Langsung ke konten utama

Materi 27. Kemanusiaan Yesus - Allah Sejati dan Manusia Sejati

KEMANUSIAAN YESUS

I. Pendahuluan
Pertanyaan yang selalu menjadi perdebatan di tengah masyarakat hingga era postmodernisme  ini adalah mengenai siapakah Yesus. Hal ini tidak hanya terjadi didalam masyarakat yang masih menggali makna dan arti dalam imannya untuk percaya kepada Yesus. Walaupun ada juga beberapa kelompok yang menggali arti tentang Yesus untuk menggoyahkan dan menjatuhkan iman Kristen atau orang-orang yang percaya kepadaNya. Secara dogmatis juga sering diperdebatkan mengenai Kristologi atau tabiat Yesus itu. Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai Yesus sebagai manusia, semoga sajian kami kali ini dapat menambah wawasan bagi kita bersama.
II. Pembahasan
2.1 Siapakah Yesus dalam Tinjauan Historis atau dalam Injil Sinoptik
Yesus yang historis adalah Yesus yang pernah dilahirkan dan pernah hidup di dunia sebagai manusia. Keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab Injil mengenai sejarah kehidupan Yesus tidak begitu jelas, namun ada beberapa bagian tertentu  dari kitab tersebut yang menunjukkan Yesus adalah manusia yang sejati. Berita Injil dimulai dengan menempatkan Yesus dalam rentetan silsilah manusia (Matius  1:2-27). Kelahiran-Nya adalah kelahiran normal sama seperti manusia lain (Matius 2:7, Galatia 4:4). Ia dibesark an dalam lingkungan rumah tangga dan keluarga, sama seperti kita, hidupnya berlangsung dengan pertumbuhan dan perkembangan yang normal ( Lukas 8 : 40-52, Ibrani 5:8).
2.1.1. Inkarnasi
Pertama-tama harus dititikberatkan, bahwa dalam diri Yesus itu Allah menjadi manusia dalam arti yang sepenuh-penunhya ; penjelmaanNya (inkarnasiNya) bukan yang dibuat-buat, dalam arti seakan-akan  Allah hanya meminjam tubuh Yesus untuk beberapa waktu saja.  Bila itu yang terjadi, maka selama waktu itu Allah takkan kunjung terlihat, sebab Ia menyamar sebagai manusia. Kalau begitu, maka semua kesukaran yang dialami Yesus tidak ada kesamaan dengan kesukaran yang dialami manusia seperti kita. Peristiwa inkarnasi itu betul-betul suatu inkarnasi yang sejati, bukan dibuat-buat. Dalam diri Yesus terdapat tabiat, baik yang ilahi maupun yang sungguh-sungguuh insani. Itu jugalah sebabnya gereja selalu bersaksi, bahwa di dalam Yesus dinyatakan manusia yang sejati. Keempat Injil, harus kita akui telah menolong kita mengenal Dia selaku suatu diri pribadi yang nyata, meskipun pada akhirnya harus kita akui bahwa ada unsur-unsur dalam diri Yesus yang tersembunyi bagi kita. 
Inkarnasi Yesus yang kita maksudkan disini dapat memberi kita 2 segi pandangan yaitu :
1. Inkarnasi bermaksud menyatakan bahwa Firman Allah telah menjadi daging, yakni bahwa Allah telah menjadi manusia di dalam Yesus orang Nazaret. Yesus benar-benar menjadi manusia.
2. Inkarnasi bermaksud menyatakan bahwa Firman Allah telah menjadi daging, bahwa Allah telah menjadi manusia, bahwa di dalam diri Yesus orang Nazaret itu, Allah sendiri datang kepada kita.
