Langsung ke konten utama

Materi 24. Pengaruh Teologi Lutheran terhadap Gerakan Kharismatik

Penulis : France Simanjuntak 

I. Pendahuluan
 Dalam kehidupan pada masa sekarang ini (tidak dapat disangkal lagi) terdapat suatu persaingan antara aliran-aliran yang ada pada saat ini (khususnya di Indonesia), di mana aliran-aliran yang ada sepertinya saling menyalahkan ajaran atau doktrin dan saling membenarkan ajarannya masing-masing. Terjadinya persaingan rohani ini (secara khusus) di antara orang-orang Lutheran dengan orang-orang yang menamai diri mereka dengan Gerakan Kharismatik. Orang-orang Lutheran menganggap bahwa gerakan Kharismatik telah membawa orang awam kepada ajaran yang sesat, sedangkan gerakan Kharismatik berpendapat bahwa kerohanian seorang Kristen tidak akan berkembang jika tetap menggunakan doktrin Lutheran yang terlalu kaku, tidak bersemangat dan terlalu ortodoks. Gerakan Kharismatik ini sudah ada di tengah-tengah kita sejak beberapa tahun lamanya. Bagi kebanyakan anggota jemaat, gerakan ini masih merupakan sesuatu yang samar-samar, akan tetapi sudah masuk ke dalam kehidupan. Banyak anggota jemaat yang sudah mendengar tentang gerakan ini, tapi apa sebenarnya gerakan ini, bagaimana timbulnya tidak banyak diketahui orang. Sebagaimana biasanya, sesuatu yang baru dan kurang dipahami (Gerakan Kharismatik) di suatu lingkungan masyarakat menimbulkan kecurigaan bagi sementara orang. 
 Keadaan seperti yang telah dijelaskan di atas tidak hanya terjadi pada saat ini, akan tetapi telah pernah terjadi pada masa lampau di mana kehidupan Kristen diliputi dengan perkembangan-perkembangan dan pembaharuan-pembaharuan. Hal ini meliputi penentuan akan kitab suci, pengakuan iman, bentuk ibadah dan doa-doa yang digunakan. Pada umumnya, pembaharuan yang dilakukan untuk kebaikan gereja dan menunjukkan suatu perkembangan yang sehat. Namun demikian, tidak semua perubahan merupakan perbaikan, melainkan menyebabkan terjadinya berbagai pertentangan dan perpecahan di antara gereja. Oleh karena itu, penyaji tertarik untuk mencoba menggali dan menyelidiki lebih dalam mengenai pengaruh dari Lutheran terhadap Gerakan Kharismatik, karena orang. Secara khusus, penyaji mencoba membahas permasalahan tersebut di antara aliran Lutheran dan Gerakan Kharismatik. Akan tetapi, dalam hal ini bukan bermaksud untuk mengatakan mana yang benar atau yang salah dari keduanya. Melainkan untuk lebih mengerti akan ajaran daripada kedua aliran tersebut. 
 Untuk lebih mudah memahami pembahasan ini, maka penyaji mencoba membahasnya dengan sistematika sebagai berikut, yaitu:


Pendahuluan
Latar belakang
2.1. Aliran Lutheran
2.2. Gerakan Kharismatik
Pokok-pokok Ajaran
3.1. Ajaran Lutheran
3.2. Gerakan Kharismatik
Pengaruh Lutheran dalam Gerakan Kharismatik
Implikasi Etis
Kesimpulan
Daftar Pustaka

II. Latar Belakang
2.1. Aliran Lutheran
 Istilah Lutheran tidak dapat dipisahkan dari kisah Reformasi dan seorang tokoh besar yaitu Marthin Luther. Aliran Lutheran memang identik dengan Marthin Luther sebagai tokoh Reformator, akan tetapi aliran Lutheran sendiri bukan secara sengaja dibuat oleh Luther. Aliran Lutheran muncul bersamaan dengan reformasi yang dibuat oleh Luther. Pada dasarnya, Luther tidak bermaksud untuk membuat suatu aliran kekristenan yang baru di luar dari Gereja Katholik Roma. Ajaran Luther pada prinsipnya hanya sebagai salah satu koreksi teologis terhadap pengajaran, tradisi, dogma, dan otoritas gereja Roma Katolik. Ia melakukan suatu reformasi yang bertujuan untuk mengemukakan pokok-pokok iman yang oleh gereja pada zaman itu dianggap ajaran sesat dan agar iman sederhana dalam Kristus tidak akan terganggu oleh rintangan apa pun. Hal ini dapat dilihat pada pernyataan Luther dalam Buku Konkord, yang berbunyi:
Mula-mula, saya minta mereka untuk tidak merujuk ke nama saya; biarlah mereka menyebut diri mereka orang Kristen, bukan orang Lutheran. Apa itu Luther? Lagipula, ajaran Kristen bukan milik saya. Bukan begitu, kawan-kawan tercinta. Mari kita hapuskan semua pengelempokkan yang didasarkan pada nama dan mulai menyebut diri kita Kristen, sesuai dengan nama Dia yang ajaran-Nya kita pertahankan. Saya tidak mau menjadi seorang yang lebih pandai daripada orang lain.

