Langsung ke konten utama

Materi 18. Agama Yang Memperbudak (Tinjauan Religionum Terhadap Analisis Kritis Karl Marx Kepada Agama Yang Memperbudak Serta Implikasinya Bagi Agama-Agama)

Penulis : Dear Mando Purba

Latar Belakang Masalah
Bukan tidak mungkin kekerasan yang berbau agama timbul karena memang pada dasarnya umat beragama bukan atas dasar kesadaran kemanusiaan, akan tetapi karena bentukan sosial yang mengasingkan manusia kedalam ekstasi agama yang menjanjikan pola hidup yang bahagia dunia dan akhirat. Namun pada kenyataannya banyak sekali fakta yang sangat berlainan dengan pesan moral suci setiap agama. Ekspresi anarkis yang dimunculkan oleh umat beragama seolah merupakan pengungkapan emosi manusia yang terjajah oleh agama itu sendiri, sebuah pemberontakan kepada keterasingan dirinya. Pada dataran gambar-gambar manusia itu sendiri, mereka lupa akan jati dirinya sehingga manusia menjadi pasif bahkan mengharapkan berkah dari-Nya. Manusia tidak merealisasikan dirinya dalam dunia yang nyata dan masuk kedalam bayang-bayang agama, dengan demikian agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri.
Karl Marx melihat relevansi keterasingan itu dengan sikap atau perilaku umat beragama dalam tingkat realitasnya. Apakah satu-satunya penyebab keterasingan dan ketersiksaan manusia itu hanyalah agama?  Tidak  dapat  dipungkiri,  dalam  masyarakat  modern  yang  sangat mengagungkan akal fikiran, agama seringkali menjadi bagian dalam kehidupan manusia  yang  selalu  ingin  disingkirkan  bahkan  harus  “dibunuh”  karena wataknya  yang  tidak  empiris  dan  irasional.  Dalam  perkembangan  ilmu pengetahuan  yang  begitu  pesat  agama  dianggap  sebagai  sesuatu  yang  tidak ilmiah  sehingga  agama menjadi musuh abadi bagi ilmu pengetahuan, dan harus dibuang jauh-jauh karena ia akan menghambat laju modernitas.
Pembunuhan agama di zaman modern ini, pertama kali diproklamirkan oleh  Friderich Wilhelm Nietzche  dengan statemennya bahwa “Tuhan telah mati”. Pandangan  Nietzche  ini  kemudian  memperoleh  dukungan  dari  para  ilmuwan lain seperti  Sigmund Freud, yang menganggap bahwa agama hanya sebagai ilusi manusia belaka,dan juga mendapat sambutan dari Karl Marx  yang menyatakan bahwa  agama  sebagai  candu  bagi  masyarakat.
Belakangan  muncul  pula  tesis Farncis  Fukuyama  dalam  bukunya  The  End  of  History  And  The  Last  Man,  yang menyatakan  bahwa  akhir  dari  puncak  perjalanan  sejarah  kehidupan  manusia akan  bermuara  pada  demokrasi  liberal  dan  sistem  sosial  ekonomi  model kapitalisme. Tesis  ini  jelas-jelas  tidak  sedikit  pun  memandang  agama  sebagai entitas yang juga ikut menentukan masa depan perjalanan sejarah manusia.
Pembahasan
 Pengertian Agama
Agama berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata “A” berarti “tidak” dan “Gama” yaitu “Kacau”. Agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Dalam bahasa Inggris “Religion” yang berasal dari bahasa Latin yaitu: “Religio” dari akar kata “Religare” yang berarti mengikat. Agama memiliki sifat keterikatan bagi manusia terhadap Tuhannya untuk menjalankan dan mematuhi setiap ajaran-Nya.
Maka agama adalah aturan atau tata cara hidup manusia dan hubungannya dengan Tuhan dan sesame serta lingkungannya. Agama juga dapat disebut sebagai pedoman hidup manusia yang meliputi bagaimana harus berfikir, bertingkah laku dan bertindak sehingga tercipta suatu hubungan yang erat dengan Sang Pencipta.
  Hakekat dan Fungsi agama
Hakekat Agama
Agama adalah sebuah kebutuhan ideal dari setiap manusia sehingga agama berperan sebagai penentu dalam setiap kehidupan dan perilaku dan jikalau seseorang manusia hidup tanpa agama maka manusia itu bukanlah manusia yang sempurna, sebab hal ini berkaitan dengan hal yang mendasar dalam kehidupan manusia yang sangat alamiah sekali yaitu apa yang disebut ‘naluri’ untuk beragama..]berdasarkan fenomena kehidupan beragama secara umum dapat dikatakan agama adalah segala aktifitas hidup manusia dalam usahanya untuk mewujudkan rasa bakti dan memprestasikan keterhubungan manusia dengan suatu kuasa yang diyakini bersifat supranatural dan mengatasi dirinya. Dalam rumusan tersebut ada beberapa hal yang dapat diuraikan: 
Agama sebagai aktivitas hidup manusia membutuhkan bentuk-bentuk konkrit dalam sikap hidup dan tindakan. Sehingga beragama tidak sekedar meykini sesuatu, tetapi bertindak sesuai dengan apa yang diyakini nya. Agama seharusnya terwujud dalam totalitas kehidupan dan diamalkan oleh setiap tingkah laku. Sehingga agama tidak hanya berarti bagi diri sendiri, melainkan juga bagi sesame dan lingkunagn tempat seseorang berada. 
Aktivitas agama tersebut dilakukan dalam rangka usaha merealisasikan rasa bakti dan keterhubungan manusia dengan kuasa yang disembah. Kehidupan agama memerlukan keterbukaan terhadap pembaharuan bentuk dan tidak selayaknya terpenjara oleh masa lampau secara kaku
Sebagai ibadah kepada kuasa yang disembah, agama meliatkan seluruh segi kehidupan manusia yang disimbiosiskan kedalam bentuk ritus-ritus, tata cara peribadatan. Juga terwujud dalam sikap dan tindakan terhadap sesama manusia dan lingkunagnnya. 
Salah satu unsure yang menjadi dasar bagi seluruh bangunan keagamaan adalah keyakinan. Dengan dasar tersebut, hidup keagamaan akan mengandung subyektivitas. Keyakianan subyektifitas yang menjadi landasan kehidupan agamma tidak menuntut pembuktian kebenarannya secara akali. Agama menjadi hal yang betul-betul pribadi dan tidak mungkin di ganggu-gugat atau dipaksakan oleh orang lain. Setiap bentuk peaksaan akan menghasilkan kemunafikan dan ketertekanan bagi pihak lain.
Fungsi dan alasan Agama bagi manusia
Ada lima fungsi dari agama bagi kehidupan manusia, antara lain:
Fungsi Edukasi, sebagai pengajar dan pembimbing yang dialkukan agama kepada manusia sebab agama dianggap memberikan pengajaran yang otoratif dan menjangkau hal-hal yang sacral
Fungsi penyelamatan, agama diyakini sebagian manusia dapat menghantarkan mereka kepada keselamatan yang adalha tujuan dari semua tindakan baik yang diajarkan oleh agama dan yang mereka lakukan
Fungsi pengawasan sosial, yaitu agama berisi tentang pengajaran norma-norma sehingga agama berperan aktif dalam pelaksanaan kaidah-kaidah kesusilaan di dalam masyarakat
Fungsi memupuk persaudaraan, perdamaian, dan terjalinnya kebersamaan, sebab ketiga hal yang dapat dipupuk oleh agama merupakan dambaan dan yang diinginkan oleh manusia sehingga agama memiliki peran membina persaudaraan dengan menghancurkan tembok-tembok pemisah
Fungsi transformasi, agama bertanggungjawab mengubah pola kehidupan yang lama dengan nilai-nilai dan pemahaman yang baru.