2.1.2. Kelahiran Yesus  
Sama seperti semua orang, maka juga Yesus memulai kehidupanNya lewat proses kelahiran. Mengenai ini Rasul Paulus memberi pengertian yang jelas dan gamblang, Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan (Galatia 4:4a). Kira-kira seperampat abad kemudian, penginjil Matius dan Lukas neletakkan tradisi-tradisi tentang kelahiran Yesus dalam pendahuluan Injil masing-masing. Menurut Matius, Yesus dilahirkan di Kota Betlehem di negeri Yudea pada masa pemerintahan Raja herodes  (Matius 2 : 1), yakni sebelum kematian Herodes Agung pada tahun 4SM. Lukas lebih berminat untuk menempatkan kisahnya dalam konteks yang lebih luas dari kekaisaran Roma ; menurut laporan Yesus dilahirkan ketika sensus  pertama dijalankan pada waktu Kirenius Gubernur Siria (Lukas 2:2). Maria dan Yusuf, demikianlah nama orangtua dari Yesus. Yusuf adalah pria yang melindungi istrinya semasa kehamilan istrinya, walaupun pada awalnya ia ragu. Namun Malaikat meyakinkan Yusuf dalam mimpi bahwa ia akan mengemban tugas khusus, karena seluruh keturunan Daud akan menerima Juruselamat yang telah dijanjikan. Yusuf adalah salahsatu keturunan Daud yang dipilih sebagai perantaraan Mesias. Maria tinggal di Nazaret sebelum perkawinannya dengan Yusuf (Lukas 1:26), Yusuf juga pasti tinggal di Nazaret karena ia mengambil Maria kerumahnya untuk menggenapkan perkawinan mereka (Matius 1 : 18, 20, 24). Lalu, mereka berangkat ke Betlehem karena sensus penduduk yang dilakukan atas perintah Agustus untuk pemungutan pajak (Lukas 2 :1). mereka mencari penginapan tetapi tidak ada yang bersedia menampung mereka diakrenakan semua penginapan yang ada sudah terisi. Akhirnya mereka membersihkan suatu sudut halaman penginapan, yaitu tempat hewan-hewan milik orang yang menginap. Disanalah Maria melahirkan puteranya. Didalam kitab Matius dikisahkan bahwa orang-orang yang datang melihat kelahiranNya adalah orang-orang Majus yang mengikuti bintang timur. Setelah kelahiranNya, Herodes Agung memerintahkan semua anak laki-laki di Betlehhem dibunuh dan keluarga Yesus melarikan diri ke Mesir.Setelah Herodes meninggal dan digantikan oleh Arkhealus, keluarga Yesus akhirnya pergi dan menetap di Nazaret (Matius 2:13-19).
2.1.3. Yesus Beranjak Dewasa 
Kita hanya tahu sedikit mengenai kehidupan Yesus sebagai anak-anak. Rumahnya yang terbuat dari tanah liat merupakan bangunan yang terdiri hanya dari satu ruangan, dengan atap datar. Mungkin Yesus ikut membantu Yusuf dalam pekerjaannya. Mereka membuat alat-alat pertanian, perabot rumah dan mungkin juga bekerja untuk bangunan. Setiap desa kecil seperti Nazaret mempunyai tukang kayunya sendiri, yang mungkin sekali juga melakukan berbagai tugas lain disamping pekerjaannya sebagai tukang kayu. Gambar-gambar yang kadang-kadang kita lihat tentang Yesus sebagai remaja, yang sedang membuat kuk untuk sapi, tidaklah melukiskan semua yang dilakukanNya. Tentu Ia juga terampil didalam pekerjaan memplester tembok maupun menyerut kayu.Tampaknya Yesus adalah anak yang cerdas. Pada saat Ia berumur 12 tahun. Ia telah cakap dalam bahasa Ibrani (Lukas 4:16-20). Sebenarnya, kesan yang menyebarluas ini didasarkan pada suatu frasa yang termuat dalam satu ayat dari Markus, di mana para penduduk Nazaret bertanya mengenai Yesus, bukankah Ia anak tukang kayu? (Markus 6:3). Matius mengubah frasa ini menjadi Bukankah Ia ini anak tukang kayu? (Matius 13:55). Injil Markus Injil paling awal yang kita miliki, menyatakan bahwa Yesus mempunyai empat saudara laki-laki dan paling tidak dua saudara perempuan. Injil ini bahkan merinci nama saudara-saudaraNya itu : Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon. Markus menyinggung adanya saudara-saudara perempuan Yesus tanpa menyebutkan nama mereka, namun tradisi Kristen awal menyatakan ada dua orang, yaitu Maria dan Salome (Markus 6:3). Menurut pengertian yang luas saudara berarti kerabat dekat yang berarti dapat juga memiliki arti saudara sepupu.