 Marthin Luther dikenal sebagai seorang tokoh Reformator gereja di Jerman pada abad ke-16. gerakan Reformasi yang diusahakannya telah menyebabkan berdirinya sebuah gereja lain di samping gereja Katholik Roma, yaitu Gereja Lutheran. Gerakan Reformasi Luther dimulai pada saat munculnya masalah penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa), yaitu pada masa pemerintahan Paus Leo X untuk pembangunan gedung gereja Rasul Petrus di Roma dan pelunasan utang uskup Agung Albrecth dari Mainz. Pemahaman terhadap Surat Indulgensia ini bahkan melampaui batas-batas pemahaman teologis yang benar yaitu yang dilakukan oleh Johan Tetzel bahkan dikatakan juga bahwa Surat Indulgensia itu dapat menghapuskan dosa. Oleh karena itu, untuk melawan surat penghapusan siksa tersebut Luther merumuskan 95 dalil dan ditempelkan di pintu gerbang gereja Istana Wittenberg pada tanggal 31 Oktober 1517. Tanggal ini kemudian oleh gereja-gereja reformatoris diperingati sebagai Hari Reformasi.
 Perlawanan yang dilakukan oleh Luther ini menimbulkan amarah dan kebencian Albrecth, Tetzel dan banyak orang. Mereka menjelaskan hal ini kepada Paus Leo X, sehingga Paus Leo memerintahkan Luther untuk menarik kembali ajarannya, karena Luther dituduh di hadapan Paus sebagai seorang penyesat. Luther diperintahkan untuk menghadap Hakim-hakim di Roma dalam tempo 60 hari, dengan kata lain Luther terancam untuk dibunuh. Akan tetapi, Frederick III yang Bijaksana melindunginya dan tidak mau menyerahkan Luther. Setelah peristiwa ini, perhatian Luther tidak lagi pada Surat Indulgensia, melainkan terhadap kuasa Paus. Luther sadar dan mengerti bahwa hak dan kuasa Paus sama sekali tidak berdasarkan Alkitab dan teologi Bapa-bapa Gereja, sehingga Luther mempunyai keyakinan bahwa Paus adalah Mesias palsu dan Anti-Kristus. Permasalahan ini diperdebatkan oleh Marthin Luther dengan Johann Eck dalam perdebatan agama di Leipzig pada bulan Juni 1519. Hasilnya adalah bahwa Luther telah menyatakan dirinya sebagai penyesat. Akan tetapi, Luther menjadi insaf bahwa Paus dan Konsili tidak dapat berkuasa atas orang beriman, melainkan hanya Alkitab (Firman Tuhan) saja yang menjadi patokan atau dasar.
Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther bersifat teologis yakni mengkritik gereja Roma Katolik yang telah melakukan penafsiran yang salah terhadap Alkitab. Reformasi kehidupan gereja dilakukan karena bertentangan dengan pembenaran iman, dan hal inilah yang menarik dari ajaran Lutheran. Dalam ajaran Lutheran dikatakan bahwa pembenaran oleh iman hanya melalui kasih karunia. Dalam ajaran ini setiap orang Kristen memiliki kesempatan untuk dibenarkan dihadapan Allah. Dalam keputusannya Luther menemukan dalam Roma 1:16-17 tafsiran baru mengenai istilah keadilan Allah yang ada kunci mengenai pembenaran manusia. Pembenaran melalui iman berarti bahwa manusia dapat memperoleh kepastian di hadapan Allah berdasarkan salib Yesus Kristus. Ini berarti pula bahwa manusia dapat beranjak pada perbuatan-perbuatan baik bukan demi memperoleh persetujuan dari Allah, tetapi karena Ia telah menerima manusia. ketaatan kepada Allah adalah jawaban bebas dan penuh kasih dari anak-anakNya, bukan tindakan yang serahkah untuk mengumpulkan imbalan sebanyak-banyaknya dari mereka yang mengejar restu Allah.

