Penulis : Boi Togarma Sihombing
Pendahuluan
Allah dalam karya penciptaan telah menciptakan segala sesuatunya dengan baik. Walaupun begitu Allah tidak pernah diam dan hanya melihat ciptaanNya itu, melainkan Allah selalu hadir untuk memperhatikan dan memelihara seluruh ciptaanNya itu. Allah dalam pemeliharaanNya memperkenalkan diri dengan namaNya dan menyatakan diri dengan tindakanNya. Jadi, Allah tidak boleh kita pahami dengan pemahaman metafisik belaka, karena jika demikian makna nama Allah yang terkandung dalam perkenalanNya akan hilang. Padahal nama Allah yang memperkenalkan diriNya sendiri kepada umatNya Israel mempunyai makna yang luas untuk menjawab semua kerinduan manusia tentang sesuatu yang tidak di jangkau selama ini.
Sering timbul pertanyaan Apakah Allah dalam perkenalanNya mempunyai nama? Dan bagaimana pemahaman saat ini tentang nama Allah yang berbeda-beda? Apakah itu akan menghilangkan makna nama Allah tersebut? Melalui sajian ini, penyaji akan mencoba menjawab permasalahan di tersebut.
Untuk lebih mudah memahami isi sajian ini, penyaji membuat sistematika penulisan sebagai berikut:
I. Pendahuluan
II. Nama Allah
2.1. Nama Allah yang Metafisik
2.2. Nama Allah dalam PerkenalanNya
III. Tinjauan Teologis dan Dogmatis tentang Nama Allah
3. 1. Nama Allah adalah DiriNya Sendiri
3. 2. Makna dan Janji yang terkandung dalam Nama Allah
IV. Nama Allah bagi Kehidupan Kristen saat ini: Kontroversi atau Multiversi
Kesimpulan
Daftar Pustaka
Nama Allah
Dalam memahami nama Allah, ada dua cara pandang yang menjadi dasar untuk memahaminya yaitu; dari bawah ke atas (yaitu memahami Allah secara metafisik) dan dari atas ke bawah (Allah yang memperkenalkan diri).
2. 1. Nama Allah yang Metafisik
Teologi tradisional memahami bahwa Allah itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dijangkau pikiran manusia. Hal ini sama dengan pemahaman filsafat yang mengatakan bahwa Allah merupakan peng-ada dari yang tidak ada. Pemahaman tentang Allah secara naturalis merupakan usaha manusia untuk mengenal Allah. J.Gerhard membedakan pengenalan yang alamiah (notitia Dei naturalis) dan pengenalan Allah yang dinyatakan (notitia Dei revelata) yang berdasarkan Alkitab. Mengenai pengenalan Allah yang alamiah diperlihatkan pula dua sumber yang berbeda. Di satu pihak pengenalan Allah yang kodrati muncul dari hati nurani dan di anggap sebagai milik manusia sejak lahir atau tertanam dalam dirinya. Di pihak lain pengenalan Allah yang kodrati berasal dari karya-karya penciptaan Allah dan dianggap dapat diperoleh manusia sendiri.
Pemahaman tentang Allah secara tradisional adalah menyangkut pembuktian-pembuktian. Pokok-pokok yang paling penting dari bukti-bukti Allah yang tradisional adalah:
Bukti Allah yang Kosmologis; ada penggerak pertama (kinetis), ada sebab pertama yang tidak disebabkan lagi (kausal), yang dapat memberi keberadaan kepada semua yang tidak perlu ada (kontingen).
Bukti Allah yang henologis; adanya tangga-tangga keberadaan dimana keberadaan itu semakin padat, dari tangga-tangga itu adanya suatu maksimum keberadaan.
Bukti Allah yang teleologis; adanya satu penyusun transduniawi yang akan membawa dunia ke tujuanya.
Bukti Allah yang moral; pengenalan Allah yang tertanam di dalam hati nurani manusia, sebagaimana tercermin dalam undang-undang moral.
Bukti Allah yang etnologis; Allah dibuktikan dari keyakinan semua bangsa akan adanya Allah.
Bukti Allah yang eudemologis; kerinduan manusia akan kebahagiaan.