2.1.4. Yesus Dibaptis dan Melayani   
Di Betania di seberang Sungai Yordan itu Yesus juga di baptis (band Yoh 1: 28-34). Dia meninggalkan Nazaret di Galilea ketika orang banyak berkumpul di sekitar Yohanes (Lukas 3:21-22 ; Mrk 1 : 9-11). Memang wajarlah kalau mula-mulaYohanes enggan membaptis Yesus ; ia merasa dirinya di bawah Yesus (Matius 3 : 13-17). Atas perintah Yesus pembaptisan itu akhirnya diselenggarakn juga dan Yesus memperlihatkan bahwa diriNya bersatu dengan umat yang berdosa. Yesus memanggil murid-muridNya untuk menjadi penjala manusia (Matius 4:19-20). Tanda pertama yang dibuat Yesus adalah muzijat anggur di Kana, Galilea (Yohanes 2:1-11)
2.1.5. Penderitaan, Kematian dan Penguburan Yesus
Pada akhir pengadilan di muka Pilatus, Markus ( 15:15) berkata, Pilatus membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya, lalu diserahkannya untuk disalibkan (Matius 27:26). Begitu pula dengan kisah penyalibannya. Pertama-tama disebut peristiwa penyaliban sendiri di Gunung Golgota (Markus 15:22-26). Oleh Matius dan Markus secara khusus disebut anggur bercampur empedu.  Kitab-kitab Injil seakan-akan melaporkan dua proses pengadilan yang berbeda tentang Yesus. Yang satu ialah dihadapan Allah para pemimpin Yahudi, ketika Ia dituduh melakukan pelanggaran agama (Yoh 18:12-14). Yang lain ialah dihadapab prefek atau Gubernur Roma, Pontius Pilatus, dimana Ia dituduh melakukan pelanggaran politik. Mungkin, sekali orang-orang Yahudi tidak berwenang melaksanakan keputusan hukuman mati, itulah sebabnya mereka membutuhkan dukungan Gubernur Roma. Langkah berikut ialah membawa Yesus ke hadapan Pilatus (Yoh 18:28-30). Disini tuduhan hujatan tidak dikemukakan. Suatu tuduhan yang didasarkan atas soal-soal agama Yahudi tidak akan pernah mengesankan pejabat Roma. Atas keputusan Pilatus, Yesus alhirnya dihukum mati. Yesus disalibkan di Golgota (di bukit Tengkorak), bersama-sama dengan dua orang yang lain ; yang seorang disebelah kananNya dan yang lain di sebelah kiriNya. Menurut Injil Lukas 23:29 kedua orang itu adalah penjahat-penjahat dan menurut Injil Markus 15:27 penyamun-penyamun. Penyaliban adalah hukuman Romawi terhadap budak-budak dan penjahat-penjahat. Dan hukuman ini yang dijatuhkan atas Yesus, itu yang dimaksudkan dalam Yesaya 53:9, bahwa karena dosa dan pemberontakan kita Ia dalam kematianNya berada di antara orang - orang jahat. Akhirnya Yesus juga mengalami kematian sama seperti kita. Dia mati di kayu salib sebagai korban perdamaian (1 Yoh 2:2), Yesus mendamaikan manusia dengan Allah, melalui kematian Yesus, Allah mengampuni manusia. Setelah Yesus mati, Yusuf dari Aritmatea meminta tubuh Yesus kepada Pontius Pilatus (Lukas 25:52-53). Yusuf Aritmatea sangat bersembunyi dalam melakukan penguburanNya, dan dalam statusnya sebagai murid Yesus dimakamkan dimakam keluarga Yusuf Aritmatea (Yes 53:9).