2.2. Gerakan Kharismatik
 Gerakan Kharismatik disebut juga Gerakan Pentakosta Modern atau Gerakan Pentakosta kedua, yang merupakan suatu gerakan pembaruan spiritual di dalam sejarah gereja-gerja kekristenan. Gerakan Kharismatik adalah gerakan orang Kristen yang mengutamakan Baptisan Roh dan Karunia-karunia Roh, di mana para penganutnya terdapat hampir di semua gereja tradisional.
  Pada abad ke-18 seorang Pendeta Inggris John Wesley, yang sekalipun bukan pelopor dari Kharismatik, secara tidak langsung telah mempengaruhi sejarah timbulnya Kharismatik. Gerakan Kharismatik yang pertama dimulai di Topeka, Kansas-Amerika pada tanggal 1-1-1901 yang disebut dengan Holiness Movement: Gerakan Kekudusan, yaitu sebuah bagian dari Methodis dan beberapa gereja Babtis, yang dirintis oleh Charles Grandison Finney yang menjadi dosen pada sebuah Seminari di Oberlin, Ohio-USA. Menjelang akhir abad ke-19 terdapat perkembangan baru akan pemahaman Babtisan Roh yang dihubungkan dengan pengudusan hidup, santification yang berubah menjadi sarana untuk menerima kekuatan. Pembaruan spiritualitas yang dilakukan oleh gerakan ini tidak diterima oleh gereja-gereja induk dan kemudian menjadi gerakan yang bebas yang disebut dengan Gerakan Pentakosta, di mana mulai membentuk gerejanya sendiri. Gereja ini hadir di tengah-tengah umat Kristen, khususnya Amerika Latin dan Afrika. 
 Gerakan Pentakosta ini dipelopori oleh mahasiswa-mahasiswa dari sebuah Sekolah Alkitab di Topeka. Di bawah pimpinan seorang dosen pada tahun 1901, mereka menyelidiki data-data Alkitab mengenai Babtisan Roh dan kemudian mereka sampai pada kesimpulan bahwa Glossolali (bahasa lidah) menurut kitab suci adalah tanda seseorang menerima Babtisan Roh. Prinsip ini menjadi ciri khas dari gerakan Pentakosta dan karunia-karunia roh dipraktekkan dalam ibadah-ibadah gerakan-gerakan Pentakosta. Dari gerakan Pentakosta ini timbullah gerakan Kharismatik pada tahun 1960, di mana terjadi gelombang pembaruan Pentakosta kedua di dalam gereja-gereja Katolik Roma dan Lutheran. Gerakan Kharismatik memimpin pembaruan gereja-gereja tradisional dari pada memisahkan diri dari gereja-gereja yang sudah ada. 

III. Pokok-pokok Ajaran
3.1. Ajaran Lutheran
 Ajaran-ajaran Luther berkembang tidak secara langsung namun, yang menjadi dasar dari ajarannya ialah 95 dalil yang pernah dirumuskannya. Dalam perkembangannya, kaum Lutheran berhasil merumuskan rangkaian ajarannya yaitu di dalam Konfesi Augsburg, Katekismus Kecil dan Katekismus Besar Martin Luther yang menjadi ciri teologi Protestan. Gereja-gereja Lutheran akhirnya merumuskan Buku Konkord pada tahun 1580 sebagai landasan Konfesi Lutheran. Buku Konkord dirumuskan untuk menentang ajaran Gereja Roma Katolik dan sikap dari berbagai gerakan yang muncul selama masa reformasi. Ada beberapa pokok ajaran Luther doktrin gereja-gereja Lutheran pada sekarang ini, yaitu:
1. Kesepuluh Firman
Kesepuluh Firman merupakan bagian pengajaran Allah tentang apa yang seharusnya dilakukan supaya hidup manusia berkenan kepadaNya. Kesepuluh Firman adalah sumber dan saluran sejati yang darinya dan di dalamnya semua perbuatan baik harus mengalir. Hal ini menjelaskan bahwa tiada perbuatan dan tindakan yang baik berkenan kepada Allah, betapapun besar dan uniknya dalam penglihatan dunia. Oleh karena itu manusia harus berusaha untuk mempelajari dan melaksanakan Kesepuluh Firman sesuai dengan kehendak Allah. Kesepuluh Firman harus dijunjung tinggi serta dihargai lebih dari pada segala ajaran yang ada karena Kesepuluh Firman adalah harta yang paling mulia dan Allah telah memberikannya kepada manusia.
2. Pengakuan Iman
Dalam penjelasan Kesepuluh Firman dapat dilihat apa yang Allah kehendaki supaya dilakukan manusia dalam kehidupannya. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu Pengakuan Iman sehingga manusia mengetahui segala sesuatu yang dapat diharapkan dan diterima dari Allah. Pengakuan Iman mengajar manusia untuk mengenal Dia sepenuhnya. Pengakuan Iman dimaksudkan untuk menolong manusia melakukan apa yang diharapkan dari manusia tersebut sesuai dengan Kesepuluh Firman. Dengan demikian manusia mempunyai gambaran yang sempurna tentang siapa Allah dan apa yang Ia kehendaki dan lakukan. 
3. Doa Bapa Kami
Pada dasarnya, Doa Bapa Kami mengajar, menggugah dan mendorong manusia untuk berdoa sebagaimana juga dilakukan oleh Kristus dan para Rasul. Allah menghendaki kita berdoa karena doa berarti berseru kepada Allah dalam setiap kesukaran, sebab dengan berseru dan berdoa kepada Allah menunjukkan bahwa manusia menghormati namaNya dan memakainya dengan benar. Doa Bapa Kami diadakan juga agar manusia melihat dan memikirkan kebutuhan-kebutuhannya, sehingga mendorong dan mendesak manusia supaya berdoa terus menerus. Di dalam Doa Bapa Kami juga terdapat pemahaman akan seluruh keselamatan dan perlindungan, sebab manusia terlalu lemah untuk menghadapi Iblis. Dengan demikian, setiap orang Kristen yang berdoa, Bapa, jadilah kehendak-Mu, dan dari surga Allah menjawab Ya anak-Ku yang terkasih, kehendak-Ku pasti jadi sekalipun Iblis dan seluruh dunia menentangnya.
4. Baptisan
Pada dasarnya, Allah memerintahkan dan menetapkan Baptisan sehingga manusia tidak ragu-ragu apakah Baptisan itu memang berasal dari Allah. Allah telah memberi perintah yang sungguh-sungguh dan tegas agar manusia dibaptis, jika tidak manusia tidak akan menerima kesukaan yang kekal. Untuk menerima Baptisan maka dengan jelas dan indah diungkapkan dalam kata-kata Siapa yang percaya dan dibaptis akan memiliki kesukaan kekal. Dengan kata lain hanya iman saja yang membuat manusia berhak menerima Baptisan, karena tanpa iman Baptisan tidak berguna walaupun Baptisan merupakan suatu harta yang luar biasa. Melalui Baptisan, dapat dipahami juga bahwa manusia atau Adam yang lama dimatikan dan membangkitkan manusia baru. Sekali manusia dibaptis maka manusia itu tetap berada di dalamNya. Dengan demikian, kehidupan orang Kristen tidak lain dari Baptisan setiap hari.
5. Perjamuan Kudus
Perjamuan Kudus merupakan sakramen yang kedua setelah Baptisan Kudus. Pada hakikatnya, Perjamuan Kudus adalah Firman dan ketentuan atau perintah Allah. Sebab Perjamuan Kudus tidak diciptakan atau dimulai oleh manusia. Kristuslah yang menetapkannya tanpa nasihat atau pendapat siapapun tentang Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus adalah tubuh dan darah Kristus yang sejati, di dalam dan dengan roti dan anggur melalui sabda Kristus; seperti yang diperintahkan olehNya bahwa orang Kristen harus memakan dan meminumnya. Roti dan anggur yang biasa digunakan selama ini mengandung Firman Allah. Firman itulah yang membuatnya menjadi sakramen dan memisahkannya sehingga sakramen ini bukanlah roti dan anggur biasa, melainkan tubuh dan darah Kristus. Tujuan Perjamuan Kudus adalah untuk memperoleh harta yang di dalam dan melaluinya manusia menerima pengampunan dosa dan peneguhan iman. Perjamuan Kudus hanya dapat diterima dengan iman dan Allah sendiri menghendaki iman terhadap FirmanNya. Dengan demikian, orang Kristen harus menerima Perjamuan Kudus ini karena itulah yang diperintahkan oleh Allah.   