Selain fungsi agama dalam masyarakat ada juga beberapa alasan mengapa manusia beragama:
Ketidakpastian, situasi hidup manusia dalam menjalani hidup tidaklah menentu dan terus mengalami perubahan secara berkesinambungan.
Ketidakmampuan, “keterbatasan” kenyataan mengenai keterbatasan dalam menguasai, mengontrol dan menundukkan tantangan yang datang dari dunia ini.
Kelangkaan, kebutuhan manusia yang semakin sulit dan seakan tidak terpenuhi.
Oleh karena itu dapat dilihat bahwasannya agama memiliki peran yang penting bagi kehidupan manusia baik itu di dalam masyarakat atau individual.
Tinjauan Historis Karl Marx
Boigrafi dan Pendidikan Karl Marx
Karl Marx dilahirkan di kota Trier, perbatasan barat Jerman (pada waktu itu termasuk wilayah Prussia), pada tahun 1818. Ia adalah seorang keturunan Yahudi. Ayahnya seorang pengacara yang beberapa tahun setelah kelahiran Marx berpindah agama ke agama Kristen Protestan (padahal Kota Trier mayoritas Katolik—Kemungkinan agar ia dapat menjadi pegawai negeri [notaris] di Prussia yang berhaluan Protestan). Sesudah lulus dari gymnasium di Trier, ayahnya—dengan harapan agar anaknya dapat mengikuti karier sang ayah—menyuruh Karl studi hukum di Universitas Bonn. Namun, Marx sendiri lebih tertarik menjadi penyair. Dan pada akhirnya, tanpa menunggu izin ayahnya, Karl pindah ke Berlin dan mulai belajar Filsafat.
Di Berlin, ‘filsafat’ sama artinya dengan filsafat Hegel yang baru beberapa tahun sebelumnya meninggal. Marx muda yang gusar dengan situasi di Prussia menemukan kelompok yang menggeluti filsafat Hegel dan menjadikannya sebagai senjata intelektual yang kritis dan radikal; kelopok ini bernama Doktorclub. Kelompok itu, yang tak lain merupakan ‘kaum Hegelian-Muda, memakai filsafat Hegel sebagai alat kritik untuk mengkritik kekolotan negara Prussia. Dengan penekanan pada rasionalitas dan kebebasan, filsafat Hegel tampak sebagai sarana yang sangat cocok untuk mengritik sistem-sistem politik negara Prussia yang otoriter. Hegel diartikan sebagai guru revolusi. Namun tidak berlangsung lama, karena kemudian Marx merasa tidak puas dengan terhadap kecenderungan teoritis dari kelompok ini.
Marx melanjutkan Studinya di Universitas Jena dan meraih gelar doktornya (1841), dalam usia dua puluh tiga tahun, dengan sebuah Disertasi berjudul “Perbedaan Filsafat alam Demokritos dan Epikuros” Setelah lulus promosi, Marx pindah ke Koln dan menjadi pemimpin redaksi harian Die Rheinische Zitung, sebuah Koran liberal-progresif. Karena mendapat kesulitan terus-menerus dari sensor pemerintah Prussia, Marx terpaksa melepaskan jabatannya pada tahun 1843 (namun korannya tetap dilarang) dan pindah ke Paris. Ia menikah dengan Jenny von Westphalen, putri seorang bangsawan. Dalam tahun itu Marx mulai menulis sebuah Critique Hegel’s Philosophy of Right (yang baru dipublikasikan abad ini) serta dua karangan yang dimuat dalam sebuah majalah, yaitu Critique of Hegel’s Philosophy of Right. Introduction dan On the Jewish Question. Tiga tulisan penting itu memperlihatkan sebuah perkembangan baru dari disertasinya. Ia telah membaca karya utama Ludwig Feurbach The Essence of Christianity. 
Kemudian Marx pindah ke Paris. Di situ ia bertemu dengan tokoh-tokoh sosialis, baik di Prancis, seperti Proudhon, maupun pelarian dari Jerman. Ia juga bertemu dengan Friedrich Engels yang akan menjadi teman karibnya selama hidupnya. Di paris Marx berhadapan untuk pertama kalinya dengan kaum buruh industri. Di Paris Marx menjadi seorang sosialis, artinya ia pun menerima anggapan dasar sosialisme, bahwa sumber segala masalah sosial terletak pada lembaga hak milik pribadi.
Ada tiga tulisan penting yang dihasilkan oleh Marx dalam periode ini. Yang pertama adalah Philosophical and Economic Manuscripts, pada tahun 1844, atau yang juga dikenal dengan Naskah-naskah Paris. Tulisan kedua adalah buku pertama Marx (yang sebagian juga ditulis oleh Engels) yang terbit dengan judul The Holy Family. Dan yang ketiga, pada tahun 1846, Marx bersama Engels menulis buku tebal The German Ideologi.
Pada permulaan tahun 1845 Marx terpaksa harus meninggalkan Paris dan pindah ke Brussel karena ia diusir oleh pemerintah Prancis atas permintaan pemerintah Prussia. Tiga tahun kemudian, pada awal revolusi yang menyapu Eropa selama tahun 1848, Marx dengan keluarganya diusir juga dari Belgia dan pindah ke London di mana ia tinggal sampai akhir hidupnya. Di Brussel Marx dan Engels masih sempat menulis tulisan mereka yang paling terkenal Manifesto Komunis. Selama revolusi 1948 Marx kembali ke Jerman dan mendirikan sebuah harian. Tetapi akhirnya revolusi gagal dan Marx harus kembali ke London.
Dengan perpindahannya ke kota London mulailah tahap baru dalam hidup Marx. Ia meninggalkan aksi-aksi konspiratif dan revolusioner dan memusatkan perhatiannya pada pekerjaan teoritis. Ia semakin menyadari dirinya sebagai pemikir dan penemu hukum-hukum yang menentukan perkembangan masyarakat. Sejak dari Paris Marx semakin memperhatikan ilmu ekonomi. Dalam pelbagai tulisannya, Marx memaparkan pokok-pokok pandangan materialis sejarah. Inti pandangan materialis sejarah adalah bahwa perkemabangan masyarakat ditentukan oleh perkembangan dalam bidang ekonomi. Ia mengklaim dapat memastikan bahwa kapitalisme mengandung benih-benih keruntuhan dalam dirinya sendiri dan bahwa keruntuhan kapitalisme niscaya akan menghasilkan masyarakat sosialis. Maka untuk membuktikan tesisnya, Marx menenggelamkan diri dalam studi ilmu ekonomi. Ia harus membuktikan secara ilmiah bahwa ekonomi kapitalis memuat kontradiksi-kontradiksi yang niscaya akan meruntuhkannya.
