Langsung ke konten utama

Materi 17. Teologi Pembebasan di Asia/Indonesia

Penulis : Antonio Hutagalung
Pendahuluan 
Pada saat ini kita akan membahas persentasi kelompok 12 Mata Kuliah Teologi Sosial dalam lingkup Teologi Pembebasan di Asia. Banyak teologi pembebasan yang terdapat di Asia sebagai contoh: Minjung, Perjuangan, Dalit, Crusis, dan lainnya. Semua teologi pembebasan ini mengarah kepada memberikan pemahaman bahwa manusia tidak dibenarkan melakukan penindasan terhadap orang lain. Teologi yang menghasilkan teologi kontekstual dari sebuah perspektif penderitaan. Titik berangkat teologi ini adalah realitas-realitas sosial yang mengenaskan karena tindakan-tindakan ketidakadilan, secara khusus ketidakadilan di dalam sistem-sistem ekonomi, sosial dan politik. 
Pembahasan
 Pengertian Teologi Pembebasan 
Teologi Pembebasan merupakan salah satu jenis teologi yang menghasilkan teologi kontekstual dari sebuah perspektif penderitaan. Titik berangkat teologi ini adalah realitas-realitas sosial yang mengenaskan karena tindakan-tindakan ketidakadilan, secara khusus ketidakadilan di dalam sistem-sistem ekonomi, sosial dan politik yang kemudian mengakibatkan bentuk-bentuk penderitaan, kemiskinan, pemarjinalan (peminggiran), ekslusi (penyingkiran) pada orang-orang lemah. Kemiskinan bersemi dari ketamakan yang tak terkekang dari sebagian individu dan Negara. Perjuangan teologi pembebasan memberikan pemahaman bahwa manusia tidak dibenarkan melakukan penindasan terhadap orang lain. Manusia, sebagai gambar Allah, ada untuk melayani TUHAN dan melayani sesama, sebagai pelayan untuk sesamanya didalam mengusahakan, memelihara, dan mengembangkan taman dengan segala isinya. Sikap selfiness pementingan diri sendiri dan ketamakan adalah sebuah dosa. 
 Konteks Kehidupan di Asia (Indonesia)
 Konteks Agama  
Asia dianggap tanah kelahiran agama dan bahasa, kebudayaan dan ilmu pengetahuan bangsa-bangsa. Asia ialah tanah asal ketiga agama besar di dunia: Islam, Kristen, Buddha. Agama Kristen timbul di Palestina, meskipun demikian tidak dapat berakar di Asia, dan dimana itu terjadi, sebagian besar tergeser oleh agama Islam. Sehingga di Asia tumbuh banyak agama Kristen, Islam, Buddha, Hindu. Rakyat di daerah, sebagian besar masih berpegang pada agamanya lama. Asia adalah kaya dengan keanekaragaman agama, mulai dari agama pribumi dan pendatang, agama suku dan agama modern, agama mistis dan logis, bahkan dari Asialah agama-agama timur ditumbuhkembangkan di benua lain.
 Konteks Sosial
Mutu kehidupan orang Asia sangat berbeda-beda. Negara-negara di Asia Selatan mempunyai lebih sedikit dokter perseribu orang penduduk dan banyak orang yang makanannya tidak seimbang. 
 Konteks Budaya
Asia banyak ditemukan berbagai cara hidup yang berbeda-beda. Menjadi seorang Asia hanya berarti bahwa anda berasal dari benua yang terbesar di dunia. Cara hidup seorang penambang Siberia sangat berbeda dengan cara hidup seorang petani padi di Vietnam.
 Konteks politik 
Hampir semua Negara mengalami pertikaian antara pemerintahnya dengan para pemberontak dan, sebagai akibatnya, banyak orang yang terbunuh. Kadang-kadang juga terjadi kekerasan di antara orang yang berbeda bahasa dan adat istiadatnya. Penduduk Asia terbesar di dunia membuat potensi sekaligus tantangan pengangguran terbesar di Asia masa kini.