Bukti Allah yang ontologis; eksistensi Allah disimpulkan dari istilah Allah itu sendiri.
2. 2. Nama Allah dalam perkenalanNya
Allah yang memperkenalkan diri dan mengikat perjanjianNya dengan bangsa Israel merupakan Allah yang mempunyai nama. Allah adalah kudus dan kekudusan itu adalah sentral dari pemberitaan perjanjian Sinai dan merupakan sentral pemberitaan tentang Allah. Keseluruhan ibadah Israel pada zaman Bapa-bapa leluhur hingga Nabi-nabi, menekankan ibadat yang eksklusif kepada Allah yang satu-satuNya yaitu YHWH.
Pada Keluaran 3: 13-15, Musa bertanya kepada Tuhan Allah, bagaimana Ia harus menjawab seandainya orang Israel menanyakan siapa yang mengutusnya. Hal ini disebabkan karena mungkin Israel sudah tidak dapat membeda-bedakan lagi siapa Allahnya dan siapa para dewa orang Mesir. Tuhan Allah menjawab, bahwa namaNya adalah: “AKU ADALAH AKU” (Kel. 3: 14). Itulah Nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah Sebutan-Ku turun temurun (Kel. 3: 15, bnd. Zak. 14: 9). Aku Adalah Aku dalam bahasa aslinya berbunyi: Ehyeh asyer Ehyeh. Kata Ehyeh berarti Aku berada berasal dari kata hyh, yang menurut para ahli mewujudkan rangkuman dari kata-kata: berada, menjadi dan bekerja. Yang harus kita perhatikan ialah, bahwa disini Tuhan diungkapkan dengan bentuk-bentuk kata kerja, kata yang hidup, bukan dengan kata-nama-benda, kata yang mati. Hal ini menunjukkan bahwa dengan demikian Allah bagi Israel bukanlah Allah yang tidak bergerak, melainkan Allah yang hidup, yang bekerja, yang penuh dinamika. Oleh karena itu menurut beberapa ahli, secara bebas ungkapan ini dapat diterjemahkan dengan: “Aku akan hadir, berbuat, atau Aku akan hadir dengan berbuat. Kehadiran Allah bagi Israel bukanlah seperti kehadiran barang mati, melainkan suatu kehadiran dalam perbuatanNya. Israel akan mengenal Allah dari perbuatan-perbuatan atau karya Allah yang ditujukan kepada kepentingan Israel.
Allah hanya dapat dikenal melalui perantaraan dan perbuatan Allah sendiri. Allah dalam perkenalanNya telah membuat perjanjian dengan Abraham dan juga keturunanya. Sunat Abraham merupakan tanda manusiawi dan materai janji Abraham dengan Allah. Walaupun keturunan Abraham mengingkari janji namun, Allah tidak pernah mengingkari janjiNya. Allah senantiasa memelihara perjanjianNya sekalipun Israel mengingkarinya.
Allah selalu menyatakan diri kepada umatNya Israel dengan perjumpaan yang selalu baru. Pernyataan yang selalu baru yaitu melalui perjanjianNya dan kemudian melalui kedatangan Yesus Kristus; dan oleh Roh Kudus. Allah itu adalah Roh yang Berpribadi, yang hidup, yang berfirman dan yang bertindak. Dalam setiap penyataan diriNya, Allah selalu datang secara baru dalam anugerah dan hukum-hukumNya. Allah yang menyatakan diriNya kepada Israel adalah Allah yang mencipta, memelihara, yang hidup dan Allah yang selalu bertindak untuk umatNya.