Akhirnya, pada tahun 1867, terbitlah buku pertama dari karya utama Marx yang dimaksudkan untuk membuktikan kebenaran ramalannya tentang kehancuran kapitalisme dan keniscayaan sosialisme: Das Kapital, yang buku kedua dan ketiganya baru diterbitkan oleh Engels setelah Marx meninggal dunia—beberapa buku catatan pinggir Marx diterbitkan oleh Karl Kautsky sejak permulaan abad ini dengan judul Teori-teori tentang Nilai Lebih—. Buku Das Kapital ternyata mengecewakan banyak teman Marx, karena dianggap terlalu kering dan tidak jelas maksudnya. Namun, Marx semakin dikenal di kalangan para pemimpin gerakan buruh di benua Eropa. Ia sering dikunjungi untuk dimintai nasihat. Walaupun kehidupan berkeluarga dengan istrinya cukup bahagia, Karl Marx dalam kehidupan pribadinya terus-menerus didera kemelaratan. Marx tidak memiliki sumber pendapatan yang tetap dan kurang tahu mengatur keuangannya. Tapi, Ia banyak mendapat kiriman bantuan dari Engels (yang memiliki sebuah pabrik tekstil di Manchester). Sejak tahun 1860-an Engels mampu menyediakan kiriman uang bulanan tetap bagi Marx sehingga 20 tahun terakhir keluarga Marx relatif bebas dari kesulitan ekonomis.
Latarbelakang dan Konteks Karl Marx Mengkritik Agama
Karl Marx beserta keluarganya berada di Negara bagian Jerman dimana situasi politik saat itu sangat feodalistik bahkan impresif. Dominasi Negara tidak hanya sebatas pada putusan-putusan dan kebijakan public yang bersifat politis tetapi mereka dengan sempurna melakukan hegemoni pada level yang paling intristik dalam kehidupan masyarakat dan menelusup masuk kedalam kesadaran individu. Masyarakat tidak hanya disetting secara politik, namun bagaimana seharusnya pola fikir dan kesadaran seseorang, juga ikut direkayasa oleh penguasa, bahkan dalam hal kepercayaan atau beragamapun sudah ditentukan oleh Negara.
Pada saat Marx berumur enam tahun, ia beserta saudaranya dan juga ayahnya dibaptis dan pindah agama dari Yahudi ke Protestan. Alasannya adalah karena ayahnya ingin diterima sebagai pegawai negeri, tepatnya notaris. Mengapa harus pindah agama? Karena struktur politik dan kebijakan penguasa pada waktu itu tidak dapat menerima pegawai yang agamanya berbeda dengan agama resmi sang raja atau Negara yaitu agama Kristen Protestan. Tragedy perpindahan agama yang dilakukan keluarga ini akhirnya mempunyai dampak yang sangat dalam bagi kehidupan dan cara pandang Marx terhadap agama. Maka menjadi relevan jika pada akhirnya Marx mempunyai kecenderungan menganggap agama tidak lebih dari sebuah tong sampah tempat lalat mengais sisasisa makanan.
Kemudian dalam struktur Negara Jerman pada waktu itu secara global dapat dipetakan menjadi dua yaitu kaum bangsawan dan agamawan tinggi. Para bangsawan atau kaum borjuis, selain mereka sebagai kapitalis juga memiliki hubungan gelap dengan dunia politik atau penguasa. Sedangkan agamawan elite adalah para pemuka agama Kristen Protestan yang sudah memiliki lingkaran khusus dengan kekuasaan politik. Tidak mengherankan jika pada pada saat itu agama hanya berbicara mengenai kepatuhan dan kesabaran untuk selalu berbakti kepada Tuhan yang telah menjelma kedalam kaisar atau raja, serta hendaknya senantiasa memperteguh kesabaran nurani untuk menerima hidup seperti adanya saat itu, karena pada dasarnya semua merupakan ketentuan Tuhan, maka jika hal itu ditaati, balasannya adalah kebahagiaan disurga nanti.
Relitas politik dan keagamaan seperti itu menumbuhkan suatu kesimpulan bahwa agama tidak lebih dari sebuah institusi kaum borjuis yang seringkali mengumbar janji indah agar masyrakat dapat dibuat bungkam menerima parktik-praktik penyengsaraan umat manusia. Agama yang demikian adalah agama yang ideologis dalam arti sebagaimana suatu lembaga yang senantiasa memberikan kesadaran palsu. Ideology agama berfungsi untuk membuat manusia puas dengan eksistensi kemelaratan di dunia ini.
Kritik Agama Feurbach dan Kritik Marx terhadap Kritik Agama Feurbach
Kritik Agama Feurbach
Marx dan Eangels sangat terpengaruh dengan feuerbach disamping Hegel. Feuerbach juga awalnya pengikut Hegel tetapi akhirnya ia banyak betentangan dengannya. Menurut Hegel, dalam kesadaran manusia, Allah mengungkapkan diri. Kita merasa berfikir dan bertindak menurut kehendak atau selera kita, tetapi dibelakangnya "roh semesta" mencapai tujuannya. Melalui keputusan-keputusan bebas dan sadar kita, roh semesta mencapai tujuannya, sebenarnya kita ini wayang dan dalangnya adalah roh semesta. Para pelaku manusia tidak sadar bahwa mereka didalangi olehnya.
Kata Feuerbach, Hegel itu memutarbalikkan fakta. Sebab seakan menurut Hegel yang nyata itu Roh Semesta/allah, sedangkan manusia itu wayang. Padahal sebaliknya. Yang nyata dan tidak terbantahkan adalah keberadaan manusia sedangkan roh semesta hanya berada sebagai objek dalam pikiran manusia. Walau Hegel mengatakan ia telah "mengangkat" agama kedalam "rasionalitas filsafat, tetapi menurut Feuerbach justru sebaliknya, dengan ini maka Allah adalah yang pertama, sedangkan manusia adalah yang kedua. Maka kata Feuerbach filsafat Hegel adalah agama yang terselubung. Feurbach mengkritik Hegel dengan pengandaian (yang tak perlu dibuktikan) bahwa yang indrawi lebih pasti dibanding yang spekulatif. Dan titik tolak filsafat seharusnya adalah dari pengalaman langsung yang indrawi.
Bagi Feuerbach tuhan itu tidak nyata, hanya ada diangan-angan manusia atau proyeksi pikiran manusia. tetapi kemudian manusia lupa bahwa itu ciptaannya dan disembah. Ini mirip dengan kritik nabi agama-agama pada orang musyrik. Mereka membuat patung lalu mereka lupa bahwa merekalah yang membuta kemudian patung-patung itu disembah. Manusia lalu hormat, takut pada tuhan, padahal ia adalah ciptaannya. Agama adalah manifestasi pengungkapkan keterasingan manusia dari dirinya sendiri. 
Agama … adalah kelakuan manusia terhadap dirinya sendiri atau lebih tepat terhadap hakekatnya sendiri, tetapi perlakuan itu seperti terhadap mahluk lain. Hakekat ilahi tidak lain adalah hakekat manusia yang dipisahkan dari batas-batas manusia individual, diobjekkan … karena itu semua cirri hakekat ilahi adalah cirri hakekat manusia.