 Konteks Ekonomi
Sebagian besar penduduk Asia tinggal di Negara raksasa seperi India, Cina, dan Rusia. Jepang, Singapura, dan Korea Selatan adalah Negara kaya. Jepang merupakan Negara industry terbesar ketiga. Hampir semua Negara di Asia Tenggara menderita akibat peperangan sejak Perang Dunia-II. Pada umumnya Negara-negara di Asia tergolong Negara yang berkembang. Ada beberapa dikatakan sudah maju dalam ekonomi dan teknologi, bahkan berada pada level pertama kompetisi dengan Negara-negara maju di dunia. Disisi lain, ada beberapa Negara yang termasuk dalam Negara miskin. 
Konteks Geografi, dan Kependudukan 
Asia merupakan benua terbesar di dunia. Asia adalah benua yang paling besar dan paling tinggi, sejarah yang paling tertua. Penduduk Asia berjumlah setengah penduduk dunia. Kepadatannya berbeda-beda. Ukuran Asia yang sangat besar memberinya perbedaan yang sangat besar pula. 
Latar Belakang Munculnya Teologi Pembebasan di Asia/Indonesia
 Persoalan konkrit teologi Asia adalah diantaranya: persoalan kemajemukan agama, persoalan agama yang sering diperalat demi kepentingan politik, tingkat kesenjangan antar bangsa, etnis, kemiskinan, kemajuan peradaban tanpa Tuhan, dll. Teologi pembebasan di Asia, tentu tidak dapat dilepaskan dengan Teologi Pembebasan yang lahir terlebih dahulu di Amerika Latin. Persoalan utama orang Asia yang menderita karena kemiskinan yang ditimbulkan oleh masalah sosial-politik dank arena disintegrasi yang ditimbulkan oleh konflik kemajemukan agama, ras, dan budaya. 
Latar Belakang Sosial-Ekonomi (Tingkat kemiskinan yang tinggi)
 Negara di Asia pada umumnya berada dalam level kemiskinan, kecuali beberapa negara yang tergolong negara maju. Tantangan besar bagi negara-negara di Asia ialah masalah kemiskinan. Dari kondisi secara menyeluruh, maka hanya 10-15% dari total jumlah penduduk Asia yang hidup menyenangkan, dan lainnya ialah hidup dalam kemiskinan. Masyarakat Asia terjadi gep ekonomi antara yang miskin (mayoritas) dan yang kaya (minoritas). Gep ekonomi ini mempengaruhi kondisi sosial dan suhu politik intern pada umumnya negara-negara Asia.
Kontrol Ekonomi dari kuasa imperialistic sangat kuat dan berakar di Negara bekas jajahan.
 Pengalaman kolonialisme negara-negara Asia pada umumnya, seperti Indonesia, Malaysia, India menjadi subjek yang langsung dikontrol oleh negara-negara maju di Eropa. Cina diambil alih kekuasaan Barat, Korea Selatan dijajah Jepang, hanya Jepang dan Thailand yang tidak pernah dijajah apapun. Korea Utara, Hongkong, Taiwan dikenal sebagai negara maju di Asia. Negara Asia yang pernah dijajah memiliki bentuk ekonomi tersendiri yaitu ekonomi neo-kolonial yang secara struktural dan material dikontrol dikenal sebagai negara super power. Jepang juga dianggap semi imperalistik karena disamping membantu negara-negara Asia lainnya, Jepang membuat negara lain tersebut bergantung padanya.
Kontrol militer yang sangat kuat (Militerisasi)
 Ada beberapa negara yang berada langsung dibawah hukum militer, seperti Indonesia, Taiwan, Korea Selatan. Karena itu, bedget untuk militer sangat tinggi. Peningkatan dominasi militer dalam peta kekuasaan politik adalah merupakan fenomena umum di banyak negara Asia.
Latar belakang Agama dan kebudayaan Asia serta komplesitasnya. 