Tinjauan Teologis-Dogmatis tentang Nama Allah
3. 1. Nama Allah adalah DiriNya Sendiri
Abraham, Ishak dan Yakub mengenal Allah melalui namaNya: Adonay (Kej. 15: 7; 26: 24-25), mereka mengenal bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu. Dialah yang mengendalikan dan mengatur semua ciptaanNya. Beberapa ratus tahun kemudian, ketika Allah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, umat Allah memberikan pemahaman yang lengkap tentang Adonay. Adonay menjadi Allah mereka sesuai dengan perjanjian yang di buatNya dengan Abraham. Pelepasan dari perbudakan Mesir merupakan bentuk nyata janji itu (Kej. 15: 18; Kel. 2: 24; 3: 16; Kel. 6: 6). Dengan pelepasan itu membuat Allah dikenal sebagai penebus dan penyelamat. Disamping perkenalan Allah melalui nama Yahweh, Perjanjian Lama juga sering menyebut Allah dengan sebutan lain, seperti; El, Eloah, Elohim dan Adonay*. El sering dihubungkan kepada istilah lain yang membentuk gambaran, seperti El-Elyon (Allah yang tinggi) dan El-Shaddai (Allah Yang Maha Kuasa).
Allah dalam pemilihanNya memiliki maksud dan tujuan tertentu. Allah memilih mereka sesuai dengan perkenan-Nya sendiri. Alasan Allah untuk memilih bangsa Israel terletak dalam pengasihanNya yang bebas, yaitu pengasihan yang tidak beralaskan keadaan atau sikap orang-orang yang dipilih, melainkan semata-mata berpangkal pada kehendak dan rencanaNya. Allah memilih mereka tanpa mengesampingkan orang-orang diluar mereka yang tidak terpilih, karena pada dasarnya kasih karunia Allah juga akan dilimpahkan atas mereka. Allah yang kita kenal dalam perkenalanNya merupakan Allah yang dekat dan mempunyai hubungan dengan manusia dalam perjanjian dan karya penyelamatanNya. Sedangkan bagi penganut teologi naturalis/tradisional dan agama-agama lain Allah mereka tidak bisa dikenal secara dekat. Manusia tidak dapat membangun hubungan yang intim dengan Allah, Ia terlalu jauh, abstrak dan tak terjangkau.
Perkenalan Allah dengan namaNya kepada bangsa Israel memberi pemahaman bahwa Allah adalah Allah yang bebas untuk mengubahkan dunia. KedatanganNya merupakan kebebasanNya. Allah berjalan didalam dan bersama-sama Israel (Hab. 3: 3), Yes. 56: 1, 60: 1), Allah juga datang kepada bangsa-bangsa (Yes. 59: 19, 40: 3, Mal. 1: 11, 14). Dalam namaNya Allah berfirman dan bertindak di dalam umatNya Israel, Dia memberi diriNya untuk dikenal dan membuka diriNya kepada seruan orang-orang pilihanNya. Allah datang kepada manusia, ketika Dia menyapa, memanggil, mengambil dan membawa mereka dengan firmanNya yang mengubah hubungan-hubungan dengan janjiNya kepada masa depan yang dibukaNya sendiri. Nama Allah adalah janji kebebasan.
Gambaran Allah yang demikian dimaksudkan untuk menekankan bahwa Allah yang kita kenal bukanlah sekedar suatu prinsip kosmis semata-mata, yang impersonal, dan acuh tak acuh. Melainkan, suatu pribadi yang hidup, yang berpikir, memiliki perasaan, aktif, menyetujui tindakan yang baik sesuai hukum-hukumNya, dan mencela tindakan yang jahat. Dan menaruh perhatian terhadap ciptaanNya sepanjang waktu. Dengan demikian menjadi jelas bahwa Allah itu adalah yang bertindak dalam kebebasanNya.
3. 2. Makna dan Janji yang terkandung dalam Nama Allah
Banyak makna yang terkandung dalam perkenalan diri Allah melalui namaNya kepada umatNya Israel. Allah Israel adalah Allah yang setia kepada janji yang diikatNya kepada umat pilihanNya. Dalam perjanjianNya dengan Abraham, Allah telah berjanji memberi negeri yang akan menjadi tanah pusakanya, Allah akan menjadikanya sebagai bangsa yang besar, dan olehnya semua kaum dimuka bumi ini akan mendapat berkat (Kej. 12: 1-3). Tuhan Allah akan menyelamatkan segala kaum di muka bumi dengan perantaraan Abraham dan keturunanya. Melalui hal janji ini menjadi nyata bahwa Allah yang mengikat janji dengan Abraham adalah Allah yang menyelamatkan dan membebaskan.