Pengertian Yesus Sebagai Manusia
Sama seperti Manusia pada umumnya, Yesus juga memulai kehidupan-Nya melalui kelahiran yang dikandung oleh seorang perempuan yang bernama Maria. Yesus dibesarkan dalam suatu keluarga Yahudi tertentu, yaitu keluarga Yusuf dan Maria dari Nazaret. Yesus juga memiliki silsilah keluarga yang biasa kita lihat dalam Injil Matius. Orang tua Yesus mengajarkan kepada Yesus berdoa, Ia juga belajar keterampilan untuk membantu pekerjaan ayah-Nya sebagai tukang kayu. Tidak terlepas juga bahwa Yesus juga memiliki saudara kandung yang semakin menekankan bahwa Yesus juga sebagai Manusia. Sebagai seorang Manusia, Yesus juga belajar dan mengikuti jejak keluarga-Nya yang rajin pergi ke Sinagoge layaknya kewajiban yang harus diikuti menurut agama Yahudi. Hingga pada usia-Nya kedua belas tahun Ia mulai berani untuk berbicara dan bercakap-cakap dengan para pemimpin agama yahudi. Dalam diri Yesus sebagai Manusia, kita juga bisa lihat bahwa Ia mengalami banyak cobaan bukan hanya sekali namun beberapa kali Ia dicobai. Namun, keManusiaan Yesus berbeda dengan manusi lainnya dalam hal dosa, karena di dalam Kitab Ibrani 4:15 dikatakan bahwa Yesus tidak berbuat dosa yang menunjukkan bahwa Yesus memang benar-benar juga tidak terlepas dari ke-Allahan-Nya. Dalam berbagai cobaan yang dialaminya, seperti ketika di padang gurun untuk berdoa dan berpikir. Dalam keadaan lemah jasmaniah akibat berpuasa selama empat puluh hari yang secara Manusia kita dapat melihat bahwa itu adalah hal yang luar biasa, atau mungkin Manusia biasa seperti kita ini sulit atau bahkan tidak mampu untuk melakukannya. Ini semakin menunjukkan bahwa Yesus memberikan kesan bahwa sekalipun dalam keadaan lemah, Manusia masih dapat menang melawan keadaan yang tersulit sekalipun.
Berulang kali gelar Anak Manusia digunakan dalam cakrawala penderitaan dan kematian (Matius 17:12, 22, bnd. Markus 9:31, dan Lukas 22:22). Yesus sadar bahwa jalan melayani yang ditempuh-Nya adalah jalan penderitaan dan kematian. Ini bisa menjadi tanda seta kepada panggilan. Pikiran Manusia mampu menutup diri terhadap ide yang tidak mau diterima. Orang-orang bisa saja tidak percaya, dan ini juga yang terjadi pada murid-murid. Para murid menolak pewartaan dan pernyataan Yesus, dan membayangkan bahwa Yesus mau mengalah terhadap mereka. Kebangkitanlah yang menjadi tanda kebenaran sabda Yesus itu. Dengan demikian, gelar Anak Manusia atau Yesus sebagai Manusia dikenakan pada Yesus guna mengingatkan proses perjuangan dan digunakan sedemikian rupa untuk mengejutkan para pendengar-Nya. Yesus sendiri tahu bahwa kemuliaan yang diberikan Bapa akan dikembalikan kepada-Nya. Kesadaran  Yesus sebagai Manusia juga memiliki hubungan yang unik dengan Allah. Ini diperlihatkan kepada ketaatan-Nya dalam melayani, karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani (Matius 20:28). Kesadaran-Nya terlihat dalam beberapa hal berikut ini, yaitu:
Dalam tindakan, adanya hubungan keakraban yang baik dengan Allah dan juga dengan orang tua-Nya.
Tabah dalam siksaan dan penderitaan
Taat dalam melayani.
2.2.1. Yesus sebagai manusia sejati