Kemajemukan agama dan budaya yang ada di Asia sangat rawan membangkitkan pertikaian seperti yang terjadi di Indonesia dan Filipina. Asimilasi budaya dan agama membangkitkan persoalan yang tidak hanya bersifat internal, melainkan juga eksternal, belum lagi perjumpaan agama yang satu dengan agama yang lain.  
 Komplesitas agama dan kebudayaan Asia
Perjumpaan Agama-agama dengan budaya memiliki memberikan warna tersendiri dalam persoalan hidup bermasyarakat. Pertama, adalah dominasi di wilayah masing-masing akan agama tertentu, kedua, agama dan budaya Asia memiliki karakteristik tersendiri dengan adanya bermacam-macam ras, kelompok etnis, dan suku (India-kasta). Semua ini sering dibedakan oleh bahasa dan budaya dan kadang-kadang oleh agama. Masing-masing kelompok ini memiliki interesnya sendiri-sendiri dengan menekankan identitas, hak-hak dan kepentingan pribadinya. Ketiga, dalam sejarah Asia, perempuan telah dipandang sebagai kaum yang inferior, sehingga muncul kaum rohaniawan dan cendikiawan wanita. Agama rakyat itu didasarkan pada usaha menguasai orang yang tidak berpengetahuan, tidak diperhitungkan, yang bersukacita dan mengalami tragedi. Inti dari niali umum ini menjadi integrasi pembebasan manusia dan untuk kerjasama manusia dalam membangun masyarakat manusia dan untuk kerja sama manusia dalam membangun masyarakat manusia dalam konteks pulralistik di Asia.  
 Pengaruh faktor-faktor agama dan budaya 
Agama dan kebudayaan dapat memimpin pribadi dan kelompok dalam keegoisan dan komunitas sempit, meskipun agama-agama memiliki aspek pembebasan dan penindasan, dan agama terlalu dipengaruhi oleh pemimpin agama. Agama juga mempengaruhi psikologi dari umatnya, diantaranya ialah mendorong tindakan-tindakan manusia untuk mengubah ke arah yang lebih baik. Tetapi kebanyakan ialah membantu mengembangkan suatu sikap pasif dan fatalistic terhadap alam, pembangunan, hidup-mati, hubungan sosial dan struktur. Kebudayaan Asia menjadi alat yang berkuasa penuh terhadap pengabaian yang sifatnya penindasan yang didominasi jenis kelamin, kasta, suku, kelompok etnis. 
Agama telah berkuasa mengkritik ketidakadilan, ketidaksamaan hak, korupsi, pemerintahan otoriter. Agama memiliki suatu budaya memprotes dan melawan segala bentuk penyalagunaan, penyimpangan. 
 Pengaruh Modernisasi 
Modernisasi sangat mempengaruhi hidup masyarakat Asia, gaya hidup, hubungan antara keluarga, masyarakat, perubahan nilai budaya. Bangkitnya suatu fenomena baru yang sifatnya membela kepentingan pribadi terhadap kepentingan yang lain. Modernisasi juga mempengaruhi kebangkitan studi melalui perbandingan agama, di sisi negatif bangkitnya semangat mengoreksi ulang akar spiritualitas, tekstualitas, kebenaran dan oral, tanpa standarisasi. Juga terbuka pada kebudayaan lain, dan membangunnya dalam kebudayaan sendiri. Juga bangkitnya sifat oikumenikal agama, keterbukaan dan perjumpaan antar-iman. 
 Pengaruh Ideologi dan Agama Asia
Hubungan antara idiologi Asia dan agama Asia adalah perlu dipertimbangkan dalam memahami agama dan kebudayaan Asia. Kapitalis dan terbuka terhadap pengaruh budaya dari luar secara khusus negara-negara Barat yang kaya. Konsumerisme, bantuan, pendidikan, punya pengaruh baik dan buruk. Prostitusi, korupsi dan pengaruh lain. 
