Langsung ke konten utama

Materi 26. Persahabatan Menurut Perjanjian Lama

I. Latar Belakang Masalah
Setelah manusia Jatuh ke dalam dosa Manusia selalu membuat kejahatan, namun sekalipun Allah kecewa atas kejahatan manusia, Ia tetap memberkatinya. Gambaran Allah tetap menandai manusia, bahkan diteruskan turun-temurun (Kej 5:1-3). Hawa digelari “ Ibu semua yang hidup” sekalipun keibuan disertai dengan penderitaan lahir batin. Ibu, yang pada awalnya menolak tanggungjawab atas dosanya, diserahi tanggungjawab atas anak-anaknya dengan segala suka dan dukanya dan ia belajar memelihara mereka. Anak pertama Adam dan Hawa diberi nama “Kuperoleh laki-laki” dengan bantuan Tuhan (yakni Kain) dan dialah yang membunuh adik serta menyebabkan susah hati pada ibu-bapanya. Sekalipun hubungan antara laki-laki dan perempuan terganggu akibat saling mempersalahkan dan saling mencurigai ia tetap berkembang dengan kegirangan dan kepahitan hati. Sekalipun berduri, ladang tetap memberi hasil yang cukup untuk menunjang hidup asalkan dilayani, diusahakan dan dipelihara sedemikian rupa sehingga dapat diwariskan kepada angkatan berikut dalam keadaan subur (Kej 2:15). Sekalipun manusia diusir dari kebun nikmat, Allah melengkapi mereka dengan pakaian yang tepat untuk dunia yang keras itu. Bahkan manusia yang memasuki jalan buntu dosa dan berselisih terus-menerus dihindarkan untuk megambil buah pohon kehidupan agar pertengkaran dapat berhenti. Dengan turun melihat menara Babel, Allah menyerahkan manusia ke seluruh muka bumi agar mereka mengembangkan bahasa dan budayanya masing-masing dan dapat bersuka hati karena karyanya. Sesungguhnya, Allah prihatin terhadap manusia berdosa. Setiap hukuman selalu disertai berkat terselubung.
Kasih Allah diperlihatkan lagi melalui puncak penderitaan Allah dalam membela dan menanggung seluruh dosa dan kejahatan manusia adalah dalam salib dan kematian. Tidak ada yang terlalu berharga bagi Tuhan melampaui cinta-Nya kepada kita. Yeremia dalam nubuatnya telah menggambarkan bahwa Mesias adalah hamba yang menderita yang akan menegakkan kedamaian dan keadilan. Tuhan kita adalah Tuhan yang siap dan rela berkorban dan melayani demi bukti cinta kasih-Nya kepada kita manusia berdosa.  
Dari ini kita melihat Bahwa Allah menjadi seorang sahabat yang sejati bagi umat Manusia, Yang menjadi pertayaan apakah setiap orang pada saat ini memiliki sahabat? Ada yang menyatakan bahwa persahabatan sungguh indah. Sehati sepikir. Tapi jika kita berkaca dengan keadaan kita pada saat ini, kita bertanya seperti apakah sahabat sejati itu? Dunia menawarkan persahabatan yang semu, sarat kepentingan, dan ambisi pribadi. Sudah menjadi fakta terbuka bahwa dalam berbagai arena kehidupan: politik, ekonomi, rumah tangga,bisnis, uang, kekuasaan dan lain-lain bahkan agama, orang rela menjual sahabat nya demi keselamatan bahkan keuntungan diri sendiri. Oleh karena inilah Penyeminar ingin menggali judul ini yaitu nilai-nilai Persahabatan, Bagaiamankah Persahabatan yang dimaksud oleh Perjanjian lama?

II. Pembahasan
* Arti Sahabat Secara Umum
Dalam kamus bahasa Indonesia sahabat adalah kawan, teman. Arti Sahabat yaitu adalah orang yang melengkapi, sahabat memahami keterbatasan kita, sahabat tidak memandang asal usul. Seorang sahabat dapat menerima, mengasihi sebagaimana adanya tanpa pamri, sahabat dapa berbagi pengalaman dengan bebas,dan tulus.
