Langsung ke konten utama

Materi 29. Arti dan Tafsiran Roma 12 : 1

ROMA 12 : 1
Ibadah yang Λογικος (Logikos): Suatu Pengertian Umum 

       2.1.1. Ibadah 
Ibadah dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia diartikan dengan pengabdian, dalam arti luasnya ialah mencakup seluruh ruang lingkup dalam diri manusia. Ibadah dalam terminologi bahasa Indonesia dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ini memiliki arti: 1. Perbuatan atau pernyataan bakti terhadap Allah atau Tuhan yang didasari oleh peraturan agama, 2. Segala usaha lahir dan batin yang sesuai perintah agama yang harus dituruti pemeluknya, 3. Upacara yang berhubungan dengan agama. Menurut Soerjono Soekanto, ibadah dapat diartikan penghormatan atau pemujaan kepada kekuatan-kekuatan supranatural dan kebiasaan untuk memuja nenek moyang. Menurut Sri Sukehi Adiwimarta, ibadah berasal dari bahasa Arab, yang berarti sikap tunduk, praktek-praktek keagamaan yang wajib dilakukan. Perbuatan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
James F. White berpendapat bahwa ibadah (bahasa Inggris: Worship) berasal dari bahasa Inggris kuno yaitu weorthscipe yang terdiri dari dua kata yaitu weorth (worthy) dan scipe (ship) yang menunjukkan penghormatan kepada seseorang, Kata Worship juga dapat diartikan sesuatu berharga, layak, dengan memberi penghormatan, memperlakukan dengan hormat dan memuliakan. Adolf Heuken mengungkapkan bahwa ibadah adalah penghormatan terhadap Tuhan yang oleh manusia menurut kodrat sosialnya harus dilaksanakan bersama-sama selaku makhluk di hadapan Sang Pencipta. Ibadah adalah salah satu wadah kehidupan umat beragama untuk menyatakan puji-pujian, syukur, permohonan, baik dalam bentuk kebaktian maupun dalam perbuatan bakti kepada Allah. JL.Ch. Abineno menyatakan bahwa ibadah adalah tempat dimana Allah bertemu dengan manusia (umat-Nya) dan manusia dengan Allah. Sehingga dalam beribadah, manusia menyembah Allah, memuliakan Allah, memuji nama Allah, meminta sesuatu kepada Allah dan mengucap syukur kepada-Nya. Pada saat manusia beribadah, manusia selaku umat yang percaya kepada Allah akan mendapat suatu hikmat atau inspirasi (pedoman dan pengajaran) bagi kehidupan manusia. 
G.A. Buttrick menyatakan kata ibadah artinya melayani atau mengabdi menjadi akar kata yang merujuk pada kata עבוֺדָה (abodah) atau ibadah dalam bahasa Indonesia. Menurut Christoper Barth, Beribadah atau bertemu dengan Tuhan menerangkan lima gejala umum yang paling menonjol, yaitu dalam hal: Datang dan masuk ke tempat suci, menunjukkan hormat, menghadap wajah Tuhan, membawa persembahan dan mengadakan perkumpulan raya pada hari hari yang ditetapkan Tuhan. Menurut Rick Warren mengatakan ibadah yang sejati, yaitu mendatangkan kesenangan bagi Allah yang terjadi jika memberi diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga dengan memberikan diri kepada Allah itulah yang menjadi penyembahan. 
Penulis menyimpulkan bahwa ibadah suatu perbuatan kerja manusia untuk Allah sebagai bentuk pengabdian manusia itu bagiNya di kehidupan manusia tersebut dalam segala bentuk dan aspek dalam kehidupan manusia, memberi diri kepada Allah Sang Pencipta. Ibadah juga dapat dilihat dalam dua bentuk yaitu pertama, ibadah yang berbentuk upacara ritual dan kedua, kehidupan sehari-hari merupakan ibadah manusia kepada Tuhan. 
       2.1.2. Λογικος (Logikos) 
Λογικος (bahasa Yunani: Logikos) dalam defenisi umum dapat diartikan sebagai logika, logic (bahasa Inggris), logica (bahasa Latin), yaitu apa yang termasuk ucapan yang dapat dimengerti atau akal budi yang berfungsi baik, teratur, sistematis, dapat dimengerti. Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, Λογικος (Logikos) dapat diartikan dengan berhubungan dengan pengetahuan atau dengan bahasa. Istilah logika pertama kali digunakan oleh Alexander dari Aphrodisias sekitar abad ke-2 pada perguruan Stoa. Logika adalah suatu metode atau teknik yang diciptakan manusia untuk meneliti ketepatan penalaran. Aristoteles menyebut logika dengan analytica (analisis), yang dikembangkan oleh para filsuf disebut organon (alat berpikir tepat). Λογικος (Logikos) berasal dari kata Λογος (bahasa Yunani: logos) yang artinya pembicaraan, pemikiran, akal, kata, makna, ilmu, sifat-sifat yang ada pada sesuatu hal yang menjadikannya dapat dipahami. 