Negara sosialis yang dibawah regim Marxis, menantang agama bahkan menganiaya penganut agama apapun. Mencoba membangun budaya konservatif, Konfusianisme dengan gaya hidup barat yang modern. Menjadikan toleran dengan agama dan sedang membuka pintu budaya modern dari negara industrialis. Beberapa negara juga mengadopsi banyak filosofi sekular. Memperhadapkan dengan Asia kepada persoalan dalam hal mencoba untuk memuaskan tuntutan kelompok agama dan budaya yang mayoritas dan minoritas di dalam Negara mereka. Budaya dan agama di Asia tidak bisa dibahas terpisah, sebagaimana hubungan agama dengan dunia modern. 
Sehingga, Teologi Pembebasan yang lahir di Amerika Latin, pada dasarnya ialah sama dengan Teologi Pengharapan yang lahir di Jerman, oleh Jurgen Moltmann, Teologi Revolusi di Amerika Serikat, muncul karena diskriminasi ras dan seks, seperti Teologi Perempuan dan Teologi Hitam.
Teologi Pembebasan di Asia
Teologi Pembebasan (Minjung) di Korea
 Minjung adalah istilah yang berasal dari Korea yang berarti rakyat Korea yang dirusak hak azasinya baik politik maupun sosial ekonomi. Teologi Minjung bangkit di Korea tahun 1970 sebagai komitmen teologis dari gerakan rakyat bagi hak azasi manusia, demokratisasi, dan keadilan sosial-ekonomi. Teologi Minjung telah mengusulkan suatu metode gambaran dan cerita Minjung yang tersingkap (biografi Minjung), sebagai kritik mengenai cara berteologi menurut pikiran Barat. Di antara kaum muda, konsep Minjung telah mengasimilasi dalam dirinya sendiri konsep mengenai revolusi sosial atau marxisme. Kaum muda bangkit melawan Negara dan kekuasaan internasional yang menindas, seperti sistem militer gabungan antara Korea, Amerika Serikat, dan Jepang. Yesus, yang merasakan kenyataan hidup yang betul-betul dialami orang-orang sakit, orang-orang miskin, orang-orang yang disingkirkan dari masyarakat, dan perempuan-perempuan, berbicara kepada Allah atas nama Minjung, seakan-akan Dia adalah jurubicara mereka. Pemungut cukai, perempuan sundal, sama seperti Minjung yang diasingkan dari masyarakat. 
 Kim Yong Bok mengerti arti Minjung dengan cara ini: Perempuan mempunyai Minjung ketika ia dikuasai secara politik oleh kaum pria. Suatu kelompok etnis adalah suatu kelompok Minjung ketika dikuasai secara politik oleh kelompok lain. Satu ras adalah Minjung ketika ras tersebut dikuasai oleh satu ras yang berkuasa. Ketiks kaum Intelektual ditekan oleh pemimpin yang berkuasa, mereka memiliki Minjung, begitu juga dengan kaum buruh dan petani. Siapakah Minjung itu? Mereka adalah kaum papah yang jangankan dipapah kaum berada, bahkan dilihatpun tidak.
Teologi Rakyat sebagai penyatuan Korea Utara dan Selatan
 Kim Chung Choon berpendapat bahwa Allah ditemukan ditengah-tengah penderitaan manusia. Seperti Teologi Pembebasan, ia menunjukkan bahwa Keluaran sebagai kunci peristiwa pembebasan sebagai tindakan Allah sendiri dalam pergumulan manusia. Menurut dia bahwa: Allah mendengar tangisan manusia dari tempat-tempat perjuangan di seluruh dunia, yaitu tangisan orang yang ditolak, orang yang didiskriminasi, rasisme, tangisan rakyat yang berada di bawah kediktatoran, tangisan orang miskin yang menjadi orang asing ditanahnya yang dikuasai kapitalisme, tangisan orang-orang yang dipenjarakan karena ideology politik seperti komunisme. Konsep rakyat dihubungkan dengan konsep Minjung yang mengharuskan perubahan sosial tidak dapat dianggap sebagai suatu pilihan yang lebih sederhana dari istilah Marxis. Bagaimanapun penyatuan Korea tidak dapat dilihat hanya oleh satu bagian dari rakyat, sekalipun rakyat adalah subjek sejarah. Pemilahan Korea merefleksikan persoalan dan kejahatan kuasa dunia dan ideology, dimana dunia ketiga berjuang demi pembebasan dan pengubahan dunia secara menyeluruh.