* Makna Sahabat Secara Umum
Persahabatan adalah anugerah terindah dari Tuhan, Persahabatan adalah waktu yang kita ambil tanpa prasangka atau persiapan apa pun saat kita peduli. Persahabatan adalah kerelaan untuk mengambil resiko. Persahabatan tidak dapat dinilai dengan uang atau harta. Persahabatan seperti matahari, memberi kehangatan bagi semua orang. Persahabatan tidak langsung jadi dengan sendirinya. Persahabatan harus melalui proses pengujian yang panjang dan melelahkan. Semakin manis bila berhasil melewati setiap tahap. Persahabatan meningkatkan kebahagiaan dan kebaikan bersama. 
* Konteks Perjanjian Lama Secara Umum
Pada zaman Patriakh, agama orang-orang Ibrani sudah bercorak monolatri (penyembahan kepada satu Allah, dan pada zaman Musa Monoteisem (Kepercayaan kepada satu Allah ) ditegakkan. Tetapi pada zaman kemudian bangsa Israel mulai dipengaruhi oleh Politeisme yang akhirnya merajalela pada zaman kerajaan. Setelah masa pembuangan ke Babel monoteisme ditegakkan sekali lagi dan menjadi corak utama agama Yudaisme sampai sekarang. 
 Pada zaman Musa terjadi sebuah Perjanjian di Sinai, itu merupakan suatu kelanjutan logis dari penyataan Allah, karena melaluinya bangsa Israel diberikan peranan istimewa dalam aktivitas Ilahi dan kesadaran akan pemilihan dan misinya. Hubungan pribadi antara Tuhan dengan umat-Nya yang terkandung dalam nama YHWH dengan demikian menjadi ciri khas agama Ibrani yang dituangkan dalam hukum-hukum yang bersifat perjanjian. Perjanjian itu memberikan kepada bangsa Israel suatu pandangan terhadap sejarah dan tujuan hidup yang unik di antara bangsa-bangsa daerah Timur kuno. Demikian pula, melalui perjanjian itu Tuhan dinyatakan sebagai Oknum yang memiliki moralitas dan etika tertinggi, bersikap sayang kepada umat-Nya yang taat, tetapi cemburu dan murka apabila Umat-Nya murtad dari perjanjiannya. Sebagai Tuhan yang Mahabesar, YHWH mengatur kehidupan sosial dan menetapkan bahwa kehidupan masyarakat Ibrani harus didasarkan keadilan dan moralitas Ilahi (undang-undang moral –Kesepuluh Firman).
** Sosial
Keluarga dan rumah tanga membentuk unit sosial yang mendasar di Israel. Keluarga atau rumah tangga, di dalam Kel 20 dan Ul 5 memberikan sebuah definisi yang ringkas mengenai rumah tangga orang Israel dalam larangan untuk mengingini rumah (tangga) tetangganya: ”Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu (tetangga) (Kel 20:17). Di dalam rumah tangga ini, diantara barang-barang bergerak yang terdiri dari Istri, budak-budak dan hewan ternak dibawah otoritas sang ayah (bapa keluarga). Singkatnya Keluarga teridiri dari orang-orang yang punya hubungan darah ditambah para perempuan yang dibawa dalam anggota kerabat melalui pernikahan. Keluarga Orang Israel, baik besar maupun kecil, merupakan kelompok yang bersatu padu yang memainkan peranan vital dalam pendidikan dan sosialisasi para anggotanya.
Politik
Yang mengendalikan Politik pada Perjanjian Lama adalah :
Raja, Raja mewakili seluruh bangsa, Dalam 2 Samuel pasal 7 Tuhan memberikan janji sebuah janji bahwa keluarga dan kerajaannya akan kokoh untuk selama-lamanya. Relasi janji Tuhan itu dapat dilihat dalam semua raja-raja Yehuda yang berikut, sebab tidak pernah ada orang yang bukan keluarga Daud memerintah atas kerajaan itu.
