Menggunakan istilah yang saat ini dalam filsafat zamannya, Paulus menggambarkan pengorbanan ini sebagai λογικη λατρεια (latreia logike), layanan Allah yang sesuai dengan akal manusia, di mana, bagaimanapun, kehidupan manusia berasal dari untuk Tuhan. Jika manusia mendengarkan nasihat ini, ia harus mengakui bahwa ini adalah layanan yang benar dari Allah. Sejarah Alkitab dari latreia untuk jangka kultus mencapai klimaksnya di pengertian ini, yang juga merupakan perbuatan paling komprehensif, dan yang mengambil lagi pernyataan kenabian awal dalam Kel. 10:12. Perkataan Paulus dalam Rm 12: 1 adalah puncak dari seluruh perkembangan ini.
Kata ini dapat diartikan bakti, ibadah, melayani Allah. Latreia/latreuo berasal dari kata λατρον (latron: upah); melayani dengan digaji, kerja upahan, pelayanan yang dibayar, pelayanan dalam rangka ibadat. Perjanjian Baru menunjukkan perkembangan nyata dalam memahami makna kultus. Kata ini dapat dihubungkan dengan kultus kafir atau dengan kultus Israel dalam berbagai bentuknya, secara khusus ditekankan segi batiniah iman atau doa. Kata ini juga dihubungkan dengan kultus Kristen, artinya kultus yang diadakan oleh Roh Kudus, ialah pelayanan para rasul atau doa Paulus. Dalam arti umum, setiap orang beriman Kristen harus mempersembahkan ibadah sejati (Logikos), artinya bukan ibadat yang formalitas belaka, bukan ibadah yang mempersembahkan binatang-binatang, melainkan suatu korban yang hidup atau kehidupan yang dipenuhi kasih sejati.
Dalam Perjanjian Baru, menggunakan pelbagai istilah untuk kata ibadah. Sebagian istilah istilah yang digunakan untuk ibadah adalah kata-kata yang mengandung makna-makna yang lain. Namun salah satu yang lebih biasa atau umum dipakai adalah kata latreia (Yun. Latreia) yang diterjemahkan dengan pelayanan, persembahan, pemberian korban, bakti dan ibadah (Rm. 9:4). Kata ini juga dapat mengarah kepada pengorbanan pemerintah ataupun kegiatan keagamaan (Ibr 9:6). Kata ini berhubungan dengan pelayanan atau kerja.
Kata Latreia, kata kerja Latreuo dan kata benda latreia memperkenalkan lingkup berbeda dari proskunein. Artinya sini adalah bahwa upah, atau lebih umumnya layanan, akhirnya tanpa memikirkan diperlukan penghargaan atau pamrih tetapi dan statusnya jauh lebih komprehensif atau mulia dibandingkan dengan perbudakan. Kata ini juga dapat digunakan untuk perawatan tubuh, atau menghargai hidup. Dalam LXX kata kerja terjadi terutama dalam Keluaran, Ulangan, Yosua, dan Hakim. Ini memiliki rasa layanan, tetapi dalam LXX ini, dan memang seluruh Perjanjian Lama, referensi selalu religius. Dalam setiap kasus, layanan dilambangkan terdiri tidak hanya dalam porsi umum untuk Tuhan, tetapi dalam tindakan kultus pengorbanan. Kata ini bebas digunakan untuk layanan dari dewa lainnya (Kel. 20: 5), permintaan yang terdapat dalam Perjanjian Lama adalah bahwa Israel harus melayani Allah yang benar dan hidup. Kata latreia hanya terjadi lima kali dalam Perjanjian Baru, dan dalam tiga kasus itu mengacu pada kultus korban dari Perjanjian Lama (Rm. 9:4; Ibr. 9:1,6). Dalam Yoh. 16: 2 juga ada mungkin sedikit latar belakang korban ketika Yesus mengatakan bahwa pembunuhan pengikut Kristus akan dianggap sebagai perbuatan bakti kepada Tuhan.
Penulis menyimpulkan bahwa kata latreia memiliki arti dan makna pelayan atau pelayanan, berhubungan dengan ibadah kultus atau pelayanan upacara kepada Allah, atau juga sebagai pelayanan pengorbanan, bakti kepada Allah, ibadah kepada Allah, melayani Allah, bakti Allah, dan juga kata ini digunakan sebagai persembahan kepada Allah. Kata ini adalah layanan, akhirnya tanpa memikirkan diperlukan penghargaan atau pamrih dan statusnya jauh lebih mulia dari perbudakan. Kata ini juga digunakan untuk pelayanan kepada dewa lainnya. Kata latreia dalam Perjanjian Baru, dan dalam tiga kasus itu mengacu pada kultus korban dari Perjanjian Lama.
Προσκυνειν (Proskunein)
Προσκυνειν (Proskunein) artinya ialah menyembah, memuja, berlutut, membungkukkan diri atau jatuh menyembah di hadapan orang lain, beribadah. Kata ini berasal dari kata κυνεω (kuneo) yaitu mencium. Kata ini membawa konotasi fisik eksplisit, yaitu merebahkan diri untuk menyembah atau bersujud (Mat 4:10; Luk 4:8). Yesus berkata kepada Setan: “ada tertulis: Engkau harus menyembah Προσκυνείν (proskunein) Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti λατρευσεις (latreuseis).” Dalam Yoh. 4:23, Yesus berkata kepada perempuan Samaria bahwa ketika waktunya tiba ketika orang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Why 5:14, kedua puluh empat tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah Προσεκυνησαν (prosekunesan). Posisi tubuh yang nyata dari ibadah itu ditandaskan oleh kata kerja ini.
Kata proskunein dapat diartikan dengan datang untuk bersujud sebagai tanda hormat atau untuk melakukan penghormatan. Karena penghormatan ini merupakan sikap umum dalam ibadah Perjanjian Lama, sehingga kata proskunein sering terjadi dalam LXX. Dapat juga kata diartikan dengan mencium sebagai tanda hormat. Dalam Perjanjian Baru penggunaan kata proskunein hampir sepenuhnya terbatas pada Injil, Kisah Para Rasul, dan Wahyu. Kata tersebut secara etimologi dengan kata tersebut lebih banyak memiliki makna mencium. Ini mungkin sikap santun (Abraham dalam Kej. 23:7,12). Dalam kasus lain hormat tampaknya harus dibayar atau diperuntukkan kepada yang hanya sebagai wakil Tuhan (1 Sam. 20:41: Est. 3:2). Kata ini juga digunakan arti beribadah, untuk menyembah dewa selain dari Allah yang benar (Kel. 20:5). Dalam Perjanjian Baru dalam 1 Kor 12, kata tersebut digunakan untuk orang yang tak beriman. Dalam Injil sinoptik kata ini dipakai mengenai bersujud kepada Allah atau Yesus. (Mat. 18:26; 8: 2; 9:18). Penolakan klaim iblis untuk ibadah (4: 9). Para murid melakukan penghormatan hanya ketika mereka menemukan Allah yang benar (Mat. 14:33) atau ketika mereka berada di hadapan Tuhan yang telah bangkit (28:9,17). Dalam Kisah Para Rasul, Petrus menolak membiarkan Kornelius menyembah dia (Kis 10:25). Dalam Injil Yohanes ada penggunaan penting dari proskunein dalam Yoh. 4: 20-24. Yesus merujuk di sini untuk ibadah yang dalam roh dan kebenaran. Proskunein adalah bagaimanapun, sebuah istilah yang penting dalam Wahyu. Pada akhirnya, bagaimanapun, bangsa dunia akan semua menyembah Allah (Why 15: 4). Implikasinya tampaknya bahwa proskunein sengaja dihindari sebagai istilah untuk ibadah Kristen primitif, mungkin karena sering terlihat di paganisme.
Bagi orang-orang Yunani, kata proskunein memiliki arti mencium penuh hormat. Juga jelas adalah kenyataan bahwa proskunein sebagai untuk adorasi para dewa kuno besar, untuk menyembah dewa Chthonic mungkin lebih tua daripada Olimpiade. Pemahaman Yahudi, kata proskunein dalam LXX adalah הׅשְׁתַּחֲוָה (histahawah) di satu sisi dan סגד (sagad, bahasa Aram). Hal ini juga digunakan masing-masing untuk mencium, untuk melayani, untuk beribadah (Mzm 97:7), gemetar, dan 3 kasus ini setara dengan kata yang digunakan yaitu histahawah, Est 3:2 (dua kali). Proskunein memiliki makna yang sama dengan kata Ibrani, awalnya yang menunjukkan hanya gerakan tubuh, telah menjadi kultus itu, untuk melakukan penghormatan.
Hampir tiga perempat dari contoh proskunein dalam LXX berhubungan dengan pemujaan dan penyembahan Allah yang benar dan Tuhan atau dengan yang dewa-dewa palsu. Para malaikat, utusan Allah, juga oleh orang benar, disambut dengan cara ini. Mana proskunein digunakan untuk ibadah Allah, tindakan ini sering tampaknya sejajar dengan latreuein. Saul menyembah/memberi penghormatan kepada nabi Samuel, anak-anak nabi dan wanita Sunem melakukan hal yang sama kepada nabi Elisa. Cara ini digunakan di mana Abraham dan Lot menerima utusan Allah (Kej. 18: 2; 19: 1), Abraham untuk orang Het (Kej. 23:7,12). Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yoh. 4: 20-24, Yesus berbicara tentang proskunein dalam roh dan kebenaran. Tetapi jika sujud diri tidak lagi memainkan peran apapun yang pasti, maka kata ini digunakan untuk tempat ibadah. Kata ini digunakan juga di Why 4:10; 5:14; 7:11; 11:16; 19: 4. Orang-orang yang takut akan Tuhan adalah Προσκυνουντας (proskunountas) di satu sisi (Why 11:1; 14:7), sedangkan jamaah dari naga dan binatang juga disebut proskunountas di sisi lain (Why 13:4, 8, 12, 15; 14 9; 16:2; 19:20; 20:4).