Teologi Pembebasan (Kerbau) di Jepang 
 Teologi Eropa telah menjadi kuat di Jepang tahun 1960-an. Karena itu teolog-teolog muda mulai mencoba untuk membebaskan teologi Jepang dari tawanan Jerman. Kosuke Koyama, melalui bukunya Waterbufallo Theology (Teologi Kerbau), ia mencoba memberikan warna bagi teologi Thailand. Di mana pemberitaan Injil tidak dengan pengertian-pengertian yang abstrak melainkan dengan bahasa yang penuh arti untuk kaum petani, rakyat kecil, seperti pisang, cabe, anjing, sepeda, dll. Pada dasarnya, Koyama ingin membebaskan teologi Thailand dari cengkraman teologi ala barat yang teoritis, sebaliknya ia menekankan teologi praktis. Koyama menyetujui Teologi Pembebasan di Amerika Latin yang begitu memperlihatikan orang-orang miskin. Koyama pun mengusulkan teologi vital di Asia. Masao Takenaka, bagaimanapun orang Kristen hadir dalam masyarakat yang didalamnya ada ketidakadilan. Disinilah perannya, yaitu merestorasi konteks sosial.  
Teologi Pembebasan di Cina
 T.C. Chao membongkar dan mengkritik keadaan kekristenan yang telah dibiayai kapitalisme. Ia mengemukakan suatu pengertian baru mengenai kekristenan, yaitu pengertian Marxisme yang memfokuskan perhatian pada isu-isu global dan ekonomi. Ting Kuan Hsun dalam sejarah Kristen Cina, dan menemukan suatu sistem untuk membangun sosialis dalam suatu Negara yang miskin yang semi-kolonial dan semi-feodalis. Ia mengusulkan kekristenan harus mewujudkan perbuatan Allah dalam sejarah proses membangun suatu manusia baru.
Teologi Pembebasan di Hongkong 
 Raymond Fung memfokuskan perhatian kepada ketidakadilan sosial di industri Hongkong, bahwa: belas kasihan dan pembebasan menjadi mungkin hanya apabila orang-orang Kristen sungguh-sungguh merasakan penindasan seperti melawan dosa. Karena itu, orang Kristen harus menjadi orang yang menghibur dengan belas kasihan dan menghakimi dengan belas kasihan kepada penindas. Peter K.H. Lee membukakan mengenai gep antara yang miskin dan yang kaya, belum lagi dengan penindasan. Ia menyatakan bahwa walaupun kebanyakan masyarakat Asia telah menghancurkan politik kontrol dari barat, namun gereja masih dikuasai oleh imperialism. Sekalipun gereja lemah dalam melawan penindasan, namun harus memulai dengan langkah awal, yaitu kebangkitan gereja, harus ditafsir ulang mengenai apakah artinya bagi orang Asia. 
Teologi Pembebasan Kehidupan baru dan Politik di Taiwan 
 Choan Seng Song berbicara mengenai Theology of Women Tomb suatu perjuangan kehidupan baru. Perjuangan ini seperti seorang ibu yang membawa benih kehidupan di dalam dirinya, demikianlah orang Kristen berperan dalam kegelapan, mengalahkan kebencian dengan kasih, dan membebaskan yang tertindas. Song memperlihatkan suatu pengetahuan yang mendalam dari teologi pembebasan Amerika Latin dan menggunakan tema Keluaran untuk menyatakan partisipasi Allah dalam proses politik. Teologi politik mengenai penebusan kematian suaminya yang dibunuh dengan brutal oleh penguasa yang kejam yang mengorbankan dirinya. Penindasan Asia, membuat Yesus dan Budha menangis, Pengalaman ini merupakan sumber yang menyatukan mereka melawan ketidakadilan.