Hakim, Hakim adalah “seorang yang diangkat Tuhan untuk memimpin umat-Nya supaya mengetahui bagaimana seharusnya mereka hidup sesuai dengan perintah-perintah Tuhan serta melepaskan mereka dari keadaan kekalahan dan penindasan pada saat yang perlu. 
** Budaya
Musik, nyanyian, dan tarian, yang digunakan di dalam perayaan kemenangan setelah pertempuran. Kaum perempuan khusunya Miryam, Debora, dan anak perempuan Yefta, dikaitkan dengan kode kemenangan ini. Setelah orang-orang Israel dengan aman menyeberangi Laut Merah, Miryam menyanyikan lagu kemenangan; “Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tanggannya, dan tanpillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. Dan nyanyilah Miryam memimpin mereka: “menyanyilah bagi Tuhan, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut” (Kel 15:20-21). Melalui Musik, nyanyian, dan tarian,membawa manusia kepada persekutuan yang sukacita.
** Ekonomi
Alkitab menggambarkan tanah Kanaan sebagai “suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, dimana engkau makan roti dengan tidak usah berhemat, dimana engkau tidak akan kekurangan apa pun (UL 8:8-9). Menurut Yehezkiel 27:7, Yehuda dan tanah Israel mengeksport gandum, buah ara, buah madu, minyak zaitun. Kejadian 43:11 melaporkan bahwa produksi terbaik dari tanah itu dibawa saudara-saudara Yusuf ke Mesir sebagai hadiah: madu, tanamana obat, buah kenari, buah almond dll. 
Diwilayah Timur, kombinasi pertanian dan pengembalaan ternak merupakan ciri khas ekonomi pedesaan. Keluarga-keluarga hidup bersama anggota keluarga mengembalakan ternak. Hewan ternak yag paling penting di Palestina merupakan sebuah daftar kepemilikan yang mencerminkan status ekonomi pemiliknya. Domba-domba dipelihara terutama untukomba jantan” bulunya. Produk wol merupakan komoditas berharga dalam perdagangan, seperti yang diilustrasikan oleh Raja Mesa dari Moab yang membayar kepada raja Israel seratus ribu anak domba dan bulu (wol) dari seratus ribu domba jantan (2 Raj 3:4).

III. Rea 
Dalam Bahasa Ibrani kata yang digunakan untuk Sahabat adalaha “rea”, kata ini muncul sebanyak 187 kali di dalam Perjanjian Lama. Arti kata ini dalam bahasa Ibrani yaitu :
 Rea artinya, teman (Ams 18:24; Kel 32:27; 1 Raj 16:11; Mz 35:14), orang kepercayaan, teman sejawat (Yes 3:5; ), Sahabat (Kej 38:12, 20; Ams 17:17 ; 2 Sam 16:17; Maz 88:19).
Ada kalanya kata rea diartikan dalam arti sexual perasaan sebagai pencinta (Jer 3:1; Hos 3:1, Kidung Agung 5:16). Atau diarahkan kepada orang yang dicintai (Kid Ag 1:9, 15; 2:10, 13; 4:1,7 ; 5:2; 6:4)
Rea juga sering dipakai dalam arti kata hubungan (Relationship) (Kel 32:27), dalam arti saudara (Yer 9:3; 23:35; Maz 35:14; 122:8; Ams 17:17; 27:10), dalam arti sanak famili (Kel 32:27; Maz 15:3; 38:12).
Rea diartinya sebagai tetangga (Kel 11:2; Ul 19:14 dan 27:17; Ams 3:29; 25:17)
** Makna Kata Rea dalam Perjanjian Lama
Kata Rea digunakan untuk menunjukkan sebuah hukum yang di katakan Allah, yang mengarah kepada seorang manusia yang menghadapi sesuatu di dalam jalan hidupnya. (Kel 20:16; Ul 5:20; Im 19:13; 20:10; Ul 19:5, 11-12,14; 23:25; Ams 3:28; 6:1,3).
 seperti “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” Kel 5:20
Kata Rea digunakan untuk menunjukkan “satu hubungan yang dekat antara manusia yang satu dengan yang lainnya” (Kej 11:3, 43:33; Kel 18:7;)
Kata Rea digunakan untuk menunjukkan Allah sebagai seorang sahabat bagi manusia. (Kel 33:11; Ul 12:6-8; Bil 34:10).
Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu.(Kel 33:11).
 Kata Rea digunakan untuk menyatakan bahwa Allah menjamini pembelaan kepada hak sesama manusia yang di tekankan dalam undang-undang masyarakat Israel (Kel 20:6; Ul 5:20; Kel 21:35; Im 19:13; Ul 19:14; 27:24).
“Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya”. Im 19:13
Kata Rea digunakan untuk menunjukkan berhubungan dengan firman untuk mencintai (mengasihi) satu dengan lainnya. (Im 19:8; Ul 6:5).
Kata Rea dalam kitab nabi-nabi di arahkan kepada penjelaskan ketidakadilan kepada sesama manusia. (Yer 5:8; 9:7; 22:13; 29:23; Yeh 18:6, 11, 15; 22:11; 33:26).
“Celakalah dia yang membangun istananya berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman, yang mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upahnya kepadanya” Yer 22:13
Kata Rea dalam Kitab Amsal mengarah kepada tingkah laku kepada sesama manusia. ( Ams 3:28; 6:29; 14:20; 16:29; 26:19; Ayb 6:14). 
“Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu” Ams 3:28
Kata Rea digunakan untuk menunjukkan tuduhan bahwa Israel yang ditelantarkan Allah karena dianggab sebagai seorang Istri yang tidak setia dan melakukan perzinahan dengan orang lain. (Hos 3:1; Jer 3:1,20). Tetapi walaupun demikian Allah memulai dari semula dengan manusia itu (Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis." Hos 3:1) Allah tetap menerima dan mengampuni manusia itu.
Kata Rea menunjukkan permulaan untuk mengasihi sesama manusia yang terdapat dalam Im 19: 18 “ Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.” yang digabungkan dengan Ul 6:5 “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” hal ini juga terdapat di dalam Perjanjian baru di (Mat 22:34-40;Mark 12:28-31; Luk 10:25-28). Dan juga dalam kotbah di atas bukit (Mat 5:43-48) menyampaikan permintaan untuk mengasihi sesama manusia dan juga musuh.

IV. Nilai- nilai Persahabatan Dalam Perjanjian Lama
* Amsal 
Dalam Amsal (17:17), ditemukan pengajaran mengenai persahabatan. Dalam ayat ini keadilan juga dapat diperlihatkan melalui hubungan persahabatan. Orang yang bersikap adil dalam suatu persahabatan, bukan hanya mau menerima kasih dan perhatian dari sahabatnya. Sebaliknya, ia juga mau mengasihi dan memberi perhatian bila sahabatnya berada dalam kesukaran, bukan malah meninggalkan dia. Saat-saat sulit akan membuktikan ketulusan dan loyalitas seseorang dalam suatu persahabatan.
Dia yang memiliki seorang teman adalah pemilik dari salah satu hadiah terbaik.
teman mencintai setiap saat. Perubahan cuaca tidak mengubah pengabdian dari persahabatan seseorang. Jika kesulitan tiba hanya memperdalam kesetiaan seorang sahabat sejati. Hal ini karena persahabatan bukanlah metode yang digunakan untuk memanfaatkan orang lain tetapi sebuah cara bagaiman menghargai dan menghormati mereka untuk apa yang mereka hadapi.
“Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah”. (Am 27: 6) Maksudnya Orang yang bersalah harus kita tegur dengan baik ( Yak 3:5-6). Jangan di hadapan orang lain. Musa dan Tuhan Yesus juga mengajarkan demikian (Im 19:17; Mat 18:15). Jangan enggan melakukannya karena lebih mementingkan hubungan baik terpelihara atau takut bila orang itu memusuhi kita. Ingatlah bahwa bila kita tidak menegur kesalahannya, itu sama dengan membenci dia! Padahal seharusnya kita mendorong dia untuk hidup benar (Gal 6:1). Lagi pula seorang kawan yang baik pasti lebih suka menerima teguran dengan maksud membangun (Mazm 141:5). 
Sesorang teman tidak akan membungkuk untuk kepuasan diri nya sendiri pada saaat melihat orang lain menderita. Niatnya bukan untuk menyakiti orang lain tetapi untuk menghapus semua blok yang mencegah nya untuk menjadi yang terbaik. Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. (27:17) artinya membuat orang belajar saling menerima dan membangun.
Sahabat sebagai pendorong dan pemotivasi dalam hidup. Menjadi teman untuk mengambil keputusan dan menjadi temat curhat walaupun itu yang paling rahasia sekali pun.
Sahabatan dapat membawa orang lebih dekat bersama-sama dari kekerabatan. Seperti ucapan Yesus pada Mat 12:49 memberi kesan seolah Dia kurang menghargai ibu dan saudara-saudara-Nya yang secara jasmaniah mempunyai hubungan keluarga. Namun dalam Luk 2:51 dikatakan bahwa Dia tetap hidup dalam asuhan kedua orang tua-Nya. Jadi Yesus tetap menghargai keluarga jasmaniah-Nya di dunia ini. Oleh sebab itu Dia mengkritik orang Farisi yang lebih mementingkan adat istiadat daripada menghormati ibu bapanya (Mat 15:4-9). Meskipun demikian Yesus mengajarkan bahwa di atas segalanya kita harus lebih menghormati Bapa yang di sorga. Menunjukkan ada hubungan yang dapat lebih dekat bahkan ikatan keluarga. Demikian juga lah seorang Sahabat, menuntun untuk mengasihi Bapa kita yang disurga.
* Imamat  
Dalam makna sahabat diatas, kita telah melihat bahwa penekanan sahabat itu diarahkan kepada hubungan manusia dengan sesamanya manusia. salah satu contohnya dalam kitab Imamat “Im 19: 18 “ Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.”Dalam Kitab ini Perintah-perintah tentang Hubungan Manusia dengan Sesamanya. Kasih dan kemurahan hendaknya merupakan motivasi dari tindakan yang harus dilaksanakan. Perintah mengasihi sesama manusia meliputi sesama orang Israel dan semua orang asing yang tinggal di antara umat Allah. Hal ini juga tertulis dalam Perjanjian Baru (Mat 22:31-40;Mark 12:31; Luk 10:25-28; Mat 19:19; 22:39; Rm 13:9; Gal 5:14). 
* Ulangan
Dalam makna sahabat diatas, kita telah melihat bahwa penekanan sahabat itu diarahkan kepada hubungan manusia dengan Tuhan Allahnya yang tertulis dalam. Ul 6:5 “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. yang juga terdapat di dalam Perjanjian Baru (Mat 22:34-40;Mark 12:28-31; Luk 10:25-28). Karena mengasihi orang lain adalah tindakan yang akan muncul bila orang mengasihi Allah. Kedua hukum ini saling melengkapi. Kita tidak dapat melakukan yang satu tanpa memenuhi yang lain. Hukum itu meringkas hukum yang tertulis pada dua loh batu yang diterima Musa. Hukum itu menyatakan kewajiban manusia kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama. Kasih memang penting untuk mendasari sebuah relasi. Kita bisa saja menaati firman Allah tanpa mengasihi Dia. Namun ketaatan demikian bersifat hampa. Sebaliknya bila kita mengasihi Dia, niscaya kita menaati Dia. Selain itu kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kemampuan mengasihi sesama bergantung pada pemahaman bahwa Allah mengasihi mereka juga. 