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki makna menyembah, memuja, berlutut, membungkukkan diri atau jatuh menyembah dan mencium dengan hormat. Ini merupakan posisi tubuh dalam beribadah. Kata ini juga digunakan untuk ibadah, dan pergunakan oleh orang beriman maupun yang tidak beriman. Kata ini berlaku untuk Allah yang benar, maupun kepada dewa-dewa, kepada malaikat-malaikat, ataupun peruntukkan kepada orang-orang yang mulia.
Θυσια (Thusia)
Kata ini berasal dari θυο (Thuo) yaitu mengorbankan, berkorban, menyembelih, membunuh (Yoh 10:10), Θυσια (Thusia) dalam bentuk feminis yaitu persembahan. Kata ini diterjemahkan sebagai pengorbanan atau persembahan korban suatu istilah. Istilah thusia adalah suatu istilah yang penting dalam Perjanjian Baru dan zaman bapa-bapa gereja, meskipun istilah-istilah ini juga dipakai bagi ibadah kafir, misalnya kepada roh-roh jahat (1 Kor 10:20) maupun ibadah Kristiani, misalnya sebagai persembahan hidup (Rm 12:1), atau mempersembahkan kurban syukur (Ibr 13:15). Kata ini berhubungan dengan persembahan korban, seperti yang dilakukan oleh Habel, anak lembu emas yang disembah oleh bangsa Israel, atau korban-korban resmi kaum Lewi.
Thusia adalah pengorbanan, atau tindakan pengorbanan. Dalam LXX (Septuaginta) kata thusia adalah זֶבַח (zebar) yaitu mempersembahkan korban Hos 6: 6 dan lain lain, dan מִנְחָה (minhah) yaitu persembahan, mempersembahkan kurban di Kej. 4: 3,5; Im 2: 1,7 dll. Kata θυσια σοτεριου (thusia soteriou) artinya korban keselamatan, Ul. 27:7; 2 Taw 33:16. Kata ini juga שְׁלָמִים (selamim) mengandung arti artinya pengorbanan, θυσια τες αινεσεος (thusia tes aineseos) artinya korban syukur dalam Im 7:12; 2 Taw 33:16. Dalam Perjanjian Baru kata thusia digunakan untuk persembahan Yahudi di Mat. 9:13; 12:7- Hos. 6:6; Mrk 9:49- Im 2:13; Luk 2: 24; 13:1; 1 Kor 10:18; Ibr 5: 1; 8: 3; 10:1, 5, 8, 11, persembahan penganut Paganisme di Kis. 7:41. Dalam Ef. 5:2 tentang kematian Kristus di mana ia telah menawarkan diri kepada Allah. Kehidupan Kristen sebagai diri persembahan kepada Tuhan (Rm 12:1), karunia melayani masyarakat (Fil 4:18). Kristen adalah buah dari bibir mereka (Hos 14:3) yang memuji nama Allah; pengorbanan menyenangkan Allah berbagi dan berbuat baik. Mereka yang makan korban, para peserta dalam pengorbanan Perjanjian Lama, para imam dan orang Lewi (Bil. 18:8; Ul 18:1 lih. 1 Kor. 9:13), tetapi juga kaum awam (1 Sam. 1: 4).
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki makna yaitu sacrifice (persembahan), diterjemahkan sebagai pengorbanan atau persembahan korban. Kata-kata ini digunakan untuk persembahan-persembahan dalam Alkitab, memiliki makna ungkapan syukur maupun dalam bentuk pengampunan dosa. Kata kata ini digunakan untuk Allah yang benar maupun yang digunakan dalam ibadah-ibadah kafir serta penyembelihan yang mereka lakukan.
Προσφορα (Prosphora)
Kata Προσφορα (Prosphora) dapat diartikan sebagai persembahan, korban, pemberian, pengorbanan, perbuatan, dan mempersembahkan. Tindakan mempersembahkan korban, yang merujuk pada persembahan Ishak oleh Abraham atau para imam atau Kristus imam agung yang mempersembahkan korban-korban kita (Ibr 10:10 dikatakan dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.), artinya persembahan ialah bagian dari ibadah. Kata prosphora yaitu persembahan atau ritual yang berkaitan dengan sejumlah kebiasaan Yahudi. Jika dihubungkan dengan orang-orang Kristen, artinya pelayanan kerasulan atau kasih.
Dalam Perjanjian Baru, prosphora digunakan baik untuk korban Lewi (Ibr. 10:5; 10:18; Kis 21:26; 24:17) dan juga untuk pengorbanan Kristus (Ibr 10:10,14; Ef 5:2). Hal ini juga digunakan dalam arti transformasi untuk persembahan atau pengorbanan dari orang-orang kafir dimenangkan oleh dan untuk Injil. Kata ini memiliki banyak arti dalam sastra klasik sebagai kata benda korelatif dengan makna dari kata kerja dalam Kisah Para Rasul, atau pasif. Berikut prosphora selalu berarti pengorbanan (sebagai hadiah atau tindakan) arti pertama kali ditemukan dalam LXX. Hinhah dan Dan. 3:38, kemudian di Sirakh. Dalam arti sastra pengorbanan hewan atau penawaran prosphora digunakan martir martyrium Polycarpi, ia dilukiskan seperti itu.
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki makna tindakan mempersembahkan korban, merujuk kepada pengorbanan Kristus kepada manusia dikayu salib dalam menebus dosa-dosa manusia, ataupun jiwa jiwa orang yang tidak beriman atau orang orang yang tidak hidup dalam Tuhan dibawa kembali kepada Tuhan.
Θρησκεια (Threskeia)
Kata Θρησκέια (Threskeia) tidak sering ditemukan dalam Perjanjian Baru, kata Threskeia hanya 4 kali. Kata ini tidak pernah menemukan kata dalam bentuk kata kerja θεσκευο (theskeuo) dalam Perjanjian Baru. LXX tidak muncul kata θρεσκος (threskos), tapi kata threskeia terjadi 4 kali. Etimologi tidak pasti. Dalam referensi hal ini dapat dilakukan untuk Kol. 2:18 dengan serangan terhadap Θρησκεια των αγγελων (threskeia ton aggelon) artinya yang beribadah kepada malaikat, penyembahan yang salah atau kultus malaikat. Kata threskeia itu dan threskos dapat digunakan dalam arti yang baik, dan sesuatu yang buruk, dan bahwa ayat-ayat Perjanjian Baru beberapa dapat dibagi sepanjang garis-garis, hampir tidak menyentuh titik yang menentukan dari sudut pandang teologi alkitabiah. Di bagian seperti Kol. 2:18, di mana dihadapkan oleh upaya kuno dan modern untuk membangun etimologi dan arti dari istilah. Kata ini juga dapat disebut dengan ibadah, agama. Kata ini berarti pelayanan keagamaan atau ibadah. Istilah ini lebih condong mengarahkan kepada pengertian ibadah yang bersifat kultis (Kis 26:5; dipakai istilah ibadah atau pelayanan ialah kesaksian, Kol 2:18; dipakai kata ibadah atau ritual, Yak 1:26 dipakai kata beribadah atau ritualis). Dalam Kitab Kis. 26:5; Kol. 2:18, memakai kata Threskeia yang berarti penyembahan dan pemujaan.
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki arti dan makna beribadah kepada malaikat atau kultus salah, secara etimologi tidak pasti karena sesuai dengan konteksnya, mengarahkan kepada pengertian ibadah yang bersifat kultis, pemujaan ataupun penyembahan, pelayanan tesebut juga bersifat kesaksian.
Σεβειν (Sebein)
Kata Σεβειν (Sebein) berasal dari kata σεβομαι (sebomai) dalam Perjanjian Baru, kata sebomai tidak digunakan dengan sesama Kristiani. Mrk 7: 7 dan paralel kutipan Yes. 29:13. Kata ini dalam Kis. 18:13 terdapat dalam cerita orang-orang Yahudi menuduh Paulus untuk melakukan penyimpangan ibadah dari Hukum Taurat ke Yesus dan Kis 19:27 dan cerita mengenai ibadah dari Artemis ke Yesus. Demetrius menggunakan kata untuk menyembah Artemis di Efesus. Dalam Kisah Para Rasul kata ini juga digunakan 6 kali untuk disebut orang yang takut akan Allah. Hal ini digunakan bersama material setara φοβουμενοι τον θεον (phoboumenoi ton theon), yang sesuai dengan יהוה ירא (‘yr YHWH). Sebomenoi ton theon berdasarkan istilah paralel untuk penyembah dewa pagan. Pertama adalah klaim untuk menyembah satu-satunya Allah yang benar (Surat Aristeas). Kedua, σεβομενος (sebomenos) dengan bentuk akusatif dari dewa menunjukkan ibadah dan bukan hanya hormat, maka, rumus ini digunakan untuk takut akan Allah itu bahwa mereka tidak hanya terkesan, mereka juga tidak hanya menghormati, Allah Perjanjian Lama. Mereka juga menyembah-Nya, dan mereka melakukannya dalam tindakan tertentu. Dalam LXX sebomai hanya digunakan sekali yaitu kata עֶבֶר ('eber), di Yes 66:14. Di tempat lain itu selalu digunakan memakai kata ירא (yr’). Yos 4:24; Ayb 1:9; Yes 29:13). Kata Sebesthai terjadi 13 kali, dalam 7 kasus untuk menyembah dewa-dewa kafir (termasuk Yos 24:33b). Dalam Ayub 1: 9 Setan bertanya tentang penyembahan atau ibadah Ayub, kata ini juga digunakan dalam Yes 66:14, 2 Mak. 1: 3 ada ditulis untuk orang-orang Yahudi di Mesir. 3 Mak. 3: 4 mengatakan tentang status orang Yahudi. Dalam Yunus 1: 9 Yunus mengatakan dirinya takut akan Allah, dan kata ini juga ada dalam 4 Mak 5: 24; 8: 14.