3.2. Gerakan Kharismatik
 Gerakan Kharismatik ialah gerakan yang terdapat dalam gereja di dunia dengan menggunakan ide-ide dan praktek-praktek Gerakan Pentakosta. Gerakan ini bermaksud untuk memberikan kepada anggota-anggota jemaat suatu penghayatan iman yang lebih intensif dan suatu penghayatan baru. Penghayatan ini diserta dengan Glossolali (bahasa lidah: pembicaraan denan bahasa Roh), nubuat, penyembuhan orang sakit, dan lain-lain. Akan tetapi, Gerakan Kharismatik bukanlah suatu pernyataan doktrin yang baru, melainkan sebuah penyegaran. Hal ini dinyatakan dalam pernyataan bahwa gereja-gereja membutuhkan suatu pembaruan. Suatu pembaruan ini ditujukan kepada gereja-gereja yang sudah ada pada zaman dahulu, karena dirasakan terlalu bersifat dogmatis dan kaku. 
 Gerakan ini juga berpendapat bahwa terdapat suatu kekosongan dan kekurangan di dalam kehidupan gereja yang terlihat dalam kehidupan para anggota jemaatnya, di mana tidak terdapat perkembangan rohani dan rasa kebutuhan akan Tuhan. Dalam hal ini, Kharismatik menyatakan bahwa tujuan hidup orang Kristen bukanlah untuk menerima sesuatu yang baru, tetapi menjadi manusia baru. Dalam hal ini melalui lahir baru dan pembaruan dari seseorang, sehingga menjadi pembaruan akan persekutuan tanpa usaha gereja dan penginjilan yang kurang efektif. 
 Beberapa pokok ajaran dari Gerakan Kharismatik, yaitu:
Kehadiran Allah-Pembaptisan dengan Roh Kudus.
Dasar dari refleksi teologi Kharismatik bukanlah pembenaran, melainkan pembaptisan dengan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus bukanlah suatu pertobatan yang lebih mendalam kepada Tuhan. Pertobatan datang sebelum manusia menerima baptisan Roh Kudus. Pertobatan merupakan suatu perubahan jalan hidup, yaitu sesuatu yang dilakukan oleh manusia sebagai akibat dari tindakan dari Kristus Yesus terhadap manusia. Penekanan akan Roh Kudus dihubungkan pada pengalaman atas penerimaan Roh Kudus atau ada pemenuhan atas kehadiranNya. Penerimaan Roh Kudus sangat berharga karena Dia merupakan pribadi, Dia haruslah diterima. Pengalaman ini, dalam Gerakan Kharismatik merupakan suatu perkembangan rohani orang Kristen. 
Kharismata (Anugerah)
Kharismata menurut Gerakan Kharismatik tidak merupakan suatu perhiasan bagi tubuh Kristus, yang dapat diadakan atau tidak dapat diadakan, tetapi merupakan suatu keharusan yang ada dalam jemaat. Jemaat-jemaat tanpa Kharismata adalah jemaat yang mati, tetapi jemaat yang penuh dengan Kharismata adalah jemaat yang hidup. Di mana Roh Kudus turun dan bekerja, di sana Kharismata dikaruniakan kepada setiap orang yang bertobat dan dengan demikian mengalami kelahiran kembali. Kharismata dalam Gerakan Kharismatik telah menjadi Dogma Baru dan telah menggeser kedudukan dasar iman Kristen (Salib dan Kebangkitan Kristus) dan menggantikannya dengan suatu sistem kewajiban atau keharusan-keharusan, di mana karunia-karunia anugerah harus dinyatakan secara konkrit dan nyata melalui berbagai pola hidup dan memperagakannya sebagai kesaksian yang hidup (demonstrasi iman).
Kuasa Doa
Doa dan praktek-praktek dari kuasa doa merupakan suatu demonstrasi iman dan menjadi unsur utama kegiatan Gerakan Kharismatik. Oleh karena itu, orang Kharismatik mengetahui kuasa doa serta mengakui kemutlakan perlunya Kelompok Doa dalam gereja. Kemutlakan kelompok doa merupakan suatu kebutuhan rohani yang tidak terelakkan, karena hampir seluruh kegiatan dihayati dan mendapat bentuk yang menentukan pola kehadiran dari gerakan ini.
Persekutuan
Kehidupan persekutuan dalam Gerakan Kharismatik merupakan pelayanan persekutuan dan sekaligus persekutuan yang melayani. Dalam gerakan ini nampak kebersamaan hidup beriman, yaitu saling memberkati, saling mengurapi, saling berbakti, saling mengabdi, saling bersukacita, saling doa-mendoakan, saling menumpangkan tangan, saling menyampaikan pesan Allah dalam suasana kekristenan sejati, saling mengampuni dan tidak segan-segan mengulurkan tangan untuk saling membantu, baik secara material maupun moral. Gerakan ini ingin sekali mewujudkan keadilan sosial dan pemerataan hidup serta hidup yang bertanggung jawab atas segala berkat Tuhan yang diperoleh.