     Dari ketiga kitab Amsal, Imamat dan Bilangan jelas kita lihat bahwa Persahabatan dalam Perjanjian Lama menyatakan hubungan antara manusia dan sesamanya dan manusia dengan Tuhan Allah. Persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang diberikan Allah kepada manusia, Perjanjian Lama membuktikkan bahwa Allah dengan setia ada untuk manusia walaupun manusia selalu mengecewakan dan melanggar perintah-Nya (Hos 3:1; Jer 3:1,20). Hal ini juga bisa kita lihat di dalam Perjanjian Baru Kita telah diselamatkan oleh Yesus Kristus. Penderitaan adalah cara berada Tuhan dalam solidaritas dengan manusia. Dengan itu Tuhan adalah cinta. Derita Tuhan yang total itu menjadi nyata dalam puncak pengorbanan Allah pada Putera-Nya sendiri pada salib. Itulah kesempurnaan cinta dari segala cinta (Persahabatan sejati).

V. Implementasinya Kepada Persahabatan Pada Saat ini
 Dalam Perjanjian Lama ada contoh hubungan persahabatan sejati yaitu persahabatan antara Daud dengan Yonatan, suatu ikatan kasih persahabatan yang murni berdasarkan kasih Tuhan. Inilah suatu gambaran hubungan antar manusia yang indah, yang dipenuhi oleh Roh Tuhan. Mereka dapat mewujud-nyatakan hukum kasih yang difirmankan oleh Tuhan (band. 1Kor 13). Suatu ikatan tanpa pamrih, hukum kasih yang diajarkan Tuhan bagi umat-Nya benar-benar terwujud di sini (1Sam 18:3; bnd Ul 6:5; Mat 22:37-40). Dalam bahasa Ibrani kata kasih yang digunakan dalam Persahabata Yonatan dan Daud adalah maknanya sama dengan kata kasih dalam bahasa Yunani yaitu αγαπη yang makna nya menunjukkan kasi yang tanpa syarat seperti kasih Allah kepada manusia yaitu kasi yang sejati.
 Perjanjian Lama telah menjelaskan nilai-nilai persahabatan, jika kita bercermin dengan kehidupan kita pada saat ini, apakah nilai-nilai persahabatan yang dimaksudkan dalam Perjanjian Lama sesuai dengan persahabatan pada saat ini?
sejauh mata saya melihat dan memperhatikan dunia saya hidup pada saat ini, secara umum manusia tidak ada yang memiliki persahabatan seperti yang dimaksudkan oleh Perjanjian Lama (Persahabatan Sejati). Ada beberapa kasus yang menunjukkan keadaan manusia pada saat ini : 
JAKARTA, KOMPAS.com — Jessica Kumala Wongso ditetapkan menjadi tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin (27). Sejak awal, nama Jessica sudah disebut-sebut sebagai pelaku yang menaruh racun di kopi Mirna. Rabu, 6 Januari 2016: Wayan Mirna Salihin (27) mengalami kejang sesaat setelah meminum es kopi vietnam di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta Pusat.
Mirna yang berkumpul bersama Jessica Kumala Wongso dan Hani, kedua temannya, berniat untuk reuni sebagai sesama teman yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di Australia.
Pembunuhan sadis Enjelin yang dilakukan oleh orang tua angkatnya (Margaret).
13 Mar 2008 TOKYO, KAMIS - Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat 15 persen tahun 2007 lalu di Jepang hingga mencapai 21.000 kasus. TOKYO, KAMIS - Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat 15 persen tahun 2007 lalu di Jepang hingga mencapai 21.000 kasus. Peningkatan kasus ini terungkap di saat semakin banyak kalangan ibu di Jepang mulai berani melaporkan ke aparat kepolisian mengenai aksi kekerasan yang diterima dari suami mereka di rumah.
Senin, 22 Juni 2015 | 09:53 WIB. BANDUNG, KOMPAS.com - Kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal itu dibuktikan dengan kian tingginya jumlah pemberitaan tentang kekerasan terhadap anak yang menghiasi media massa. 