Yesus manusia yang sempurna, ada saksi-saksi-Nya, mempunyai oknum maka dapat dialami dan dipercayai, tinggal di dalam dunia, mempunyai orang milik-Nya, dapat diterima oleh manusia, hal hal tersebut membuktikan bahwa Yesus adalah manusia. Tetapi yang terpenting membuktikan bahwa Ia mempunyai oknum. Kalam telah berinkarnasi menjadi manusia, kalam yang menunjukkkan sifat illahi, manusia/tubuh menunjukkan sifat kemanusiaan, tinggal di antara kita. Kalam menunjukkan sifat illahi. Tinggal di antara kita menunjukkan sifat kemanusiaan. Kemuliaan dapat dipandang. Dalam injil Yohanes, Pernyataan Yesus sebagai manusia Yohanes 1:14 yang berbunyi, Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, disatu pihak menekankan bahwa Anak Allah yang menyatakan diri-Nya melalui inkarnasi, di pihak lain menyatakan kemanusiaan-Nya yang sama dengan kemanusiaan kita.  Dua orang pengikut Yohanes Pembaptis dan Nikodemus serta orang-orang lain mengganggap Dia sebagai seorang rabi (Yoh 1:38;3:2;9:2;11:18). Ia merasa lelah dalam perjalanan-Nya di Sikhar (Yoh 4:6) ia juga mengalami kehausan (Yoh 4:7;19:28). Beberapa kali Ia membangkitkan rasa benci dari orang-orang Yahudi (bnd. Yoh 7:44;10:31;dst.;11:57). Dikuburan Lazarus Ia merasa sangat terharu dan menangis (Yoh 11:33-35). Kemudian sekali lagi Ia merasa susah hati setelah masuk ke Yerusalem (Yoh 12:27 dst). Ia membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1 dst). Dan pada salah satu peristiwa penampakan diri setelah kebangkitan-Nya, Ia menyediakan makanan di atas api arang (Yoh 21:9). Tidak dapat diragukan bahwa Yohanes ingin memberikan kesan bahwa apabila Logos (Firman) menjadi manusia (daging), maka Ia benar-benar daging. Firman yang sudah ada sebelum segala sesuatu itu telah manusia sejati. Pembukaan surat I Yohanes mengesankan karena tekanannya pada apa yang telah didengar, dilihat bahkan diraba, yaitu Firman Hidup (1 Yoh 1:1). Hal ini sekaligus membuktikan merupakan berita penghukuman khusunya bagi mereka yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus (1 Yoh 2:22) dan bagi mereka yang menyangkal bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia (1 Yoh 4:2-3; 2 Yoh 7).   Dalam Kisah Para Rasul Menurut kesaksian Paulus mengenai pertobatannya yang ditulis dalam Kisah Para Rasul 22:8, Tuhan yang bangkit memperkenalkan diri-Nya sebagai Yesus orang Nazaret. Hal ini menunjukkan dalam sejarah, Yesus pernah hidup dalam desa Nazaret. Kemanusiaan Yesus dalam surat-surat Paulus: Paulus mengetahui bahwa Yesus adalah keturunan Daud (Rm 1:3). Yesus memang termasuk orang Israel menurut (kata) daging (sarka)  (Rm 9:5). Ia diutus oleh Allah pada waktu tertentu dan dilahirkan oleh seorang wanita dan hidup di bawah hukum Taurat (Gal 4:4). Paulus mengetahui tentang keluarga Yesus, hal ini terlihat pada waktu ia menyebutkan Yakobus sebagai saudara laki-laki Tuhan (Gal 1:19). Pembahasan Paulus dalam Rom 5:12 dst menekankan Keistus sebagai manusia, seperti Adam (perhatikan khususnya satu orang, yaitu Yesus Kristus Rom 5:15). Fil 2 disebutkan bahwa Yesus mengambil rupa seorang hamba. Semua yang dilakukan Yesus selama pelayanan-Nya ditentukan oleh keterbatasan diri-Nya pada rupa hamba itu.  Dalam surat Ibrani 1:3, ia lebih rendah dari malaikat dan dalam misi-Nya Ia memperhatikan manusia, bukan malaikat-malaikat (Ibr 2:9,16); Ia mempunyai darah dan daging seperti saudara-saudara-Nya (Ibr 2:14); sementara dalam daging, Ia mengalami pencobaan (Ibr 2:18;4:15), Ia berdoa dan memohon dengan suara jeritan yang mengharukan dan ratap tangis pada waktu di Getsemani (Ibr 5:7), Ia belajar taat melalui penderitaan-Nya, sebagai hasil-Nya Ia dikatakan telah menjadi sempurna (Ibr 2:10;5:8-9), Ia merasakan pengalaman takut akan Allah (Ibr 5:7); Ia mengganggap kematian sebagai bagian yang tidak dapat dihindarkan dalam misi-Nya (Ibr 2:9,14). Dalam surat-surat Petrus, Petrus menunjukkan bahwa dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Kristus dibunuh karena dosa-dosa kita (1 Ptr 3:18). 