IV. Pengaruh Lutheran dalam Gerakan Kharismatik
 Apakah terdapat sebuah teologi Lutheran Kharimatik? Atau sebuah teologi Kharimatik Lutheran? Yang pasti adalah teologi Lutheran Kharismatik, karena kaum Lutheran yang lebih dahulu mengemukakan teologinya dan kaum Kharismatik tidak membuat suatu ajaran yang baru melainkan suatu penyegaran akan suatu ajaran dari ajaran-ajaran yang sudah ada. Gerakan Kharismatik menyatakan bahwa pengalaman iman lebih penting daripada formulasi ajaran. Gerakan Kharismatik di dalam gereja-gereja Lutheran telah mengembangkan setiap pernyataan teologi dengan kebebasan berteologi, yaitu dengan menempatkan pengalaman rohani di atas sebuah ajaran.
 Pengaruh teologi Lutheran dapat dilihat dari beberapa ajaran Gerakan Kharismatik yang telah dijelaskan di atas. Beberapa pengaruh ajaran Lutheran terhadap Gerakan Kharismatik, yaitu:
Pembenaran.
Pemahaman teologi Kharismatik tentang pembenaran yaitu kebebasan dan kekuatan. Orientasi Kharismatik terhadap kedua hal tersebut menunjuk kepada suatu usaha pengalaman dan iman yang lebih mendalam. Dalam hal ini, kaum Lutheran telah mempunyai pernyataan teologis Justification by faith: Pembenaran oleh Iman, yaitu bahwa seorang yang telah dibenarkan memperoleh kebebasan dari dosa yaitu melalui penghapusan dosa dan kekuatan iman yaitu melalui peneguhan iman. Pernyataan secara tegas dinyatakan dalam ajaran Lutheran mengenai Sakramen. 
Iman.
Pemahaman Gerakan Kharismatik mengenai iman dihubungkan akan penerimaan akan karunia untuk berbicara dalam bahasa lidah. Gerakan ini menyatakan bahwa seseorang yang memperoleh karunia adalah orang yang sudah beriman. Pemahaman gerakan ini ada dalam ajaran Lutheran, akan tetapi Gerakan Kharismatik hanya menekankan pada penerimaan bahasa lidah saja. Ajaran Lutheran lebih luas, setiap orang yang beriman tidak hanya menerima karunia, melainkan keselamatan dan kehidupan yang kekal. 
Kuasa Doa
Pengaruh ajaran Lutheran tentang kuasa doa sangat jelas terdapat dalam ajaran Gerakan Kharismatik. Akan tetapi, pemahaman Gerakan Kharismatik tentang doa didasarkan pada pengalaman seseorang Kristen. Hal ini sangat jelas berbeda dengan pemahaman Lutheran akan doa. Ajaran Lutheran menyatakan bahwa doa merupakan perintah Allah bukan dari pengalaman seseorang. 
 Dengan demikian, sangat jelaslah bahwa ajaran Gerakan Kharismatik dipengaruhi oleh ajaran Lutheran. Ajaran gerakan Gerakan Kharismatik hanya merupakan pembaruan akan suatu penghayatan iman seorang Kristen. Gerakan Kharismatik tidak dapat mengatakan bahwa mereka memiliki suatu ajaran atau doktrin baru di dalam pelayanannya.