Karena manusia harus mengobjektifasi dirinya sendiri agar mampu merealisasikan dirinya, seperti seorang seniman ia harus memproyeksikan bakatnya agar tahu bahwa ia seniman. Dalam pikiran (kata Hegel) atau dalam pekerjaan (Kata Marx) manusia harus membayangkan atau merepresentasikan dirinya, dan ia pun dapat melihat dirinya, mengenal dirinya dan menemukan identitasnya. Menurut Feuerbach, itulah yang terjadi dalam agama. Dalam agama ada nilai positifnya karena dengan itu manusia tahu siapa dia. Bahwa dia bebas, dia berkuasa, kreatif, baik dll. Tetapi celakanya ia lupa bahwa itu adalah proyeksi dirinya, sehingga menganggapnya sebagai realitas yang mandiri. Mengingat proyeksi itu melukiskan hakekat manusia secara sempurna, dapat dimengerti bahwa manusia lalu takut dan menyembah realitas agama yang sebenarnya tidak real itu (seperti orang takut dengan sesuatu yang gagah, besar dll, padahal itu adalah "cermin" dirinya sendiri). Dengan itu manusia tidak berusaha menjadi dirinya sendiri, merealisasikan hakekatnya, malah secara pasif mengharapkan berkah darinya. Dengan demikian agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri. Dengan agama apa yang sebenarnya merupakan potensi yang perlu direalisasikan manusia justru hilang, karena manusia tidak mengusahakannya, melainkan mengharapkan datang "dari sana". Dengan ini manusia tidak berusaha merealisasikan diri tapi menganggap/berharap itu akan diperolehnya di surga. Oleh karena itu untuk mengakhiri keterasingannya dan menjadi dirinya sendiri manusia harus meniadakan agama. Teologi harus menjadi antropologi.
 Kritik Marx terhadap Kritik Agama Feurbach
Ada dua problem dalam filsafat hegel kata Marx yaitu, ia menganggap subjek menjadi objek, demikian sebaliknya. Yang rasional dan nyata itu dalam pikiran sedangkan kenyataan dunia tidak rasional dan mestinya lebih nyata. Roh semesta yang subjek/nyata, padahal manusia yang memikirkannyalah yang nyata dan subjek bukan objek. Demikian juga dalam Negara, Hegel disatu sisi mengatakan dan menjunjung tinggi cita-cita revolusi Prancis, tetapi dalam sisi lain ia menginginkan otoritarianisme Negara. Dimana undang-undang adalah representasi roh Absolut, yang nyata, yang harus ditaati. Sedangkan suara hati, manusia, subjek yang memikirkan dan bertindak diharuskan mengikuti dengan "apapun" undang-undang itu, sebagai objek.
Menggarisbawahi Feuerbach, Marx menuliskan; "manusia yang membuat agama, bukan agama yang membuat manusia". Agama adalah perealisasian hakekat manusia dalam angan-angan saja, jadi tanda bahwa mansuia justru belum berhasil merealisasikan hakekatnya. Agama adalah tanda keterasingan manusia dari dirinya sendiri. " tetapi kata marx, mengapa Feuerbach tidak bertanya kenapa manusia sampai mengasingkan dirinya kedalam agama? Sekalipun kata Marx, Feuerbach tidak buta terhadap itu, sebab dia pernah mengatakan; "Penderitaan manusia adalah tempat kelahiran Allah” Mengapa Feuerbach tidak bertanya kata Marx, "Mengapa manusia itu tidak merealisasikan dirinya, hanya merealisasikan secara semu dalam khayalan agama?". Ini kata Marx karena Feuerbach hanya membicarakan Manusia (abstrak), padahal yang ada (kongkret) adalah Fulan dan fulanah. Si A dan Si B. 
Karena masyarakat, dunia, dan lingkungan itu mengasingkan manusia, membelenggunya, maka mereka (manusia) itu merealisasikan dirinya lewat angan-angan Surga, Agama. Karena dunia kongkret tak mengizinkannya. Kata Marx;
"agama hanyalah tanda keterasingan manusia tetapi bukan dasarnya. Ketrasingan manusia dalam agama adalah ungkapan keterasingan yang lebih mendalam. Agama hanyalah sebuah pelarian karena realisasi memaksa manusia untuk melarikan diri. "Agama adalah realisasi hakekat manusia dalam angan-angan karena hakekat manusia tidak punya realitas yang sungguh-sungguh" . jadi, "Agama adalah sekaligus ungkapan penderitaan yang sungguh-sungguh dan protes terhadap penderitaan yang sungguh-sungguh. Agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tampa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tampa roh. Ia adalah candu masyarakat". Tetapi yang perlu dikritik bukan agama, kata Marx, tetapi apa yang melahirkan agama itu, yaitu masyarakat. "Kritik agama sekarang harus menjadi kritik masyarakat". "Kritik surga berubah menjadi kritik dunia, kritik agama menjadi kritik hukum, kritik teologi menjadi kritik politik"
Kritik Karl Marx Terhadap Agama
Agama merupakan kesadaran dan perasaan diri bagi manusia ketika ia belum berhasil menemukan dirinya dan ketika ia sudah kehilangan dirinya. Namun manusia itu bukan suatu makhluk yang abstrak yang bercokol di luar dunia, melainkan manusia berada dalam dunia manusia, Negara dan masyarakat Kesengsaraan yang terjadi pada manusia merupakan kesengsaraan religious yang nyata sekaligus sebagai tindakan prortes terhadap kesengsaraan nyata itu sendiri. Agama adalah keluhan makhluk tertindas, jiwa suatu dunia yang tak berkalbu, sebagaimana ia merupakan roh suatu kebudayaan yang tidak mengenal roh. Sehingga Marx menyatakan bahwa agama sebagai candu rakyat. Agama bukan saja sia-sia , tetapi juga merugikan. Ia merampas banyak kodrat dan martabat manusia dan mengalihkannya kepada suatu makhluk khayalan. Bahkan lebih-lebih agama merendahkan derajatnya dengan memberikan perasaan dosa pada manusia itu sendiri, dengan mengajarkan kerendahan hati pada agama, dengan membuat dirinya hina dihadapan dirinya sendiri, alih-alih lebih merugikan lagi Mark menjelaskan bahwa agama memberikan hiburan palsu . maka oleh karena itu, Marx menerangkan penghapusan agama sebagai suatu kebahagiaan sejati.
Kritik yang dilakukan Marx tehadap agama pada asasnya adalah kritik terhadap “Lmebah air mata” yang mahkotanya adalah agama. Agama adalah ilusi semata, dan sebetulnya agama ditentukan oleh ekonomi sehingga tidak ada gunanya untuk mempertimbangkan setiap doktrin atau kepercayaannya demi manfaatnya sendiri. Kepercayaan manusi terhadap agama berawal dari kritisisme yang irreligious yaitu manusia membuat agama tetapi agama tidak membuat manusia. Terlebih agama telah mengambil sifat-sidat ideal moral dari kehidupan manusia yang dasar dan secara tidak wajar memberikannya kepada suatu wujud asing dan khayalan yang disebut dengan Tuhan. Bahkan agama dianggapnya terasa merampas kebaikan individu manusia dan memberikannya kepada Tuhan.
Alienasi dalam agama sebenarnya hanya merupakan ekspresi dari ketidakbahagiaan yang lebih dasar yang selalu bersifat ekonomi. Pertanyaannya mengapa eksistensi agama semakin terus “bercokol”? jawabannya adalah karena agama telah memperhatikan kebutuhan manusia yang teralienasi. Bahkan Marx mengatakan agama adalah keluh kesah makhluk  yang tertindas dan merupakan ekspresi penderitaan ekonomi yang lain sekaligus protes melawan penderitaan yang riil. 