Yesus sebagai seorang manusia yang tidak berdosa
Dalam surat-surat Yohanes, terdapat pernyataan yang jelas mengenai ketidakberdosaan Yesus Kristus ( Di dalam Dia tidak ada dosa, 1 Yoh 3:5). Dalam Kisah Para Rasul pada hari Pentakosta, ungkapan Orang Kudus dari Maz 16 diterapkan pada Yesus pada Yesus tanpa keraguan (Kis 2:27).  Dalam Paulus, hal ini menyatakan secara khususnya dalam II Korintus 5:21. Dalam ayat itu Paulus mengatakan Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita. Secara jelas disini dikatakan bahwa Yesus tidak berdosa, walaupun ada masalah yang mendasar mengenai arti pernyataan dibuat menjadi dosa. Dia dapat dibuat menjadi dosa hanya jika Ia tanpa dosa. Dalam Ibrani, pencobaan-pencobbaan yang Dia alami dan yang kita alami, dengan tambahan penuh arti hanya tidak berbuat dosa (Ibr 4:15). Surat-surat Petrus, (1 Ptr 2:22). Di sini Petrus mempertahankan bahwa Kristus tidak berbuat dosa dan pada saat yang sama ia menegaskan bahwa Ia memikul dosa-dosa kita supaya yang mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran(1 Ptr 2:24). Dalam kitab Wahyu: Klimaks dari kitab ini ialah bahwa penghakiman terletak di tangan Dia yang disebut Yang Setia dan Yang Benar (Why `9:11). Tidak ada keganjilan antara pandangan mengenai Kristus sorgawi dan kemurnian Yesus di dunia; seandainya ada, maka kebenaran dari seluruh penglihatan harus dipersoalkan.
Hubungan Yesus sebagai Manusia dengan manusia
Hubungan Yesus dengan manusia adalah bahwa Yesus sangat erat hubungannya dengan manusia, yaitu Dia adalah pengantara antara Allah Bapa dengan manusia, dalam Yoh 14:6 dikatakan Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Dan juga hubungan Yesus dengan manusia adalah menegakkan keadilan, bagi semua orang, menurut Luk 4:18-19 menekankan mengabarkan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan bagi orang-orang tawanan, penglihatan orang-orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas. Yesus mempraktekkan ajaran lain daripada istiadat Israel. Dalam hubungan-Nya dengan manusia, ada yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan, ada yang percaya bahwa Dia nabi, tetapi tidak terlepas juga, ada yang membenci-Nya. Yesus Bergaul dengan semua orang, Yesus dekat dengan seama-Nya, maka Ia juga sangat terbuka kepada segala orang. Ia bergaul dengan semua orang. Ia tidak mengkotak-kotakkan dan membuat kelas-kelas di antara manusia. Tidak terbayang dalam pikiran-Nya merangkul hanya sekelompok orang dan menyingkirkan kelompok yang lainnya. Ia akrab dengan semua orang, para rohaniawan (Yoh 7:42-52) dan penguasa bahkan penjajah (Mrk 7:1-10) yang beritikad baik. Namun Ia pun akrab dengan para pegawai pajak yang korup (Luk 19:1-10), dengan tuna susila (Luk 7:35-50) dan para penderita penyakit berbahaya yang dikucilkan. Harus diingat bahwa pergaulan Yesus dengan orang-orang yang berdosa dan najis amat tidak sesuai dengan sopan santun dan peraturan agama saat itu.Yesus telah menjungkirbalikkan peraturan-peraturan yang telah mapan.
Sikap Yesus terhadap kaum pendosa
Bagi orang yahudi dosa itu menular seperti kuman. Kena bayangan seorang berdosa, tinggal serumah dengan orang jahat, apabila makan bersama dengan mereka berarti kena dosa itu sendiri, menjadi orang berdosa.
Sikap Yesus terhadap wanita
Anggapan masyarakat Yahudi adalah bahwa wanita titu penggoda. Bagaimana dengan sikap Yesus? Ia bergaul bebas dengan wanita. Bahkan ada wanita-wanita tertentu yang tetap mengikuti-Nya ke manapun Ia pergi.Yesus juga menyapa dan bergaul enak dengan wanita-wanita kafir yang belum dikenal-Nya seperti wanita Samaria. Ia tidak saja bergaul dengan sembarang wanita, tetapi berusaha dan membela wanita-wanita sundal yang tertangkap basah (Yoh8:1-11).