Teologi The Eucharist and Human Liberation di Srilanka 
 Tissa Balasurya, dalam bukunya, ia mengusulkan mengenai tema-tema pelayanan liturgi masa kini seperti: makanan, pakaian, perlindungan, kesehatan, pekerjaan, keluarga, keadilan, dan keharmonisan agama. Eucharist harus mempunyai tujuan untuk membangun masyarakat yang baru yang didasarkan pada kesamaan, pelayanan, dan keadilan. Balasurya percaya bahwa teologi pembebasan perlu dibebaskan dari budaya Barat, dari pemusatan gereja, dari dominasi laki-laki, dari pro-kapitalisme dan antikomunis. 
Teologi Perjuangan di Filipina
 Metode ini lahir di Filipina dan latar belakangnya sebagai berikut: pertama, komitmen yang meminta terus menerus keterlibatan perjuangan rakyat sebagai refleksi teologi masa kini; kedua, konteks sejarah yang konkrit mengenai analisa sosial politik dan sosial agama budaya adalah suatu element yang vital; ketika warisan iman kita seperti Alkitab, tradisi gereja, element yang lain dari iman jemaat) meminta kita untuk menemukan dan menyatakan pencipta dan Tuhan dari sejarah pembebasan, dan keempat, pengalaman kehadiran Allah dan tindakan dalam konteks sejarah dibuat secara sengaja dalam bahasa baru, symbol, mitos, liturgy yang dapat dimengerti dan relevan untuk rakyat yang berjuang. Edicio de la Torre adalah pemimpin Kristen untuk pembebasan nasional. Mengambil tantangan Marxisme adalah mengambil inkarnasi bagi rakyat Filipina, secara konkrit untuk menganalisa situasi nyata dan mengesampingkan rakyat yang tertindas dalam perjuangan bagi pembebasan., bukan seorang pemimpin yang mengangkat diri semdiri, melainkan seorang hamba yang revolusi. Levi O. Cracion, baginya kekristenan harus memperlihatkan suatu kepedulian terhadap orang miskin. HAM berakar pada kebenaran Allah, sehingga menindas rakyat, berarti menindas Allah. Tugas khusus gereja ialah memberitahukan perlawanan Allah kepada ketidakadilan manusia. Francisco F. Claver, memprotes regim Presiden Marcos, pusat misi Kristen ialah membebaskan orang miskin dan misi ini menghalangi pemisahan apapun antara gereja dan politik. 
Emerito P. Nacpil mengusulkan 3 dimensi dari teologi Pembebasan di Filipina ialah pertama, Injil sebagai pembebasan dari penindasan, kedua, Injil sebagai panggilan kepada tanggung jawab, ketiga ialah sebagai garis horizontal untuk pengharapan. 
G. Arevalo berpendapat bahwa respons yang otentik kepada Allah yang benar adalah bukan agamawi sifatnya, tetapi perjuangan mengenai kemanusiaan yaitu bagi mereka yang miskin dan tertindas. Kita harus mempunyai kristologi dari bawah (Christology from below) dengan maknanya untuk pembebasan. 
Teologi Pembebasan (Dalit) di India
 Samuel Rayan percaya bahwa untuk mengambil keadilan Allah dengan serius itu berarti menaklukkan bentuk-bentuk dari penindasan manusia. Ia menginginkan bentuk-bentuk penindasan manusia. Ia menginginkan kekristenan tanpa hirarki, juga Hindu tanpa kasta. Misi Kristen ialah kepada orang-orang miskin. K. Mattew Kurian menulis tentang kapitalisme dan bangkitnya sosialisme di Asia masa kini. Ia menantang kerjasama antar bangsa yang membuat ketergantungan Negara-negara Asia di bidang ekonomi dan politik. Ia membuktikan bahwa Negara-negara kapitalis masa kini menderita karena kurangnya tenaga kerja, inflasi, kemelaratan, sedangkan Negara-negara sosialis mengalami peningkatan standar hidup pekerjanya. Ia bahkan mengusulkan suatu Kristologi untuk orang India yang berada di pusat perjuangan untuk membebaskan diri dari semua bentuk perbudakan.