Kata ini memiliki arti menyembah, orang yang menyembah Allah (yakni orang yang bukan Yahudi yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa di agama Yahudi, berbakti di sinagoge, tetapi tidak mengikuti cara hidup Yahudi secara singkat cermat). Kata ini menunjuk ke ibadah yang dilakukan oleh orang lain (Mat 15:9; Mrk 7:7; Kis 18:3 dan 19:27). Dalam Kisah Para Rasul penggunakan kata ini menjelaskan tentang orang-orang yang takut kepada Allah dan juga orang-orang bukan Yahudi yang menghadiri ibadah dalam sinagoge (Kis 13:50; 16:14 dan 17:14).
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki makna dan diartikan sebagai orang yang takut kepada Allah, dimana orang-orang tersebut yang tidak berasal dari orang atau bangsa Yahudi, melainkan orang yang takut, menghormati, menyembah, serta melakukan perintah-Nya. Kata ini dapat digunakan kepada penyembah Allah yang benar maupun penyembah dewa-dewa lain. Kata ini menunjuk ke ibadah yang dilakukan oleh orang lain, dan bisa dipakai mempertanyakan tentang ketekunan beribadahnya seseorang tersebut, seperti ibadah Ayub kepada Tuhan.
Όμολογειν (Homologein)
Kata Όμολογειν (Homologein) berasal dari kata Όμολογεω (Homologeo) yaitu mengakui, mengaku dan berterus terang, memuliakan (Ibr. 13:15). Kata ini mempunyai sejumlah arti seperti pengakuan dosa (1 Yoh 1:9). Jika kita mengakui dosa kita, untuk menyatakan atau mengakui dihadapan umum (Rm 10:9). Jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, untuk pujian kepada Allah (Ibr 13:15), ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.
Kata Homologia dan bentuk kata kerjanya homologein memiliki pengertian dasar yaitu homo: umum atau sama dan kata logos: Kata. Hal ini menyebabkan penggunaan kata ini bervariasi dalam hukum dan perdagangan, digunakan untuk mengakui yang dikatakan, mengakui biaya, untuk mengkonfirmasi penerimaan uang, persetujuan untuk proposal, menjanjikan sesuatu. Jika pengakuan dosa adalah dasar dalam Perjanjian Lama, itu tampaknya terkait di sini dengan jenis yang sangat berbeda dari pengakuan, yaitu mengaku di atau memuji Allah dalam perbuatan perkasa-Nya seperti dalam Mzm 22, 30, dimana nats ini memiliki kekuatan pujian serta pengakuan dosa, LXX mencantukan kata itu pada titik ini (1 Raj 8:33, 35; Neh 9: 3). Mengaku pekerjaan Tuhan adalah murah hati adalah sebuah deklarasi atau pengakuan (Mzm 118: 17).
Kata homologi atau pengakuan memiliki makna sesuai konteksnya yang unik yang merupakan konstituen dasar ibadat sejati yaitu pengakuan dosa, memuji Tuhan, deklarasi tindakan-Nya, dan doa kepada-Nya. Dalam Perjanjian Baru artinya adalah mengenai pernyataan khidmat. Ini mungkin sangat umum sifatnya (Herodes janji dalam Mat 14:7). Pengakuan atau tidak berbentuk pengakuan Yesus yang memiliki makna eskatologis (Mat 10:32). Pengakuan Yesus (Yoh 9:22; Rm 10: 9; Mat 16:13; Yoh 1:19; Kis 8:37.), Pengakuan dari orang-orang Farisi (Kis 23: 8), berusaha untuk melindungi terhadap guru-guru palsu (1 Yoh 4: 2; 2 Yoh 7). Panggilan kepada orang Kristiani untuk mengikuti (1 Tim 6:13), Kristus mengaku sebagai Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa (Fil 2:11).
Kata homologein: untuk menjamin, menjanjikan, mengakui. Kata ini digunakan dalam Mat 14: 7, Luk 22: 6, Begitu juga dalam Kis 7:17; Yoh. 1:20. Makna kata Yunani adalah untuk menyatakan sungguh-sungguh, menegaskan, untuk membuktikan (4 Mak 13: 5, dll). Kata ini dipakai dahulunya sebagai penggunaan umum dalam Helenistik dan tidak kultus. Penggunaan kata ini dalam Kristen mula-mula dapat dilihat juga dalam Ibr 11:13. Kata homologein juga dapat diartikan secara hukum untuk membuat pernyataan, maupun untuk menjadi saksi. Dalam Injil Yohanes ketika ia menjelaskan mengenai orang-orang Yahudi mengusir dari rumah ibadat mereka yang secara terbuka mengakui Yesus sebagai Mesias (Yoh 9:22; 12:42), seperti mengakui Allah dan Mamon (Mat 6:24; Luk 16:13 ; Mat 23: 6-8). Paulus mengaku sebagai Kristen dan dia melayani Allah Bapa. Omologein untuk membuat pernyataan khidmat iman, mengakui sesuatu dalam iman. Dalam Rm 10:9-10 (Diuraikan dalam Ul 30:14). Paulus mengacu pada koneksi dan iman: jika kamu mengaku dengan mulutmu Ketuhanan Yesus, jika engkau percaya dalam hatimu Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Kata benda omologein terjadi di LXX di Ezr 10:11; Ayb 40:14; 2 Mak 6: 6, dan lain-lain. Untuk menghubungkan mengaku dosa dan memuji Allah (Neh 9: 3; Dan 9: 4). Orang yang mengakui adalah diberkati, dan kuasa Allah dimuliakan. Dalam arti untuk memuji, berterima kasih, mengaku, untuk memuji.
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki makna dan pengertian yaitu kata ini dipakai dalam bentuk mengaku yang menjadi kepercayaan kita, memuliakan-Nya itu merupakan ibadah kepada Tuhan. Kata ini tidak hanya berbentuk dalam mengaku kebesaran Tuhan dan mengakui dosa kita, namun mengaku atau mengatakan kebenaran dalam rana mengenai agama. Kata ini pun digunakan menjelaskan orang Kristen yang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Λειτουργηα (Leitourgea)
Kata Λειτουργηα (Leituorgea) dalam Kis 13:2 yaitu beribadah kepada Allah. Madsud nats ini memberi arti lain kepada leitourgea yaitu sebagai ibadah jemaat sekalipun ibadah itu hanya suatu ibadah doa dalam kelompok kecil. Kata ini berasal dari λειτουργεω (leituorgeo) yaitu beribadah, melakukan pelayanan imam, melayani. Kata (Leitourgea) adalah pelayanan, tugas jabatan. Kata ini berasal dari kata λαος (laos) yang artinya adalah rakyat/masyarakat dan εργον (ergon): kerja atau bisa juga artinya karya. Sehingga jika digabungkan maknanya ialah kerja umum, gotong royong, pelayanan peribadatan. Dalam menggunakan kata ini, para penulis PB tidak mengikuti Septuaginta, kecuali bila kata ini diterapkan pada pelayanan atau jabatan kultus Israel, yaitu Musa, Zakharia, atau Kristus yang mempersembahkan diri-Nya sendiri. Bila kata ini diterapkan pada umat Kristen, kata ini bernada untuk pada pelayanan gotong royong berupa pengumpulan dana atau sedekah dan itu dinilai sebagai pelayanan kepada Allah. Kata leitourgia yang berarti suatu pelayanan.
Leitourgia dan kata kerja leitourgeo berhubungan etimologis untuk layanan yang diberikan kepada orang atau bangsa, lembaga politik. Mereka digunakan untuk layanan khusus, yang kaya, baik secara sukarela wajib, membuat untuk kota atau komunitas, atau pelayanan masyarakat. Strathmann mengatakan kata-kata ini diperuntukkan untuk fungsi imam. Tujuan digunakan untuk Allah. Liturgi adalah manfaat lembaga nasional untuk seluruh rakyat. Dalam perbedaan dari latreia atau diakonia untuk kelompok, leitourgea memiliki martabat yang terkait dengan pelayanan publik/rakyat, dan memiliki hikmat, sehingga faktor yang menentukan. Bahkan, kata kerja hanya terjadi tiga kali dan kata benda enam kali. Tiga dari sembilan kasus yang di Ibrani, dan enam lainnya ada di Lukas, Kisah Para Rasul dan surat Paulus, Ibrani dan juga dalam Luk 1:23 penggunaan jatuh dalam kerangka PL. Ibrani 9:21 dan 10:11 (dengan mengacu pada pengorbanan). Kata leitourgia yang istilah yang tidak tepat untuk ibadah Kristen. Tiga penjelasan yang mungkin di sini: 1. Bahwa kata tersebut cukup umum untuk layanan, 2. Bahwa menggemakan pemikiran dari liturgi resmi zaman klasik, 3. Bahwa mengidentifikasi koleksi atau hadiah sebagai tindakan sakral. Leitourgos digunakan kepada Kristus sendiri (Ibr 8: 2). Ibr 1: 7 menunjukkan malaikat sebagai instrumen kehendak Allah. Paulus sendiri adalah leitourgos-nya Yesus Kristus kepada bangsa-bangsa (Fil. 2:17).