Agama ibarat narkotik yang menghilangkan rasa sakit yang diderita orang yang dieksploitasi dan mengenai dunia supranatural di masa segala kesedihan berakhir, secara penderitaan menghilang. Agama menghilangkan pandangan terhadap Tuhan, padahal semestinya diarakan pada ketidakadilan fifik dan materi mereka, yang pada akhirnya agama adalah tempat pelarian kaum tertindas. 
Agama seperti halnya sebuah ideologi, merefleksikan sesuatu kebenaran namun terbalik. Karena orang-orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketertindasan mereka disiptakan oleh sistem kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama. Mark menjelaskan dirinya tidak menolak kehadiran agama, melainkan menolak suatu sistem yang mengandung ilusi-ilusi agama. 

  Tinjauan Religionum Terhadap Analisis Kritis Karl Marx Kepada Agama Yang Memperbudak
Roger Garaudy mempunyai kesimpulan induktif tentang adanya tiga kondisi dimana agama disebut candu dan factor pembius bagi individu dan masyarakat. Pertama, ketika orang beragama percaya bahwa arah menuju Tuhan menghendaki untuk lari dari problema-problema kehidupan dan konflik-konflik sejarah. Beragama dengan cara berpaling dari kondisi real masyarakat semacam ini tidak pernah bertanggungjawab terhadap kenyataan sejarah. Sikap mendiamkan suatu kemungkaran terjadi misalnya, berarti kita mengiyakan sesuatu terjadi.
Dengan hal semacam itu kita bisa melihat bahwa apabila iman kepada Tuhan tidak membawa iman kepada manusia, adalah iman pelarian, kesia-siaan dan opium. Berkaitan dengan hal ini Osman Raliby ketika memberikan ceramah di Universitas Indonesia tahun 1996 mengatakan bahwa Islam itu bukan agama tetapi “Din” yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan dan hasil dari hubungan tersebut adalah hubungan antara manusia dengan manusia atau dalam nahasa politiknya disebut demokrasi.
Kedua, agama menjadi candu masyarakat apabila manusia mencari Tuhan dalam keadaan lemah, bodoh dan goncang. Hal ini tampak pada dua tingkat yaitu ilmu pengetahuan dan tingkat aksi politik. Pada saat tertentu agama terkadang memberikan jawaban atas sesuatu yang tertinggal dari suatu ilmu pengetahuan, agama mencoba memangkas relatifisme ilmu pengetahuan yang tidak pernah bisa memberikan jawaban teologis yang final. 
Walaupun pada wilayah sejarah kelahiran konseptualnya, ideology dan metodologi berbeda saling bertentangan, meskipun kadang berbau politis antara Marxisme dan Islam, dalam dataran orientasi dan tujuan dari kedua sistem ini mempunyai ttik temu atau Kalimatun Sawah yaitu keduanya sama-sama ingin mengangkat martabat kemanusiaan, menolak ketidak adilan, semangat pembelaan terhadap kaum miskin dan tertindas serta seruan untuk melakukan advokasi kaum buruh agar tidak tereksploitasi secara terus-menerus. 
Kritik Marx adalah masyarakat tidak perlu dipaksa dari luar dirinya untuk bertindak sosial. Adanya negara yang memaksa dari luar dirinya malah membuktikan bahwa manusia terasing dari kesosialannya. Artinya, bahwa pembentukan sikap sosial itu tidaklah murni pada dirinya. Andaikata kesosialan itu berasal dari dirinya, tidak perlu adanya ancaman hukum dari luar dirinya. Ia pasti dengan sendirinya bersifat sosial, posistif pada yang lain. Jadi, masalah tidak selesai pada beberapa reformasi politik seperti pemberlakuan konstitusi untuk menjamin Hak Asasi Manusia; namun terlebih dulu yang diperlukan adalah emansipasi sebagai manusia.
Bagaimana emansipasi sebagai manusia ini dilaksanakan? Jawaban Marx akan pertanyaan ini adalah Revolusi yang sesungguhnya. Artinya bahwa revolusi total butuh unsur pasif dan dasar material. Tidak cukup bahwa pikiran mendesak ke pelaksanaan. Realitas harus mendesak ke arah pikiran [ICHR, MEW 1, 386]. Secara ringkas, dapat dikatakan Marx sadar bahwa kaum intelektual kurang otot. “mesiu tanpa senapan tidak akan bisa meledakkan. Senapan itu adalah kaum proletariat.” Proletariat dipahami sebagai kelas total karena tertindas secara total(atau dapat dikatakan mengalami dehumanisasi), yang bertentangan dengan struktur masyarakat yang ada tidak secara parsial, melainkan total  dan oleh sebab itu, apabila ia berevolusi, ia akan berevolusi total juga. Artinya akan membebaskan masyarakat dari kelas-kelas, akan membebaskan manusia sebagai manusia.
Kerjasama kaum intelektual dan proletariat dalam mewujudkan revolusi total adalah jalan terbaik untuk melaksanakan emansipasi sebagai manusia. Namun, permasalahnannya apakah kaum proletar sungguh dapat tertarik pada “mesiu” yang ditawarkan? Dalam perjalanannya, Marx mulai mencoba untuk mencari pendasaran teoritis serius terhadap keterasingan dasar yang dialami manusia sehingga pemikiran filosof itu sungguh dapat menarik proletariat untuk bersama-sama mewujudkan revolusi total/sosialis yang merupakan hasil niscaya dan objektif perkembangan sejarah.
Alasan Teologis Menerima Kritik Karl Marx
Beragama dengan cara berpaling dari kondisi real tidak pernah bertanggungjawab terhadap kenyataan sejarah. Sikap mendiamkan suatu kemungkaran terjadi misalnya, berarti kita mengiyakan sesuatu terjadi.
Dengan hal semacam itu kita bisa melihat bahwa apabila iman kepada TUhan tidak membawa iman kepada manusia, adalah iman pelarian, kesia-siaan dan opium. Berkaitan dengan hal ini Osman Raliby ketika memberikan ceramah di Universitas Indonesia tahun 1996 mengatakan bahwa Islam itu bukan agama tetapi “Din” yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan dan hasil dari hubungan tersebut adalah hubungan antara manusia dengan manusia atau dalam nahasa politiknya disebut demokrasi.
Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan lebih lanjut dalam konsep sistem kelas ini dalam konsep Marx, yaitu; 1) peranan structural sangat besar dibandingkan dengan segi kesadaran dan moral. Karena struktur masyarakat (struktur ekonomi) seperti itu, maka himbauan moral, kesadaran tidak ada artinya dan tidak mempan. Yang harus dirubah struktur ekonomi masyarakat sehingga kesadaran akan berubah dengan sendirinya.. 2) karena kepentingan kelas pemilik dan kelas buruh secara objektif bertentangan, mereka akan mengambil sikap yang bertentangan. Buruh akan revolusioner/progresif, cenderung ingin perubahan dan pemilik modal akan konservatif cenderung mempertahankan/status quo. 3) disinilah akhirnya kata Marx, tidak ada jalan lain kecuali revolusi, pendamaian antar kelas itu tidak akan mungkin, karena kepentingan serta kebutuhannya berbeda. Usaha pendamaian dua kelas ini hanya mengerem revolusi sementara dan melanggengkan kekuasaan "pemilik". 