Feminis Teology dan Beggarly Theology di Indonesia
 Henriette Marianne Katoppo membangun teologi pembebasan berkenaan dengan hak-hak azasi untuk perempuan dan kelompok minoritas. Tulisannya yang berjudul Compassionat and free: An Asian Womens Theology adalah menempah suatu Teologi wanita Asia (feminis Theology). Ia melihat bahwa kekristenan di antara orang Islam, Minahasa yang kebaratan/dibaratkan, perempuan diajar untuk memandang tinggi laki-laki yang pada dasarnya sama adalah superior/lebih unggul. Ia melihat bahwa perawan Maria adalah suatu model penting bagi wanita. Maria adalah berbelas kasihan dan bebas. Maria adalah symbol otonomi perempuan. Ia mengkritik pembebasan Gutierrez, tidak memasukkan Maria dalam teologinya. YHWH tidak berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Itu berarti Allah tidak membedakan laki-laki dan perempuan. Ia menggunakan metafora C.S. Song menjelaskan peranan wanita yang penting.
 Beggarly Theology dimengerti dalam semangat pengemis, dimana mengindetifikasi dengan orang miskin yang melarat, yang harus tanggap dengan konteks keadaan Asia. Widjaja mengatakan Beggarly Theology memperlihatkan fokus utama Teologi Pembebasan Amerika Latin dan perhatiannya untuk orang miskin.  
Teologi Pembebasan Menurut Alkitab 
 Bagi kita umat Kristen, Alkitab menjadi sumber penting dalam pekerjaan berteologi. Alah yang dijumpai dalam sejarah manusia tak lain adalah Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam hidup, kematian, dan kebangkitan Yesus. Kita percaya bahwa Allah dan Kristusterus hadir di dalam perjuangan rakyat mencapai kemanusiaan yang penuh dan kita memandang dengan pengharapan pada penggenapan segala sesuatu takkala Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28). Pertobatan demi pembebasan adalah proses manusiawi yang didukung dan dibimbing oleh Roh. Pembebasan harus diinginkan sebagai suatu nilai yang dapat dicapai melalui pengorbanan. Mereka yang tertindas harus memotivasi diri sendiri untuk berjuang tanpa rasa takut memotivasi diri sendiri untuk berjuang tanpa rasa takut melawan dominasi dan berkorban untuk itu.
Refleksi Teologis
Jadi refleksi teologis yang dapat direnungkan sebagai bahan refleksi Matius 25:35-36,40b dan Lukas 4:18-19 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Seharusnya gereja harus melaksanakan misinya dan menjadi barisan terdepan ketika suatu permasalahan dan ketika dunia menyimpang dan melakukan hal yang tidak berkenan di hadapan Allah.
 Kesimpulan
Teologi Pembebasan merupakan salah satu jenis teologi yang menghasilkan teologi kontekstual dari sebuah perspektif penderitaan. Titik berangkat teologi ini adalah realitas-realitas sosial yang mengenaskan karena tindakan-tindakan ketidakadilan, secara khusus ketidakadilan di dalam sistem-sistem ekonomi, sosial dan politik yang kemudian mengakibatkan bentuk-bentuk penderitaan, kemiskinan, pemarjinalan (peminggiran), ekslusi (penyingkiran) pada orang-orang lemah. Perjuangan teologi pembebasan memberikan pemahaman bahwa manusia tidak dibenarkan melakukan penindasan terhadap orang lain. Manusia, sebagai gambar Allah, ada untuk melayani TUHAN dan melayani sesama, sebagai pelayan untuk sesamanya didalam mengusahakan, memelihara, dan mengembangkan taman dengan segala isinya. Sikap selfiness pementingan diri sendiri dan ketamakan adalah sebuah dosa.