Kekuatan  dan Kelemahan Yesus Sebagai Manusia
2.4.1. Kelebihan Yesus sebagai Manusia
Ketika Yesus tampil di  muka umum dan mulai bekerja, Ia memilih dua belas murid untuk mengikuti-Nya sebagai Guru. Mereka melihat bahwa Yesus mempunyai kuasa, hal itu nyata dari pengajaran dan pekerjaan-Nya, khususnya dari mujizat-mujizat yang Ia adakan.  Dan sesudah ibadah dalam sinagoge di Kapernaum, Yesus dengan bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon sedang berbaring karena sakit demam  (Mrk. 1:29-30). Orang-orang yang menyaksikan mujizat yang Yesus adakan dalam sinagoge memberitahukan hal itu kepada-Nya. Ketika itu, Orang yang mempunyai kuasa untuk menyembuhkan orang lain berada dalam bahaya untuk menyalahgunakan kuasanya itu. Dalam arti menarik dan memimpin mereka ke jalan yang dikehendakinya, serta membuat mereka bergantung sepenuhnya kepadanya. Namun Yesus tidak berada dalam bahaya tersebut. Hal itu nyata dari para penulis Injil tentang Pencobaan-Nya di padang gurun. Keterangan dari kitab Perjanjian Baru memperlihatkan bahwa Yesus tidak berdosa. Penting ketidakberdosaan Yesus terletak pada hubungannya dengan inkarnasi. Yesus menjadi manusia dalam bentuk yang bersih dan bebas dari semua kecenderungan untuk berbuat dosa. Setiap kali Ia disamakan dengan manusia berdosa selalu ditambahkan bahwa Ia tanpa dosa. Pandangan Perjanjian Baru ialah bahwa Yesus harus menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia, akan tetapi itu tidak berarti bahwa Ia harus terlibat dalam dosa manusia.
Kelemahan Yesus sebagai Manusia
Kemanusiaan Yesus bisa dilihat dalam kalimat, Dan Firman itu menjadi manusia (Yoh. 1:14a). Yohanes memberikan kepada kita fakta dan bukti bahwa Yesus adalah pribadi manusia seutuhnya. Yohanes menulis tentang Yesus yang berinkarnasi dengan segala bukti yang mendemonstrasikan kemanusiaan-Nya, dimana Yesus memiliki keterbatasan fisik seperti halnya manusia. Jadi, Yesus mengalami kelelahan saat dalam perjalanan-Nya ke Sikhar (Yoh. 4:6), dan Dia juga mengalami rasa haus (Yoh. 4:7). Selanjutnya, saat Maria melaporkan kematian Lazarus kepada Yesus, Ia sangat terharu maka menangislah Yesus. Dan akhirnya, saat Yesus disalibkan, Yohanes juga menunjukkan kemanusiaan Yesus saat Dia berkata Aku haus (Yoh. 19:28). Yesus juga merasa susah hati setelah Ia masuk ke Yerusalem (Yoh. 12:27). 
III. Refleksi Theologis
Dari pemaparan di atas, maka dapat direfleksikan manusia adalah manusia yang berdosa, dan dosa adalah tembok hubungan kepada Allah. Maka satu-satunya jalan Allah akan kasih-Nya adalah mengutus Anak-Nya Yesus Kristus dalam wujud manusia dalam keterbatasan-Nya yang lahir dari perawan Maria. Maka dalam Yoh 14:6 mengatakan bahwa Yesuslah jalan satu-satu jalan kebenaran dan hidup. Tiada satupun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, Yoh 3:16 mengatakan bahwa karena begitu besar kasih Allah akan dunia maka diutuslah Yesus sebagai manusia menebus dosa-dosa manusia. 
IV. Kesimpulan 
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa, Yesus itu hadir ke dunia sebagai wujud inkarnasi Allah kepada dunia ini untuk menyelamatkannya. Sehingga, Yesus itu juga memiliki relasi dengan manusia karena Dia juga hidup bersosial dengan manusia-manusia yang ada di sekitarnya, serta tidak pernah memandang rendah manusia , karena itulah maka Yesus tidak sama dengan manusia biasa. Yesus itu Allah dan Yesus itu manusia.