Perjanjian Allah dengan bangsa Israel di Sinai merupakan lanjutan dari perjanjian Allah yang didirikan dengan Abraham nenek moyang Israel. Hal ini berarti, bahwa dengan perjanjianNya di Sinai Tuhan Allah telah memenuhi sebagian dari janjiNya kepada Abraham. Sebab Allah telah menjadikan Israel sebagai bangsa yang besar, dan sekarang bangsa itu sedang menuju ke tanah pusakanya. Selanjutnya dengan perjanjian di Sinai itu Allah juga bermaksud hendak merealisasikan janjiNya akan keselamatan umat manusia dengan perantaraan Israel. Dan dalam perjanjian Sinai, Allah menekankan yaitu bahwa jikalau Israel sudah menerima berkat perjanjian, Israel harus berbakti kepada Tuhan sesuai menurut aturan-aturan yang diberikan. Dengan demikian bahaya mencemarkan perjanjian dapat dihindarkan.
Pengakuan Trinitas mengungkapkan bahwa Allah menjumpai kita dalam penyataanNya. Allah yang kekal yang kita ketahui berada diatas kita, tampak hidup didalam Yesus Kristus di antara kita sekaligus mengerjakan pengenalan dari kehadiranNya di dalam kita. Bukanlah melalui penciptaan manusia dan penciptaan jemaat Kristen muncul mitra kasih Allah, melainkan umat manusia dan jemaat masuk ke dalam suatu persekutuan kasih dalam Allah yang kekal dan telah ada. Kasih yang di dalam Trinitas Allah sendiri adalah syarat kasihNya terhadap kita. Hanya karena Allah adalah kasih maka Dia berbuat kasih. Kasih itu adalah hakikatNya sendiri, bukanlah sesuatu yang ditambahkan pada hakikatNya. Oleh karena itu Allah bekerja di dalam Yesus untuk menyatakan kasihNya itu dan memberikan pertolongan melalui Roh KudusNya. Perkenalan nama Allah tersebut menjadi jelas bahwa Allah yang kita kenal adalah Allah yang bebas, Allah yang bertindak dan memelihara. Perkenalan nama Allah telah mencakup pembebasan dan penyelamatan seluruh umat manusia.
Pernyataan nama Allah dalam perjanjianNya dengan Israel telah membuka lembaran baru dalam sejarah. Pernyataan nama Allah tersebut kepada bangsa Israel dalam perjanjianNya mempunyai arti, yaitu;
Keterbukaan akan masa depan
Kuasa dan kemuliaan Allah, Allah memberi kesempatan untuk mengalami kuasa dan kemuliaanNya.
Keberadaan bersama dan kehadiran untuk umatNya Israel
Keterbukaan dan kesiapan mengikat diriNya kepada Israel, keterbukaan yang mencakup kepenuhan keselamatan dan pertolongan bagi setiap orang yang memuliakan namaNya.
Nama Allah bagi Kehidupan Kristen saat ini: Kontroversi atau Multiversi
Kontroversi penyebutan nama Allah ini, lahir dari sikap dan pemahaman yang berbeda-beda terhadap isi dan makna otoritas Alkitab. Alkitab dipahami dan diimani sebagai firman Tuhan. Keyakinan itu sudah turun-temurun diwarisi, kemudian dihayati oleh setiap generasi beriman. Namun Alkitab bukanlah dalam bentuk sudah tercetak ketika diturunkan dan diberikan kepada umat Yahudi atau kepada Gereja. Alkitab memiliki proses penulisan yang sangat panjang. Oleh karena itu Alkitab sebenarnya adalah kumpulan dari beberapa buku atau tulisan, yang ditulis pada masa situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Dengan melihat kurun waktu yang panjang itu, maka untuk memahami Alkitab dengan baik dan secara benar harus pula mempertimbangkan sejarah penulisan, konteks kehidupan dan berbagai kondisi yang ada pada masa penulis Alkitab itu sendiri. Allah telah memperkenalkan namaNya kepada umat pilihanNya (Israel-Yahudi), dan umat Kristenpun memiliki dan mengenal nama Allah tersebut melalui Yesus Kristus (Yoh. 14: 6). Melalui Kristus umat Kristiani menjadi bagian dari umat pilihan dan masuk dalam janji-janji Allah dan memanggil Allah dengan namaNya.