Kata leitourgein terbentuk dari λειτος (leitos), mengenai orang atau komunitas nasional, yang terjadi baik ergon kata benda, ekspresi demikian terkait dengan penggunaan bagi masyarakat secara keseluruhan. Kata leitourgein adalah untuk melakukan hal-hal yang terkait dengan publik, tidak masalah pribadi, tetapi untuk masyarakat nasional sebagai kesatuan politik, atau lebih singkat untuk tubuh politik. Kata leitourgia yang adalah kata benda juga dipakai menjadi untuk kultus imam. Hal ini terjadi sekitar 40 kali, hampir selalu untuk Ibrani עֲבׄדׇה (‘abodah). Biasanya kata diberikan leitourgia yang berbentuk 'abodah sifatnya kultus. Kata leitourgia selalu digunakan dari pelayanan para imam dan orang Lewi dan di tempat kudus, terutama pelayanan para imam di altar. (Bil. 16:9; 18:4, 6; 1 Taw 9:13; 2 Taw 31:4; 2 Taw 35:16; 2 Mak 3:3). Kata leitourgia selalu digunakan secara harfiah dalam bagian ini. Penggunaannya di Ezr 29:20, di mana pengepungan Tirus adalah leitourgia yang Nebukadnezar telah diberikan kepada Yahweh. Kata Leitourgia dalam Perjanjian Baru ditemukan 6 kali (Lukas 1:23; 2 Korintus 9:12; Fil 2:17; Ibrani 8:6; 9:21). Kata leitourgia dalam imamat Perjanjian Lama hanya pratanda bayangan. Lukas 1:23 dari imam Zakaria juga dalam rangka penggunaan Perjanjian Lama. Kisah Para Rasul 13: 2 lima nabi dan guru dari gereja Kristen di Antiokhia tercantum dalam Ayat 1. Kata leitourgia juga digunakan doa Musa (bersama dengan dupa persembahan penebusan) di digunakan untuk ibadah. Malaikat memuji Allah dalam Dan 7:10. Kata kata ini sering muncul dalam bentuk ibadah sehingga dibawa ke hubungan sakral dan kultus. Ini adalah pelayanan suci, dan itu disebut sebagai tindakan pelayanan ilahi. Fakta bahwa di Fil 2:30 Paulus menggunakan leitourgia untuk hadiah moneter yang Filipi telah dibuat untuk Paulus, dan yang Epafroditus telah membawa pada risiko hidupnya, sehingga melakukan apa yang mereka tidak bisa lakukan. Berikut ada kebaikan dari pelayanan untuk kesejahteraan masyarakat dari komunitas Kristen dari kultus imam dari Perjanjian Lama. Jika Paulus memiliki baik dalam pandangan, ia tidak akan berbicara dari leitourgia untuk dirinya sendiri.
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki arti dan makna berhubungan dengan pelayanan masyarakat atau tugas jabatan. Kata ini juga dapat dimengerti sebagai gotong royong, atau kerjasama untuk kepentingan bersama, dan juga dipakai untuk pelayanan peribadatan, pengumpulan dana, pelayanan masyarakat, dan kata ini digunakan untuk jabatan para imam. Tidak berbentuk dengan masalah pribadi, tetapi untuk masyarakat nasional sebagai kesatuan politik, atau lebih singkat untuk tubuh politik.
Λογικος (Logikos) Dalam Perjanjian Baru
Sesuai yang penulis dijelaskan dalam Bab 1, pengertian logikos ialah dapat diartikan dengan rasional, dapat juga rohani, maupun sejati. Kata logikos berasal dari kata logos, pengertian atau madsud Allah atau yang menyatakan kecerdasan dalam perkataan manusia (Yoh 1:1,14). Firman Allah adalah mengenai makanan spiritual seperti hal makanan jasmani. Kata ini berhubungan dengan kata δολουντες (dolountes) yaitu 2 Kor 4:2, tidak membohongi Firman Allah. Seperti dalam Yak 1:26 ibadah namun tidak mengekang lidah adalah menipu diri.
Dalam Perjanjian Baru hanya dua kali. Dalam logike latreia (Rom 12:1) logike diterjemahkan dalam berbagai bentuk oleh tokoh-tokoh seperti: Spiritual dinyatakan oleh A. Nygren, rasional dinyatakan oleh T. Zahn, tepat/cocok dinyatakan oleh K. Barth, masuk akal dinyatakan oleh P. Althaus, dan Michel melihat bahwa Paulus memperpanjang pengaruh dari pemakaian kata-kata Yunani untuk Hermetika dan Mistik Helenistik. Seluruh kehidupan menentukan iman dan ibadah yang benar.
Jika dilihat dalam peninjauan dalam berbagai penerjemahan Alkitab oleh Lembaga Alkitab Indonesia, kata dalam TB diberi kata sejati, IKG diberi kata sesuai dengan budimu, dan KB diberi kata seharusnya (bnd FAH). Adanya penerjemahan yang berbeda-beda menyingkapkan kesulitan yang orang alami dalam menerjemahkan istilah ini. Maka perlu untuk diselidiki arti logikos dalam bahasa Yunani umum. Logika berasal dari kata Yunani Logikos yang berarti berhubungan dengan pengetahuan, atau dengan bahasa. Khusus dalam 1 Ptr 2:2, makna spiritual dalam 1 Ptr 2: 2 yang rohani atau sesuai dengan Firman. Pengertian ini rasional (Stoa/umum) dan spiritual (mistik).
Istilah logikos ditemukan pula dalam 1 Petrus 2:2. Di situ logikos agaknya berkaitan dengan logos (firman) dalam 1:23 dan 2:8, sehingga mendapat arti sesuai dengan firman (bnd KB yaitu Perkataan Allah; LAI memberi; rohani). Menentukan arti logikos harus memperhitungkan dekatnya perkataan tubuh. Agak ganjil kalau Paulus memakai istilah logikos dalam arti batiniah, kalau saja orang-orang percaya dianjurkannya agar menyerahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, kudus, berkenan. Anjuran itu sama sekali bertentangan dengan ajaran Stoa dan lain lain, yang justru mengajak orang bersikap acuh tak acuh terhadap segala hal jasmani dan agar menjadikan batin sebagai benteng pertahanan. Pertentangan yang ditandai oleh istilah logikos bukanlah pertentangan lahir-batin ataupun upacara ibadah kehidupan sehari hari, melainkan sesuai kehendak Allah-tidak sesuai dengan kehendak Allah (hidup, kudus).
עֲבוֺדָה (‘abodah)
Kata עֲבוֺדָה (‘abodah) dalam bahasa Ibrani atau ibadah dalam bahasa Aram yang secara harafiah berarti homage (bakti, hormat, penghormatan). Kata ‘abodah ditemukan sebanyak 145 kali, ada beberapa kata yang sering digunakan untuk ‘abodah. Pertama, sebagai pelayanan kepada Allah dalam kultus yang mencakup beberapa tempat untuk merawat alat dan perkakas ibadah (1 Taw. 9:28). Faktanya kata ini merujuk kepada kebanyakan tempat untuk melayani di tempat suci. Para imam dan Lewi termasuk orang khusus yang melayani disana (Bil. 4:4,19; 2 Taw. 8:14; Yeh. 44:13). Kedua, dalam pengertian khusus kata ini menunjukkan pekerjaan Allah (Yes. 28:21) sebagai pekerjaan asing yang ditunjukkan kepada orang-orang yang menjelaskan banyaknya pekerjaan (32:17). Ketiga, dalam perasaan umum kata ini menjelaskan banyaknya jenis pelayanan dalam partikular, pelayanan ditujukkan pada Yahweh (Yes 22:27) termasuk penawaran beban, pengorbanan, dan penawaran persekutuan.
Ibadah merupakan suatu sikap dan aktivitas yang mengakui dan menghargai seseorang (atau yang ilahi). Ibadah juga dapat juga dikatakan suatu penghormatan hidup yang mencakup kesalehan (yang diatur dalam suatu tata cara), yang implikasinya nampak dalam tingkah laku dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Jadi ibadah disini merupakan ekspresi dan sikap hidup yang penuh bhakti (penyerahan diri) kepada yang ilahi, yang pengaruhnya nampak dalam tingkah laku yang benar. Ada beberapa kata atau ungkapan yang dipakai untuk ibadah. Kata kerja עבד (Bahasa Ibrani: ‘abad) berarti melayani atau mengabdi (seperti pengabdian/ pelayanan yang utuh dari seorang hamba kepada tuannya).
Kata abodah berasal dari kata abad yang muncul dalam Alkitab dapat diartikan yaitu mengerjakan, mengusahakan, bekerja sebagai budak untuk tuannya; melayani, mengabdi (Bil. 4:26; Yeh 29:18); beribadah, melakukan ibadah kepada Allah (Mal. 3:18; Ul. 7:4; Yos 24:15), berbuat untuk menghasilkan (Yes 14:3). Secara etimologi, kata abodah yaitu melayani, pelayanan, pemujaan yang sama pengertiannya dengan (bahasa Yunani; latreia).
Kata ‘abodah berasal dari kata עבד ('bd) dalam bentuk qal (Kata kerja pangkal Aktif sederhana) yaitu pekerjaan, melakukan pekerjaan, melayani, menyembah, akan bekerja. Dalam bentuk kata hiphil (Kata kerja telah kausatif aktif sederhana) yaitu memperbudak, membuat pekerjaan, membuat melayani, dalam bentuk kerja hophal (Kata kerja telah kausatif pasif) yaitu disebabkan atau dipengaruhi untuk melayani, akan menyebabkan ibadah. Kata ‘ebed yaitu budak, hamba, bawahan, ‘abad yaitu kerja, tenaga kerja. Kata benda ‘abodah yaitu Pelayanan, pekerjaan, tenaga kerja, ibadah, hamba. Kata benda ‘abodah ditemukan 145 kali. Kata ini dalam bentuk teologi memiliki makna yaitu layanan untuk Allah dalam bentuk kultis atau ritual, yang melibatkan banyak daerah. Beberapa ditunjuk untuk mengurus perkakas ibadah (1 Taw. 9:28), sementara beberapa yang ditunjuk tugas tertentu (28:14; 2 Taw. 34:13). Melayani dalam pelayanan Kemah pertemuan (Bil. 4:47). Kata ini menggambarkan semua pekerjaan yang dilakukan dalam pembangunan tabernakel (Kel. 39:42), seperti yang dikatakan Allah. Hal ini digunakan untuk merujuk pada layanan keagamaan yang dilakukan di tabernakel dan pekerjaan yang sebenarnya pada kemah (Kel. 30:16; Bil. 3:7; 1 Taw. 23:24).
Dalam kata sifat dapat merujuk pada upacara הׇעַבֺ דָה (ha'aboda), Paskah (Kel. 12:25; 13:5) itu sendiri. Bahkan, kata ini digunakan untuk kediaman mengacu di sebagian besar tempat pelayanan di tempat kudus/tempat suci. Para imam dan orang Lewi secara khusus terlibat (Bil. 4:4, 19; 2 Taw. 8:14; Yeh. 44:14). Dalam arti yang lebih umum kata ini digunakan menggambarkan pekerjaan Tuhan (Yes. 28:21) sebagai kata kerja Dia akan melakukan terhadap umat-Nya. Hal ini juga menggambarkan pekerjaan era mesianis Yesaya (Yes. 32:17). Dalam arti kata ini secara umum menggambarkan pelayanan berbagai jenis-khususnya, layanan dilakukan untuk Yahweh (Yosua 22:27) yang melibatkan korban bakaran, korban, dan korban kesejahteraan-persekutuan.