Revolusi yang dicanangkan oleh Marx bukanlah revolusi dengan menggunakan kekerasan, karena Karl Marx dalam pemikiran yang dituangkannya tidak pernah menggunakan pemahaman kekerasan. Hanya saja memang kemudian penganut pahamnya yang menggunakan kekerrasan sehingga Karl Marx juga dipandang secara negatif. Hal ini sesuai dengan apa yang Yesus lakukan dengan menentang kelas-kelas yang ada dengan Yesus mau datang ke rumah orang yang dianggap berdosa. Demikian juga dengan Muhammad yang mau menerima orang “kafir” di dalam pemerintahannya tanpa membeda-bedakan. Mereka juga menerapkan sistem revolusi radikal yang tidak sesuai dengan pemahaman yang ada pada kebanyakan orang pada saat itu.

Implikasi Analisis Kritik Karl Marx Terhadap Agama-Agama
Reintropeksi internal agama
Yang dapat diambil sebagai sebuah ajakan nalar positif untuk reinstropeksi internal yang akan menjadi basis interaksi eksternal umat manusia yang beragama. Hal ini perlu digali secara terus-menerus sebab realitas sosial baik secara internasional atau local mengindikasikan gejala rezim moral mengatasnamakan agama untuk menghalalkan praktik perampasan nyawa manusia-terutama kasus Indonesia- yang sebenarnya hak Tuhan. Dari analisis Marx ini, diharapkan dapat memberikan alternative baru tentang bagaimana beragama yang benar.
Beragama Tanpa Kekerasan
Kekerasan atas nama agama adalah bukti bahwa telah terjadi  konstruksi dan memampatnya ideologi keagamaan yang masuk dalam diri pemeluk agama yang disertai dengan fanatisme sempit. Hal  itulah yang  meletupkan    kekerasan atas  nama  agama.  Kalau  demikian,  konstruksi  dan  tafsir  yang  seperti  apakah yang  dapat  memunculkan  wajah  agama  yang  lebih  ramah  dan  mendamaikan sebagaimana yang tertuang dalam teks obyektif agama-agama?
Ada  beberapa  hal  yang  bisa  dilakukan  untuk  meredakan  kekerasan agama,  yaitu:  Pertama,  Para  penganut  agama  harus  menghilangkan  rasa superioritas  agamanya.  Berbagai  kekerasan  agama  seringkali  muncul  karena penganut agama menganggap bahwa mereka adalah satu-satunya umat pilihan Tuhan.  Rasa  superioritas  ini  ternyata  juga  dimiliki  oleh  kelompok  lain  yang berbeda  agama  dan  punya  maksud  yang  sama  dengan  penganut  agama  itu. Sebab itu penghormatan kepada rasa superioritas orang terhadap agama harus ditempatkan pada posisi yang saling menghargai. Rasa beragama  pada masingmasing  orang  hendak  diposisikan  sebagai  sebuah  pengalaman  pribadi  dan memandang  bahwa  orang  lain  juga  memiliki  pengalaman  keagamaan  yang berbeda pula. Karena masing-masing orang punya pengalaman keagamaan yang berbeda,  maka  tidak  ada  tempat  lagi  bagi  orang  lain  untuk  memaksakan pengalaman keagamaannya kepada orang lain.
Kedua,  Penganut  agama  harus  berusaha  untuk  membuang  klaim  bahwa agamanya adalah agama yang paling benar. Pandangan ini bukan berarti bahwa seorang  penganut  agama  tidak  diperkenankan  untuk  menganggap  bahwa agamanya  benar,  tetapi  yang  dimaksudkan  adalah  perlu  ditumbuhkan kesadaran  bahwa  selain  kebenaran  agamanya,  orang  lain  juga  menganggap bahwa agamanya adalah yang paling benar. Dalam konteks ini, penganut agama harus  menyadari  bahwa  di  dunia  ini  sangat  banyak  klaim  kebenaran  yang mengatasnamakan  agama  dan  kepercayaan  masing-masing  orang.    Kesadaran ini  harus  muncul  dalam  setiap benak  orang  beragama,  karena  ketika  penganut agama sudah memiliki rasa seperti ini, maka ia akan menjadi orang yang sangattoleran dan tidak menjadi penganut agama yang rigid dan kaku.
Yang  Ketiga  dan  paling  penting  adalah  setiap  penganut  agama  harus melaksanakan  semua  ajaran  obyektif  yang  ada  dalam  agamanya.  Bila  agama dianggap  sebagai  sumber  bagi  kebenaran  dan  momot  kasih  sayang,  maka melaksanakan  fakta  obyektif  agama  itu  dalam  kehidupan  sehari-hari  dengan sendirinya menghindari kekerasan agama karena setiap orang punya kesadaran bahwa  kekerasan  bukanlah  budaya  agama  dan  bertentangan  dengan  nilai-nilai agama yang dianutnya.
Agama sebagai Sumber Makna bagi Kehidupan
Salah  satu  realitas  penting  yang  dirasakan  oleh  umat  manusia  dalam kehidupan  yang  serba  modern  ini  adalah  perasaan  tidak  adanya  patokan  nilai yang  bersifat  absolut  dan  universal  yang  dapat  menentramkan.  Hal  ini disebabkan karena setelah masa pencerahan di abad pertengahan nalar manusia menduduki  posisi  nomor  wahid  dan  terjadi  proses  penyingkiran  terhadap agama,  karena  itu  ukuran  kebenaran  bukan  lagi  merujuk  pada  nilai-nilai tradisional  agama,  akan  tetapi  merujuk  pada  ukuran  rasionalitas  manusia semata.  Maka  kemudian  nilai-nilai  itu  mengkristal  pada  paham  humanisme. Namun,  karena  rasionalitas  manusia  itu  memiliki  keterbatasan  dalam menemukan  apa  yang  dianggap  benar  dan  baik,  maka  nilai-nilai  itu  menjadi bersifat  relatif  dan  tentatif.   Apa  yang  dianggap  benar  dan  humanis,  ternyata kadang-kadang malah menjadi amunisi yang melindas nilai-nilai humanitas itu sendiri, terjadilah proses dehumanisme.
Munculnya humanisme dalam panggung sejarah ditandai dengan adanya renaissans,  yakni  kerinduan  akan  nilai-nilai  luhur  dari  Yunani  dan  Romawi. Lewat  corong  renaissans,  humanisme  mempromosikan  potensi  manusia melebihi batas-batas fitrahnya. Humanisme memfigurkan manusia sebagai titik pusat  alam  yang  bergerak  kearah  pengukuhan  manusia  sebagai  superman.
Manusia  yang  merasa  dirinya  unggul  karena  penemuan  sains  dan  teknologi lewat  otaknya  yang  brilian,  membuat  ia  makin  berambisi  untuk  menaklukan alam  sebagai  obyek  yang  harus  dimanfaatkan  semaksimal  mungkin  untuk kepentingan manusia. Akibatnya yang kita saksikan sekarang adalah kemarahan alam  yang  balik  memukul  manusia  dalam  bentuk  banjir,  kekeringan, pencemaran  lingkungan,  krisis  energi,  yang  sesungguhnya  adalah  akibat  ulah manusia itu sendiri dengan hasil penemuannya.Problem-problem yang muncul di permukaan kehidupan di atasi dengan berbagai  metode  pendekatan  yang  merupakan  hasil  rumusan  otak  manusia. 