Akhir-akhir ini ada suatu organisasi yang menamakan dirinya Bet Yesua Hamaisah (BYH) menerbitkan Kitab suci 2000 (KS 2000) oleh Eliezer (Suradi) ben Abraham. Dalam sampul KS 2000 ditulis Kitab Suci Torat dan Injil padahal isinya mencakup PL dan PB selengkapnya. KS 2000 nyaris mengutip seluruh terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia-Terjemahan Baru (LAI-TB), dengan perubahan kecil yaitu dihilangkanya judul-judul perikop dan beberapa nama diganti dengan bahasa Ibrani terutama nama Allah diganti dengan Eloim. Nama TUHAN ( dalam PL) diganti dengan Yahwe, sebagian nama Tuhan dalam PB diganti dengan Yahwe, dan Yesus Kristus diganti dengan Yesua Hamasiah, demikian juga dengan beberapa nama orang lainya. Kelompok ini juga membuat beberapa argumentasi yang keliru, misalnya menyebut Ismael bukan keturunan Abraham. Bet Yesua Hamaisah bukan hanya memperlihatkan keperkasaan bahasa Ibrani terhadap bahasa-bahasa lain, tetapi juga menunjukkan kesuperioran suku bangsa Ibrani terhadap suku-suku lain.
Sama halnya dengan organisasi Bet Yesua Hamaisah, aliran Saksi Yehova juga menolak diterjemahkanya nama Allah dari bahasa aslinya. Aliran ini juga mengatakan bahwa Allah Bapa dan Yesus Kristus adalah dua pribadi dan Roh yang secara hakiki berbeda dan terpisah satu sama lain. Saksi Yehova ini pada mulanya merupakan aliran yang dilarang di Indonesia yaitu dengan dikeluarkanya SK Jaksa Agung RI No. Kep. 129/JA/12/1976 tanggal 7 Desember 1976. Aliran ini dinilai oleh pemerintah dan bersama pimpinan organisasi agama atau gereja-gereja resmi telah menyebarluaskan ajaran sesat yang menimbulkan keresahan dan gangguan dalam masyarakat dan bisa merusak kehidupan keberagamaan di Indonesia. Namun, pada masa pemerintahan Presiden K. H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) aliran ini menjadi diterima sebagai denominasi gereja yang sah di Indonesia. Walaupun begitu hingga saat ini semua gereja yang selama ini menolak tidak lagi berusaha menentang keputusan pemerintah tanpa alasan yang jelas.
Permasalahan saat ini adalah, apakah orang Kristen yang menyebut nama Yahweh dengan God, Lord, Allah, Tuhan, Debata, dsb adalah salah? Padahal Yesus sendiri tidak memakai nama Yahweh atau Elohim. Yesus juga tidak pernah memanggil Yahweh, sekalipun dalam keadaan Kritis atau dalam pengajaranNya. Ketika Yesus mengajar muridNya untuk berdoa mengatakan Bapak kami yang di sorga(Mat. 6: 9-19), maka Bahasa yang dipakai adalah Bapak (Rabuni) atau dalam kesempatan lain Ia sebut Abba. Sebenarnya sebutan Bapak adalah sebutan simbolis. Dilihat dari skopus dan isi ayat ini, dapat dipastikan bahwa yang dituju sebutan Bapak itu adalah Yahweh sendiri. Dengan demikian begitu sederhananya ungkapan itu dapat dipahami. Sebab yang terpenting dari penyebutan nama bukanlah penyebutan huruf-huruf belaka, melainkan siapa yang dimaksud dengan nama itu sendiri. [Yang jelas nama itu harus kita pahami dalam diri Yesus Kristus dan peneguhan Roh Kudus, dengan demikian kita tidak akan salah dalam memahami nama Allah yang sesungguhnya].