Penulis menyimpulkan bahwa kata abodah artinya ialah ibadah, upacara, dan juga pelayan, melayani dalam bentuk pelayanan kepada Allah, bisa juga sebagai pengabdian, pemujaan kepada Allah dalam bentuk kultis kepada Allah, serta sebuah sikap budak kepada tuannya. Hal ini digunakan untuk merujuk pada layanan keagamaan, dan kata ini juga dapat dipakai untuk sifat hari-hari besar seperti paskah.
שׇׁחׇה (Sahah)
Kata ini dapat diartikan dengan tunduk (Yes 51:23), membungkukkan (Ams 12:25), sujud menyembah (Yeh 46:2; Ul 4:19, dll), merendahkan merangkak, meniarap, menundukkan (Yes 2:11,17; Hab 3:6, dll), tertekan (Mzm 42:6,7,12; 43:5). Kata שׁחח (sahah) dalam bentuk kata kerja qal yaitu beranda, meringkuk, direndahkan, dalam bentuk niphal (kata kerja pasif sederhana) yaitu direndahkan, sedangkan dalam bentuk hiphal yaitu rendah hati, menurunkan, dan menjadi putus asa. Dalam Perjanjian Lama, dalam bentuk qal, kata kerja shh adalah mengacu dalam pengertian membungkuk atau merendahkan diri.
Kata שׁחח ini terkait dengan sikap berduka (Mzm 35:14; 38:6) dan sikap ketakutan pada Allah, sehingga rasa meringkuk/membungkukkan diri (Ayb 9:13). Kata kerja ini mengacu pada meringkuk/membungkuk kepada singa (38:40). Korban yang ketakutan akibat kejahatannya (Mzm 10:10). Kata ini mengacu pada meratakan bukit-bukit. Qal dan niphal merujuk dibawa rendah, rendah hati; sikap orang akan direndahkan (Yes 2:9; 5:15), seperti manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan (2:11, 17) dan orang fasik tunduk (Ams. 14:19). Kata ini dapat dipakai sebagai suara yang merendahkan: seperti perkataan Yesaya, khotbah hukuman yang akan bergumam dari debu (Yes. 29:4). Dalam bentuk kata kerja hiphil, kata kerja ini mengacu pada Allah menurunkan kubu-kubu tembok yang tinggi akan ditumbangkan oleh Allah dan dirubuhkan-Nya, dan dicampakkan-Nya ke tanah dan debu (Yes. 25:12) dan kata ini digunakan untuk yang direndahkan-Nya (26:5).
Penulis menyimpulkan bahwa kata sahah ini memiliki arti dan makna bahwa kata ini dapat diartikan dengan merendahkan diri dalam bentuk kepada Tuhan dan gentar kepada-Nya, takut kepada Allah dan juga dapat diartikan dengan suatu sikap seperti beribadah yaitu sujud menyembah. Kata ini juga digunakan dalam bentuk merendahkan diri orang-orang yang congkak hatinya, orang-orang sombong, serta orang-orang fasik.
Ibadah Dalam Perjanjian Baru
Λατρεια (Latreia)
Kata Λατρεια (Latreia) muncul lima kali di Perjanjian Baru, tiga mengacu pada pelayanan pengorbanan. Dalam Roma 9: 4, bangsa Israel diberikan Hukum dan janji, dan kata latreia ialah merupakan bentuk kultus kurban, adalah salah satu cara bangsa Israel untuk membalas kebaikan Allah. Kata δικαιωματα λατρειας (dikaiomata latreias) dalam Ibr. 9:1 adalah mengenai tata cara ibadat. Dalam Ibr. 9: 6 οι ίερείς τας λατρειας επιτελουντες (oi iereis tas latreias ephitelountes), kata ini mengenai tata cara orang-orang melakukan pelayanan pengorbanan. Dalam Yoh. 16: 2, kata latreia dapat diartikan dengan pengorbanan, seperti yang ditunjukkan oleh προσϕερειν (prospherein) yang merupakan kata kerja atau ide mengenai pengorbanan tampaknya selalu melekat pada kata benda yang tidak dapat dipisahkan dari dari kata kerja. Hal ini juga berlaku dalam ayat terakhir (Rm. 12:1), meskipun penggunaan sini adalah metafora. Pelayanan orang Kristen adalah penciptaan kehidupan batin mereka dan perilaku atau kelakuan mereka dengan cara yang jelas membedakan mereka dari dunia dan yang sesuai dengan kehendak Allah. Ini adalah persembahan yang hidup yang seharusnya mereka tawarkan. Menggunakan istilah yang saat ini dalam filsafat zamannya, Paulus menggambarkan pengorbanan ini sebagai λογικη λατρεια (latreia logike), layanan Allah yang sesuai dengan akal manusia, di mana, bagaimanapun, kehidupan manusia berasal dari untuk Tuhan. Jika manusia mendengarkan nasihat ini, ia harus mengakui bahwa ini adalah layanan yang benar dari Allah. Sejarah Alkitab dari latreia untuk jangka kultus mencapai klimaksnya di pengertian ini, yang juga merupakan perbuatan paling komprehensif, dan yang mengambil lagi pernyataan kenabian awal dalam Kel. 10:12. Perkataan Paulus dalam Rm 12: 1 adalah puncak dari seluruh perkembangan ini.
Kata ini dapat diartikan bakti, ibadah, melayani Allah. Latreia/latreuo berasal dari kata λατρον (latron: upah); melayani dengan digaji, kerja upahan, pelayanan yang dibayar, pelayanan dalam rangka ibadat. Perjanjian Baru menunjukkan perkembangan nyata dalam memahami makna kultus. Kata ini dapat dihubungkan dengan kultus kafir atau dengan kultus Israel dalam berbagai bentuknya, secara khusus ditekankan segi batiniah iman atau doa. Kata ini juga dihubungkan dengan kultus Kristen, artinya kultus yang diadakan oleh Roh Kudus, ialah pelayanan para rasul atau doa Paulus. Dalam arti umum, setiap orang beriman Kristen harus mempersembahkan ibadah sejati (Logikos), artinya bukan ibadat yang formalitas belaka, bukan ibadah yang mempersembahkan binatang-binatang, melainkan suatu korban yang hidup atau kehidupan yang dipenuhi kasih sejati.
Dalam Perjanjian Baru, menggunakan pelbagai istilah untuk kata ibadah. Sebagian istilah istilah yang digunakan untuk ibadah adalah kata-kata yang mengandung makna-makna yang lain. Namun salah satu yang lebih biasa atau umum dipakai adalah kata latreia (Yun. Latreia) yang diterjemahkan dengan pelayanan, persembahan, pemberian korban, bakti dan ibadah (Rm. 9:4). Kata ini juga dapat mengarah kepada pengorbanan pemerintah ataupun kegiatan keagamaan (Ibr 9:6). Kata ini berhubungan dengan pelayanan atau kerja.
Kata Latreia, kata kerja Latreuo dan kata benda latreia memperkenalkan lingkup berbeda dari proskunein. Artinya sini adalah bahwa upah, atau lebih umumnya layanan, akhirnya tanpa memikirkan diperlukan penghargaan atau pamrih tetapi dan statusnya jauh lebih komprehensif atau mulia dibandingkan dengan perbudakan. Kata ini juga dapat digunakan untuk perawatan tubuh, atau menghargai hidup. Dalam LXX kata kerja terjadi terutama dalam Keluaran, Ulangan, Yosua, dan Hakim. Ini memiliki rasa layanan, tetapi dalam LXX ini, dan memang seluruh Perjanjian Lama, referensi selalu religius. Dalam setiap kasus, layanan dilambangkan terdiri tidak hanya dalam porsi umum untuk Tuhan, tetapi dalam tindakan kultus pengorbanan. Kata ini bebas digunakan untuk layanan dari dewa lainnya (Kel. 20: 5), permintaan yang terdapat dalam Perjanjian Lama adalah bahwa Israel harus melayani Allah yang benar dan hidup. Kata latreia hanya terjadi lima kali dalam Perjanjian Baru, dan dalam tiga kasus itu mengacu pada kultus korban dari Perjanjian Lama (Rm. 9:4; Ibr. 9:1,6). Dalam Yoh. 16: 2 juga ada mungkin sedikit latar belakang korban ketika Yesus mengatakan bahwa pembunuhan pengikut Kristus akan dianggap sebagai perbuatan bakti kepada Tuhan.
Penulis menyimpulkan bahwa kata latreia memiliki arti dan makna pelayan atau pelayanan, berhubungan dengan ibadah kultus atau pelayanan upacara kepada Allah, atau juga sebagai pelayanan pengorbanan, bakti kepada Allah, ibadah kepada Allah, melayani Allah, bakti Allah, dan juga kata ini digunakan sebagai persembahan kepada Allah. Kata ini adalah layanan, akhirnya tanpa memikirkan diperlukan penghargaan atau pamrih dan statusnya jauh lebih mulia dari perbudakan. Kata ini juga digunakan untuk pelayanan kepada dewa lainnya. Kata latreia dalam Perjanjian Baru, dan dalam tiga kasus itu mengacu pada kultus korban dari Perjanjian Lama.
Προσκυνειν (Proskunein)
Προσκυνειν (Proskunein) artinya ialah menyembah, memuja, berlutut, membungkukkan diri atau jatuh menyembah di hadapan orang lain, beribadah. Kata ini berasal dari kata κυνεω (kuneo) yaitu mencium. Kata ini membawa konotasi fisik eksplisit, yaitu merebahkan diri untuk menyembah atau bersujud (Mat 4:10; Luk 4:8). Yesus berkata kepada Setan: “ada tertulis: Engkau harus menyembah Προσκυνείν (proskunein) Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti λατρευσεις (latreuseis).” Dalam Yoh. 4:23, Yesus berkata kepada perempuan Samaria bahwa ketika waktunya tiba ketika orang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Why 5:14, kedua puluh empat tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah Προσεκυνησαν (prosekunesan). Posisi tubuh yang nyata dari ibadah itu ditandaskan oleh kata kerja ini.