V. Implikasi Etis
 Setelah diselidiki makna Roh Kudus bagi hidup bagi gereja-gereja, baik di dalam gereja Lutheran dan Gerakan Kharismatik, maka dapat diketahuilah kekurangan-kekurangan yang ada dalam gereja-gereja tersebut. Oleh karena itu, gereja-gereja pada saat ini harus saling kekosongan yang ada. Di lain pihak, gereja-gereja Lutheran tidak dapat menolak adanya gerakan Kharismatik pada saat ini, karena ada unsur-unsur kebenaran dan juga ada unsur-unsur kesalahan akan pemahaman teologis di dalamnya. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh Lutheranisme dan Gerakan Kharismatik untuk mengisi kekosongan di dalam gereja yaitu melalui pembinaan dalam hal-hal sebagai berikut:
Pertobatan sebagai syarat untuk menerima kepenuhan Roh bukanlah taraf tinggi dari hidup kerohanian orang. Pertobatan bukanlah suatu hal yang tidak mutlak perlu, melainkan suatu kebutuhan yang eksistensial, yang menentukan hidup atau matinya orang secara rohani. Orang yang sungguh-sungguh bertobat, akan mengalami pemenuhan Roh sesuai dengan janji Tuhan.
Bukti bahwa orang telah dipenuhi Roh Kudus adalah buah-buah kasih dalam hidupnya, karena kasih adalah manifestasi tertinggi dari Roh. Bahasa Roh hanyalah salah satu tanda yang dapat menyertai pemenuhan Roh. Tetapi pemenuhan Roh juga dapat ditandai oleh gejala-gejala emosional yang lain, seperti menangis, menyanyi dsb. Bahkan yang paling indah dan mengharukan ialah, kalau luapan kasih dan kesukaan Roh itu mendapat jalan keluar melalui perbuatan-perbuatan yang luar biasa seperti pengorbanan material yang besar-besaran atau pengorbanan hiodup demi terima kasih kepada Tuhan dan kasih kepada orang lain yang menderita.
Orang-orang Kharismatik harus membuktikan, bahwa mereka benar-benar mengalami pemenuhan Roh dengan memperliatkan tingkah laku kasih:
Janganlah di antara mereka ada persoalan, penonjolan diri, perebutan kekuasaan dsb.
Janganlah mereka menyombongkan diri terhadap orang Kristen lain, yang tidak menerima karunia Bahasa Roh, karena kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong (1 Kor. 13:4).
Hendaknya orang Kharismatik melayani pembangunan tubuh Kristus dengan segala kerendahan hati dengan segala karunia yang telah mereka terima.
Orang Kristen yang telah dibaptis dengan air tetapi pada saat baptisan itu belum menerima pemenuhan Roh dan barulah dikemudian hari menerimanya, tidak perlu dibaptis ulang. Baptisan air yang diterimanya sebagai anak kecil atau orang dewasa yang belum bertobat sepenuhnya, baptisan itu adalah materai, janji dan jaminan rahmat Allah yang berlangsung seumur hidup. Janji itu digenapi sepenuhnya pada saat orang itu bertobat dan membuka diri terhadap rahmat Allah.
Yang menentukan keselamatan kita pada saat baptisan ialah bukanlah bentuk lahiriah dari baptisan itu. Seakan-akan baptisan selam lebih mantap dari pada baptis percik, melainkan kesetiaan Allah pada janji yang diucapkanNya dalam baptisan itu dan yang berlaku seumur hidup bagi orang yang menerima materai baptisan itu.
Harus dibedakan antara Bahasa Roh sebagai salah satu tanda pemenuhan Roh, dan Bahasa roh sebagai salah satu karunia Roh. Bahasa Roh yang diucapkan orang pada saat ia dipenuhi Roh, adalah murni. Tetapi Bahasa Roh sebagai suatu karunia, dapat disalahgunakan seperti halnya dengan karunia-karunia yang lain. Oleh sebab itu, tidak mengherankan kalau ada orang yang mempunyai karunia Bahasa Roh atau karunia lain, namun orang itu memperlihatkan suatu hidup etis dan religius yang tidak baik (bnd. Mat.7:21-23).
Hendaknya orang-orang Kharismatik menyadari kedudukannya sebagai anggota-anggota tubuh Kristus setempat. Disamping mereka bersekutu di dalam kelompok mereka sendiri, mereka wajib mencari persekutuan jemaat. Janganlah mereka menjauhkan diri dari tubuh Kristus setempat dan menjadi eksklusif karena hal ini bertentangan dengan keanggotaan mereka di dalam tubuh itu.
Gereja patut memberikan tempat bagi pelayanan orang-orang Kharismatik, misalnya di bidang Pekabaran Injil, perkunjungan rumah tangga, penyembuhan-penyembuhan. Sebaliknya harus dijaga, supaya dalam kegiatan-kegiatan itu jangan sampai tekanan berat sebelah diberikan pada hal-hal yang supranatural, seperti misalnya mengesampingkan kepandaian dokter dengan hanya mengandalkan kekuatan-kekuatan yang supranatural atau meremehkan peranan akal budi yang sudah diperbaharui Roh Kudus (Rom.12:2) dengan hanya mengandalkan nubuat-nubuat. Dalam hal ini gereja maupun Kharismatik harus saling melengkapi, karena roh berkenan bekerja melalui cara yang natural maupun yang supranatural.
Perlu disadari oleh orang-orang Kharismatik, bahwa di dalam hidup kegerejaan harus ada ketertiban (1 Kor.14:40), sebab Allah tidak menghendaki kekacauan tetapi damai sejahtera (1 Kor.14:33). Janganlah orang-orang Kharismatik melakukan kegiatan yang mengganggu ketertiban yang perlu bagi kehidupan jemaat, misalnya ketertiban kebaktian: janganlah berbahasa lidah di dalam kebaktian, janganlah pula melangsungkan sendiri Perjamuan Kudus yang biasanya dilayani oleh Pendeta. Gangguan-gangguan dan pelanggaran-pelanggaan semacam itu memberi satu sandungan yang bertentangan dengan Roh kasih. 
Pada lain pihak, perlu disadari oleh warga gereja, bahwa Roh yang menggerakan orang-orang Kharismatik adalah Roh kemerdekaan. Perhatikan 2 Kor 3:17: Di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Hendaknya warga jemaat bersikap toleran terhadap perbuatan orang Kharismatik yang sedikit menyimpang dari tradisi gereja, misalnya bertentangan pada saat menyanyi. Spontanitas orang-orang Kharismatik sangat besar dan janganlah ini dimatikan. Spontanitas ini juga nampak di dalam keinginan mereka untuk aktif sebagai kaum awam. Mereka ingin melakukan kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan oleh majelis jemaat, karena warga jemaat tidak bersedia melakukannya, seperti misalnya perkunjungan rumah tangga, mengabarkan Injil, dsb. Janganlah kegiatan-kegiatan yang spontan dari orang-orang Kharismatik ini dianggap sebagai saingan, melainkan sebagai pelengkap yang terpuji: Ingatlah akan pesan Rasul Petrus dalam 1 Petrus 2:9, yang menghendaki segenap jemaat aktif bagi Tuhan.