V. Daftar Pustaka 
Darrell L. Bock & Daniel B. Wallace, Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009
Robert R. Boehlke, Siapakah Yesus Sebenarnya? Jakarta: BPK-GM, 1996
Peter Wongso, Hikayat Yesus, Penguraian dan Penafsiran Kehidupan Yesus dalam Empat Kitab Injil, Malang;SAAT,1998
Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Allah, Manusia, Kristus, Jakarta: BPK-GM, 2012
Konferensi Waligereja Indonesia, Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi, Yogyakarta: KANISIUS,2000
J.L.Ch. Abineno, Pokok-pokok penting dari Iman Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2003
Bruce Milne, Mengenali Kebenaran, Jakarta: BPK-GM, 2009
Robert R. Boehlke, Siapakah Yesus Sebenarnya? , Jakarta: BPK-GM, 2012
G.C. Van Niftrik, Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK-GM, 2005
John Drane, Memahami Perjanjian Baru  Pegantar Historis  Teologis, Jakarta: BPK Gm, 2012
Jacob Van Bruggen, Kristus Di Bumi, Jakarta: BPK-GM, 2004
John Drane, Memahami Perjanjian Baru  Pegantar Historis  Teologi, 2009
James D. Tabor, Dinasti Yesus, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum, 2007
J.L. Ch. Abineno, Yesus Sang Mesias dan Sang Anak, Jakarta: BPK-GM, 1986
J.L.Ch. Abineno, Yesus dari Nazaret, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006
Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 1, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012
Mangapul Sagala, Firman Menjadi Daging, Jakarta: Perkantas, 2009
John Wijngaards, Yesus Sang Pembaharu, Yogyakarta: Kanisius, 1994
George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru jilid I, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 28. Makna Panggilan Abraham Menurut Agama Yahudi

I. Latar Belakang Masalah  Pemanggilan Abram itu akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dan berkat yang dimadsud ialah berkat yang berasal dari Abram dan barangsiapa yang menyembah Allah Abram. Semua umat manusia akan menyembah Allah Abram, tapi permasalahan apakah berkat itu hanya tercurah hanya kepada Israel dan keturunannya saja, ataukah kepada semua kaum di bumi. Abram adalah permulaan pengenalan akan Allah Yang Esa, setelah berbagai kesalahan yang telah dibuat manusia oleh dosa. Abram selain disebut bapa orang percaya, ia juga disebut sahabat Allah.  Ada kalanya Allah telah memberkati orang-orangNya, sehingga hal menimbulkan kesal dan iri hati bagi pihak yang tidak terberkati. Mungkinkah Ia memihak dan bertindak berat sebelah? Sungguhpun Allah dapat memberi berkat menurut kesukaanNya, meski seorangpun tidak ada yang berhak, tetapi justru berkat itu dilimpahkannya segala yang hidup, termasuk juga yang tidak dipilihNya. Bukan hanya Ishak dan Yakub dan Efraim mendapat berka...

Materi 3. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru

Mencermati Arti dan Makna “Persaudaraan” (Brotherhood/Sisterhood) dalam Gereja Mula-mula serta Refleksinya dalam Gereja dan Masyarakat Masa Kini I.                     Latar Belakang Masalah Suatu nyanyian yang sering kita dengar adalah “Dalam Yesus kita bersaudara”, yang mempersatukan mereka ialah kasih. Gereja masa kini banyak tidak mempraktekkan lagi arti kata adelpos itu sebagai wujud persaudaraan antara satu dengan yang lain, ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman modernisasi, cara pandang yang globalisasi, maka Kekristenan menanggapi tantangan-tantangan budaya global. Konsepsi Familia Dei atau Persaudaraan, dalam melakukan hal tersebut saya melihat hal yang seperti ini telah memudar di gereja masa kini, banyaknya pembunuhan, dendam, iri, benci, kriminalitas, tidak saling menghargai atau menghormati dan juga individualis. Bahkan dalam gereja sendiripun terlebih di perkot...

Materi 2. Etika Kristen mengenai pendirian tugu

Tinjauan Etika Kristen tentang menghormati Orang tua menurut Hukum ke V dihubungkan dengan Pendirian Tugu dalam adat kebudayaan Batak I.      Latar Belakang Masalah Kali ini kita akan membahas tentang konteks tanah atau daerah Batak, begitu banyak tugu-tugu atau makam yang begitu megah dan indah di tanah Batak, seringkali penyeminar melihat itu didaerah Toba Samosir yang menjadi mayoritas masyarakat yang mempraktikkan hal itu, sedangkan rumah-rumah nya sangat sederhana. Bangunan tugu-tugu mengalahkan rumah-rumah masyarakat Batak yang sangat sederhana. Jaminan berkat dan kutuk itu dipercayai dari nenek moyang nya dahulu. Dan juga banyak motivasi salah menghormati orang tua yang sudah mati dengan berlandaskan hormat pada orang tua yang sudah mati berdasarkan hukum taurat ke lima dan penugasan Yakub kepada Yusuf tentang mayat yang harus dibawa dari Mesir. Di kuburkan   bersama-sama leluhur, amanat orang tua harus dikubur dengan satu keluarga, Konteks suku Bat...