Kata proskunein dapat diartikan dengan datang untuk bersujud sebagai tanda hormat atau untuk melakukan penghormatan. Karena penghormatan ini merupakan sikap umum dalam ibadah Perjanjian Lama, sehingga kata proskunein sering terjadi dalam LXX. Dapat juga kata diartikan dengan mencium sebagai tanda hormat. Dalam Perjanjian Baru penggunaan kata proskunein hampir sepenuhnya terbatas pada Injil, Kisah Para Rasul, dan Wahyu. Kata tersebut secara etimologi dengan kata tersebut lebih banyak memiliki makna mencium. Ini mungkin sikap santun (Abraham dalam Kej. 23:7,12). Dalam kasus lain hormat tampaknya harus dibayar atau diperuntukkan kepada yang hanya sebagai wakil Tuhan (1 Sam. 20:41: Est. 3:2). Kata ini juga digunakan arti beribadah, untuk menyembah dewa selain dari Allah yang benar (Kel. 20:5). Dalam Perjanjian Baru dalam 1 Kor 12, kata tersebut digunakan untuk orang yang tak beriman. Dalam Injil sinoptik kata ini dipakai mengenai bersujud kepada Allah atau Yesus. (Mat. 18:26; 8: 2; 9:18). Penolakan klaim iblis untuk ibadah (4: 9). Para murid melakukan penghormatan hanya ketika mereka menemukan Allah yang benar (Mat. 14:33) atau ketika mereka berada di hadapan Tuhan yang telah bangkit (28:9,17). Dalam Kisah Para Rasul, Petrus menolak membiarkan Kornelius menyembah dia (Kis 10:25). Dalam Injil Yohanes ada penggunaan penting dari proskunein dalam Yoh. 4: 20-24. Yesus merujuk di sini untuk ibadah yang dalam roh dan kebenaran. Proskunein adalah bagaimanapun, sebuah istilah yang penting dalam Wahyu. Pada akhirnya, bagaimanapun, bangsa dunia akan semua menyembah Allah (Why 15: 4). Implikasinya tampaknya bahwa proskunein sengaja dihindari sebagai istilah untuk ibadah Kristen primitif, mungkin karena sering terlihat di paganisme.
Bagi orang-orang Yunani, kata proskunein memiliki arti mencium penuh hormat. Juga jelas adalah kenyataan bahwa proskunein sebagai untuk adorasi para dewa kuno besar, untuk menyembah dewa Chthonic mungkin lebih tua daripada Olimpiade. Pemahaman Yahudi, kata proskunein dalam LXX adalah הׅשְׁתַּחֲוָה (histahawah) di satu sisi dan סגד (sagad, bahasa Aram). Hal ini juga digunakan masing-masing untuk mencium, untuk melayani, untuk beribadah (Mzm 97:7), gemetar, dan 3 kasus ini setara dengan kata yang digunakan yaitu histahawah, Est 3:2 (dua kali). Proskunein memiliki makna yang sama dengan kata Ibrani, awalnya yang menunjukkan hanya gerakan tubuh, telah menjadi kultus itu, untuk melakukan penghormatan.
Hampir tiga perempat dari contoh proskunein dalam LXX berhubungan dengan pemujaan dan penyembahan Allah yang benar dan Tuhan atau dengan yang dewa-dewa palsu. Para malaikat, utusan Allah, juga oleh orang benar, disambut dengan cara ini. Mana proskunein digunakan untuk ibadah Allah, tindakan ini sering tampaknya sejajar dengan latreuein. Saul menyembah/memberi penghormatan kepada nabi Samuel, anak-anak nabi dan wanita Sunem melakukan hal yang sama kepada nabi Elisa. Cara ini digunakan di mana Abraham dan Lot menerima utusan Allah (Kej. 18: 2; 19: 1), Abraham untuk orang Het (Kej. 23:7,12). Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yoh. 4: 20-24, Yesus berbicara tentang proskunein dalam roh dan kebenaran. Tetapi jika sujud diri tidak lagi memainkan peran apapun yang pasti, maka kata ini digunakan untuk tempat ibadah. Kata ini digunakan juga di Why 4:10; 5:14; 7:11; 11:16; 19: 4. Orang-orang yang takut akan Tuhan adalah Προσκυνουντας (proskunountas) di satu sisi (Why 11:1; 14:7), sedangkan jamaah dari naga dan binatang juga disebut proskunountas di sisi lain (Why 13:4, 8, 12, 15; 14 9; 16:2; 19:20; 20:4).
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki makna menyembah, memuja, berlutut, membungkukkan diri atau jatuh menyembah dan mencium dengan hormat. Ini merupakan posisi tubuh dalam beribadah. Kata ini juga digunakan untuk ibadah, dan pergunakan oleh orang beriman maupun yang tidak beriman. Kata ini berlaku untuk Allah yang benar, maupun kepada dewa-dewa, kepada malaikat-malaikat, ataupun peruntukkan kepada orang-orang yang mulia.
Θυσια (Thusia)
Kata ini berasal dari θυο (Thuo) yaitu mengorbankan, berkorban, menyembelih, membunuh (Yoh 10:10), Θυσια (Thusia) dalam bentuk feminis yaitu persembahan. Kata ini diterjemahkan sebagai pengorbanan atau persembahan korban suatu istilah. Istilah thusia adalah suatu istilah yang penting dalam Perjanjian Baru dan zaman bapa-bapa gereja, meskipun istilah-istilah ini juga dipakai bagi ibadah kafir, misalnya kepada roh-roh jahat (1 Kor 10:20) maupun ibadah Kristiani, misalnya sebagai persembahan hidup (Rm 12:1), atau mempersembahkan kurban syukur (Ibr 13:15). Kata ini berhubungan dengan persembahan korban, seperti yang dilakukan oleh Habel, anak lembu emas yang disembah oleh bangsa Israel, atau korban-korban resmi kaum Lewi.
Thusia adalah pengorbanan, atau tindakan pengorbanan. Dalam LXX (Septuaginta) kata thusia adalah זֶבַח (zebar) yaitu mempersembahkan korban Hos 6: 6 dan lain lain, dan מִנְחָה (minhah) yaitu persembahan, mempersembahkan kurban di Kej. 4: 3,5; Im 2: 1,7 dll. Kata θυσια σοτεριου (thusia soteriou) artinya korban keselamatan, Ul. 27:7; 2 Taw 33:16. Kata ini juga שְׁלָמִים (selamim) mengandung arti artinya pengorbanan, θυσια τες αινεσεος (thusia tes aineseos) artinya korban syukur dalam Im 7:12; 2 Taw 33:16. Dalam Perjanjian Baru kata thusia digunakan untuk persembahan Yahudi di Mat. 9:13; 12:7- Hos. 6:6; Mrk 9:49- Im 2:13; Luk 2: 24; 13:1; 1 Kor 10:18; Ibr 5: 1; 8: 3; 10:1, 5, 8, 11, persembahan penganut Paganisme di Kis. 7:41. Dalam Ef. 5:2 tentang kematian Kristus di mana ia telah menawarkan diri kepada Allah. Kehidupan Kristen sebagai diri persembahan kepada Tuhan (Rm 12:1), karunia melayani masyarakat (Fil 4:18). Kristen adalah buah dari bibir mereka (Hos 14:3) yang memuji nama Allah; pengorbanan menyenangkan Allah berbagi dan berbuat baik. Mereka yang makan korban, para peserta dalam pengorbanan Perjanjian Lama, para imam dan orang Lewi (Bil. 18:8; Ul 18:1 lih. 1 Kor. 9:13), tetapi juga kaum awam (1 Sam. 1: 4).
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki makna yaitu sacrifice (persembahan), diterjemahkan sebagai pengorbanan atau persembahan korban. Kata-kata ini digunakan untuk persembahan-persembahan dalam Alkitab, memiliki makna ungkapan syukur maupun dalam bentuk pengampunan dosa. Kata kata ini digunakan untuk Allah yang benar maupun yang digunakan dalam ibadah-ibadah kafir serta penyembelihan yang mereka lakukan.
Προσφορα (Prosphora)
Kata Προσφορα (Prosphora) dapat diartikan sebagai persembahan, korban, pemberian, pengorbanan, perbuatan, dan mempersembahkan. Tindakan mempersembahkan korban, yang merujuk pada persembahan Ishak oleh Abraham atau para imam atau Kristus imam agung yang mempersembahkan korban-korban kita (Ibr 10:10 dikatakan dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.), artinya persembahan ialah bagian dari ibadah. Kata prosphora yaitu persembahan atau ritual yang berkaitan dengan sejumlah kebiasaan Yahudi. Jika dihubungkan dengan orang-orang Kristen, artinya pelayanan kerasulan atau kasih.
Dalam Perjanjian Baru, prosphora digunakan baik untuk korban Lewi (Ibr. 10:5; 10:18; Kis 21:26; 24:17) dan juga untuk pengorbanan Kristus (Ibr 10:10,14; Ef 5:2). Hal ini juga digunakan dalam arti transformasi untuk persembahan atau pengorbanan dari orang-orang kafir dimenangkan oleh dan untuk Injil. Kata ini memiliki banyak arti dalam sastra klasik sebagai kata benda korelatif dengan makna dari kata kerja dalam Kisah Para Rasul, atau pasif. Berikut prosphora selalu berarti pengorbanan (sebagai hadiah atau tindakan) arti pertama kali ditemukan dalam LXX. Hinhah dan Dan. 3:38, kemudian di Sirakh. Dalam arti sastra pengorbanan hewan atau penawaran prosphora digunakan martir martyrium Polycarpi, ia dilukiskan seperti itu.
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki makna tindakan mempersembahkan korban, merujuk kepada pengorbanan Kristus kepada manusia dikayu salib dalam menebus dosa-dosa manusia, ataupun jiwa jiwa orang yang tidak beriman atau orang orang yang tidak hidup dalam Tuhan dibawa kembali kepada Tuhan.