VI. Kesimpulan
Lutheranisme merupakan para pengikut ajaran Martin Luther. Martin Luther tidak pernah bercita-cita untuk membuat suatu Lutheranisme di dalam perjalalanan kehidupan gereja. Dan Luther tidak membuat suatu ajaran Lutheran di dalam perkembangan teologi Kristen. Ajaran Lutheran lahir bersamaan dengan reformasi yang dibuat oleh Martin Luther jadi, Lutheran adalah orang-orang yang setuju dengan reformasi Luther dan mengembangkannya dalam perjalanan kehidupan gereja sampai saat ini. Dan akhirnya, ajaran Lutheran dirumuskan dalam Konkord.
Lahirnya gerakan Kharismatik disebabkan oleh suatu usaha pembaruan terhadap penghayatan iman dan kehidupan rohani umat Kristen. Gerakan Kharismatik berpendapat bahwa gereja-gereja memerlukan suatu pembaruan dan penyegaran. Oleh karena itu, gerakan Kharismatik melakukan pembaruan dan penyegaran melalui karunia bahasa lidah, penumpangan tangan, baptisan roh, penyembuhan ilahi dan kebaktian-kebaktian yanga penuh semangat.
Ajaran gerakan Kharismatik tidak merupakan suatu ajaran yang baru, melainkan hanya suatu pembaruan dan penyegaran. Ajaran-ajaran gerakan Kharismatik memang tidak berdasarkan pada ajaran Lutheran. Akan tetapi, ajaran Lutheran mempunyai pengaruh di dalam ajaran Gerakan Kharismatik. Hal ini dapat dilihat dalam pokok-pokok ajaran Gerakan Kharismatik, di mana ajaran gerakan tersebut terdapat di dalam pokok-pokok ajaran Lutheran.
Gerakan Kharismatik berpendapat bahwa ajaran Lutheran terlalu bersifat dogmatis dan kaku. Sehingga penghayatan iman kurang terdapat dalam kehidupan jemaat. Sebaliknya Lutheran berpendapat bahwa ajaran Gerakan Kharismatik kurang bersifat dogmatis dan tidak menggunakan hermeneutis dalam memahami Firman Allah (Alkitab), sehingga sering timbul pemahaman yang salah. Perbedaan kedua ajaran tersebut hendaknya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dapat saling mengisi antara satu dengan yang lain. dengan demikian terciptalah hubungan yang harmonis di antara kedua aliran tersebut dan terwujudlah gereja yang oikumenis di dunia ini.