Apakah yang dimaksud dengan Theos, Kurios, Allah dan Tuhan itu sama dengan Yahweh? Karena Theos, Kurios, Allah dan Tuhan adalah terjemahan, maka arti, maksud dan maknanya tergantung sipemakai bahasa itu. Kalau orang Kristen menyebut Yahweh dengan nama Allah, maka tanyakanlah kepada siapa yang dia maksud dengan nama itu. Karena Allah selalu memakai bahasa manusia sebagai media Dirinya (bnd. Kis. 2: 5-13) yang dikenal dan dipakai manusia. Kitapun yakin ketika kita berdoa, berseru kepadaNya dengan menyebut Yahweh, El, Elohim, Theos, Kurios, Allah, Tuhan, Debata, Naibata, Lolowangi, dan lain-lain, Ia akan mendengar doa kita. Sebab Ia tahu kepada siapa kita berbicara. Ia juga tahu apa isi hati kita. Bahkan andai kata kita tidak mampu mengucapkan namaNya, tetapi isi hati kita hendak berbicara padaNya, maka Roh Kudus akan menolong kita (Rom. 8: 26).
Oleh karena itu apapun sebutan yang kita ucapkan baik itu Allah, Lord, God, Tuhan, Debata, Naibata, Lolowangi, Bapa, Amang, dsb asalkan maksud kita adalah Yahweh (Allah yang menyatakan diriNya kepada bangsa Israel) hal itu tidaklah menjadi masalah. Namun dalam hal ini sebutan untuk nama Allah harus kita pahami dalam diri Yesus Kristus melalui bimbingan Roh kudus. Kalau tidak demikian bisa saja pemahaman kita akan nama Allah menjadi salah, karena pada dasarnya setiap nama sesembahan suku-suku bangsa adalah Allah yang mereka pahami secara metafisik. Dengan demikian Allah itu bukanlah Allah yang mengekang kehidupan orang percaya melainkan Allah yang membebaskan dan memelihara.
Kesimpulan
Allah yang menyatakan diri kepada bangsa Israel adalah Allah yang mencipta, memelihara, dan Allah yang setia kepada janjiNya. Allah Israel (YHWH) merupakan Allah yang memperkenalkan diriNya dengan namaNya dan menyatakan diri dalam tindakanNya. Dalam tindakan pembebasan Allah, Ia datang sendiri kepada manusia untuk membebaskan dan menyelamatkan umatNya melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu pertentangan tentang nama Allah selama ini tidaklah beralasan jika Allah yang yang kita maksud adalah Allah yang memperkenalkan diriNya kepada Israel, dan melihat sebutan untuk nama-nama Allah itu dalam diri Yesus Kristus. Sebab, Allah sendiri menggunakan bahasa manusia sebagai media untuk memperkenalkan diriNya. Dengan pemahaman seperti ini menjadi jelas bahwa Allah itu adalah Allah yang membebaskan dan bukan Allah yang mengekang kehidupan orang percaya.
Daftar Pustaka
Sumber Utama
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ALKITAB, Jakarta 2007.
Sumber Pendukung
Aritonang, Jan. S.
1995 Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia)
Barth,Christoph
2006 Teologia Perjanjian Lama I, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia)
Becker, Dieter
2001 Pedoman Dogmatika: Suatu kompendium singkat, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia)
Botterweck, G. Johannes and Ringgren, Helmer (ed)
1974 Theological Dictionary of the Old Testament, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing)
Clarke, Andrew D. & Winter, Bruce W. (Peny)
1995 Satu Allah Satu Tuhan, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia)
Hadijiwono, Harun
1995 Iman Kristen. (Jakarta: BPK-Gunung Mulia)
Herlianto
2002 Siapakah yamg bernama Allah itu?, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia)
Lumbantobing, Darwin
2007 Teologi di Pasar Bebas, (Pematangsiantar: L-SAPA STT HKBP)
Niftrik, G.C. van & Boland,B.J.
2005 Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia)
Packer, J. I.
Mengenal Allah Knowing God ( terj), (Yogyakarta: Yayasan ANDI)
Satyabudi,I. J
2004 Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press)
Sproul, R.C
2002 Sifat Allah: Mencari dan Menemukan Allah, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia)
Komentar
Posting Komentar