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian Λογικος (Logikos) atau logika adalah pengetahuan tentang kaidah berpikir; jalan pikiran yang masuk akal. Logika juga mempelajari prinsip-prinsip, kaidah-kaidah dan hukum-hukum berpikir yang perlu diikuti sehingga dapat mencapai kebenaran serta menilai kenyataan yang sebenarnya. Menurut tokoh Menurut Jan Hendrik Rapar berpendapat bahwa defenisi logika adalah suatu pertimbangan akal atau pikiran yang diatur lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. W. Poespoprodjo dan Ek. T. Gilarso mendefenisikan bahwa logika adalah ilmu dan kecakapan menalar, berpikir dengan tepat, sedangkan menurut Soekadijo logika adalah suatu metode atau teknik yang diciptakan untuk meneliti ketepatan menalar. Aristoteles berpendapat bahwa logika adalah ajaran tentang berpikir yang secara ilmiah membicarakan bentuk pikiran itu sendiri dan hukum-hukum yang menguasai pikiran, dan menurut William Alston pengertian logika adalah studi tentang penyimpulan, secara lebih cermat usaha untuk menetapkan ukuran-ukuran guna memisahkan penyimpulan yang sah dan tidak sah. Tujuan ilmu Logika adalah agar supaya berpikir secara sempurna dan teratur, sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmu pengetahuan. Kata logos adalah yang mampu mengungkapkan segala sesuatu yang ada. 
Λογικος (Logikos) berasal dari kata Λογος (bahasa Yunani: logos). Dalam agama Yunani, logos menunjuk kepada Sabda Tuhan atau dewa-dewa yang memberikan inspirasi spiritual, kebijaksanaan dan bimbingan. Seorang nabi adalah orang yang logos (ucapannya) menyampaikan sabda Tuhan. Paham Neoplatonisme memasukkan pemikiran tentang logos dalam sistim-sistim yang menjelaskan hal-hal yang mengatasi kodrat. Filsuf Philo mengajarkan bahwa Tuhan, yang jauh dari dunia itu bekerja di dunia melalui logos (Akal Ketuhanan). 
Pengarang Yahudi Philo menerima itu dan mempertentangkan sikap yang logikos dengan sikap yang hanya mementingkan persembahan lahiriah. Maka dapat disimpulkan dalam lingkungan helenistis, termasuk lingkungan Yahudi Helenistis, logikos dipakai dengan arti (ibadah, persembahan) yang batiniah, yang rohani itulah yang arti yang khusus. Ada dua pemahaman mengenai logikos yaitu rohani (mistis), dan rasio/sesuai logos (Stoa/Umum).
Penulis menyimpulkan bahwa pengertian Λογικος (Logikos) atau logika adalah segala sesuatu yang dapat dipahami, dimengerti, dan masuk akal. Logika akan mencapai kebenaran berdasarkan akal manusia dan penalaran serta menilai pada kenyataan yang sebenarnya. Logika juga mengajarkan untuk berpikir secara realistis, dan merupakan pemberian Allah untuk membedakan segala sesuatu, dimana setiap manusia diberi akal pikiran atau logika untuk membedakan sesuatu, agar dunia ini dapat tertata dengan teratur. Logika adalah dalam setiap manusia dikarenakan manusia adalah makhluk rasional.     
       2.1.3. Ibadah yang Λογικος (Logikos) 
Ibadah yang logikos atau reasonable service (pelayanan yang dapat diterima) dalam Greek (bahasa Yunani) adalah logikos latreia. Para tokoh seperti Godet menjelaskan pelayanan yang masuk akal ialah sesuai dengan moral dalam iman. Menurut tokoh Berkeley ibadah yang logikos adalah membaca pelayananmu yang dapat dipahami. Ibadah yang Λογικος (Logikos) adalah tidak hanya sebuah ritual dalam mempersembahkan hewan sebagai korban untuk Tuhan, namun mempersembahkan hidup itu sendiri kepada Allah untuk melayani-Nya, namun bukan seperti tubuh hewan yang disembelih namun tubuh ini digunakan sebagai pelayanan untuk memuliakanNya. Ibadah yang logikos dapat dikatakan sebagai ibadah yang sejati, sebab kata sejati merupakan berhubungan dengan kebenaran yang sebenarnya, atau yang sesungguhnya. Dalam sudut pandang orang Kristen, ibadah yang sejati adalah dengan mempersembahkan seluruh tubuh dan kehidupan sebagai persembahan yang hidup dan kudus di hadapan Allah, madsudnya melibatkan diri melalui pelayanan terhadap sesama. Jemaat mula-mula sangat banyaknya telah melakukan ibadah yang melayani terhadap sesamanya.
Penulis menyimpulkan bahwa pengertian ibadah yang Λογικος (Logikos) adalah ibadah yang didasari oleh akal budi, ibadah yang dapat diterima kebenarannya serta sesuai dengan apa yang dikatakan dengan dilakukan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 28. Makna Panggilan Abraham Menurut Agama Yahudi