Manusia berusaha berfikir positif dengan menggunakan logika yang jitu untuk menjawab  problem-problem  kehidupan.  Mengenai  problem  kematian,  rezki, nasib, yang dekat dengan batang nadi kehidupan, manusia justru tidak mampu menjawabnya secara positif dan kreatif. Alangkah naifnya manusia di bumi ini. Ia rumuskan jalan hidupnya lewat falsafah yang diciptakannya, tetapi justru ia terjebak dalam formulasi kehidupan itu sendiri. 
Tantangan yang sebenarnya pada abad modern ini ialah bahwa manusia dihadapkan  kepada  keadaan  disatu  pihak  ia  berhasil  memperoleh  kemajuan material  yang  luar  biasa,  berhasil  mengendalikan  kekuatan  alam  untuk kepentigannya  dan  membentuk  masyarakat  teknologi  dan  industri  yang  tiada taranya, tetapi di pihak lain manusia gagal menguasai nafsu dasar dirinya untuk membentuk  hubungan  antar  manusia  berdasarkan  rasa  cinta,  pengorbanan, saling  percaya,  kesalehan,  dan  pelayanan.  Lembaga  kekeluargaan  merosot, hubungan kemasyarakatan berada pada tingkat terendah, pemerasan di bidang perekonomian  menjadi-jadi,  dan  perebutan  di  bidang  politik  merupakan pemandangan  sehari-hari.  Ketegangan  kebudayaan  telah  memecahbelah manusia, ketidakadilan sosial telah menghancurkan jiwa kemanusiaan. Manusiaitu  sendiri  menjadi  sombong  karena  berhasil  menciptakan  dunia  baru,  tetapisesunguhnya  ia  malu  dan  kebingungan  karena  dunia  baru  itu  tidak  berhasil membuat  jiwanya  bahagia.  Ia  berhasil  mengendalikan  alam,  tetapi  gagal mengendalikan dirinya sendiri.
Secara  sederhana  A.M.Saifuddin  menggambarkan  bahwa  manusia modern  menampilkan wajahnya  dalam  tiga  dimensi,  yakni  kemanusian  yang tidak  bertuhan  (humanisme),  materi  yang  tidak  bertuhan  (materialisme),  dan perilaku  yang  tidak  bertuhan  (Atheisme). Akibatnya  adalah  manusia  menjadi merasa  terasing  ditengah  teknologi  hasil  ciptaannya  dan  kehilangan  maknadalam mencari arti kehidupan bagi dirinyan sendiri. Situasi seperti inilah yang digambarkan  oleh  Paul  Tillich  sebagai  situasi  meaninglessnees,  situasi ketakbermaknaan  dalam  kehidupan  manusia  modern.  Dan  usaha  untuk  bisa lolos  dari  kepungan  tiga  dimensi  sebagaimana  dikemukan  oleh  A.M.Saifuddin tersebut  adalah  manusia  harus  mencari  dan  kembali  ke  nilai  agamawi  sebagai Supreme morality untuk kehidupan. Gambaran  menarik  tentang  keterasingan  dan  usaha  untuk  mencari makna  kehidupan  yang  dilakukan  oleh  manusia  modern  adalah  sebagaimana dilukiskan oleh Najib Mahfudz, seorang pengarang Mesir, dalam sebuah cerita pendeknya  yang  berjudul  “Zabalawi”. Harus  diakui  bahwa  agama  ternyata  mampu memberikan  dan  menawarkan  sebuah  makna  yang  dapat  mengobati  dahaga ketakbermaknaan  manusia  modern.  Dalam  agama  diakui  adanya  satu  segi penting yang dikatagorikan sebagai  holisme, yakni keyakinan adanya kebenaran universal yang tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga kosmis yang dalam istilah teknis  disebut  dengan  The  Heart  of  Religion  yang  ada  dalam  setiap  agama.
Pencarian  makna  lewat  The  Heart  of  Religion  adalah  upaya  untuk  senantiasa mengaktualkan  agama  dalam  kehidupan  manusia.  Hal  inilah  barangkali  yang menyebabkan  mengapa  pembunuhan  terhadap  agama  oleh  manusia  modern selalu  gagal,  karena  setelah  agama  itu  disingkirkan,  beberapa  saat  kemudian manusia berusaha untuk merindukan dan menghadirkannya kembali. Dalam  khazanah  teori  ilmu-ilmu  sosial  modern,  agama  tidak  hanya sebagai  tempat  sumber  pencarian  makna,  akan  tetapi  agama  juga  sering dikaitkan dengan kepentingan integrasi. Pendapat ini dikemukakan oleh Emile Durkehim dalam  bukunya  The  Elementary  Forms  0f  The  Religious  Life  (1912), Durkheim  menemukan  hakikat  agama  pada  fungsinya  sebagai  sumber  dan pembentuk  solidaritas  mekanis.  Ia  berpendapat  bahwa  agama  adalah  suatu pranata  yang  dibutuhkan  oleh  masyarakat  untuk  mengikat  individu  menjadisuatu  kesatuan  melalui  pembentukan  sistem  kepercayaan  dan  ritus.  Lewat simbol-simbol  yang  sifatnya  suci,  agama  mengikat  orang-orang  ke  dalam berbagai  kelompok  masyarakat.
Di  tengah  arus  globalisasi  yang  salah  satu efeknya  adalah  membangkitkan  kesadaran  identitas  lokal  dan  meluasnya sentimen  etnisitas  maka  dunia  menjadi  semakin  terpolarisasi  dalam  berbagai kelompok  yang  sangat  sukar  terintegrasi.  Jika  benar  tesis  Durkheim  tersebut bahwa agama sebagai faktor perekat integrasi, maka peran agama dalam kondisi sekarang ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Sekali lagi ini adalah bukti  bahwa keberadaan agama memang tidak bisa disingkirkan begitu saja.
Bagi Durkheim agama merupakan realitas sui generis, artinya representasi atau  simbol-simbol  agama  bukanlah  khayalan  (delusion),  juga  bukan  sekedarmengacu  kepada  fenomena  lain,  seperti  kekuatan  alam.  Representasi  agama bersifat  konstitutif  bagi  masyarakat.  Representasi  agama  ada  dalam  pikiran individu-individu  sehingga  menanamkan  dorongan-dorongan  egosentris  dan mendisiplinkan  individu, sehingga ia bisa berhadapan dengan realitas eksternal . Representasi  agama  itulah,  dengan  kemampuannya  dapat  mengarahkan  dan mengendalikan motivasi pribadi, yang membuat masyarakat mungkin terwujud. Ia  benar-benar  memperlihatkan  dengan  sangat  jelas  arti  penting  dari  tindakan religius  untuk  merangsang  individu  agar  berpartisipasi  secara  positif  dalamkehidupan  sosial,  dan  untuk  menghadapi  kecenderungan-kecenderungan individu untuk lari dari kehidupan sosial.