Θρησκεια (Threskeia)
Kata Θρησκέια (Threskeia) tidak sering ditemukan dalam Perjanjian Baru, kata Threskeia hanya 4 kali. Kata ini tidak pernah menemukan kata dalam bentuk kata kerja θεσκευο (theskeuo) dalam Perjanjian Baru. LXX tidak muncul kata θρεσκος (threskos), tapi kata threskeia terjadi 4 kali. Etimologi tidak pasti. Dalam referensi hal ini dapat dilakukan untuk Kol. 2:18 dengan serangan terhadap Θρησκεια των αγγελων (threskeia ton aggelon) artinya yang beribadah kepada malaikat, penyembahan yang salah atau kultus malaikat. Kata threskeia itu dan threskos dapat digunakan dalam arti yang baik, dan sesuatu yang buruk, dan bahwa ayat-ayat Perjanjian Baru beberapa dapat dibagi sepanjang garis-garis, hampir tidak menyentuh titik yang menentukan dari sudut pandang teologi alkitabiah. Di bagian seperti Kol. 2:18, di mana dihadapkan oleh upaya kuno dan modern untuk membangun etimologi dan arti dari istilah. Kata ini juga dapat disebut dengan ibadah, agama. Kata ini berarti pelayanan keagamaan atau ibadah. Istilah ini lebih condong mengarahkan kepada pengertian ibadah yang bersifat kultis (Kis 26:5; dipakai istilah ibadah atau pelayanan ialah kesaksian, Kol 2:18; dipakai kata ibadah atau ritual, Yak 1:26 dipakai kata beribadah atau ritualis). Dalam Kitab Kis. 26:5; Kol. 2:18, memakai kata Threskeia yang berarti penyembahan dan pemujaan.
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki arti dan makna beribadah kepada malaikat atau kultus salah, secara etimologi tidak pasti karena sesuai dengan konteksnya, mengarahkan kepada pengertian ibadah yang bersifat kultis, pemujaan ataupun penyembahan, pelayanan tesebut juga bersifat kesaksian.
Σεβειν (Sebein)
Kata Σεβειν (Sebein) berasal dari kata σεβομαι (sebomai) dalam Perjanjian Baru, kata sebomai tidak digunakan dengan sesama Kristiani. Mrk 7: 7 dan paralel kutipan Yes. 29:13. Kata ini dalam Kis. 18:13 terdapat dalam cerita orang-orang Yahudi menuduh Paulus untuk melakukan penyimpangan ibadah dari Hukum Taurat ke Yesus dan Kis 19:27 dan cerita mengenai ibadah dari Artemis ke Yesus. Demetrius menggunakan kata untuk menyembah Artemis di Efesus. Dalam Kisah Para Rasul kata ini juga digunakan 6 kali untuk disebut orang yang takut akan Allah. Hal ini digunakan bersama material setara φοβουμενοι τον θεον (phoboumenoi ton theon), yang sesuai dengan יהוה ירא (‘yr YHWH). Sebomenoi ton theon berdasarkan istilah paralel untuk penyembah dewa pagan. Pertama adalah klaim untuk menyembah satu-satunya Allah yang benar (Surat Aristeas). Kedua, σεβομενος (sebomenos) dengan bentuk akusatif dari dewa menunjukkan ibadah dan bukan hanya hormat, maka, rumus ini digunakan untuk takut akan Allah itu bahwa mereka tidak hanya terkesan, mereka juga tidak hanya menghormati, Allah Perjanjian Lama. Mereka juga menyembah-Nya, dan mereka melakukannya dalam tindakan tertentu. Dalam LXX sebomai hanya digunakan sekali yaitu kata עֶבֶר ('eber), di Yes 66:14. Di tempat lain itu selalu digunakan memakai kata ירא (yr’). Yos 4:24; Ayb 1:9; Yes 29:13). Kata Sebesthai terjadi 13 kali, dalam 7 kasus untuk menyembah dewa-dewa kafir (termasuk Yos 24:33b). Dalam Ayub 1: 9 Setan bertanya tentang penyembahan atau ibadah Ayub, kata ini juga digunakan dalam Yes 66:14, 2 Mak. 1: 3 ada ditulis untuk orang-orang Yahudi di Mesir. 3 Mak. 3: 4 mengatakan tentang status orang Yahudi. Dalam Yunus 1: 9 Yunus mengatakan dirinya takut akan Allah, dan kata ini juga ada dalam 4 Mak 5: 24; 8: 14.
Kata ini memiliki arti menyembah, orang yang menyembah Allah (yakni orang yang bukan Yahudi yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa di agama Yahudi, berbakti di sinagoge, tetapi tidak mengikuti cara hidup Yahudi secara singkat cermat). Kata ini menunjuk ke ibadah yang dilakukan oleh orang lain (Mat 15:9; Mrk 7:7; Kis 18:3 dan 19:27). Dalam Kisah Para Rasul penggunakan kata ini menjelaskan tentang orang-orang yang takut kepada Allah dan juga orang-orang bukan Yahudi yang menghadiri ibadah dalam sinagoge (Kis 13:50; 16:14 dan 17:14).
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki makna dan diartikan sebagai orang yang takut kepada Allah, dimana orang-orang tersebut yang tidak berasal dari orang atau bangsa Yahudi, melainkan orang yang takut, menghormati, menyembah, serta melakukan perintah-Nya. Kata ini dapat digunakan kepada penyembah Allah yang benar maupun penyembah dewa-dewa lain. Kata ini menunjuk ke ibadah yang dilakukan oleh orang lain, dan bisa dipakai mempertanyakan tentang ketekunan beribadahnya seseorang tersebut, seperti ibadah Ayub kepada Tuhan.
Όμολογειν (Homologein)
Kata Όμολογειν (Homologein) berasal dari kata Όμολογεω (Homologeo) yaitu mengakui, mengaku dan berterus terang, memuliakan (Ibr. 13:15). Kata ini mempunyai sejumlah arti seperti pengakuan dosa (1 Yoh 1:9). Jika kita mengakui dosa kita, untuk menyatakan atau mengakui dihadapan umum (Rm 10:9). Jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, untuk pujian kepada Allah (Ibr 13:15), ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.
Kata Homologia dan bentuk kata kerjanya homologein memiliki pengertian dasar yaitu homo: umum atau sama dan kata logos: Kata. Hal ini menyebabkan penggunaan kata ini bervariasi dalam hukum dan perdagangan, digunakan untuk mengakui yang dikatakan, mengakui biaya, untuk mengkonfirmasi penerimaan uang, persetujuan untuk proposal, menjanjikan sesuatu. Jika pengakuan dosa adalah dasar dalam Perjanjian Lama, itu tampaknya terkait di sini dengan jenis yang sangat berbeda dari pengakuan, yaitu mengaku di atau memuji Allah dalam perbuatan perkasa-Nya seperti dalam Mzm 22, 30, dimana nats ini memiliki kekuatan pujian serta pengakuan dosa, LXX mencantukan kata itu pada titik ini (1 Raj 8:33, 35; Neh 9: 3). Mengaku pekerjaan Tuhan adalah murah hati adalah sebuah deklarasi atau pengakuan (Mzm 118: 17).
Kata homologi atau pengakuan memiliki makna sesuai konteksnya yang unik yang merupakan konstituen dasar ibadat sejati yaitu pengakuan dosa, memuji Tuhan, deklarasi tindakan-Nya, dan doa kepada-Nya. Dalam Perjanjian Baru artinya adalah mengenai pernyataan khidmat. Ini mungkin sangat umum sifatnya (Herodes janji dalam Mat 14:7). Pengakuan atau tidak berbentuk pengakuan Yesus yang memiliki makna eskatologis (Mat 10:32). Pengakuan Yesus (Yoh 9:22; Rm 10: 9; Mat 16:13; Yoh 1:19; Kis 8:37.), Pengakuan dari orang-orang Farisi (Kis 23: 8), berusaha untuk melindungi terhadap guru-guru palsu (1 Yoh 4: 2; 2 Yoh 7). Panggilan kepada orang Kristiani untuk mengikuti (1 Tim 6:13), Kristus mengaku sebagai Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa (Fil 2:11).
Kata homologein: untuk menjamin, menjanjikan, mengakui. Kata ini digunakan dalam Mat 14: 7, Luk 22: 6, Begitu juga dalam Kis 7:17; Yoh. 1:20. Makna kata Yunani adalah untuk menyatakan sungguh-sungguh, menegaskan, untuk membuktikan (4 Mak 13: 5, dll). Kata ini dipakai dahulunya sebagai penggunaan umum dalam Helenistik dan tidak kultus. Penggunaan kata ini dalam Kristen mula-mula dapat dilihat juga dalam Ibr 11:13. Kata homologein juga dapat diartikan secara hukum untuk membuat pernyataan, maupun untuk menjadi saksi. Dalam Injil Yohanes ketika ia menjelaskan mengenai orang-orang Yahudi mengusir dari rumah ibadat mereka yang secara terbuka mengakui Yesus sebagai Mesias (Yoh 9:22; 12:42), seperti mengakui Allah dan Mamon (Mat 6:24; Luk 16:13 ; Mat 23: 6-8). Paulus mengaku sebagai Kristen dan dia melayani Allah Bapa. Omologein untuk membuat pernyataan khidmat iman, mengakui sesuatu dalam iman. Dalam Rm 10:9-10 (Diuraikan dalam Ul 30:14). Paulus mengacu pada koneksi dan iman: jika kamu mengaku dengan mulutmu Ketuhanan Yesus, jika engkau percaya dalam hatimu Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Kata benda omologein terjadi di LXX di Ezr 10:11; Ayb 40:14; 2 Mak 6: 6, dan lain-lain. Untuk menghubungkan mengaku dosa dan memuji Allah (Neh 9: 3; Dan 9: 4). Orang yang mengakui adalah diberkati, dan kuasa Allah dimuliakan. Dalam arti untuk memuji, berterima kasih, mengaku, untuk memuji.