VII. Daftar Pustaka

Berkhof, H.,
  1993 Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM).
Bittlinger, Arnold, 
 1982 The Church is Charismatic, (Genewa: WCC).
Dahlenburg, G. D.,
 2000 Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, (Jakarta: BPK-GM).
Jonge, de C.,   
  2000 Pembimbing Ke Dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM).
 ------------
  2003 Gereja Mencari jawab, (Jakarta: BPK-GM).
Lane, Tony,    
  2003 RUNTUT PIJAR; Sejarah Pemikiran Kristiani, (Jakarta: BPK-GM).
Lindberg, Carter, 
 1983 The Third Reformation?, (Georgia: Mercer University Press).
Sugiri, L. (dkk),   
 1995 Gerakan Kharismatik : apakah itu?, (Jakarta: BPK-GM).
Tappert, Theodore G., (penerj. & ed.),
  2004 BUKU KONKORD; Konfesi Gereja Lutheran, (Jakarta: BPK-GM).
Wellem, F.D.,
   2003 Riwayat Hidup Singkat; Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja,
     (Jakarta: BPK-GM).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 28. Makna Panggilan Abraham Menurut Agama Yahudi

I. Latar Belakang Masalah  Pemanggilan Abram itu akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dan berkat yang dimadsud ialah berkat yang berasal dari Abram dan barangsiapa yang menyembah Allah Abram. Semua umat manusia akan menyembah Allah Abram, tapi permasalahan apakah berkat itu hanya tercurah hanya kepada Israel dan keturunannya saja, ataukah kepada semua kaum di bumi. Abram adalah permulaan pengenalan akan Allah Yang Esa, setelah berbagai kesalahan yang telah dibuat manusia oleh dosa. Abram selain disebut bapa orang percaya, ia juga disebut sahabat Allah.  Ada kalanya Allah telah memberkati orang-orangNya, sehingga hal menimbulkan kesal dan iri hati bagi pihak yang tidak terberkati. Mungkinkah Ia memihak dan bertindak berat sebelah? Sungguhpun Allah dapat memberi berkat menurut kesukaanNya, meski seorangpun tidak ada yang berhak, tetapi justru berkat itu dilimpahkannya segala yang hidup, termasuk juga yang tidak dipilihNya. Bukan hanya Ishak dan Yakub dan Efraim mendapat berka...

Materi 3. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru

Mencermati Arti dan Makna “Persaudaraan” (Brotherhood/Sisterhood) dalam Gereja Mula-mula serta Refleksinya dalam Gereja dan Masyarakat Masa Kini I.                     Latar Belakang Masalah Suatu nyanyian yang sering kita dengar adalah “Dalam Yesus kita bersaudara”, yang mempersatukan mereka ialah kasih. Gereja masa kini banyak tidak mempraktekkan lagi arti kata adelpos itu sebagai wujud persaudaraan antara satu dengan yang lain, ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman modernisasi, cara pandang yang globalisasi, maka Kekristenan menanggapi tantangan-tantangan budaya global. Konsepsi Familia Dei atau Persaudaraan, dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkot...

Materi 2. Etika Kristen mengenai pendirian tugu

Tinjauan Etika Kristen tentang menghormati Orang tua menurut Hukum ke V dihubungkan dengan Pendirian Tugu dalam adat kebudayaan Batak I.      Latar Belakang Masalah Kali ini kita akan membahas tentang konteks tanah atau daerah Batak, begitu banyak tugu-tugu atau makam yang begitu megah dan indah di tanah Batak, seringkali penyeminar melihat itu didaerah Toba Samosir yang menjadi mayoritas masyarakat yang mempraktikkan hal itu, sedangkan rumah-rumah nya sangat sederhana. Bangunan tugu-tugu mengalahkan rumah-rumah masyarakat Batak yang sangat sederhana. Jaminan berkat dan kutuk itu dipercayai dari nenek moyang nya dahulu. Dan juga banyak motivasi salah menghormati orang tua yang sudah mati dengan berlandaskan hormat pada orang tua yang sudah mati berdasarkan hukum taurat ke lima dan penugasan Yakub kepada Yusuf tentang mayat yang harus dibawa dari Mesir. Di kuburkan   bersama-sama leluhur, amanat orang tua harus dikubur dengan satu keluarga, Konteks suku Bat...