Kekerasan seksual tercatat sebagai kasus yang paling kerap muncul di pemberitaan media. Berdasarkan hasil kajian Indonesia Indicator (I2), dari 343 media online di seluruh Indonesia, baik nasional maupun lokal pada periode 1 Januari 2012 hingga 19 Juni 2015, faktor utama penyebab kekerasan terhadap anak berasal dari faktor eksternal atau sosial, terutama kemiskinan.
Kasus narkoba dan minuman Keras, yang berujung pada kerusakan diri sendiri. 
 Tidak hanya ini saja kasus yang terjadi di dalam kehidupan manusia pada saat ini, tiap hari terjadi kasus kasus kriminal di belahan bumi kita. Tidak hanya kasus kriminal sifat individual, Hedonisme dan egois pun semakin marak berkembang di dalam diri manusia pada saat ini, melalui kasus-kasus ini penyeminar ingin menunjukkan bahwa rasa saling mengasihi itu sudah sangat rendah di dunia kita pada saat ini.

VI. Refleksi Teologis
 Yang menjadi refleksi melalui bahan seminar hari ini adalah bagaimana kita melihat dan bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita masih memiliki kasih? Jika kita memiliki kasih apakah kita mampu mengasihi Tuhan Allah kita dan sesama manusia seperti diri kita sendiri. Kenyataannya pada saat ini banyak orang tidak mengasihi dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia mengasihi Tuhan Allah dan sesamanya manusia. Memang manusia telah jatuh kedalam dosa, sehingga tidak ada yang benar, seorang pun tidak, demikian kata kitab Roma. 
Meskipun manusia telah jatuh ke dalam dosa Allah tidak membiarkan manusia itu berjalan sendiri, dan setiap hukuman yang diberikannya selalu disertai berkat. Untuk mengungkapkan kasih-Nya dihadapan manusia Allah sendiri yang turun ke bumi menjadi manusia yang bernama Yesus, memberikan penebusan dan keselamatan kepada kita manusia yang berdosa melalui penyaliban-Nya. Membuktikan bahwa Yesus menunjukkan cinta yang sejati, kesetiaan yang tulus menunjukkan kasih-Nya kepada manusia berdosa. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa persahabatan sejati itu ada.
 Jadi jika kita ditanyakan sebagai seorang hamba Tuhan, maukah kita menjadi pengikut-Nya, Yesus yang menunjukkan kepada kita arti persahabatan sejati untuk mengasihi Tuhan Allah dan sesama manusia. Memang benar sulit untuk melawan keinginan akan keinginan-keinginan duniawi, apalagi ketika kita sebagai hamba Tuhan (Pendeta) akan ada banyak godaan dan tantangan, mana yang mau kita kejar kesuksesankah, uangkah, kekayaankah atau tetap memilih setia sebagai Hamba Tuhan? Keputusan ada di tangan kita tapi ingatlah ayat Alkitab yang mengatakan “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). Maka berusahalah untuk tetap setia sebagai hamba yang mengasihi Tuhan Allah dan sesama kita manusia. Jangan biarkan kenikmatan dunia mengubah kasih kita kepada Tuhan dan sesama kita.

VII. Kesimpulan
         Persahabatan dalam Perjanjian Lama, mengarah kepada perintah untuk mengasihi yaitu mengasihi Tuhan Allah, dan mengasihi sesama manusia.Persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang dilakukan Allah kepada manusia, diaman Allah tetap setia mengasihi manusia yang melanggar perintah-Nya (Hos 3:1; Jer 3:1,20). Dalam perjanjian baru juga dijelaskan bahwa Allah yang menjadi manusia bernama Yesus menderita dan mati di kayu salib agar kita manusia berdosa diselamatkan. Itulah kesempurnaan cinta dari segala cinta yang menunjukkan persahabatan yang sejati.