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki makna dan pengertian yaitu kata ini dipakai dalam bentuk mengaku yang menjadi kepercayaan kita, memuliakan-Nya itu merupakan ibadah kepada Tuhan. Kata ini tidak hanya berbentuk dalam mengaku kebesaran Tuhan dan mengakui dosa kita, namun mengaku atau mengatakan kebenaran dalam rana mengenai agama. Kata ini pun digunakan menjelaskan orang Kristen yang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Λειτουργηα (Leitourgea)
Kata Λειτουργηα (Leituorgea) dalam Kis 13:2 yaitu beribadah kepada Allah. Madsud nats ini memberi arti lain kepada leitourgea yaitu sebagai ibadah jemaat sekalipun ibadah itu hanya suatu ibadah doa dalam kelompok kecil. Kata ini berasal dari λειτουργεω (leituorgeo) yaitu beribadah, melakukan pelayanan imam, melayani. Kata (Leitourgea) adalah pelayanan, tugas jabatan. Kata ini berasal dari kata λαος (laos) yang artinya adalah rakyat/masyarakat dan εργον (ergon): kerja atau bisa juga artinya karya. Sehingga jika digabungkan maknanya ialah kerja umum, gotong royong, pelayanan peribadatan. Dalam menggunakan kata ini, para penulis PB tidak mengikuti Septuaginta, kecuali bila kata ini diterapkan pada pelayanan atau jabatan kultus Israel, yaitu Musa, Zakharia, atau Kristus yang mempersembahkan diri-Nya sendiri. Bila kata ini diterapkan pada umat Kristen, kata ini bernada untuk pada pelayanan gotong royong berupa pengumpulan dana atau sedekah dan itu dinilai sebagai pelayanan kepada Allah. Kata leitourgia yang berarti suatu pelayanan.
Leitourgia dan kata kerja leitourgeo berhubungan etimologis untuk layanan yang diberikan kepada orang atau bangsa, lembaga politik. Mereka digunakan untuk layanan khusus, yang kaya, baik secara sukarela wajib, membuat untuk kota atau komunitas, atau pelayanan masyarakat. Strathmann mengatakan kata-kata ini diperuntukkan untuk fungsi imam. Tujuan digunakan untuk Allah. Liturgi adalah manfaat lembaga nasional untuk seluruh rakyat. Dalam perbedaan dari latreia atau diakonia untuk kelompok, leitourgea memiliki martabat yang terkait dengan pelayanan publik/rakyat, dan memiliki hikmat, sehingga faktor yang menentukan. Bahkan, kata kerja hanya terjadi tiga kali dan kata benda enam kali. Tiga dari sembilan kasus yang di Ibrani, dan enam lainnya ada di Lukas, Kisah Para Rasul dan surat Paulus, Ibrani dan juga dalam Luk 1:23 penggunaan jatuh dalam kerangka PL. Ibrani 9:21 dan 10:11 (dengan mengacu pada pengorbanan). Kata leitourgia yang istilah yang tidak tepat untuk ibadah Kristen. Tiga penjelasan yang mungkin di sini: 1. Bahwa kata tersebut cukup umum untuk layanan, 2. Bahwa menggemakan pemikiran dari liturgi resmi zaman klasik, 3. Bahwa mengidentifikasi koleksi atau hadiah sebagai tindakan sakral. Leitourgos digunakan kepada Kristus sendiri (Ibr 8: 2). Ibr 1: 7 menunjukkan malaikat sebagai instrumen kehendak Allah. Paulus sendiri adalah leitourgos-nya Yesus Kristus kepada bangsa-bangsa (Fil. 2:17).
Kata leitourgein terbentuk dari λειτος (leitos), mengenai orang atau komunitas nasional, yang terjadi baik ergon kata benda, ekspresi demikian terkait dengan penggunaan bagi masyarakat secara keseluruhan. Kata leitourgein adalah untuk melakukan hal-hal yang terkait dengan publik, tidak masalah pribadi, tetapi untuk masyarakat nasional sebagai kesatuan politik, atau lebih singkat untuk tubuh politik. Kata leitourgia yang adalah kata benda juga dipakai menjadi untuk kultus imam. Hal ini terjadi sekitar 40 kali, hampir selalu untuk Ibrani עֲבׄדׇה (‘abodah). Biasanya kata diberikan leitourgia yang berbentuk 'abodah sifatnya kultus. Kata leitourgia selalu digunakan dari pelayanan para imam dan orang Lewi dan di tempat kudus, terutama pelayanan para imam di altar. (Bil. 16:9; 18:4, 6; 1 Taw 9:13; 2 Taw 31:4; 2 Taw 35:16; 2 Mak 3:3). Kata leitourgia selalu digunakan secara harfiah dalam bagian ini. Penggunaannya di Ezr 29:20, di mana pengepungan Tirus adalah leitourgia yang Nebukadnezar telah diberikan kepada Yahweh. Kata Leitourgia dalam Perjanjian Baru ditemukan 6 kali (Lukas 1:23; 2 Korintus 9:12; Fil 2:17; Ibrani 8:6; 9:21). Kata leitourgia dalam imamat Perjanjian Lama hanya pratanda bayangan. Lukas 1:23 dari imam Zakaria juga dalam rangka penggunaan Perjanjian Lama. Kisah Para Rasul 13: 2 lima nabi dan guru dari gereja Kristen di Antiokhia tercantum dalam Ayat 1. Kata leitourgia juga digunakan doa Musa (bersama dengan dupa persembahan penebusan) di digunakan untuk ibadah. Malaikat memuji Allah dalam Dan 7:10. Kata kata ini sering muncul dalam bentuk ibadah sehingga dibawa ke hubungan sakral dan kultus. Ini adalah pelayanan suci, dan itu disebut sebagai tindakan pelayanan ilahi. Fakta bahwa di Fil 2:30 Paulus menggunakan leitourgia untuk hadiah moneter yang Filipi telah dibuat untuk Paulus, dan yang Epafroditus telah membawa pada risiko hidupnya, sehingga melakukan apa yang mereka tidak bisa lakukan. Berikut ada kebaikan dari pelayanan untuk kesejahteraan masyarakat dari komunitas Kristen dari kultus imam dari Perjanjian Lama. Jika Paulus memiliki baik dalam pandangan, ia tidak akan berbicara dari leitourgia untuk dirinya sendiri.
Penulis menyimpulkan bahwa kata ini memiliki arti dan makna berhubungan dengan pelayanan masyarakat atau tugas jabatan. Kata ini juga dapat dimengerti sebagai gotong royong, atau kerjasama untuk kepentingan bersama, dan juga dipakai untuk pelayanan peribadatan, pengumpulan dana, pelayanan masyarakat, dan kata ini digunakan untuk jabatan para imam. Tidak berbentuk dengan masalah pribadi, tetapi untuk masyarakat nasional sebagai kesatuan politik, atau lebih singkat untuk tubuh politik.
Λογικος (Logikos) Dalam Perjanjian Baru
Sesuai yang penulis dijelaskan dalam Bab 1, pengertian logikos ialah dapat diartikan dengan rasional, dapat juga rohani, maupun sejati. Kata logikos berasal dari kata logos, pengertian atau madsud Allah atau yang menyatakan kecerdasan dalam perkataan manusia (Yoh 1:1,14). Firman Allah adalah mengenai makanan spiritual seperti hal makanan jasmani. Kata ini berhubungan dengan kata δολουντες (dolountes) yaitu 2 Kor 4:2, tidak membohongi Firman Allah. Seperti dalam Yak 1:26 ibadah namun tidak mengekang lidah adalah menipu diri.
Dalam Perjanjian Baru hanya dua kali. Dalam logike latreia (Rom 12:1) logike diterjemahkan dalam berbagai bentuk oleh tokoh-tokoh seperti: Spiritual dinyatakan oleh A. Nygren, rasional dinyatakan oleh T. Zahn, tepat/cocok dinyatakan oleh K. Barth, masuk akal dinyatakan oleh P. Althaus, dan Michel melihat bahwa Paulus memperpanjang pengaruh dari pemakaian kata-kata Yunani untuk Hermetika dan Mistik Helenistik. Seluruh kehidupan menentukan iman dan ibadah yang benar.
Jika dilihat dalam peninjauan dalam berbagai penerjemahan Alkitab oleh Lembaga Alkitab Indonesia, kata dalam TB diberi kata sejati, IKG diberi kata sesuai dengan budimu, dan KB diberi kata seharusnya (bnd FAH). Adanya penerjemahan yang berbeda-beda menyingkapkan kesulitan yang orang alami dalam menerjemahkan istilah ini. Maka perlu untuk diselidiki arti logikos dalam bahasa Yunani umum. Logika berasal dari kata Yunani Logikos yang berarti berhubungan dengan pengetahuan, atau dengan bahasa. Khusus dalam 1 Ptr 2:2, makna spiritual dalam 1 Ptr 2: 2 yang rohani atau sesuai dengan Firman. Pengertian ini rasional (Stoa/umum) dan spiritual (mistik).
Istilah logikos ditemukan pula dalam 1 Petrus 2:2. Di situ logikos agaknya berkaitan dengan logos (firman) dalam 1:23 dan 2:8, sehingga mendapat arti sesuai dengan firman (bnd KB yaitu Perkataan Allah; LAI memberi; rohani). Menentukan arti logikos harus memperhitungkan dekatnya perkataan tubuh. Agak ganjil kalau Paulus memakai istilah logikos dalam arti batiniah, kalau saja orang-orang percaya dianjurkannya agar menyerahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, kudus, berkenan. Anjuran itu sama sekali bertentangan dengan ajaran Stoa dan lain lain, yang justru mengajak orang bersikap acuh tak acuh terhadap segala hal jasmani dan agar menjadikan batin sebagai benteng pertahanan. Pertentangan yang ditandai oleh istilah logikos bukanlah pertentangan lahir-batin ataupun upacara ibadah kehidupan sehari hari, melainkan sesuai kehendak Allah-tidak sesuai dengan kehendak Allah (hidup, kudus).
Komentar
Posting Komentar