 Analisa Penyeminar
Dalam persoalan agama, Karl Marx sebenarnya tidak tertarik untuk lebih rinci membicarakan soal ini, sebab baginya agama tidak lebih dari sekedar suplemen kecil dalam kehidupan manusia yang dalam waktu dekat akan hilang dengan sendirinya. Seperti juga ramalan Karl Marx tentang keruntuhan kapitalisme dan lenyapnya Negara, prediksi bagi kematian agama juga tidak menjadi kenyataan. Dapat kita lihat sebenarnya Marx hanya sebatas kajian obyektif bahwa agama diartikan sebatas fenomena sosial dalam arti seluruh analisa tersebut bertumpu pada dasar-dasar sosiologi semata. Ia tidak pernah membaca agama sebagai gejala psikologis, tidak pernah disinggung bahwa agama merupakan bagian dari getaran-getaran nurani seseorang dalam merespons persoalan kenyataan. Marx kurang melihat bahwa ternyata agama juga memiliki sifat membebaskan, hanya saja memang dalam praktek yang terjadi kebanyakan umat beragama memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi. Kritik karl Marx ini akan menjadi cambuk tersendiri bagi umat beragama dan kritik yang positif agar memang setiap penganut agama melaksanakan pembebasan di masyarakat.
Kesimpulan
Karl Marx melihat bahwa keterasingan ke dalam agama itu hanyalah akibat yang ditimbulkan oleh keterasingan yang terjadi pada masyarakat. Keterasingan yang terjadi pada masyarakat itu adalah keterasingan manusia pada pekerjaannya sehingga ia merasa terasing pada dirinya dan orang lain juga. Marx memahami bahwa keterasingan manusia yang sudah dipikirkannya itu diproduksi dalam pekerjaan di bawah sistem ekonomi kapitalis. Dengan itu manusia tidak berusaha menjadi dirinya sendiri, merealisasikan hakekatnya, malah secara pasif mengharapkan berkah darinya. Dengan demikian agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri. Dengan agama apa yang sebenarnya merupakan potensi yang perlu direalisasikan manusia justru hilang, karena manusia tidak mengusahakannya, melainkan mengharapkan datang "dari sana". Ini menjadi kritik bagi agama untuk lebih melakukan praktik agama yang membebaskan masyarakat
Daftar Pustaka
Pals Daniel  L.,  Dekonstruksi  Kebenaran-Kritik  Tujuh  Teori  Agama,  Yogyakarta:  IRCiSoD, 2001
Fukuyama Francis  ,  The  End of.  Histrory  and  The  Last  Man,  London:  Hamish  Hamilton, 1992
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002
Sitompul Einer M., Agama-agama, Kekerasan dan Perdamaian, Jakarta: Bidang Marturia PGI,2005
Narsih Haerdar, Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1999
Subandrijo Bambang, Agama dalam Praksis, Jakarta: BPK-GM,2002
Hendropuspito D., Sosiologi Agama, Jakarta: BPK-GM,2002
Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999
Hardiman, F.Budi, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004
Magnis-Suseno. Franz, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2006
Onghokham, Pluralisme Agama Dalam Perspektif Sejarah, Termuat dalam dialog: Kritik dan Identitas Agama, Yogyakarta: Dian Interfidei, 1993
Suseno Frans Magnis, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta: Kanisius, 1992
Didden Anthony, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern; Suatu analisis karya-karya Marx, Durkheim dan Max Weber, Jakarta: UI Press, 1986
Suseno Franz Magnis-, “Pemikiran Karl Marx”, Gramedia, Jakarta, 1999
Weger, Der Mensch vor dem Anspruch Gottes, Glaubensbeggrundung,, 1981
Marx, "Introduction to Critigur of Hegel's philosophy of Right ", 1884
al-Mayli Muhsin, Pergulatan Mencari Islam; Perjalanan religius Roger Garaudy, Jakarta: Paramadina, 1996
aifuddinA.M. S, Desekulerisasi Pemikiran, Bandung: Mizan, 1990
Saifuddin A.M., Ada Hari Esok – Refleksi Sosial, Ekonomi dan Politik untuk Indonesia Emas, Jakarta: Amanah Putra Nusantara, 1995
Sunardi,  Saya  Harus  Menemukan  Zabalawi,  dalam  Basis,  Nomor  07-08 tahun Ke-50 Juli-Agustus 2001
Rachman Budhi Munawar, Islam Pluralis, Jakarta: Paramadina, 2001
Durkheim Emile,  The Elementary Forms of The Religious Life,  New York:  The Free Press, 1969

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 28. Makna Panggilan Abraham Menurut Agama Yahudi

I. Latar Belakang Masalah  Pemanggilan Abram itu akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dan berkat yang dimadsud ialah berkat yang berasal dari Abram dan barangsiapa yang menyembah Allah Abram. Semua umat manusia akan menyembah Allah Abram, tapi permasalahan apakah berkat itu hanya tercurah hanya kepada Israel dan keturunannya saja, ataukah kepada semua kaum di bumi. Abram adalah permulaan pengenalan akan Allah Yang Esa, setelah berbagai kesalahan yang telah dibuat manusia oleh dosa. Abram selain disebut bapa orang percaya, ia juga disebut sahabat Allah.  Ada kalanya Allah telah memberkati orang-orangNya, sehingga hal menimbulkan kesal dan iri hati bagi pihak yang tidak terberkati. Mungkinkah Ia memihak dan bertindak berat sebelah? Sungguhpun Allah dapat memberi berkat menurut kesukaanNya, meski seorangpun tidak ada yang berhak, tetapi justru berkat itu dilimpahkannya segala yang hidup, termasuk juga yang tidak dipilihNya. Bukan hanya Ishak dan Yakub dan Efraim mendapat berka...

Materi 3. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru

Mencermati Arti dan Makna “Persaudaraan” (Brotherhood/Sisterhood) dalam Gereja Mula-mula serta Refleksinya dalam Gereja dan Masyarakat Masa Kini I.                     Latar Belakang Masalah Suatu nyanyian yang sering kita dengar adalah “Dalam Yesus kita bersaudara”, yang mempersatukan mereka ialah kasih. Gereja masa kini banyak tidak mempraktekkan lagi arti kata adelpos itu sebagai wujud persaudaraan antara satu dengan yang lain, ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman modernisasi, cara pandang yang globalisasi, maka Kekristenan menanggapi tantangan-tantangan budaya global. Konsepsi Familia Dei atau Persaudaraan, dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkot...

Materi 2. Etika Kristen mengenai pendirian tugu

Tinjauan Etika Kristen tentang menghormati Orang tua menurut Hukum ke V dihubungkan dengan Pendirian Tugu dalam adat kebudayaan Batak I.      Latar Belakang Masalah Kali ini kita akan membahas tentang konteks tanah atau daerah Batak, begitu banyak tugu-tugu atau makam yang begitu megah dan indah di tanah Batak, seringkali penyeminar melihat itu didaerah Toba Samosir yang menjadi mayoritas masyarakat yang mempraktikkan hal itu, sedangkan rumah-rumah nya sangat sederhana. Bangunan tugu-tugu mengalahkan rumah-rumah masyarakat Batak yang sangat sederhana. Jaminan berkat dan kutuk itu dipercayai dari nenek moyang nya dahulu. Dan juga banyak motivasi salah menghormati orang tua yang sudah mati dengan berlandaskan hormat pada orang tua yang sudah mati berdasarkan hukum taurat ke lima dan penugasan Yakub kepada Yusuf tentang mayat yang harus dibawa dari Mesir. Di kuburkan   bersama-sama leluhur, amanat orang tua harus dikubur dengan satu keluarga, Konteks suku Bat...