I. Latar Belakang Masalah  Pemanggilan Abram itu akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dan berkat yang dimadsud ialah berkat yang berasal dari Abram dan barangsiapa yang menyembah Allah Abram. Semua umat manusia akan menyembah Allah Abram, tapi permasalahan apakah berkat itu hanya tercurah hanya kepada Israel dan keturunannya saja, ataukah kepada semua kaum di bumi. Abram adalah permulaan pengenalan akan Allah Yang Esa, setelah berbagai kesalahan yang telah dibuat manusia oleh dosa. Abram selain disebut bapa orang percaya, ia juga disebut sahabat Allah.  Ada kalanya Allah telah memberkati orang-orangNya, sehingga hal menimbulkan kesal dan iri hati bagi pihak yang tidak terberkati. Mungkinkah Ia memihak dan bertindak berat sebelah? Sungguhpun Allah dapat memberi berkat menurut kesukaanNya, meski seorangpun tidak ada yang berhak, tetapi justru berkat itu dilimpahkannya segala yang hidup, termasuk juga yang tidak dipilihNya. Bukan hanya Ishak dan Yakub dan Efraim mendapat berka...

Materi 3. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru

Mencermati Arti dan Makna “Persaudaraan” (Brotherhood/Sisterhood) dalam Gereja Mula-mula serta Refleksinya dalam Gereja dan Masyarakat Masa Kini I.                     Latar Belakang Masalah Suatu nyanyian yang sering kita dengar adalah “Dalam Yesus kita bersaudara”, yang mempersatukan mereka ialah kasih. Gereja masa kini banyak tidak mempraktekkan lagi arti kata adelpos itu sebagai wujud persaudaraan antara satu dengan yang lain, ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman modernisasi, cara pandang yang globalisasi, maka Kekristenan menanggapi tantangan-tantangan budaya global. Konsepsi Familia Dei atau Persaudaraan, dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkot...

Materi 2. Etika Kristen mengenai pendirian tugu

Tinjauan Etika Kristen tentang menghormati Orang tua menurut Hukum ke V dihubungkan dengan Pendirian Tugu dalam adat kebudayaan Batak I.      Latar Belakang Masalah Kali ini kita akan membahas tentang konteks tanah atau daerah Batak, begitu banyak tugu-tugu atau makam yang begitu megah dan indah di tanah Batak, seringkali penyeminar melihat itu didaerah Toba Samosir yang menjadi mayoritas masyarakat yang mempraktikkan hal itu, sedangkan rumah-rumah nya sangat sederhana. Bangunan tugu-tugu mengalahkan rumah-rumah masyarakat Batak yang sangat sederhana. Jaminan berkat dan kutuk itu dipercayai dari nenek moyang nya dahulu. Dan juga banyak motivasi salah menghormati orang tua yang sudah mati dengan berlandaskan hormat pada orang tua yang sudah mati berdasarkan hukum taurat ke lima dan penugasan Yakub kepada Yusuf tentang mayat yang harus dibawa dari Mesir. Di kuburkan   bersama-sama leluhur, amanat orang tua harus dikubur dengan satu keluarga, Konteks suku Bat...