 Daftar Pustaka 
Balasurya, Tissa, Teologi Siarah, Jakarta:BPK-GM,2004
Elwood,Douglas J., Teologi Kristen Asia, Tema-tema yang ditampilkan ke Permukaan, Jakarta:BPK-GM,2006
Lumintang,Stevri I., Teologi Abu-Abu, Pluralisme Agama, Malang: Gandum Mas,2004
Pringgodigdo, A.G., Ensiklopedi Umum dan manakalah semangat perjuangan, Yogyakarta:Kanisius,2006
Simamora, Ranto G., Misi Kemanusiaan dan Globalisasi, Teologi Misi dalam Konteks Globalisasi di Indonesia, Bandung;INK MEDIA,2006
Worrall, Mary (ed), Oxford Ensiklopedi Pelajar, Jakarta: PT. INTERMASA,2001

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 28. Makna Panggilan Abraham Menurut Agama Yahudi

I. Latar Belakang Masalah  Pemanggilan Abram itu akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dan berkat yang dimadsud ialah berkat yang berasal dari Abram dan barangsiapa yang menyembah Allah Abram. Semua umat manusia akan menyembah Allah Abram, tapi permasalahan apakah berkat itu hanya tercurah hanya kepada Israel dan keturunannya saja, ataukah kepada semua kaum di bumi. Abram adalah permulaan pengenalan akan Allah Yang Esa, setelah berbagai kesalahan yang telah dibuat manusia oleh dosa. Abram selain disebut bapa orang percaya, ia juga disebut sahabat Allah.  Ada kalanya Allah telah memberkati orang-orangNya, sehingga hal menimbulkan kesal dan iri hati bagi pihak yang tidak terberkati. Mungkinkah Ia memihak dan bertindak berat sebelah? Sungguhpun Allah dapat memberi berkat menurut kesukaanNya, meski seorangpun tidak ada yang berhak, tetapi justru berkat itu dilimpahkannya segala yang hidup, termasuk juga yang tidak dipilihNya. Bukan hanya Ishak dan Yakub dan Efraim mendapat berka...

Materi 3. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru

Mencermati Arti dan Makna “Persaudaraan” (Brotherhood/Sisterhood) dalam Gereja Mula-mula serta Refleksinya dalam Gereja dan Masyarakat Masa Kini I.                     Latar Belakang Masalah Suatu nyanyian yang sering kita dengar adalah “Dalam Yesus kita bersaudara”, yang mempersatukan mereka ialah kasih. Gereja masa kini banyak tidak mempraktekkan lagi arti kata adelpos itu sebagai wujud persaudaraan antara satu dengan yang lain, ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman modernisasi, cara pandang yang globalisasi, maka Kekristenan menanggapi tantangan-tantangan budaya global. Konsepsi Familia Dei atau Persaudaraan, dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkot...

Materi 2. Etika Kristen mengenai pendirian tugu

Tinjauan Etika Kristen tentang menghormati Orang tua menurut Hukum ke V dihubungkan dengan Pendirian Tugu dalam adat kebudayaan Batak I.      Latar Belakang Masalah Kali ini kita akan membahas tentang konteks tanah atau daerah Batak, begitu banyak tugu-tugu atau makam yang begitu megah dan indah di tanah Batak, seringkali penyeminar melihat itu didaerah Toba Samosir yang menjadi mayoritas masyarakat yang mempraktikkan hal itu, sedangkan rumah-rumah nya sangat sederhana. Bangunan tugu-tugu mengalahkan rumah-rumah masyarakat Batak yang sangat sederhana. Jaminan berkat dan kutuk itu dipercayai dari nenek moyang nya dahulu. Dan juga banyak motivasi salah menghormati orang tua yang sudah mati dengan berlandaskan hormat pada orang tua yang sudah mati berdasarkan hukum taurat ke lima dan penugasan Yakub kepada Yusuf tentang mayat yang harus dibawa dari Mesir. Di kuburkan   bersama-sama leluhur, amanat orang tua harus dikubur dengan satu keluarga, Konteks suku Bat...