Daftar Pustaka
Christoph Barth., Teologi Perjanjian Lam 1, Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2012 
Agus Jetron Saragih., Teologi Perjanjian Lama Dalam Isu-isu Kontekstual, Medan :Bina 
 Media Perintis, 2015
Agustina Santoso Fany., Sahabat, Jakarta :BPK-Gunung Mulia, 2001
Denis Green., Pengenalan Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 1984
Philip J. King dan Lawrence E. Stager., Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, Jakarta :BPK-GM,2010
Jenni Westermann.,Theological Lexicon of the Old Testament Volume 3, Amerika : UAA, 1997
The Intepreter’s Bible Psalms Proverbs Volume IV, New Work:University Of Chicago, 1939
Charles F. Pfeiffer . Everett & F. Harison., The Wyclife Bible Commentary   
Malang:Gandum Mas, 2001
Wahono Nitiprawiro., Teologi Pembebasan, Yogyakarta : Likis, 2000
Redaksi Santapan., HarianSantapan Harian, Jakarta:Yayasan Persekutuan Pembaca 
Alkitab, 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 28. Makna Panggilan Abraham Menurut Agama Yahudi

I. Latar Belakang Masalah  Pemanggilan Abram itu akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dan berkat yang dimadsud ialah berkat yang berasal dari Abram dan barangsiapa yang menyembah Allah Abram. Semua umat manusia akan menyembah Allah Abram, tapi permasalahan apakah berkat itu hanya tercurah hanya kepada Israel dan keturunannya saja, ataukah kepada semua kaum di bumi. Abram adalah permulaan pengenalan akan Allah Yang Esa, setelah berbagai kesalahan yang telah dibuat manusia oleh dosa. Abram selain disebut bapa orang percaya, ia juga disebut sahabat Allah.  Ada kalanya Allah telah memberkati orang-orangNya, sehingga hal menimbulkan kesal dan iri hati bagi pihak yang tidak terberkati. Mungkinkah Ia memihak dan bertindak berat sebelah? Sungguhpun Allah dapat memberi berkat menurut kesukaanNya, meski seorangpun tidak ada yang berhak, tetapi justru berkat itu dilimpahkannya segala yang hidup, termasuk juga yang tidak dipilihNya. Bukan hanya Ishak dan Yakub dan Efraim mendapat berka...

Materi 3. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru

Mencermati Arti dan Makna “Persaudaraan” (Brotherhood/Sisterhood) dalam Gereja Mula-mula serta Refleksinya dalam Gereja dan Masyarakat Masa Kini I.                     Latar Belakang Masalah Suatu nyanyian yang sering kita dengar adalah “Dalam Yesus kita bersaudara”, yang mempersatukan mereka ialah kasih. Gereja masa kini banyak tidak mempraktekkan lagi arti kata adelpos itu sebagai wujud persaudaraan antara satu dengan yang lain, ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman modernisasi, cara pandang yang globalisasi, maka Kekristenan menanggapi tantangan-tantangan budaya global. Konsepsi Familia Dei atau Persaudaraan, dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkot...

Materi 2. Etika Kristen mengenai pendirian tugu

Tinjauan Etika Kristen tentang menghormati Orang tua menurut Hukum ke V dihubungkan dengan Pendirian Tugu dalam adat kebudayaan Batak I.      Latar Belakang Masalah Kali ini kita akan membahas tentang konteks tanah atau daerah Batak, begitu banyak tugu-tugu atau makam yang begitu megah dan indah di tanah Batak, seringkali penyeminar melihat itu didaerah Toba Samosir yang menjadi mayoritas masyarakat yang mempraktikkan hal itu, sedangkan rumah-rumah nya sangat sederhana. Bangunan tugu-tugu mengalahkan rumah-rumah masyarakat Batak yang sangat sederhana. Jaminan berkat dan kutuk itu dipercayai dari nenek moyang nya dahulu. Dan juga banyak motivasi salah menghormati orang tua yang sudah mati dengan berlandaskan hormat pada orang tua yang sudah mati berdasarkan hukum taurat ke lima dan penugasan Yakub kepada Yusuf tentang mayat yang harus dibawa dari Mesir. Di kuburkan   bersama-sama leluhur, amanat orang tua harus dikubur dengan satu keluarga, Konteks suku Bat...